Media Informasi Pemuda Peduli Dhuafa Gresik (PPDG) || Website: www.pemudapedulidhuafa.org || Facebook: Pemuda Peduli Dhuafa Gresik || Twitter: @PPD_Gresik || Instagram: Pemuda Peduli Dhuafa Gresik || Email: ppd.gresik@gmail.com || Contact Person: 0838-3199-1684 || Nomor Rekening: 0335202554 BNI a.n. Ihtami Putri Haritani || Konfirmasi Donasi di nomor telepon: 0857-3068-6830 || #SemangatBerkarya #PPDGresik

Jumat, 08 November 2013

Baik Itu bukan Berarti Pasrah, Baik Itu juga Berarti Adil

Kadang kita manusia dipermainkan kata dan keadaan. Saat kata baik mendengung di kepala, maka yang terpikir adalah bagaimana menjadi manusia yang selalu menyenangkan, selalu responsif dan selalu siap membantu kapan pun dan dimanapun. Akan tetapi apakah kondisi diri kita akan selalu berada pada tingkat sewaspada itu ?.

Hampir yakin tidak dalam dinamika kehidupan yang naik turun dan perasaan yang menggelora senang dan susah, sulit rasanya menjaga hati pada tahap selalu aba-aba siap sedia waspada. Toh pada lomba lari sekalipun akan ada masa peluru dilepas dan para atlit melesat maju.

Itulah sejatinya manusia, akan ada masanya kita perlu berteriak “STTOPPP…” karena kalau tidak demikian akan banyak korban lain yang tergilas setelah kita jadi gilasan pertama akibat kebaikan kita sendiri.

Itulah dia, kebaikan kita sendiri kadang sering menjadi bumerang. Betapa kadang batasan antara kebaikan dan kepasrahan yang menyesatkan atau batasan antara kepedulian dan pembiaran yang menyakitkan menjadi sangat tidak jelas dan absurd. Bisa menjadi dua sisi yang saling berkaitan, tapi masing-masing berdiri sendiri, bermakna pada mereka yang memiliki kepentingan yang berbeda, tapi pada satu masalah yang sama.

Mereka yang pasrah dalam kebaikan kadang sebenarnya adalah juga mereka terlalu baik untuk dikatakan menyesatkan, karena dalam kenyataan kebaikan yang mereka lakukan dalam dasar tak mau berpanjang lebar berargumen membela kebenaran yang mereka anut mehadapi lawannya, yang sebenarnya tidak benar. Sehingga tanpa sadar mereka telah memupuk rasa dalam diri lawan bahwa, ”akh..asal ngotot gue pasti menang…”. Dan batas kebenaran yang hakiki akhirnya menjadi hilang.

Padahal begitu banyak di dunia ini kaum oportunis yang memanfaatkan momen, tenggat waktu yang mendesak, rasa iba dan kedekatan hubungan untuk memaksakan kehendaknya secara halus kepada kita. Sehingga lagi-lagi, pasrah yang dikedepankan atas nama simpati dan peduli menghilangkan momen pembelajaran. Menjadi kebaikan tanpa bekas karena seolah kebaikan tersebut adalah rutinitas semata, seolah menjadi kewajiban yang malah menjadi salah kita jika tidak dilaksanakan.

Padahal pada saat momen yang mereka  terdesak seperti itulah sebenarnya saat yang paling tepat buat kita mengingatkan, memberikan pelajaran bahwa pembiaran disaat ini bukan karena tidak ada simpati, tetapi sebaliknya pembiaran saat ini adalah karena kita peduli dan kita ingin mereka tidak merasa menang dan tidak kemudian memultiplikasi keadaan yang sama, mencari kebaikan dan kepasrahan orang lain demi kenyamanan dirinya.


Pembiaran kita dalam jangka panjang merupakan bentuk kepedulian yang diharapkan membuat mereka berpikir jernih dan adil,  bahwa bukan baik orang lain yang harus selalu terus menerus mereka terima, akan tetapi sadari bahwa kebaikan dari kita yang terus menerus akan membuat kita berlaku tidak adil karena akan memanjakan mereka, tidak adil karena akan terjadi tidak ada pembelajaran mandiri dan tidak tergantung orang lain,  tidak adil karena saat tuntutan kebaikan itu kemudian terjadi kembali pada orang lain adalah karena keterlibatan kita dalam pembiaran. Keterlibatan kita dalam menjadi baik yang pasrah, pasrah yang menghilangkan batas antara adil dan tidak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar