Media Informasi Pemuda Peduli Dhuafa Gresik (PPDG) || Website: www.pemudapedulidhuafa.org || Facebook: Pemuda Peduli Dhuafa Gresik || Twitter: @PPD_Gresik || Instagram: Pemuda Peduli Dhuafa Gresik || Email: ppd.gresik@gmail.com || Contact Person: 0838-3199-1684 || Nomor Rekening: 0335202554 BNI a.n. Ihtami Putri Haritani || Konfirmasi Donasi di nomor telepon: 0857-3068-6830 || #SemangatBerkarya #PPDGresik

Minggu, 15 Juni 2014

Felix Siauw Masih Mimpi Khilafah

“tiada Islam tanpa jamaah, tiada jamaah tanpa kepemimpinan, tiada kepemimpinan tanpa ketaatan” (Umar ra)
Dikutip dari facebook ustadz felix siauw yang sepertinya masih mimpi akan hadirnya khilafah. Tak heran, karena kegemarannya menulis sejarah tentang kehebatan Sultan Mehmed II sang penakluk (al fatih) Konstantinopel pada 1453 yang mengawali adanya supremasi khilafah Islamiyah selama hampir 500 tahun, maka felix siauw terbuai untuk kembali ke masa silam di saat kejayaan Kekhalifahan Ottoman.
Tak salah orang punya obsesi akan kehebatan sistem khilafah yang pernah mewarnai sejarah peradaban dunia, namun orang juga harus realistis bahwa khilafah itu bukan obat dari perpecahan di dunia Islam. Politik lah yang memecah belah dunia Islam dan khilafah Islamiyah juga bukan unsur pemersatu dunia Islam, melainkan politik kerjasama lah yang pernah menyatukan di masa silam.
Seperti juga organisasi HTI (hizbut tahrir indonesia) pendukung khilafah yang menolak demokrasi sekaligus anti negara nasional, maka felix siauw punya kesimpulan yang sama yang terbaca dari ilustrasi yang disajikan di facebook miliknya; HARI INI UMAT (ISLAM) TERPECAH BELAH KARENA KETIADAAN KHILAFAH SEBAGAI PEMERSATU. Jadi, menyalahkan ketidakhadiran khilafah sebagai penyebab terpecah belahnya dunia Islam. Kesimpulan ini ngawur, karena yang terekam dari sejarah adalah ; KARENA TERPECAH BELAHNYA UMAT (ISLAM) MAKA KHILAFAH RUNTUH.  Bisa ditelaah, saat umat Islam bersatu maka mereka mampu membentuk sistem khilafah, dan di saat terpecah belah maka sistem khilafah akan rontok. Jadi, simplifikasi kesimpulan dari para pengusung khilafah itu sangat menyedihkan,  mustinya terlebih dahulu mencari penyebab mengapa dunia Islam terpecah belah dan mengapa tidak berusaha menyatukan dengan damai. Bukannya malah sibuk berusaha membentuk sistem khilafah di saat umat Islam terpecah belah-INI MUSTAHIL!. Bersatu dahulu baru bisa membentuk sistem khilafah. Bukan membentuk sistem khilafah untuk dapat bersatu.
Kesalahan akut pola pikir inilah yang menjawab pertanyaan, mengapa sistem khilafah itu tak akan eksis lagi, karena masing-masing faksi di dunia Islam cenderung membentuk sistem khilafah versi masing-masing pihak terlebih dahulu, akhirnya yang terjadi adalah anarki massal di dunia Islam karena keegoisan masing-masing pihak sesama pengusung khilafah. Akhirnya, dunia modern dewasa ini membantah bahwa sistem khilafah itu obat mujarab untuk menyatukan yang terpecah belah tadi, yang benar adalah sistem demokrasi yang bisa menyatukan bermacam-macam manusia berdasarkan kesetaraan. Bukan sistem khilafah versi Ottoman yang menyatukan dengan penjajahan dan penindasan sesama manusia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar