Media Informasi Pemuda Peduli Dhuafa Gresik (PPDG) || Website: www.pemudapedulidhuafa.org || Facebook: Pemuda Peduli Dhuafa Gresik || Twitter: @PPD_Gresik || Instagram: Pemuda Peduli Dhuafa Gresik || Email: ppd.gresik@gmail.com || Contact Person: 0838-3199-1684 || Nomor Rekening: 0335202554 BNI a.n. Ihtami Putri Haritani || Konfirmasi Donasi di nomor telepon: 0857-3068-6830 || #SemangatBerkarya #PPDGresik

Sabtu, 10 Mei 2014

No, di Timur, Yes di Barat

Untunglah saya lahir di desa dan dibesarkan di sana, sehingga kondisi alamnya yang alami, tidak begitu banyak larangan yang kudengar dari orangtuaku. Ini, bukan berarti tanpa kendali. Tapi, setidaknya setelah aku merantau dan tinggal di perkotaan. Beberapa ibu yang kudengar dalam mengasuh anaknya, banyak menggunakan kata “Tidak.” Atau “Jangan.” Misalnya, jangan menyeberang, nanti kena tabrak. Jangan pegang itu nanti luka. Pokoknya, banyak serba ‘tidak boleh.’ Tentunya, itu bertujuan pendidikan agar anak terlindungi dari marabahaya.
Namun, seorang teman yang berpendidikan pernah berkata bahwa di rumahnya dalam mendidik anak, mereka pantangan menggunakan kata ‘tidak’ atau ‘jangan.’ Justru, mereka memasyhurkan kata, ‘Ya.’ Mengapa harus begitu, tanyaku. Mereka jawab dalam pendidikan parenting kini kreativitas anak perlu dikembangkan, jadi tak perlu dihambat dengan kata larangan.
Atas kasus itu, aku membolak-balik beberapa buku, termasuk mencarinya di toko buku dan perpusputakaan. Juga internet. Sehingga, aku sampai pada kesimpulan, kita di Timur memiliki kecenderungan kultural untuk mengatakan ‘Tidak’ atau ‘Jangan’ terhadap anak-anak. Dampak positifnya, anak patuh pada orangtua. Negatifnya barangkali dalam pemerintahan, kita cenderung kurang demokratis untuk tidak menyebut pemerintahannya cenderung represif bahkan otoriter.
Sementara di Barat sebaliknya, memiliki kecenderungan kultural untuk berkata, “Yes” atau ‘boleh.’ Akibat positifnya kreativitas anak menonjol plus pemerintahan yang lebih demokratis. Namun, dampak negatifnya, anak durhaka pada orangtua dan pemerintahannya ’serba boleh.’ Menjurus pada individualistis dan sikap maniak atau yang berlebihan lainnya.
Oleh karena itu, No di Timur, Yes di Barat perlu dipadukan secara seimbang. Kita yang di Timur barangkali perlu belajar lebih menggunakan ‘Yes’ sedangkan mereka yang di Barat penting memasyhurkan ‘No’ demi hidup yang lebih adil dan aman.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar