Media Informasi Pemuda Peduli Dhuafa Gresik (PPDG) || Website: www.pemudapedulidhuafa.org || Facebook: Pemuda Peduli Dhuafa Gresik || Twitter: @PPD_Gresik || Instagram: Pemuda Peduli Dhuafa Gresik || Email: ppd.gresik@gmail.com || Contact Person: 0838-3199-1684 || Nomor Rekening: 0335202554 BNI a.n. Ihtami Putri Haritani || Konfirmasi Donasi di nomor telepon: 0857-3068-6830 || #SemangatBerkarya #PPDGresik

Minggu, 20 April 2014

Apakah menjadi IRT adalah sebuah pekerjaan ?

Sepagi buta ini, aura Hari Kartini menguat. Setidaknya itulah, tema-tema yang banyak dibincangkan orang di media. Media massa, mengambil posisi sebagai pihak yang paling getol, atau merasa paling bertanggungjawab dalam mengkomunikasikan ide-ide ini. Setidaknya, paling bertanggungjawab dalam memfasilitas ruang public dalam membicangkan tema-tema yang dianggap menjadi perhatian public.
Dibalik hembusan angin emansipasi wanita, muncul pertanyaan,mengapa kaum perempuan bersemangat ke luar dari wilayah kerumahtanggaan ? apakah selain lingkungan rumah tangga saja, yang disebut sebuah pekerjaan ? apakah pekerjaan di dalam rumah tangga tidak disebut sebagai sebuah karir ?
Pertanyaan ini sesungguhnya sudah klasik dan sudah tidak memerlukan jawaban lagi. Karena fenomena yang ada, justru dengan atas nama emansipasi dan juga kebutuhan ekonomi, banyak kaum laki dan perempuan yang ‘berprofesi’ sebagai pekerja dalam rumah tangga.
Menjadi TKI, pembantu rumah tangga, supir pribadi, dan penjaga taman pada rumah seseorang, adalah ragam jenis pekerjaan yang muncul, dan berkembang di lingkungan rumah tangga. Hal ini artinya, bahwa terdapat ragam jenis pekerjaan yang ada di lingkungan rumah tangga yang bisa dijadikan sebagai profesi atau karir.
Sejumlah perempuan Indonesia, dari tahun ke tahun, masih menunjukkan semangat yang tinggi untuk menjadi pembantu rumah tangga, di luar negeri. Walaupun banyak kasus yang mengerikan, khususnya dalam bentuk tindak kekerasan dalam rumah tangga, animo dan obsesi bekerja di luar negeri itu, masih juga terus mengalir dari tanah air kita ini. Apakah ini adalah keberhasilan gerakan emansipasi wanita ? atau justru fenomena ini kian menguatkan bahwa pekerjaan rumah tangga pun adalah sebuah profesi.
Walaupun masih terlalu dini, tetapi wacana ini ingin mengajak pembaca untuk masuk ke wilayah kritis berikut ini. Pertama, rumah tangga sudah mengalami perubahaan. Rumah tangga di era modern sudah menerapkan system manajemen rumah tangga. Pemilik rumah tangga, khususnya pasangan suami-istrinya, diposisikan sebagaiownernya, dan sekaligus investor atau pencari dana. Kedua, fungsi rumah tangga di sini, ada dua, yang pertama bersifat social, yakni membiaya kebutuhan anak-anak, dan bersifat ekonomi yaitu membayar biaya operasional para pekerja rumah tangga, seperti tukang kebun dan juru masak. Ketiga, para pekerja di rumah tangga pun, adalah para pekerja professional, bahkan ada yang membutuhkan mekanisme dan prosedur pendidikan dan pembinaan calon pembantu rumah tangga.
Berdasarkan pertimbangan itu, dapat disederhanakan bahwa menjadi ibu rumah tangga, dan pembantu rumah tanggapun adalah sebuah profesi. Ini adalah bagian dari efek emansipasi wanita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar