Media Informasi Pemuda Peduli Dhuafa Gresik (PPDG) || Website: www.pemudapedulidhuafa.org || Facebook: Pemuda Peduli Dhuafa Gresik || Twitter: @PPD_Gresik || Instagram: Pemuda Peduli Dhuafa Gresik || Email: ppd.gresik@gmail.com || Contact Person: 0838-3199-1684 || Nomor Rekening: 0335202554 BNI a.n. Ihtami Putri Haritani || Konfirmasi Donasi di nomor telepon: 0857-3068-6830 || #SemangatBerkarya #PPDGresik

Senin, 23 Juni 2014

Ketika Pluralisme Menggusur Semboyan Bangsa

Akhir-akhir ini warga Indonesia disuguhi pertunjukan bertajuk siapa yang paling pantas menduduki jabatan Presiden periode mendatang. Pendukung dari kedua kubu pun saling mengadu integritas jagoan yang diusungnya melalui berbagai media. Tak hanya itu, yang mengaku pendukung fanatik pun tak segan-segan mendiskreditkan jagoan kubu lawan dengan fakta-fakta yang seringkali tidak di cek ulang keabsahannya hanya untuk mendongkrak popularitas jagoannya sendiri.
Pandangan politik yang berbeda dan pemahaman yang dangkal tentang pluralisme ini tak jarang mengubah kawan menjadi lawan. Hingga muncul selentingan di media sosial seperti Facebook “Kalaupun Capres yang kamu bela itu menang, dia tidak akan jadi temanmu. Saat Pemilu selesai, kamupun telah kehilangan hubungan baik dengan teman-temanmu yang sebenarnya!”
Dari prolog diatas, penulis bukan ingin membahas mengenai riuh-rendah pemberitaan capres atau debat yang dilakukan kedua kontestan malam sebelumnya. Tapi tentang pluralisme yang dewasa ini kerap dijadikan kambing hitam atas tindakan diskriminasi yang dilakukan kaum mayoritas terhadap kaum minoritas.
Bali, yang mayoritas penduduknya beragama Hindu juga tak luput dari persoalan pluralisme. Pemeluk agama Islam merupakan penduduk kedua terbanyak yang bermukim di pulau dewata ini, sisanya terbagi antara penganut Kristen dan Budha. Namun demikian, perbedaan itu tidak serta-merta menjadikan alasan penganut antar agama tidak bisa saling hidup berdampingan dengan damai. Andai saja saudara-saudara kami yang ada diluar Bali mengetahui bagaimana pasukan pecalang kami turut mengamankan jalannya sholat Tarawih ketika bulan Ramadhan tiba. Sebaliknya saudara kami kaum Muslim menghormati dengan tidak mengumandangkan azan melalui pengeras suara saat bertepatan dengan Hari Raya Nyepi.
Bapak Proklamator kita, Ir. Soekarno, bukan tanpa pertimbangan yang matang menetapkan “Bhinneka Tunggal Ika” sebagai semboyan kebanggaan bangsa kita. Melihat Indonesia yang terdiri dari 13 ribu lebih kepulauan dengan suku bangsa yang mencapai ribuan jumlahnya tentu sarat dengan pluralisme baik itu bahasa, adat budaya hingga agama. Tetapi janganlah perbedaan itu kemudian membuat kita terpecah satu sama lain. Semboyan itu ada untuk selalu mengingatkan kita agar memaknai keragamaman yang ada sebagai salah satu kekayaan bangsa dan azas saling menghormati merupakan pemersatu bangsa.
Dengan kesederhanaan dan kepatuhan terhadap ajaran-ajaran Hindu sejak turun-temurun, Bali tetap berpegang teguh melestarikan budayanya ditengah gempuran budaya luar yang mencoba eksis di pulau ini. Kalaupun ada yang tidak sesuai dan tak layak diberikan ruang maka solusi yang arif tanpa kekerasan adalah jalan yang dipilih untuk menyikapinya. Itu salah satu sebabnya mengapa Bali dipercaya sebagai tempat dilangsungkan perhelatan Internasional Miss World yang dianggap kontroversial tahun silam. Sebagian mungkin menganggap kami hanya mencari sensasi namun kami percaya lebih banyak yang mampu berpikir bijak bahwa beginilah cara kami menghormati keragaman budaya, sosial dan agama. Kami percaya dengan saling menghormati perbedaan, belahan dunia dimanapun akan lebih indah untuk ditinggali. Mulailah dengan menghormati, lalu dengan sendirinya kita akan dihormati.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar