Media Informasi Pemuda Peduli Dhuafa Gresik (PPDG) || Website: www.pemudapedulidhuafa.org || Facebook: Pemuda Peduli Dhuafa Gresik || Twitter: @PPD_Gresik || Instagram: Pemuda Peduli Dhuafa Gresik || Email: ppd.gresik@gmail.com || Contact Person: 0838-3199-1684 || Nomor Rekening: 0335202554 BNI a.n. Ihtami Putri Haritani || Konfirmasi Donasi di nomor telepon: 0857-3068-6830 || #SemangatBerkarya #PPDGresik

Rabu, 19 Maret 2014

Sineas Muda: Beda & Berkarya Sepenuh Jiwa

Geliat film-film Indonesia di bioskop mulai menimbulkan harapan di kalangan pecinta film Indonesia. Mereka rela menonton film-film Indonesia yang tak hanya mengedepankan horor dan menyerempet eksploitasi seks semata. Merunut ke suatu waktu, ketika bioskop hanya lebih sering menampilkan film-film ”esek-esek” perfilman Indonesia sedang menggali kuburnya. Produksi setahun hanya sekitar 40-50 film dan didominasi oleh film yang mengumbar syahwat semata. Kala itu insan film Indonesia mengibaratkan situasi perfiman bagai hidup segan, mati tak mau. Di tengah kelesuan yang hebat hadir para sosok muda yang berusaha menghidupkan kembali perfilman Indonesia. Rizal Mantovani, Riri Reza, Mira Lesmana dan kawan-kawan memproduksi film independen, Kuldesak. Film tersebut mendapat sambutan positif dari insan film Indonesia. Segera setelah kelahiran Kuldesak, sineas muda bermunculan dengan beragam eksperimen dalam memproduksi film. Selain itu, sineas muda yang berpendidikan luar negeri pun mulai kembali, sehingga gairah memproduksi film di dalam negeri semakin membuncah.

Sineas Muda dan Kelahiran Film
Satu-persatu film dalam negeri berkualitas dilahirkan untuk menghibur dan menghidupkan kembali gairah menonton pecinta film Indonesia. Film horor Jelangkung karya Rizal Mantovani menghadirkan euforia, bahkan di beberapa lokasi bioskop antrian mengular dan terjadi insiden dengan pecahnya kaca di loket. Rizal mampu mengemas film horor tentang urban legend yang sudah menjadi perbincangan di masyarakat tentang Jelangkung. Film horor yang tidak mengumbar syahwat semata dan membodohi masyarakat ternyata mendapat sambutan yang luar biasa. Di tangan Rizal film horor ditampilkan dengan kemasan yang berbeda.
Setelah itu, sineas didikan Amerika Serikat Rudi Soedjarwo melahirkan film remaja fenomenal, Ada Apa Dengan Cinta (AADC) yang diproduseri oleh Mira Lesmana dan Riri Reza. Film AADC mampu memanggil kaum remaja untuk berbondong-bondong mengular antrian di loket-loket bioskop Indonesia. Keunikan tema yang diangkat dalam film AADC tentang remaja yang mencintai sastra mampu mendorong budaya membaca di kalangan remaja , khususnya sastra Indonesia. Para remaja ikut terpengaruh dengan isi yang ditampilkan dalam film, yakni: membuat puisi, membaca karya sastrawan Indonesia. Ungkapan you are, what you see dapat menggambarkan tentang gejala pecinta film yang terpengaruh dengan film yang disaksikan.
Film anak pun tak ketinggalan digarap oleh sineas muda. Film Petualangan Sherina yang disutradarai oleh Riri Reza dan diproduseri oleh Mira Lesmana dibawah payung Miles Production. Film ini pun mampu menimbulkan euforia. Anak-anak mampu mengerakkan orang tua masing-masing untuk menyaksikan Petualangan Sherina di bioskop. Jumlah penonton yang membludak mencerminkan kerinduan anak-anak Indonesia terhadap film anak yang mampu menghibur dan mendidik. Miles Production konsisten dalam memproduksi film yang mampu mencetak jutaan jumlah penonton. Film Laskar pelangi mampu mencapai jumlah 4 juta penonton. Jumlah penonton yang hari ini masih belum terpecahkan.
Sineas muda Indonesia yang sudah mendapat anugerah sebagai sutradara terbaik Festival Film Indonesia, Hanung Bramantyo pun konsisten dalam menghadirkan film-film berkualitas dan mengangkat tema yang menarik. Tema toleransi dan hak asasi manusia dihadirkan di film ? (tanda tanya), Cinta tapi Beda, Perempuan Berkalung Sorban dan Ayat-ayat Cinta. Hanung cukup sering membuat film yang awalnya berdasarkan kisah dalam novel atau cerita pendek seperti Perempuan Berkalung Sorban, Ayat-ayat Cinta, Perahu Kertas dan Cinta tapi Beda. Satu film dari Hanung bahkan menerabas pakem yang selama ini sudah melekat pada dirinya. Ia membuat film epik, Gending Sriwijaya. Film tersebut mampu mengobati kerinduan masyarakat terhadap film epik suatu kerajaan. Persis bagai film epik yang digandrungi dan melegenda hingga kini, Saur Sepuh. Dalam wawancara di Kompas Tv, ia pun mengungkapkan bahwa setelah Gending Sriwijaya akan ada lagi film epik yang dibuat.

Semangat Pembaharu dan Film Indonesia
Ada lagi sineas muda yang cukup memiliki keunikan dalam membuat film, yakni: Joko Anwar. Meskipun tidak berlatarbelakang lulusan sekolah film, namun ia sudah menunjukkan hasil film yang berbeda dan luar biasa. Diawali dengan membuat film Janji Joni, Kala dan terakhir Modus Anomali. Film Modus Anomali mampu meraih penghargaan di festival film internasional. Selain itu, Joko Anwar juga rutin memberikan pelatihan pembuatan film pendek di beragam komunitas dan kampus. Film pendeknyaDurable Love dan Fresh Move On mampu memberikan alternatif tontonan di kanalYouTube. Joko Anwar sempat menimba ilmu produksi dan penyutradaraan film bersama Nia Dinata. Sineas muda Nia Dinata yang merupakan didikan sekolah film Amerika mampu menyemarakkan film Indonesia dengan tema minoritas dan jarang digarap seperti dalam Cau Bau Kan dan Arisan. Selain itu, Nia pun bergiat memproduseri para sutradara muda seperti di film 7 Perempuan Punya Cerita.
Semangat pembaharu dan berani berbeda dari sineas muda Indonesia mampu menghidupkan pilihan tontonan bagi pecinta film. Para sineas muda tak mau tunduk 100 persen terhadap keinginan pasar. Mereka tetap mengusung idealisme dalam membuat film. Mereka menganggap bahwa penonton film Indonesia sudah mampu membedakan mana film yang layak ditonton atau sebaliknya. Film Habibie dan Ainun serta 5 cm mampu bertahan berminggu-minggu di bioskop tanah air dan mencetak jutaan penonton. Contoh dua film tersebut menunjukkan bahwa penonton film Indonesia masih ada dan bersedia mengeluarkan uang, apabila tersedia film-film Indonesia yang berkualitas. Semoga para insan film Indonesia dapat saling mendukung dalam menjadikan film Indonesia sebagai tuan rumah di negeri sendiri. Patutlah para insan film Indonesia belajar dari India yang dapat menjadikan film-film India menjadi tuan rumah di negerinya sendiri sampai-sampai film-film Hollywood hingga saat ini belum mampu menembus bioskop di India.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar