Media Informasi Pemuda Peduli Dhuafa Gresik (PPDG) || Website: www.pemudapedulidhuafa.org || Facebook: Pemuda Peduli Dhuafa Gresik || Twitter: @PPD_Gresik || Instagram: Pemuda Peduli Dhuafa Gresik || Email: ppd.gresik@gmail.com || Contact Person: 0838-3199-1684 || Nomor Rekening: 0335202554 BNI a.n. Ihtami Putri Haritani || Konfirmasi Donasi di nomor telepon: 0857-3068-6830 || #SemangatBerkarya #PPDGresik

Senin, 07 Juli 2014

Menyelami Hakikat Perbedaan

Pada umumnya, perbedaan itu adalah sesuatu yang ada, terlihat, namun tidak sedikit orang yang membutakan mata dengannya, tidak mau melihat, menghindari, bahkan membenci. Tengoklah, misalnya terhadap budaya Ospek yang ada di beberapa perguruan tinggi di Indonesia. Ketika mulai masuk jurusan, mahasiswa baru akan dididik oleh seniornya dengan menerapkan prinsip persamaan. Misalnya, panjang rambut yang harus sama untuk laki-laki, pakaian yang harus sama, dan sebagainya. Hal ini tidak salah, bahkan cukup baik untuk menanamkan kesatuan dan persatuan dalam satu angkatan mahasiswa baru tadi. Namun ada hal yang kurang, adalah nilai perbedaan.
Banyak dari kita yang memandang sinis perbedaan, menganggapnya sebagai lintah penghisap nanah yang dapat merusak jaringan tubuh. Ada pula yang menganggap remeh makna perbedaan, menganggapnya sebagai sebuah kata asing yang dapat mengubah makna dari kesatuan suatu kalimat. Tak jarang kita menemui, ada orang yang hanya mau berteman dengan orang tertentu saja, ia hanya mencari seseorang yang kurang lebih sama dengannya, cenderung menghindari dan takut menjalin pertemanan dengan orang yang sama sekali beda dengannya.
Perbedaan bukanlah sebuah kutukan yang harus dihindari. Pun sebaliknya, persamaan bukanlah hal yang patut untuk diagung-agungkan. Keduanya ada memang karena harus ada, berguna, dan memang berpasangan. Tak ada yang lebih baik, pun lebih buruk, semuanya sama. Harus seimbang, tidak boleh berat sebelah, apalagi sampai jomplang. Karena jika tidak seimbang antara keduanya, bahkan hingga melewati batas yang seharusnya, akan membuat seseorang menjadi tertutup, buta akan hakikat dirinya.
Seorang kenamaan pernah berujar, bahwa memiliki watak selalu mencari persamaan, keselarasan, melupakan perbedaan untuk menghindari bentrokan sosial, akan menimbulkan malapetaka. Mereka, sang pencari persamaan, akan tunduk dan taat pada pegangannya ini, sampai kadang lupa batas yang tak boleh ia lewati. Akhirnya dalam perkembangannya, ia akan menghalalkan segala cara untuk mencari persamaan itu sendiri. Ia terjatuh pada suatu kompromi ke kompromi lain dan kehilangan prinsip-prinsip dalam dirinya. Ia lebih suka penyesuaian demi mendapatkan persamaan, daripada cekcok urusan prinsip yang menghasilkan perbedaan.
Begitu pun dengan perbedaan. Seseorang yang terlalu percaya diri, melambung tinggi, melewati batas kewajaran, akan cenderung mencari perbedaan yang sebetulnya tak perlu dicari dengan sedemikian rupa. Ia justru menciptakan batu pemisah yang membuatnya berbeda dengan sekelilingnya. Akibatnya ia menjadi seorang penantang bentrokan, terlalu kukuh, terjebak dalam keyakinan diri yang belum sepenuhnya benar. Ia lupa bahwa perbedaan bukanlah hal yang harus di cari namun harus di hargai.
Pada akhirnya, persamaan dan perbedaan bukanlah hal yang saling bertentangan. Mereka saling melengkapi satu sama lain. Ibarat kebaikan dan keburukan, yang batas di antaranya pun kita tidak tahu pasti, masih samar-samar, tipis, tergantung dilihat dari sudut pandang yang mana. Mencuri misalnya, adalah perbuatan yang sangat di benci, namun ketika kita memandang dari sudut pandang lain, ketika pencuri itu mencuri untuk seorang keluarga yang kelaparan, yang tengah berada di pelupuk mata pedang kematian, tentu kita akan pikir-pikir: Apakah yang demikian itu jahat ataukah mulia?
Seperti itu juga persamaan dan perbedaan. Persamaan bukanlah hal yang mesti dicari seperti mencari jarum di tumpukan jerami. Ia ada untuk disyukuri, karena persamaan adalah anugerah. Perbedaan pun kiranya demikian, perbedaan bukanlah hal yang harus dicari, namun harus di hargai. Ia ada sebagai berkah, sebagai pelengkap, seperti kepingan-kepingan mozaik alam semesta dengan keindahannya.
Berbeda tidak selalu berarti lawan, sama tidak selalu berarti kawan. Karena keduanya tak dapat dipisahkan, tak dapat dihilangkan begitu saja, tidak dengan hujatan, tidak pula dengan pujian. Ia akan berpisah jika memang yang menciptakan berkehendak. Ia akan hilang jika memang yang menciptakan juga berkehendak.
Semoga adanya perbedaan yang tidak membuat bangsa ini menjadi bangsa sinis, membutakan diri, menutup telinga, tenggelam dalam kesamaan antar golongan, dan lupa. Lupa bahwa kita memang ada karena berbeda, namun tetap satu jua.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar