Media Informasi Pemuda Peduli Dhuafa Gresik (PPDG) || Website: www.pemudapedulidhuafa.org || Facebook: Pemuda Peduli Dhuafa Gresik || Twitter: @PPD_Gresik || Instagram: Pemuda Peduli Dhuafa Gresik || Email: ppd.gresik@gmail.com || Contact Person: 0838-3199-1684 || Nomor Rekening: 0335202554 BNI a.n. Ihtami Putri Haritani || Konfirmasi Donasi di nomor telepon: 0857-3068-6830 || #SemangatBerkarya #PPDGresik

Rabu, 16 Juli 2014

Lailatul Qadar dalam Eksistensi Kebangsaan

“Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.” (Bung Karno)

Sebangun dalam versi berbeda dengan ucapan Bung Karno tersebut adalah menjalankan ibadah puasa. Berbeda dengan ritual lain, puasa dikenal sebagai ibadah privat. Selain diri dan Tuhannya, tidak ada yang mengetahuinya. Berpuasa berarti melawan diri sendiri (hawa nafsu). Secara psikologis seperti kata Bung Karno, mengalahkan keinginan diri sendiri yang tidak terlihat lebih sulit daripada menundukkan orang lain. Inilah makna jihad besar yang dikumandangkan Nabi Muhammad saw sekembalinya dari Perang Badar. “Kita baru pulang dari jihad kecil menuju jihad besar. Jihad melawan hawa nafsu.”

Hikmah Lailatul Qadar
Salah satu peristiwa agung dalam bulan puasa adalah lailatul qodr. Dalam tradisi Islam, lailatul qodr merupakan momentum yang paling banyak diwarnai mitos. Tidak terhitung aktivitas, cerita, dan klaim tentang lailatul qodr termasuk yang berbau mistis. Pun, tidak sedikit hadist palsu yang beredar berkaitan dengan hal ini, terutama tanda-tanda fisik orang yang mendapat lailatul qodr.
Mayoritas ulama sepakat, lailatul qodr adalah saat diturunkannya Alquran untuk pertama kalinya atau bertepatan dengan 17 Ramadan. Artinya, lailatul qodr hanya terjadi sekali sepanjang kehidupan ini.
Secara kontekstual, lailatul qodr bermakna lahirnya ukuran moral universal (Alquran).
Pesan sentral Alquran, kata tokoh modernisme Islam, Fazlurrahman, adalah membangun komunitas yang egaliter berlandaskan etika. Sebab sejak awal Islam lahir bukan pada ruang hampa dan tidak berkembang pada komunitas homogen. Untuk menata masyarakat plural dibutuhkan aturan yang bisa mengikat semua kalangan tanpa ada diskriminasi. Aturan yang dijalankan harus berdasarkan kesepakatan semua golongan bukan pemaksaan atas nama mayoritas. Dengan demikian, implementasi semangat etis Alquran harus selaras dengan ranah dan kondisi sosiologis masyarakat di mana misi kitab suci ini dikembangkan.
Dalam konteks itulah puasa menjadi salah satu jembatan pengembangan pluralisme di negeri ini. “…kama kutiba ’ala alladzina min qablikum.. (..berpuasa diwajibkan sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu..),” menunjukan semangat kebersamaan tersebut. Bahwa puasa tidak hanya dijalankan umat Islam, tetapi juga umat sebelumnya atau umat yang lain. Singkat kata puasa dikenal dalam semua tradisi agama.
Ketua Umum PBNU, Said Aqiel Siradj, mengungkapkan kewajiban berpuasa mempunyai ”pertalian sejarah” dengan umat sebelumnya. Meski dalam bentuk yang berbeda-beda, sejarah membuktikan bahwa setiap peradaban selalu menggenggam perintah bagi kaumnya untuk berpuasa. Ada puasa Nabi Ibrahim as, Nabi Daud as, puasa Siti Maryam, dan kakek Nabi Muhammad saw, Abdul Mutholib.
Dalam perspektif historis tersebut, yang penting dikemukakan adalah kebiasaan berpuasa menyimpan makna dan hikmah perlunya kesadaran atas pluralitas. Puasa bukanlah sesuatu yang orisinal berasal dari Islam. Islam sebagai agama penyempurna sekadar memberikan ”sentuhan lain”.
Penghargaan terhadap pluralitas pula yang menjadikan bangsa ini tetap tegak. Tanpa pilar kesadaran pluralitas niscaya usia negeri kita tidak akan sampai hingga umur ke-68. Dengan ribuan pulau, bahasa, etnis, dan dengan agama yang beragam pula, penghormatan terhadap pluralitas menjadi satu-satunya faktor penentu kelangsungan hidup. Pengingkaran, penistaan, atau pengabaian terhadap pluralitas (dalam berbagai dimensi kehidupan) bukan saja bertentangan dengan hukum alam (sunnah al-Lam) dan konstitusi negara, tetapi juga membawa bangsa ini ke hitungan mundur untuk bubar.

Eksistensi Kebangsaan
Penghilangan kalimat “dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk- pemeluknya” dalam Piagam Jakarta dan pengakuan Pancasila sebagai satu-satunya asas harus menjadi cermin hidup kaum muslimin di masa mendatang. Bahwa pluralitas membutuhan kerelaan untuk berkorban dari siapapun anak bangsa ini. Nilai kerelaan kian tinggi jika yang melakukannya adalah kaum mayoritas muslim seperti di Indonesia.
Kerelaan berkorban bagi kelangsungan dan keutuhan bangsa itu equivalen dengan keikhlasan tidak makan, minum, dan berhubungan suami istri di siang hari ketika berpuasa. Meski bentuk pengorbanannya berbeda, keduanya memiliki nilai yang sama di sisi Tuhan, ibadah. Umat Islam terdahulu bisa saja egois dengan enggan membuang kata-kata dalam Piagam Jakarta dan tidak mengakui Pancasila, pun setiap muslim bisa saja makan, minum, dan berhubungan suami istri di siang hari ketika bulan puasa. Namun, semua itu tidak dilakukan karena dengan satu alasan, kaum muslimin tidak mau mengumbar hawa nafsu.
Kemampuan mengendalikan hawa nafsu di bulan Ramadhan ini pula yang membuat seorang muslim bisa memperoleh lailaltul qodr. Mendapat lailatul qodr bagi anak bangsa ini berarti adanya perubahan sikap dan perilaku, khususnya dalam membangun kerukunan hidup beragama dengan landasan etika Alquran. Inilah makna lailatul qodr sebagai proses “menjadi” (becoming). Ia ada dan berjalan sepanjang tahun dan Ramadan hanyalah sebagai puncaknya.
Semoga kita semua mendapat lailatul qodr tahun ini, pasca-Ramadhan kita berharap tidak mendengar lagi berita tentang belenggu kemiskinan yang mendera umat Islam, pembagian zakat massal yang rawan memakan korban, pengusiran umat beragama, tidak melihat pembakaran rumah ibadah, tidak tumbuh ideologi radikal sebagai sumber terorisme, dan hilangnya diskriminasi terhadap kaum minoritas. Sehingga Umat Islam sebagai mayoritas anak bangsa Indonesia tidak saja mampu mengisi kemerdekaannya melainkan juga mampu mendapatkan predikat ”merdesa” (berperadaban/bermartabat) yang menunjukkan wujud eksistensi kebangsaan kita. Wallahua’lam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar