Media Informasi Pemuda Peduli Dhuafa Gresik (PPDG) || Website: www.pemudapedulidhuafa.org || Facebook: Pemuda Peduli Dhuafa Gresik || Twitter: @PPD_Gresik || Instagram: Pemuda Peduli Dhuafa Gresik || Email: ppd.gresik@gmail.com || Contact Person: 0838-3199-1684 || Nomor Rekening: 0335202554 BNI a.n. Ihtami Putri Haritani || Konfirmasi Donasi di nomor telepon: 0857-3068-6830 || #SemangatBerkarya #PPDGresik

Selasa, 13 Mei 2014

Sistem Religi dalam Masyarakat

Dalam kehidupan sehari-hari sering kita menjumpai berbagai macam jenis manusia dengan berbagai perspektif yang berbeda-beda antara individu yang satu dengan individu yang lain. Jika diteliti satu dengan yang lain tidak akan pernah ada yang sama. Mulai dari kepribadian, gaya hidup, bentuk fisik bahkan dalam hal yang lebih sakral sekalipun seperti tentang pemahaman religi setiap individu sekalipun. Dalam berbagai macam kepercayaan yang tersebar luas dalam masyarakat terdapat banyak hal yang menjadi sorotan dan menjadi sebuah objek pembahasan dalam ilmu antropologi.
Sistem religi antar satu daerah dengan daerah yang lainnya misalnya, antara religi satu dengan religi yang lain memiliki perbedaan yang sangat mencolok yang dianggap sebagai budaya bereligi sebuah masyarakat tertentu yang menjadikan ciri khas antar suatu daerah. Misalnya saja sistem religi dalam masyarakat solo lebih berorientasi pada nuansa kejawen yang hampir di setiap relung kehidupan masyarakat disana. Meskipun telah cukup lama mengenal syariat agama, tetapi tidak lantas dapat menghilangkan keteguhan kepada ajaran kejawen. Karena dalam adat jawa agama berarti ageman atau pakaian, atau sebagai ageming aji (perhiasan raja), karena itulah agama harus disesuaikan dengan adat tradisi jawa yang menggambarkan bagi orang jawa merupakan sebuah wadah, dan agama merupakan kesatuaan yang tidak terpisahkan dari kebudayaan. (Yudi Hartono. Dkk, 2002)
Dari sinilah dapat disimpulkan bahwa agama akan disesuaikan dengan adat dalam masyarakat tertentu yang nantinya akan menjadi sebuah ciri khas yang membedakan antar satu daerah dengan daerang yang lainnya. Dan agama juga tidak dapat dipisahkan dari kebudayaan arif lokal.
Adapun sistem religi dalam suatu kebudayaan selalu mempunyai ciri-ciri untuk sedapat mungkin memelihara emosi keagamaan itu diantara pengikut-pengikutnya. Dengan demikian emosi keagamaan merupakan unsur penting dalam suatu religi bersama dengan tiga unsur lain, yaitu (i) sistem keyakinan; (ii) sistem upacara keagamaan; (iii) suatu umat yang menganut religi itu. (Koentjaraningrat, 2009).
Sedangkan perhatian ilmu antropologi terhadap religi dapat dilihat dari sejak lama yaitu ketika ilmu antropologi belum ada dan hanya merupakan suatu himpunan tulisan mengenai adat-istiadat yang aneh-aneh dari suku-suku bangsa di luar Eropa, religi telah menjadi suatu pokok penting dalam buku-buku pengarang tulisan-tulisan etnografi mengenai suku-suku bangsa itu. Kemudian, waktu bahan etnografi mengenai upacara keagamaan itu sangat besar. Sebenarnya ada dua hal yang menyebabkan perhatian yang besar itu, yaitu:
1. Upacara keagamaaan dalam kebudayaan suatu suku bangsa biasanya merupakan unsur kebudayaan yang tampak paling lahir.
2. Bahan etnografi mengenai upacara keagamaan diperlukan untuk menyusun teori tentang asal mula religi.
Para pengarang etnografi yang datang dalam masyarakat suatu suku bangsa tertentu, akan segera tertarik akan upacara keagamaan suku bangsa itu, karena upacara-upacara itu lahirnya tampak berbeda sekali dengan upacara keagamaan dalam agama bangsa-bangsa Eropa itu sendiri, yakni agama Nasrani. Hal-hal yang berbeda itu dahulu dianggap aneh dan justru karena keanehannya itu menarik perhatian. (Koentjaraningrat, 1990)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar