Media Informasi Pemuda Peduli Dhuafa Gresik (PPDG) || Website: www.pemudapedulidhuafa.org || Facebook: Pemuda Peduli Dhuafa Gresik || Twitter: @PPD_Gresik || Instagram: Pemuda Peduli Dhuafa Gresik || Email: ppd.gresik@gmail.com || Contact Person: 0838-3199-1684 || Nomor Rekening: 0335202554 BNI a.n. Ihtami Putri Haritani || Konfirmasi Donasi di nomor telepon: 0857-3068-6830 || #SemangatBerkarya #PPDGresik

Selasa, 12 November 2013

Tumbangnya Islam Politik

Ini akhir yang tragis dari politik Islam ala Ikhwanul Muslimin (IM). Dikalahkan rakyat Mesir diluar kotak suara adalah menyakitkan. Para kader dan simpatisan IM mungkin saat ini sedang meratapi nasib mereka yang memilukan. Belum lagi ancaman penjara dan kebencian dari rakyat Mesir akan terus menggema. Sepertinya, rakyat Mesir sudah memberikan talak tiga bagi politik Islam ala IM.

Tentu saja kita menyayangkan adanya kudeta militer dalam sebuah negara demokrasi. Tak semestinya militer ikut campur dalam urusan politik pemerintahan, ini adalah pukulan telak bagi demokrasi. Tapi, suara jutaan rakyat Mesir yang menghendaki Mursi turun adalah juga harus didengar. Saya tidak memuji keberanian militer Turki, tetapi saya memuji keberanian rakyat Mesir dalam menghancurkan otoritarianisme.

Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa IM hanyalah salah satu komponen dalam revolusi Mesir di tahun 2011. Ketika rakyat Mesir menumbangkan rezim Mubarak, ada yang mengatakan bahwa peran IM saat itu tergolong kecil. Tapi, keberuntungan justru berpihak pada IM saat pemilu legislatif, IM secara mengejutkan memenangkan mayoritas suara. Kader IM pun kemudian mendapuk jabatan presiden dalam pemilu presiden.

IM kemudian mencoba keberuntungan berikutnya dengan memaksakan perubahan konstitusi. Banyak yang menentang perubahan konstitusi yang dilakukan pemerintahan Mursi, yang pada intinya mengubah negara Mesir menjadi negara berbasis syariah. Dalam referendum yang diboikot oposisi, IM dengan mudah menggolkan konstitusi baru rancangannya.

Konstitusi baru juga ternyata dirancang untuk memupuk kekuasaan hanya ditangan presiden. Lembaga negara lain digembosi kewenangannya dan seakan hanya sebagai pajangan saja. Ini memang agenda IM untuk menguasai semua institusi-institusi negara yang ada. Tapi, kali ini keberuntungan tidak berpihak lagi pada IM. Pengelolaan negara hanya pada agenda-agenda IM membuat kesejahteraan rakyat terabaikan.

Rakyat yang berjuang paling depan menumbangkan rezim Mubarak tahun 2011 menganggap IM telah membajak revolusi. IM dianggap hanya mementingkan kelompoknya, dan lupa pada agenda-agenda penanganan masalah prioritas. Padahal Mesir bukan hanya IM, Mesir adalah bangsa heterogen dengan perbedaan kepentingan yang mengiringinya.

Rakyat Mesir sebenarnya tidak peduli apa ideologi pemerintahan yang ada. Rakyat hanya peduli pada tercukupinya kebutuhan mereka, misalnya listrik yang tidak byar pet, BBM yang tersedia cukup, dan pariwisata yang kembali menggeliat. Rakyat Mesir tidak peduli apakah pemerintah menganut ideologi Islam, sekuler, atau bahkan komunis, yang mereka butuhkan adalah negara menjamin kebutuhan mereka.

Sejak revolusi, rakyat Mesir sudah cukup menderita. Sayangnya Presiden Mursi hanya sedikit memberikan kepedulian. Rakyat yang tadinya memberikan harapan yang tinggi pada Mursi dan IM-nya menjadi tidak sabar. Mursi tidak memiliki visi dan perencanaan yang jelas untuk mengatasi masalah-masalah yang ada. Ketiadaan visi membuat rakyat Mesir menjadi frustasi.

Frustasi menjadikan Mursi dan IM sasaran kemarahan rakyat. Bahkan yang tadinya mendukung kini menjadi penentang utamanya. Tinggalah kader-kader IM berjuang mempertahankan Mursi sendirian. Tapi waktu tidak bisa kompromi. Kekecewaan dan kemarahan rakyat sudah sampai diubun-ubun. Mursi dan IM nampaknya gagal membaca kehendak rakyat. Merekapun akhirnya harus dimundurkan paksa.

Kini rakyat kembali memiliki kekuasaannya. “Suara rakyat adalah suara Tuhan", jargon ini kembali terbuktikan. Tidak peduli ideologi apapun yang anda usung, suara rakyat adalah suara Tuhan, begitulah adanya.

Rakyat Mesir telah menemukan “kebohongan-kebohongan” IM. Mursi memipin Mesir seolah-olah memimpin IM. Kaum minoritas seperti kelompok Koptik, Syiah, dan sekuler ditekan dan dipinggirkan. Tak salah bila kemudian mereka menjadi pendukung utama revolusi kedua ini. Boleh dikatakan, apa yang terjadi di Mesir merupakan kejatuhan dari apa yang dinamakan politik Islam.

Itulah nasib siapapun di dunia ini yang mencoba menggunakan agama untuk kepentingan politik atau faksi. Di negara modern, agama dan negara harus dipisahkan. Agama terlalu suci untuk ikut-ikutan dalam urusan politik pemerintahan yang sarat intrik. Jika maksa, rakyat akan menghinakan siapapun yang menggunakan agama sebagai pijakan politik. Mesir dan PKS di Indonesia adalah salah satu buktinya.

IM dihinakan dengan cara didongkel oleh kekuatan rakyat, sedangkan PKS dihinakan dengan fustun.

Kini, pemerintahan baru Mesir telah membekukan konstitusi yang dibuat oleh IM, otomatis kini Mesir kembali ke konstitusi lama yang bercorak sekuler. Agenda penting saat ini bagi pemerintahan peralihan adalah untuk secepatnya mengembalikan kepemimpinan sipil yang sesuai dengan prinsip-prinsip demokrasi.


Tak salah jika saya ucapkan, selamat datang (kembali) Mesir yang sekuler!.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar