Media Informasi Pemuda Peduli Dhuafa Gresik (PPDG) || Website: www.pemudapedulidhuafa.org || Facebook: Pemuda Peduli Dhuafa Gresik || Twitter: @PPD_Gresik || Instagram: Pemuda Peduli Dhuafa Gresik || Email: ppd.gresik@gmail.com || Contact Person: 0838-3199-1684 || Nomor Rekening: 0335202554 BNI a.n. Ihtami Putri Haritani || Konfirmasi Donasi di nomor telepon: 0857-3068-6830 || #SemangatBerkarya #PPDGresik

Minggu, 20 April 2014

Cerita Rakyat, Revolusi Budaya Luhur terhadap Industri Hiburan

Wanita itu ibumu?”, Tanya istri Malin Kundang. “Tidak, ia hanya seorang pengemis yang pura-pura mengaku sebagai ibuku agar mendapatkan harta ku”, sahut Malin kepada istrinya. Mendengar pernyataan dan diperlakukan semena-mena oleh anaknya, ibu Malin Kundang sangat marah. Ia tidak menduga anaknya menjadi anak durhaka. Karena kemarahannya yang memuncak, ibu Malin menengadahkan tangannya sambil berkata “Oh Tuhan, kalau benar ia anakku, aku sumpahi dia menjadi sebuah batu”. Tidak berapa lama kemudian angin bergemuruh kencang dan badai dahsyat datang menghancurkan kapal Malin Kundang. Setelah itu tubuh Malin Kundang perlahan menjadi kaku dan lama-kelamaan akhirnya berbentuk menjadi sebuah batu karang.
***
Begitulah yang terjadi pada Malin Kundang yang durhaka, berakhir menjadi batu karang. Durhakalah dia pada bundanya, inangnya, akarnya. Tidak diakuinya lagi ibunya setelah dia dapatkan kesenangan berlimpah. Malin Kundang telah terbuai dengan gemerlap dunia. Begitulah layaknya dunia hiburan modern terhadap warisan budaya leluhur. Dunia hiburan kini telah didominasi oleh roman-roman picisan, cerita murahan yang disajikan melalui paras-paras rupawan dan segala rupa tindakan yang dianggap kekinian. Akhirnya warisan budaya leluhur tersebut, khususnya cerita daerah, yang berakar dari budaya lokal kini dianaktirikan.

Dominasi televisi
Peran televisi dalam dunia hiburan di Indonesia tidak terbantahkan lagi. BPS mencatat bahwa persentase penduduk berusia 10 tahun ke atas yang menonton televisi meningkat dari 84,94% pada tahun 2003 menjadi 91,68% pada tahun 2012. Peningkatan 7% itu dicapai hanya dalam kurun waktu 9 tahun. Dominasi televisi ini semakin terasa ketika kita membandingkan dengan media yang lain. Tercatat pendengar radio dari kelompok umur 10 tahun keatas pada tahun 2012 menurun dari angka 50,29% ke angka 18,57% pada tahun 2003. Begitu juga dengan pembaca surat kabar yang mengalami penurunan sebesar 6% pada rentang tahun yang sama. Oleh karena itu, tidak berlebihan bila kita katakan bahwa industri hiburan yang dinikmati oleh masyarakat didikte dan diwakili oleh media televisi.
Keadaan bertambah buruk ketika hiburan yang ditawarkan di Televisi tidak lagi mendukung proses pendidikan karakter dan penyebaran nilai-nilai lokal yang kaya dan penuh akan kearifan budaya. Program-program yang dihadirkan lebih condong hanya untuk menghibur bukan mendidik apalagi sebagai bahan refleksi. Entah itu kisah cinta supir angkot dan konglomerat, joged sana joged sini, ABG-ABG gaul yang tingkahnya sudah seperti raja, maupun komedi yang lebih banyak diisi dengan umpatan dan makian. Apa kesamaan yang mencolok dari keseluruhan program-program tersebut? Dangkal. Televisi kini, secara umum, telah menjadi “budak rating” dalam usaha memperkaya diri sendiri atau kelompok masyarakat tertentu.
Namun, kita menutup sebelah mata namanya jika menganggap tidak ada lagi pejuang-pejuang dalam industri hiburan Indonesia. Masih ada beberapa pihak yang terus-menerus berusaha untuk menelurkan hiburan-hiburan kreatif dan mendidik. Bibit-bibit revolusi di industri hiburan pun kian tersemai dengan munculnya beberapa kanal idealis seperti NET. Dan Kompas TV. Harus kita ingat lagi bahwa revolusi dalam industri hiburan memang penting, namun pembaharuan dari luar industri ini juga mutlak dilakukan. Alat untuk melakukan pembaharuan ini telah lama diwariskan pada kita, ialah cerita rakyat yang mengandung kearifan lokal.

Cermin karakter
Indonesia sebagai negara kepulauan yang didalamnya terkandung berbagai macam suku dan ras serta ragam bahasa adalah lumbungnya kebudayaan. Daerah-daerah Indonesia yang terpisah laut ini membikin beragamlah itu nilai-nilai yang dianut oleh masing-masing penduduknya, menjadikan mereka unik. Keunikan itu tercermin dari cerita rakyat (folklore) yang turun-temurun diwariskan oleh leluhur, nenek moyang. Di dalam cerita rakyat itu pula tercermin karakter dan kebiasaan-kebiasaan (habit) lokal yang seharusnya dapat kita jadikan panutan dalam berkehidupan.
Cerita Rakyat Si Rusa dan Si Kumolang dari Maluku misalnya, mengisahkan tentang Rusa yang tinggi hati karena kemampuan larinya. Dia menghina dan merendahkan Si Kemolang karena lambat jalannya juga memanggul cangkang. Akhirnya, karena kecongkakannya sendiri Si Rusa mati karena kebisan napas dalam lomba lari yang diprakarsainya sendiri untuk mempermalukan Si Kemolang. Bahkan dari ringkasan cerita dengan bahasa saya sendiri ini pun dapat dirasa akan kayanya nilai-nilai moral, seperti pentingnya kerendahan hati dan kecongkakan yang hanya membawa petaka, terkandung dalam cerita ini. Sekarang, apa yang kalian dapat dari Cinta Fitri?

Interpretasi yang tidak autentik
Kembali melihat kedalam industri hiburan itu sendiri, tidak dapat dipungkiri bahwa usaha yang dilakukan oleh penggiat-penggiat seni Indonesia untuk menggairahkan kembali cerminan moral yang berakar pada cerita-cerita rakyat tersebut tidaklah nihil. Salah satunya adalah dengan mengadopsi cerita-cerita tersebut ke dalam bentuk kekinian, lewat sinema layar kaca. Namun, pada akhirnya segala daya upaya yang dilakukan ini hanya menimbulkan kesan klise dan tidak autentik. Kebanyakan interpretasi yang dihasilkan terkesan malah memperdalam jurang nilai-nilai yang ada pada masyarakat zaman dahulu dan zaman sekarang. Nilai-nilai yang seharusnya dapat kita hayati dan pelajari malah dicemooh karena akting para pelakunya seperti pemain drama kelas dua.
Yang dapat kita imani dari sini bahwa memperjuangkan nilai-nilai yang ada pada cerita-cerita rakyat yang melimpah kita miliki adalah tantangan yang sangat berat. Menurut hemat penulis sendiri, nilai-nilai yang terkandung dalam cerita rakyat itu haruslah disampaikan dengan cara yang kurang lebih mampu mengekstraksi nilai-nilai tersebut secara autentik. Cukuplah dengan apa adanya tanpa bumbu-bumbu sarkasme, romantisme, atau komedi yang berlebih dan tidak pada tempatnya seperti yang kerap terjadi pada industri hiburan masa kini. Cukuplah cerita rakyat itu kita sampaikan dari intinya yang paling inti dengan mendongeng seperti yang dulu sering dilakukan inang susu kita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar