Media Informasi Pemuda Peduli Dhuafa Gresik (PPDG) || Website: www.pemudapedulidhuafa.org || Facebook: Pemuda Peduli Dhuafa Gresik || Twitter: @PPD_Gresik || Instagram: Pemuda Peduli Dhuafa Gresik || Email: ppd.gresik@gmail.com || Contact Person: 0838-3199-1684 || Nomor Rekening: 0335202554 BNI a.n. Ihtami Putri Haritani || Konfirmasi Donasi di nomor telepon: 0857-3068-6830 || #SemangatBerkarya #PPDGresik

Sabtu, 09 November 2013

Hutanku Lebat, Bangsaku Selamat

Betapa hati ini berduka, ketika mendengar kabar berita saudara-saudara kita tertimpa musibah bencana. Gempa bumi, gunung meletus, tsunami, banjir, dan longsor. Rentetan perjalanan panjang bencana alam sepertinya masih enggan berlalu dan tak henti-hentinya menghempas Negeri ini, bak hantaman pukulan jack seorang petinju yang telak menghantam rahang lawannya hingga membuat sang lawan terkapar. Meskipun kedatangannya yang tak pernah diundang walaupun waktu kehadirannya di siang hari bolong, begitu tiba-tiba melulu lantahkan apa saja yang dihampirinya. Negeri ini terus-menerus berduka, sampai kapankah badai ini akan berlalu ? Apakah ini suatu cobaan, peringatan atau memang hukuman dari Tuhan ? Entahlah yang pasti masih lekat dalam benak ingatan kita semua, betapa dahsyatnya letusan Gunung Merapi, guncangan dahsyat Gempa Bumi, hempasan Gelombang Tsunami Aceh, kabar heboh Banjir yang menghantam istana negara dan Ibukota, bencana Longsor yang pula turut meluluh-lantahkan saudara-saudara kita diberbagai daerah. Bencana telah membawa penderitaan dan rasa prihatin yang mendalam. Setidaknya bagi segenap Bangsa Indonesia yang masih punya rasa cinta kepada negerinya. Kita maklum bila suatu kejadian apapun adalah proses dari rentetan peristiwa asimilasi hukum alam, sebab dan akibat. seorang bijak pernah berkata, “Apa yang kau tanam, itulah yang akan kau petik”.

Menurut berbagai sumber Informasi ternyata tanah air ini telah mengalami kerusakan yang begitu Urgen dan diperkirakan dalam beberapa waktu kedepan Indonesia tak lagi memiliki hutan sebagai paru-parunya dunia kehidupan. Bisa jadi Itu berarti paru-parunya negeri ini rusak teramputasi oleh sebuah keserakahan. Betapa tidak, belakangan rata-rata 3-5 hektar hutan permenit kabarnya hilang akibat penebangan ilegal dan pengalihgunaan lahan. Data Kementerian Kehutanan menyebutkan hutan di Indonesia yang tersisa dalam kondisi bagus (primer) hanya tinggal 64 juta hektar bahkan bisa jadi makin berkurang dari jumlah Data tersebut. Kian merajalelanya sistem eksploitasi hutan dan pembalakan liar di Sumatera dan Kalimantan telah turut berperan meracuni kesuburan hutan kita yang kian terkikis habis dan punah. Belum lagi hamparan hutan penyanggah kota-kota besar meliputi, hutan dan perbukitan di pinggiran kota seperti kota Jakarta dan berbagai kota di daerah lainnya telah lama beralih fungsi menjadi perumahan, mall, gedung pencakar langit, dan berbagai bangunan pabrik. Sungguh ironi bukan, sebuah negeri yang dijuluki jamrud khatulistiwanya Asia yang kaya akan hamparan hutan di sepanjang jauh mata ini memandang harus berakhir tragis, semoga saja tidak.

Tak pernah sadarkah akan kelakuan kita yang serakah, terus-menerus menyakiti hutan dan membuat kerusakan di muka bumi ini, bukankah itu sama artinya berbuat kebodohan, bak memberi kail umpan ikan etong hanya untuk mendapatkan ikan teri. Setidaknya dari faktor keselamatan hidup pun akan mengalami gangguan dengan berbagai ekses negatif ancaman bencana besar, yang sewaktu-waktu akan membuncah menjadi momok tragedi yang memilukan.

Ada seloroh yang cukup menggelitik gendang telinga, seseorang berujar, “Bencana yang sering terjadi ini akibat dari fenomena alam bahwa bumi kita sudah tua”. Wajar dan sah-sah saja bila berasumsi demikian sebab bencana yang sering terjadi menimpa negeri ini disamping akibat dari proses alami itu sendiri tapi juga jangan lupa, jika kita pun tetap berbuat culas terhadap bumi itu sama juga artinya ikut mendorong dan mempercepat proses kerusakan bumi kian bertambah rusak parah dipenghujung usia bumi yang semakin senja. Seharusnya yang mesti dipahami adalah bumi kita memanglah sudah tua, renta, dan riskan akan berbagai serangan komplikasi penyakit.  Seperti Sariawan, sakit Gusi, demam, pilek, flu, dan batuk-batuk. Sariawan dan sakit Gusi begitu kiranya rasa sakit dan pesan yang disampaikan Bumi ketika tiba-tiba lapisan tanahnya membelah dan meruntuhkan berbagai bangunan apa saja yang ada dipermukaannya. Tidak sedikit karenanya ratusan nyawa jadi korban-kerugian besar harus ditanggung makhluk hidup yang berpijak dan hidup diatas permukaan wajahnya. Gejala Demam yang menggrogoti Bumi kita itu, suatu isyarat bahwa bumi kita dalam keadaan bertemperatur suhu yang tinggi dari sebuah peristiwa gejala Global Warming. Alam pun terluka-menderita dan sakit hingga membuat iklim dunia kacau sulit untuk diprediksikan kapan datangnya musim kemarau dan kapan pula musim penghujan menjelang. Hal ini menyebabkan beberapa wilayah di daerah sentra penghasil produksi pertanian gagal panen. Dan tak jarang pula wilayah perkotaan dan berbagai daerah mengalami kebanjiran ataupun kemarau berkepanjangan. Rasa pilek yang menghambat dan amat menyiksanya itu, sebenarnya memperingatkan diri ini untuk selalu menjaga kelestarian hutan dari sebuah eksploitasi tangan-tangan jahil yang kurang bijak mengambil manfaat, secara sembrono dan membabi buta tanpa ada rasa welas asih merubah wajah bumi nan cantik, indah, lebat, nan hijau royo-royo dedaunannya itu menjadi gundul dan rusak lagi rapuh, labil dan mudah longsor. Virus flunya mengajarkan kita untuk segera mengurangi polusi udara dari efek negatif gas Emisi beracun dari berbagai gas pembuangan mesin kendaraan dan pabrik yang mulai membuat bumi ini semakin panas. Serta, Batuk-batuknya menandakan, pegunungan yang terlukis indah itu sedang terganggu metabolisme saluran pernapasannya hingga gairah lava membuncah dan memaksanya menumpahkan lahar panas dari dalam perut bumi.

Senyata diri Bumi pun sama seperti halnya kita "manusia" ketika mengalami gejala penyakit tersebut. Tentu membutuhkan penanganan serius agar segala serangan epidemis virus bakteri yang terus-menerus merusak sistem kekebalan tubuh itu lekas sirna dari dalam tubuh. Sudahkah kita memberi kenyamanan bagi Bumi ini, agar Bumi pun mau bersahabat dengan kita ?.

Sebagaimana sebuah pergaulan yang biasa kita lakukan dalam bersosialisasi dengan orang lain. Saat kita menanam kebaikan apa saja, tentu balasannya sebuah kebaikan juga, bahkan bisa jadi lebih nikmat kebaikan itu ditambahkan. Tapi saat kita berbuat kedzaliman tentu adzab pedih akan melimpah sebagai timbal balik. Ekuvalen juga ketika kita memperlakukan berbagai kekayaan yang terkandung di perut bumi alam semesta ini, baik yang ada di lautan, daratan, udara, pegunungan, hutan-hutan belantara yang begitu Indah menghiasi bumi ibu pertiwi pastilah ada Darma yang harus dibayar mahal.

Perlakukan Alam sebagaimana kita memperlakukan siapapun yang kita sayang. Sebab kasih sayang yang tercurah dengan segenap perhatian tulus akan memberi efek lebih sebuah ketulusan alam untuk menjaga keselamatan, memberi kemaslahatan, kebaikan yang berlebih bagi diri kita sendiri dan orang lain didalam menjalani perjalanan hidup di muka bumi.

Kini saatnya kita mulai berbenah, dan kembali menghijaukan hutan sebagai bentuk rasa tanggung jawab kita kepada barang titipan anak cucu kita, yang akan menjaga dan mengelolanya di masa yang akan datang. Biasakan dan ajarkan anak cucu kita untuk gemar menanam pohon, tidak perlu mesti jauh-jauh bermigrasi kepelosok Belantara hutan, untuk turut melestarikan hutan dari sebuah kepunahan. Mulailah dan biasakan diri ini untuk memanfaatkan lahan kosong disekitar lingkungan, dimana kita bersosialisasi bermasyarakat. Meskipun lahan tanaman yang tersedia tidak luas hanya sejengkal saja adanya. Hijaukan lingkungan sekitar dengan berbagai tumbuhan yang bermanfaat, setidaknya sebagai alat penyerap air tanah di kala turun hujan, sarana pelindung dari teriknya matahari disaat musim kemarau dan sebagai alat bantu penyuplai kebutuhan hidup untuk mendapatkan hembusan udara segar (zat Oksigen) disetiap pagi hari dari tumbuhan yang kita tanam. Dari kebiasaan itu nantinya diharapkan akan menumbuhkan rasa kepedulian kita untuk senantiasa menjaga dan melestarikan lingkungan sekaligus hutan kita dari sebuah kerusakan. Ciptakan lingkungan hutanku lebat, menjadikan bangsaku selamat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar