Media Informasi Pemuda Peduli Dhuafa Gresik (PPDG) || Website: www.pemudapedulidhuafa.org || Facebook: Pemuda Peduli Dhuafa Gresik || Twitter: @PPD_Gresik || Instagram: Pemuda Peduli Dhuafa Gresik || Email: ppd.gresik@gmail.com || Contact Person: 0838-3199-1684 || Nomor Rekening: 0335202554 BNI a.n. Ihtami Putri Haritani || Konfirmasi Donasi di nomor telepon: 0857-3068-6830 || #SemangatBerkarya #PPDGresik

Sabtu, 12 Juli 2014

Menjadi Masyarakat yang Baik nan Bijak : Merdekakan mereka dari Kemalasan dan Ketergantungan (Pengemis)

Menjadi orang baik merupakan hal yang “gampang-gampang  susah”, kenapa? Karena belum tentu hal yang kita anggap baik selalu merupakan hal yang benar untuk dilakukan. misalnya saja saat kita menjumpai pengemis dan gelandangan yang hanya bermodalkan baju sobek, lusuh serta wajah yang “sengaja” dibuat kumal supaya orang-orang yang melihat kondisi mereka terharu kemudian merogoh saku demi memberikan uang seribu dua ribu, namun apakah yang kita lakukan ini benar? Bukan rahasia lagi bila pengemis yang tampaknya gembel dan kumuh memiliki penghasilan ratusan ribu dalam satu hari. Penghasilan mereka jelas lebih besar daripada para buruh yang demo menuntut kenaikan upah minimum, apalagi bila kita bandingkan dengan para tukang sapu yang sedari pagi membanting tulang demi keluarga, lingkungan dan negara.
Lantas apa yang seharusnya kita lakukan? Abaikan, memang terdengar sedikit kejam, namun apalagi yang harus kita lakukan agar mereka (pengemis dan gelandangan) bangkit dari keterpurukan yang membuat mereka “nyaman”. Ridwan Kamil selaku Walikota Bandung yang mendunia itu beberapa waktu lalu pernah menawarkan kepada para pengemis dan gelandangan untuk hijrah menjadi lebih baik, dengan menjadi tukang sapu jalanan, kendati demikian para pengemis malah menawarkan harganya sendiri yakni 4-8 juta/bulan atau kira-kira sesuai dengan pendapatan mereka saat masih menjadi pengemis. Tidakkah penawaran itu menggelitik?
Pemerintah DKI telah memberikan peraturan untuk pelarangan memberikan uang pada pengemis. Tetapi tidak efektif. Mengapa? Karena tidak sedikit orang berpendapat bahwa memberikan uang pada pengemis berpahala kemudian masuk surga. Seringkali kita tidak sadar bahwa memberikan uang pada pengemis justru berpeluang masuk neraka. Mengapa?  Kita harus membedakan antara kasih dan kasihan. Kasihan menjerumuskan. Kasih membangkitkan. Rasa kasihan pada pengemis akan semakin meningkatkan kemalasan dalam diri pengemis tersebut. Kita menjadikan ia manusia tidak bersyukur karena diberikan anggota tubuh yang lengkap. Badan sehat dan anggota tubuh lengkap adalah modal dasar yang dikaruniakan Tuhan bagi manusia untuk mencari rejeki makanan.
Dewasa ini di Bangka tidak jarang kita temui pengemis berkeliaran disekitar departmen store, pasar hingga di sekitar  masjid-masjid. Memberikan uang pada pengemis adalah kebaikan yang keliru, karena hal tersebut justru membantu berkembangnya kemalasan pada orang lain. Kita tidak membantu memberdayakan diri orang lain,  kita tidak membantu mereka untuk bersyukur atas anugerah badan yang lengkap, padahal tidak sedikit orang yang bahkan tidak memiliki anggota tubuh yang  lengkap meraih berbagai prestasi yang mendunia.
Kasihan atau iba seringkali kita jadikan alasan untuk memberikan sedikit uang kepada pengemis itu. Kita benar-benar tidak sadar bahwa yang kita lakukan itu keliru. Mereka tidak hidup hanya untuk hari ini, tapi juga besok,lusa dan seterusnya, bila kita memberikan rasa kasihan kepada mereka dengan cara memberikan uang, maka hal itu justru jauh lebih buruk dari sekedar mengabaikan, karena lagi-lagi kita membuat mereka terlena hingga lupa untuk memikirkan impian masa depan mereka yang lebih baik, penulis yakin kita semua berharap untuk indonesia yang lebih sejahtera, keadilan serta peningkatan ekonomi yang merata, maka dari itu mereka (pengemis) juga berhak atas kesempatan untuk berubah. Sukses selalu membutuhkan perjuangan, tidak ada sukses tanpa proses. Mengabaikan adalah perbuatan yang agak kejam karena kita bukan makhluk apatis melainkan makluk sosial yang peduli dan hidup bersama, namun bukankah lebih kejam bila kita “menjerumuskan” saudara kita sendiri ke dimensi yang penuh kemalasan, putus impian, enggan untuk berkembang.
Jadi, bagaimana menyalurkan uang yang kita rasa juga milik orang lain? Lembaga yang dikelola resmi oleh pemerintah jelas lebih tepat untuk kita perhatikan bersama seperti Panti sosial yatim piatu, dan  berbagai lembaga sosial lainnya. Mengutip salah satu dari sekian kata bijak “Pertanyaan hidup yang paling penting dan mendesak adalah: Apa yang telah engkau lakukan untuk sesamamu?  Banyak orang yang mampu untuk menendang ke gawang sekeras mungkin, tapi tak banyak yang mampu menendang ke tepat sasaran”.
Setiap kita terlahir dengan “cinta” , cinta itu akan terus tumbuh bila kita bagikan, namun kasihan bukanlah cinta, melainkan pembunuhan kejam secara perlahan. Satu Nusa Satu Bangsa, Satu Bahasa, Satu Tanah Air serta ibu pertiwi yang sama , jelas merupakan fondasi yang kokoh untuk menopang negeri kita. Salam sejahtera selalu bagi kita yang masih Indonesia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar