Media Informasi Pemuda Peduli Dhuafa Gresik (PPDG) || Website: www.pemudapedulidhuafa.org || Facebook: Pemuda Peduli Dhuafa Gresik || Twitter: @PPD_Gresik || Instagram: Pemuda Peduli Dhuafa Gresik || Email: ppd.gresik@gmail.com || Contact Person: 0838-3199-1684 || Nomor Rekening: 0335202554 BNI a.n. Ihtami Putri Haritani || Konfirmasi Donasi di nomor telepon: 0857-3068-6830 || #SemangatBerkarya #PPDGresik

Jumat, 03 Januari 2014

Pendidikan Seks dan Hari AIDS

Banyak sudah waktu, tenaga, pemikiran, dan uang yang dihabiskan untuk menangani masalah AIDS ini, tetapi mengapa jumlah penderitanya terus meningkat ? Bahkan menurut data statistik yang resmi dikeluarkan oleh Pemerintah, penderita HIV dan AIDS di kalangan usia muda meningkat hingga mencapai angka 600 persen. Apa gerangan yang terjadi ?. 
Pandangan dan sikap terhadap seks pada umumnya tidak lebih dari sebatas masalah “seonggok daging di belahan paha” saja. Bahkan di dalam kamus pun seks diuraikan hanya sebagai jenis kelamin semata. Semua itu pun dianggap sebagai sesuatu yang benar karena realistis dan karena memang paling umum diyakini.
Sementara itu, hanya sedikit sekali yang mau melihat seks dari sisi pandang yang berbeda dan lebih luas lagi. Memang tidak mudah untuk mau melepaskan diri dari zona yang nyaman meski merasa diri mampu dan sering mengucapkannya.
Hingga kemudian, seks ini pun hanyalah menjadi sebuah objek semata. Bagaimana bisa lebih dari itu bila ada pembatasan terhadap seks itu sendiri ? Tidak mengherankan kemudian bila seks ini menjadi sesuatu porno, tabu, dan dianggap merusak serta menjerumuskan. Memang bila hanya menjadi objek, seks akan menjadi demikian, kok! Pemikiran dan cara pandang kita sendirilah yang membuat seks ini menjadi remah dan tidak dianggap penting selain hanya sebagai bagian dari hasrat semata.
Lain ceritanya bila semua bisa berpikir bahwa seks itu tidak mesti porno sebab seks itu tidak akan menjadi porno bila kita menjadikannya sebagai sebuah subjek. Seks akan menjadi sebuah ilmu yang bisa terus digali dan terus dimanfaatkan sebaik-baiknya demi kehidupan yang lebih baik dan juga masa depan.
Seks itu adalah titik awal kehidupan dan kehidupan itu sendiri. Itu menurut pendapat saya, bila pun dianggap tidak realistis ataupun tidak logis serta irasional, tidak masalah. Silahkan mencari dan menemukannya sendiri, apa seks itu yang sebenarnya. Itu sangat baik dan penting. Dengan senang hati saya menanti hasil buah pemikiran dari siapapun yang mau melakukannya.
Berpikir tentang seks itu menyenangkan sekali. Bukan hanya soal bagaimana melakukan hubungan seksual, tetapi jauh lebih menyenangkan lagi bila kita mau berpikir soal arti dan makna seks itu sendiri. Tidak akan pernah habis dan tidak akan pernah selesai untuk diuraikan dan dipikirkan. Seks itu menyangkut seluruh bagian dalam kehidupan ini dan tidak memiliki batas. Bayangkan saja bagaimana bila kita tidak dianugerahi seks ? Seperti apa kehidupan kita ini ? Apakah kita ada ?. 
Nah, karena sangat “menyeluruh” inilah yang dilupakan, maka menurut saya, menjadi alasan utama atas kegagalan dari segala bentuk pendidikan seks ataupun penganggulangan yang ada. Penanggulangannya tidak dilakukan secara menyeluruh dan tidak juga dimulai dari akar permasalahan yang ada tetapi hanya sebagian-sebagian saja dan potong jalan di tengah. Mana bisa semua itu menghasilkan buah yang lebih manis?! Jika hanya berkutat di masalah medis, psikologis, pendidikan, dan sosial budaya saja, lalu dilakukan sendiri-sendiri pula, tidak akan pernah ada perbaikan sama sekali. Untuk tahu apa yang membedakan dan menjadikan pria itu pria danperempuan itu perempuan saja masih pada bingung jawabannya, sudah loncat ke urusan kondom. Bagaimana bisa menyelesaikannya ?. 
Salah satu contoh yang paling sering terjadi adalah di mana kita selalu menyalahkan ketabuan atas seks. Padahal, menurut saya, tabu atau terbukanya pendidikan seks, sama-sama memiliki masalah. Masalahnya sama juga dan sama-sama tidak bisa menyelesaikan masalah. Begitu juga dengan masalah pandangan serta budaya Barat dan Timur yang sering diperdebatkan, bukan itu inti permasalahannya. Coba perhatikan, bukankah di seluruh dunia ini, masalah seks itu sama ? Kenapa bisa sama kalau berbeda cara pendidikannya, beda budayanya, dan beda pandangannya ?. 
Sekarang saja masih ada pemimpin bangsa yang berpikir bahwa untuk menanggulangi masalah AIDS dan pergaulan seks bebas remaja adalah dengan cara melakukan tes keperawanan. Padahal baru saja ada pemimpin lain dari daerah Jambi yang dikritik keras masalah ini. Eh, sekarang dari Medan ada lagi. Sungguh membuktikan betapa sempit dan kotornya pemikiran tentang seks ini. Bila pemimpinnya saja bisa berpikir sedemikian rupa, bagaimana dia bisa membawa masyarakatnya menuju kehidupan yang lebih baik ?. 
Herannya lagi, semua selalu disangkutpautkan dengan masalah moral, etika, norma, dan juga agama serta keyakinan dan kepercayaan. Okelah, semua itu memang ada sangkut pautnya, namun moral yang seperti apa dulu, nih ? Apa yang dimaksud dengan moral ? Apa itu etika ? Apa itu norma ? Bila moral, etika, dan norma ini pun tidak dimengerti dan dipahami dengan baik, tidak perlulah dulu kita bicara soal agama, keyakinan, dan kepercayaan karena itu jauh lebih rumit dan tidak mudah untuk dimengerti ataupun dipahami. Kenapa ? Prinsip dasar atas semua ini, yaitu adil dan keadilan itu sendiri tidak dimengerti dan dipahami dengan baik, bagaimana bisa mengerti yang lainnya ? Untuk bisa jujur dan mengakui masalah seks diri sendiri saja sulit, apalagi untuk mau mengakui apa dan siapa diri yang sebenarnya. Ya, kan ?. 
Yah, memang tidak akan pernah ada hubungannya bila tidak melihat gambaran lebih luas, jernih, dan mau menarik garis dari belakang. Disadari tidak disadari seks adalah sumber kekuatan yang paling besar. Diakui tidak diakui juga bahwa sebenarnya seks itu adalah senjata yang paling ampuh dan paling mematikan. Apa yang tidak bisa dilakukan dengan seks ? Berita tentang kasus video porno artis saja bikin guncang dunia ekonomi dan bisnis. Ya, kan ?. 
Dari kasus itu saja sudah jelas bagi saya bagaimana sebenarnya keadaan psikologis dan sosial politik masyarakat. Jelas banget kerancuan mana yang sakit jiwa mana yang tidak. Kelihatan pula “manusia penonton”-nya. Lebih jelas lagi sejauh mana seks itu dianggap penting sekaligus ditutupi dan diputarbalikkan serta dijadikan sarana untuk merusak, menipu, dan membodohi.
Buktinya lagi, sudah berapa banyak di antara kita yang salah memilih pemimpin dan lalu menyesalinya kemudian ? Tidak ada yang memperhatikan sih, bagaimana mereka memanfaatkan daya tarik seksual serta politik seks mereka. Tidak ada juga yang memperhatikan masalah seksual dan kejiwaan perilaku seksual mereka. Padahal, bila semua itu terungkap, tidak ada yang bisa ditutupi. Ketahuan jelas bagaimana mereka semua itu bisa berpikir, bertindak, berperilaku, dan mengambil keputusan. Ketahuan pula apa motivasi mereka yang sebenarnya untuk menjadi pemimpin.
Oleh sebab itulah, saya menolak pendidikan seks di sekolah. Pendidikan seks yang seperti apa dulu ? Begitu juga dengan pengenalan tentang budaya seks. Budaya yang seperti apa dulu, nih ? Kalau tidak ada perubahan yang lebih baik, hanya akan menjadi sebuah kesia-siaan belaka. Bisa jadi bahan dan ladang korupsi baru juga. Sekarang saja sudah banyak yang memanipulasi atas nama pendidikan seks dan penanggulangan AIDS. Pakai menjual duka dan kesedihan pula. 
Saya tidak mengatakan bahwa saya lebih baik dari yang lainnya, tetapi saya mencoba untuk mengajak semua berpikir kembali atas apa yang telah terjadi dan apa yang telah dilakukan. Tidakkah kita seharusnya selalu melakukan introspeksi diri agar semua yang dilakukan ke depan itu menjadi lebih baik dan lebih bermanfaat lagi ? Apakah kita tidak menginginkan kehidupan dan masa depan yang lebih baik ? Semoga semua mau menghormati dan menghargai seks sebagai anugerah terbesar dan terindah dari-Nya. Sekali lagi, seks itu tak mesti porno karena seks itu bukan hanya seonggok daging di belahan paha saja. Seks adalah titik awal kehidupan dan kehidupan itu sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar