Media Informasi Pemuda Peduli Dhuafa Gresik (PPDG) || Website: www.pemudapedulidhuafa.org || Facebook: Pemuda Peduli Dhuafa Gresik || Twitter: @PPD_Gresik || Instagram: Pemuda Peduli Dhuafa Gresik || Email: ppd.gresik@gmail.com || Contact Person: 0838-3199-1684 || Nomor Rekening: 0335202554 BNI a.n. Ihtami Putri Haritani || Konfirmasi Donasi di nomor telepon: 0857-3068-6830 || #SemangatBerkarya #PPDGresik

Jumat, 20 Juni 2014

Melecehkan Muhammadiyah

Wimar Witular mengunggah gambar yang menampilkan  salah satu pasangan capres – cawapres di akun jejaring sosialnya. Dalam gambar tersebut capres – cawapres didampingi oleh elit partai pendukung dan tokoh agama Islam. Dibagian bawahnya terdapat lambang partai pendukung dan lambang beberapa organisasi Islam termasuk salah satunya  lambang Muhammadiyah. Dilatar belakangnya dijajarkan gambar beberapa teroris yang sudah dihukum mati, dan postingan gambar tersebut diberi judul Gallery Of Rogues, atau pajangan gambar bajingan.
Mungkin saja Wimar ingin menyatakan pendapatnya bahwa Capres – cawapres dan para pendukungnya ini terdiri dari para bajingan dan oleh karenanya rakyat pemilih perlu diingatkan jangan sampai pemilihan presiden mendatang menjadi era kebangkitan orang jahat.
Terlepas dari benar tidaknya dugaan diatas, ada satu hal yang menyayat hati saya sebagai seorang Muslim, yakni dicantumkannya lambang MUHAMMADIYAH dalam galery bajingan tersebut. Tidak  bisa dipungkiri bahwa pencantuman lambang organisasi Islam itu merupakan bentuk pelecehan terhadap ummat Islam, khususnya terhadap warga Muhammadiyah.
Mungkin Wimar lupa bahwa  Muhammadiyah bukanlah partai politik, tetapi organisasi sosial kemasyarakatan yang tidak ikut campur dalam urusan pilpres, meskipun dijajaran pendukungnya ada pentolan Muhammadiyah seperti Amien Rais dan tokoh lainnya.
Muhammadiyah bersikap Netral, tidak berpihak kesalah satu calon, bahkan selaku Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin dengan tegas menyatakan bahwa secara pribadi beliau tidak mendukung salah satu capres.
Tindakan Wimar ini disamping keliru secara politik, juga menghina warga Muhammadiyah dengan menampilkan postingan yang berjudul Gallery Of Rogues yang berarti pajangan gambar BAJINGAN. Apapun alasannya, gambar tersebut akan menimbulkan penafsiran bahwa menurut Wimar Muhammadiyah termasuk dalam kelompok atau sama prilakunya dengan organisasi para bajingan, untuk itu warga Muhammadiyah perlu menuntut penjelasan dari Wimar, apa yang menjadi dasar pemikirannya.
Wimar Witoelar memang sudah minta maaf atas foto dan status yang ia unggah di akun medsos pada Ahad (15/6). Ia mengaku tak berniat untuk menghina Muhammadiyah atau pun organisasi Islam lainnya.
“Saya ini tak ada apa-apanya dibanding Muhammadiyah,” ungkap Wimar sebagaimana dikutip oleh beberapa media, dan dia juga mengaku sangat dekat dengan beberapa tokoh Muhammadiyah seperti Syafi’i Maarif, Din Syamsuddin dan Amien Rais. “Mereka itu semuanya mitra saya, ujarnya lebih lanjut.
Tetapi permintaan maaf didepan media seperti itu tidaklah akan mengobati luka hati warga Muhammadiyah, kedekatannya dengan beberapa tokoh Muhammadiyah bukanlah jaminan dia tidak berniat jahat terhadap Muhammadiyah.
Jika Wimar benar tidak bermaksud ingin menghina Muhammadiyah, hanya sekedar untuk lucu-lucuan saja, maka seharusnya Wimar datang ke Muhammadiyah, menyatakan penyesalannya dan minta maaf atas kekeliruan yang telah dilakukannya, bukan minta maaf didepan awak media.
Jika hanya sekedar mengumbar kata “mohon maaf” didepan media lalu menganggap persoalannya jadi selesai maka patut dipertanyakan siapa sebenarnya yang bersikap seperti BAJINGAN.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar