Media Informasi Pemuda Peduli Dhuafa Gresik (PPDG) || Website: www.pemudapedulidhuafa.org || Facebook: Pemuda Peduli Dhuafa Gresik || Twitter: @PPD_Gresik || Instagram: Pemuda Peduli Dhuafa Gresik || Email: ppd.gresik@gmail.com || Contact Person: 0838-3199-1684 || Nomor Rekening: 0335202554 BNI a.n. Ihtami Putri Haritani || Konfirmasi Donasi di nomor telepon: 0857-3068-6830 || #SemangatBerkarya #PPDGresik

Sabtu, 01 Maret 2014

Pesan Maulid dan Teologi Pembebasan dari Kemiskinan

Maulid Nabi Muhammad SAW ditetapkan sebagai salah satu hari besar agama yang resmi di Indonesia atas prakarsa Kementerian Agama. Dalam budaya Islam nusantara, tradisi memperingati maulid telah ada sejak tempo doeloe di berbagai tempat di tanah air.
Semenjak Presiden RI Pertama Soekarno, peringatan Maulid Nabi Muhammad secara kenegaraan dilaksanakan di Istana Negara yang dihadiri oleh Presiden dan Wakil Presiden, para pejabat tinggi negara, koprs diplomatik dan tokoh masyarakat Islam ibukota. Sewaktu Proklamator Kemerdekaan dan Wakil Presiden RI Pertama almarhum Mohammad Hatta masih hidup, beliau paling rajin menghadiri undangan peringatan hari-hari besar Islam di Istana Negara sebagai cerminan sikap sebagai negarawan Islami yang patut diteladani.
Kita tidak boleh puas dengan Maulid Nabi sebagai fenomena sosial, budaya atau bahkan intelektual keagamaan yang hanya sekedar seremonial dan semarak formal semata. Tetapi hendaknya hal itu  berdampak terhadap humanisasi nilai-nilai Islam di tengah kehidupan umat dan mewarnai kualitas masyarakat muslim yang terbentuk dari masa ke masa.
Sejauh ini peringatan hari-hari besar Islam sedikit sekali atau jarang dikaitkan dengan agenda umat Islam yang  akan dikenang sepanjang masa. Sebagian di antara kita sudah senang dan bangga bila peringatan Maulid sukses karena dihadiri ribuan jamaah dan menghadirkan penceramah terkenal. Jarang terpikirkan memperingati maulid atau hari besar Islam lainnya yang  diisi dan diberi makna dengan sesuatu yang  monumental di tengah masyarakat, seperti pencanangan dimulainya pembangunan panti yatim piatu, pembukaan klinik sehat dhuafa, asrama anak terlantar dan dhuafa, peresmian masjid, dan bangunan sosial keagamaan lainnya yang bertepatan dengan hari peringatan Maulid. 
Saya yakin generasi yang datang belakangan akan mengenang terwujudnya sebuah sarana dan prasarana sosial dalam nuansa keterkaitan dengan hikmah dan pesan hari-hari besar Islam, seperti Maulid, Nuzulul Quran, Isra’ dan Mi’raj atau Tahun Baru 1 Muharram. Setiap generasi muslim perlu memahami Islam bukanlah agama upacara, tetapi agama amal (agama kerja) dan agama yang  melahirkan jamaah melalui pelaksanaan shalat, hikmah puasa, hikmah zakat, dan haji. Islam tidak menafikan simbol dan syiar agama, tetapi simbol dan syiar hanyalah sarana untuk menuju pada substansi perilaku beragama. Jangan dibiarkan timbul jarak (distansi) antara simbol dan syiar dengan perilaku aktual beragama di tengah masyarakat. 
Salah satu jejak risalah Nabi Muhammad yang penting direnungkan dalam suasana Maulid Nabi adalah pembaruan jati diri sosial umat Islam. Nabi kita mengajarkan, setiap muslim adalah saudara bagi muslim yang lain. Nabi menggariskan kewajiban dan hak sesama muslim dalam kehidupan sosial, mulai dari kewajiban dan hak bertetangga, sampai kewajiban dan hak sesama manusia.
Risalah Nabi Muhammad mengajarkan dan sekaligus mencontohkan dimensi praktikal ajaran tauhid sebagai pandangan hidup kemanusiaan yang  berpedoman pada firman Allah, “Bukanlah kebajikan jika kamu menghadapkan wajahmu ke arah Timur dan Barat, tapi (kebajikan itu) adalah siapa yang beriman kepada Allah, hari akhirat, malaikat, kitab-kitab dan nabi-nabi-Nya, yang  memberikan harta yang  dicintainya kepada kaum kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, orang yang  dalam perjalanan, orang yang meminta karena membutuhkan, dan memerdekakan budak, mendirikan shalat, menunaikan zakat, yang menepati janji apabila berjanji, sabar di saat kesulitan dan di dalam peperangan. Itulah orang-orang yang benar dan itulah orang-orang yang  bertakwa.” (QS Al-Baqarah (2): 177).
Islam mematrikan hubungan sesama dalam kerangka ibadah. Hal ini sekaligus berarti, ketidakpeduliaan atau kesewenang-wenangan terhadap manusia berarti kedurhakaan terhadap Tuhan. Kepada setiap muslim diingatkan oleh Nabi, bukanlah orang beriman bila dia dapat tidur nyenyak di rumahnya, sedangkan tetangganya tidak bisa  tidur karena menahan lapar.
Nabi memberi permisalan hubungan seorang mukmin dengan mukmin lainnya adalah bagai satu bangunan, di mana antara satu bagian dengan bagian lainnya saling menopang dan memperkuat. Bukanlah termasuk umatku, siapa yang tidak peduli dengan urusan kaum muslimin, tegas Rasulullah. Pesan profetik (kenabian) tersebut sangat mendasar bagi upaya membangun kesadaran dan pencerahan wawasan beragama umat Islam dalam mengartikulasikan teologi pembebasan umat dari kemiskinan, di antaranya melalui zakat, infak, sedekah, wakaf dan instrumen keuangan Islam lainnya.

Semoga dapat menginspirasi umat Islam dan bangsa Indonesia untuk lebih menghayati dan mengamalkan syariah atau nilai-nilai Islam untuk menjawab serta memecahkan persoalan-persoalan kekinian dan kedisinian umat manusia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar