Media Informasi Pemuda Peduli Dhuafa Gresik (PPDG) || Website: www.pemudapedulidhuafa.org || Facebook: Pemuda Peduli Dhuafa Gresik || Twitter: @PPD_Gresik || Instagram: Pemuda Peduli Dhuafa Gresik || Email: ppd.gresik@gmail.com || Contact Person: 0838-3199-1684 || Nomor Rekening: 0335202554 BNI a.n. Ihtami Putri Haritani || Konfirmasi Donasi di nomor telepon: 0857-3068-6830 || #SemangatBerkarya #PPDGresik

Rabu, 08 Januari 2014

SBY Menipu Diri, Terkait Turunnya Angka Kemiskinan di Indonesia

Sang Hyang Guru, dalam dunia wayang adalah dewa bertangan empat. SBY, Presiden RI ke enam, lebih dari itu. Menantu Alm. Sarwo Edi Wibowo ini bertangan seribu. Subsistem tangan itu bekerja berdasarkan Undang-Undang. Terkait dengan jumlah orang miskin di Indonesia, tangan-tangan SBY lumpuh total. Orang miskin dibiarkan bodoh dalam arti tidak memiliki ketrampilan untuk mengubah dirinya dari status miskin menjadi sebaliknya. Pengentasan orang miskin, selama dua periode SBY berkuasa, tidak lebih dari kepiawainan menyajikan angka untuk mengelabui rakyat.
Per Maret 2013, berbagai media mengabarkan, jumlah orang miskin di Indonesia mencapai 11,7% alias 28,07 juta orang. SBY mengakui pada kesempatan pidato pengantar keterangan pemerintah atas RUU tentang APBN 2014 dan nota keuangannya.
Menurut Presiden SBY, jika disandingkan dengan tahun 2004, angka itu turun sebesar 5,29%. Fakta tahun 2004 jumlah orang miskin 37,2 juta orang (16,66%) berhasil ditekan menjadi 28,07 juta orang (11,07%).
Tidak main-main, penjelasan itu dikemukakan di depan waklil rakyat, di Senayan. Padahal semasa pemerintahan Soeharto, jumlah orang miskin masih berada di angka 27%. SBY hebat, karena 3 presiden terdahulu: Habibi, Gus Dur dan Megawati Sukarno Putri hanya memiliki perstasi tidak lebih dari 3,10%. Pemerintahan SBY yang begitu suntuk tersandung bencana dan kasus hukum berhasil menurunkan 5,29%. Karya yang benar-benar spektakuler(?).
Bahkan yakin haqul yakin, pemerintahan SBY pada APBN-P mentargetkan, angka orang miskin turun lagi menjadi 10,5% di akhir 2013. Bisa seperti ini, kabarnya SBY menerapkan 3 langkah: pengendalian inflasi, penggelontoran raskin, BLSM dan beasiwa untuk pelajar miskin.
Lukita Dinarsyah Tuwo dalam kapasitasnya sebagai Wakil Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional (Bappenas) sempat berbesar hati, karena angka 11,37% itu menurutnya telah mendekati target. Setidaknya keyakinan itu terekam sampai pertengahan Oktober 2013.
Kementerian Kesejahteraan Rakyat, berdasarkan masukan dari Badan Pusat Statistik menyajikan data, jumlah rumah tangga sasaran (RTS) yang memperoleh jatah BLSM tahap I dan II adalah 15.530.897 jiwa. Bermain logika, selama SBY serius menangani persoalan kemiskinan, angka orang miskin bisa dijumput dari penerima BLSM.
Nyawa 15.530.897 jiwa tidak akan selamat dari perangkap ‘stiker miskin’ hanya dengan diberi jatah Rp 300.000,00 per triwulan. Saya tidak paham, apa yang sedang bergolak dalam benak SBY. Dia pikir uang 300 ribu rupiah juga raskin 15 kg bakal cukup untuk bertahan hidup sebulan. Manakala ini merupakan penyederhanaan potret kemiskinan di Indonesia, SBY benar-benar keterlauan.
Yang saya heran, SBY pilih menutup mulut orang miskin dengan cara memberi beras dan BLSM. Rasanya, SBY tidak ada niatan "membuka mata" orang miskin dengan memberi ketrampilan agar mereka mampu mengubah status dirinya dari orang miskin menjadi orang yang hidupnya layak.

Tangan SBY yang saya sebut sebagai ribuan di depan adalah meliputi gubernur, bupati/walikota, camat, kepala desa, juga dukuh. Terkait dengan upaya pengentasan kemiskinan di Indonesia, aparatur ini merupakan tangan SBY yang miskin karya nyata. Jadi, ketika SBY menargetkan angka kemiskinan turun tinggal 10,5%, di tahun 2013-2014, itu artinya SBY menipu diri sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar