Media Informasi Pemuda Peduli Dhuafa Gresik (PPDG) || Website: www.pemudapedulidhuafa.org || Facebook: Pemuda Peduli Dhuafa Gresik || Twitter: @PPD_Gresik || Instagram: Pemuda Peduli Dhuafa Gresik || Email: ppd.gresik@gmail.com || Contact Person: 0838-3199-1684 || Nomor Rekening: 0335202554 BNI a.n. Ihtami Putri Haritani || Konfirmasi Donasi di nomor telepon: 0857-3068-6830 || #SemangatBerkarya #PPDGresik

Selasa, 29 April 2014

Selamatan, Hasil dari Akulturasi?

Merasa sedikit malu untuk mengatakan bahwa baru beberapa hari ini saya mengetahui tentang asal usul tradisi selamatan yang notabenenya merupakan tradisi yang berkembang dan sering saya jumpai di desa saya. Hal ini pun saya ketahui dengan tidak sengaja ketika diberitahu kakak saya ditengah-tengah penggarapan tugas kuliah observasi Antropologi. Berikut penjelasan singkat tentang akulturasi pada selamatan….
Akulturasi (acculturation) mempunyai arti yaitu proses pencampuran dua kebudayaan antara kebudayaan masyarakat asli dengan kebudayaan asing tanpa mengubah kebudayaan asli masyarakat. Koentjaraningrat (1996:247), dalam bukunya Pengantar Ilmu Antropologi, memberikan pengertian akulturasi sebagai berikut: “Proses sosial yang timbul bila suatu kelompok manusia dengan suatu kebudayaan tertentu dihadapkan dengan unsur-unsur dari suatu kebudayaan asing dengan sedemikian rupa, sehingga unsur-unsur kebudayaan asing itu lambat laun diterima dan diolah ke dalam kebudayaan sendiri tanpa menyebabkan hilangnya kepribadian kebudayaan itu sendiri”.
Selamatan merupakan salah satu tradisi masyarakat Jawa yang mengalami akulturasi. Masyarakat Jawa dikenal dengan tradisi budayanya yang kental dan dipengaruhi oleh ajaran dan kepercayaan dari kebudayaan Hindu-Budha. Oleh karena itu, para ulama Islam yang menyebarkan agama Islam di Jawa, atau lebih dikenal sebagai Wali Songo, melakukan langkah akulturasi sebagai cara mereka untuk mengajarkan ajaran agama Islam ke dalam lingkungan masyarakat Jawa. Pencampuran ini dimaksudkan agar tidak terjadi kekagetan terhadap budaya baru (culture shock) pada masyarakat Jawa sehingga dapat menerima dan mengamalkan ajaran agama Islam secara sukarela.
Pada masa sebelum Islam masuk ke Indonesia, selamatan diadakan untuk berterimakasih kepada para dewa dan leluhur mereka atas nikmat yang diberikan. Tradisi ini dilakukan dengan menyiapkan berbagai jenis makanan untuk dijadikan sesajen. Setelah Islam masuk, Selamatan saat ini diartikan sebagai suatu acara yang diadakan sebagai bentuk syukur atas segala nikmat yang diberikan oleh Tuhan. Selamatan ini dilakukan dengan kehadiran beberapa anggota masyarakat yang di depannya disajikan berbagai jenis makanan dan dilakukan pembacaan do’a yang dipanjatkan kepada Allah SWT. oleh seorang tokoh terkemuka dalam masyarakat tersebut.
Selamatan dalam Islam diadakan dalam waktu tertentu misalnya selamatanpernikahan, selamatan kelahiran bayi (aqiqah), selamatan kematian (7 hari, 40 hari, 100 hari, 1000 hari), dan selamatan-selamatan lain.
Akulturasi sangat berperan penting dalam upaya penyebaran agama Islam. Dengan dilakukannya akulturasi, Islam dapat membenahi kebudayaan yang bertentangan dengan agama menjadi selaras dengan agama, tanpa mengubah kebudayaan asli masyarakat tersebut.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar