Media Informasi Pemuda Peduli Dhuafa Gresik (PPDG) || Website: www.pemudapedulidhuafa.org || Facebook: Pemuda Peduli Dhuafa Gresik || Twitter: @PPD_Gresik || Instagram: Pemuda Peduli Dhuafa Gresik || Email: ppd.gresik@gmail.com || Contact Person: 0838-3199-1684 || Nomor Rekening: 0335202554 BNI a.n. Ihtami Putri Haritani || Konfirmasi Donasi di nomor telepon: 0857-3068-6830 || #SemangatBerkarya #PPDGresik

Minggu, 13 Juli 2014

Tiga Fenomena Tak Terbantahkan Dalam Ramadhan

Kalau kita mau mencermati baik diri sendiri atau lingkungan sekitar, setidaknya ada tiga fenomena yang menonjol di bulan Ramadhan.
Yang pertama, sebagian besar kita baru mengenal Allah Subhanahu Ta’ala (SWT) setelah datangnya bulan ramadhan. Selama sebelas bulan penuh kita menjauhi Al-Qur’an, menjauhi masjid, menjauhi kebaikan. Sebaliknya, kita lebih cenderung mendekati tempat-tempat kemunkaran, merapat erat pada kejahatan, dan melalaikan Allah swt.
Dan ketika Ramadhan tiba, kita lalu seolah-olah tersentak kaget. Kita bersiap menyambut puasa dengan mendatangi masjid beramai-ramai. Kita seolah tenggelam dalam kekhusukan dan kesahduan di bulan Ramadhan. Dan disana kita bersimpuh, merendahkan diri seolah-olah hendak menipu Allah swt.
Pertanyaannya, bukankah selama ini kita menyadari bahwa Tuhan pencipta bulan Ramadhan juga pencipta bulan Sya’ban dan Syawwal? Bukankah kita selama ini telah mengetahui bahwa Allah Maha Melihat perbuatan manusia, baik yang tampak maupun yang tersembunyi, baik di bulan Ramadhan maupun di bulan-bulan lainnya? Lalu mengapa kita baru telihat sibuk beribadah pada bulan Ramadhan saja?
Yang kedua, pada malam-malam bulan Ramadhan sebagian besar kita meramaikannya dengan tarawih berjama’ah. Kita berdatangan dari segala penjuru hingga masjid-masjid dan mushalla-mushalla penuh sesak bahkan meluber hingga ke jalan-jalan. Pemandangan ini sungguh sangat menggembirakan, tapi pertanyaanya, kemana kita setelah Ramadhan berakhir?
Padahal shalat tarawih kedudukannya hanyalah sunnah, sedang shalat lima waktu adalah fardhu, yang wajib dilaksanakan secara berjama’ah.
Dan yang terakhir atau ketiga adalah kebiasaan buruk kita selama puasa yakni memperpanjang tidur pada siang hari.  Ada sebagian kita yang meneruskan tidur setelah shalat subuh hingga siang hari dan ada pula yang tidur mulai dari Dzuhur hingga Ashar. Dan denga tidur sepanjang itu, di mana letak kenikmatan  menjalankan puasa? Di mana kita berlatih menahan lapar, merasakan pahit getirnya nasib para fuqaha dan masakin?
Tidur siang hari memang tidak dilarang, jika dilakukan sesuai kebutuhan. Tetapi jika dilakukan dalam tempo yang sangat panjang, lalu di mana makna puasa? Jika Rasulullah SAW dan para sahabat memanfaatkan bulan Ramadhan untuk berperang, lalu pantaskah jika kita justru menghabiskannya untuk tidur-tiduran?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar