Media Informasi Pemuda Peduli Dhuafa Gresik (PPDG) || Website: www.pemudapedulidhuafa.org || Facebook: Pemuda Peduli Dhuafa Gresik || Twitter: @PPD_Gresik || Instagram: Pemuda Peduli Dhuafa Gresik || Email: ppd.gresik@gmail.com || Contact Person: 0838-3199-1684 || Nomor Rekening: 0335202554 BNI a.n. Ihtami Putri Haritani || Konfirmasi Donasi di nomor telepon: 0857-3068-6830 || #SemangatBerkarya #PPDGresik

Kamis, 30 Januari 2014

Perilaku Seks Bebas dan Liar Anak Jalanan

“Mosok cuma dua ribu ? Tambahin to mas ?“ Suara anak perempuan itu terdengar merajuk. “Aku cuma punyanya segitu. Besok kalau aku punya uang banyak nanti kamu kukasih banyak juga”. Kali ini yang terdengar suara anak laki-laki sekitaran remaja. “Yo wislah, tapi aku dijajakne ya mas”. Anak perempuan itu kembali tertawa renyah mengisyaratkan kalau dia percaya remaja itu akan memberi apa yang dia mau. “Iyo…kamu kukasih makan habis ini..Ayo cepet!“. Sekilas percakapan seorang anak perempuan jalanan dan anak laki-laki remaja.
  
Apa yang ada dalam benakku mendengar obrolan mereka ? Pasti si anak perempuan itu lapar dan minta makan sama kakaknya atau temannya yang usianya lebih tua darinya. Benarkah ? Upss….salah. Ternyata pikiranku terlalu polos untuk bisa menangkap maksud obrolan mereka. Apalagi setelah itu kudengar ada suara-suara yang sedikit “aneh” keluar dari mulut dua anak tadi. Seperti mengerang perlahan tapi bukan kesakitan. Diantara erangannya yang sangat pelan nyaris tak terdengar, bisa tertangkap setitik kenikmatan. Aku memang tidak bisa melihat wajah mereka karena terhalang semak-semak. Tapi suara-suara “aneh” tadi akhirnya membuatku ambil langkah seribu. Berlari menjauh. Kenapa aku harus lari ya, harusnya kan “menggusah” atau menasihati mereka. Tapi ini memang tindakan lari spontan. Ada rasa tidak tega melihat anak-anak main “begituan”. Dan malu hati juga memergoki mereka sedang bersex outdoor.
Sejatinya ini bukan hal yang aneh bagi kehidupan para anak jalanan yang berkeliaran di kota-kota besar. Profesi mereka yang beragam dari pengamen, pengemis, pedagang asongan atau mungkin “ciblek” (cilikan betah melek) alias cabe-cabean alias pelacur cilik menyatu dalam denyut kehidupan kota besar. Mereka datang ada yang mengikuti orang tua, tetapi tak jarang juga anak-anak itu lari dari rumah orang tuanya karena ikut-ikutan teman. Rata-rata mereka datang dari daerah terdekat meskipun tak menampik ada yang datang dari daerah yang jauh.
Keinginan mereka dahulu saat menjejakkan kaki ke kota besar tentu saja bisa mencari nafkah yang lebih baik dari tempat tinggal mereka dahulu. Atau membantu orang tua mereka mencari nafkah. Tapi apa daya mereka tidak sanggup menaklukkan gemerlapnya kota besar. Rendahnya pendidikan yang mereka punyai tidak memungkinkan bersaing dengan mereka yang berpendidikan tinggi dalam mencari pekerjaan atau bahkan status yang meningkatkan derajat kehidupan. Jadilah mereka terdampar seperti sekarang ini. Menambah beban masalah sosial di perkotaan.
Beragam profesi yang mereka jalani di jalanan demi menyambung hidup tidak menutup kemungkinan akan terjadi berbagai macam tindak kekerasan. Baik kekerasan fisik, psikis maupun kekerasan seksual. Kekerasan apapun itu bentuknya sudah menjadi makanan sehari-hari. Mulai diusir dari tempat mereka berteduh, diserang kelompok lain atau dihajar preman saat dipalak tidak mau memberikan apa-apa.
Problematika anak jalanan khususnya perempuan malah lebih kompleks. Tidak hanya tekanan psikologis yang mereka terima seperti ejekan, caci maki, tetapi juga perlakuan tak wajar. Mereka kerap dituding sebagai anak liar atau pelacur yang menempatkan posisi anak jalanan perempuan pada posisi paling lemah. Maksud hati untuk mencari penghasilan demi kehidupan yang lebih baik malah dinodai oleh segelintir manusia bejat yang setiap saat mengintai.
Bayangkan saja hanya mendapat duit 2000 rupiah sebagai imbalan mereka harus menjadi pemuas nafsu bejat remaja atau mungkin juga laki-laki dewasa. Kadang anak jalanan perempuan itu cukup dikasih nasi kucing dengan lauk seadanya sebagai imbalannya. Bukan maksudnya mereka harus mendapat imbalan yang lebih besar lagi. Tetapi kekerasan seksual yang mereka terima bisa berakibat fatal.
Dari seringnya harus melayani hasrat para remaja atau lelaki bejat itu tak sedikit dari anak-anak perempuan itu yang beralih profesi menjadi pelacur cilik. Sebut saja T, anak perempuan jalanan yang beralih profesi menjadi pelacur karena sudah letih mengamen dan mengharapkan bantuan dari sesama anak jalanan. Dia butuh makan, butuh hidup, malu kalau harus menjadi parasit. Dari coba-coba sesama anak jalanan akhirnya kalau ada yang menginginkan tubuhnya dibayar berapapun dia mau.
Atau R, anak lelaki jalanan yang “pipis” saja belum lempeng harus memenuhi hasrat lelaki yang lebih tua darinya sehingga diapun harus ikut menanggung “kenikmatan” yang selalu nagih. Padahal anak seusia dia harusnya berkutat dengan buku bukan mikir siapa yang akan “mengajaknya” karena kebutuhan yang satu itu selalu nagih. Ini pun tak lebih juga cuma 2000 rupiah. “Hasrat dini” lah yang mengakibatkan anak-anak jalanan itu dewasa sebelum waktunya karena memikirkan hal-hal yang belum waktunya. Sungguh rugi nasib masa depan anak-anak itu.
Anak-anak itu memang tidak menyadari bahaya yang setiap saat mengintai. Baik laki-laki atau perempuan mempunyai posisi kelemahan yang sama dalam hal ini. Mereka menjadi korban kebejatan para lelaki yang lebih tua dari usia mereka. Awalnya si perempuan cilik ini mulai digoda, dicolek, diraba, dicium. Dan para perempuan cilik itu pasti suka-suka saja menerima perlakuan yang “menyenangkan” karena mereka akan diiming-imingi duit 2000 atau 3000 rupiah. Lumayan buat makan siang. Jika sudah masuk perangkap maka mulailah mereka harus memelorotkan celananya untuk berhubungan seks karena duit yang dikasihpun tambah besar sekitar 5000 rupiah. Lumayan pikir mereka bisa untuk makan siang dan malam tanpa harus merepotkan orang tua atau memotong uang hasil mengemis atau mengamen.
Dengan catatan, ini berlaku untuk anak-anak yang penurut. Bagaimana jika mereka berontak karena merasa kesakitan atau dipaksa melakukan hubungan seksual yang menyimpang, seperti anal dan oral seks ? Manusia-manusia bejat itu tak segan-segan mengurung atau memperkosa mereka. Hal ini sering menimpa anak jalanan perempuan yang tidur di tempat-tempat sembarangan.
Ironisnya perlakuan kekerasan seks terhadap anak jalanan perempuan tidak hanya dilakukan oleh sesama anak jalanan, tetapi kerapkali juga dilakukan oleh orang tua dan anggota keluarganya. Hal ini bisa dimungkinkan bila anak-anak itu tinggal di rumah petak tanpa sekat yang dihuni oleh anggota keluarga laki-laki dan perempuan berbaur tanpa ada pemisahan saat mereka tidur. Perlakuan seks juga kadang mereka dapatkan dari kondektur bus, satpam, masyarakat umum hingga polisi. Menghadapi berbagai macam bentuk perlakuan ini tidak ada yang bisa mereka lakukan kecuali hanya diam dan menerimanya.
Mereka adalah anak-anak yang berpotensi terkena virus HIV sehingga mengakibatkan rentan pula terhadap penyakit AIDS. Apakah mereka mengenal kondom ? Tentu tidak. Bahkan membayangkan pun tidak pernah untuk menggunakan kondom saat berhubungan seks. Mereka tidak termasuk target pembagian kondom pada Pekan Kondom Nasional, meskipun resiko yang diterima juga tinggi sama seperti para PSK. Tanpa kondompun seks bebas tetap merajalela di antara mereka. Mereka juga tidak menyadarai bahwa multiple partner, berganti-ganti pasangan juga akan mempercepat penyakit ini berjangkit.

Menurut hasil riset 74,2 persen hubungan seksual anak-anak jalanan dilakukan dengan multiple partner, berganti pasangan. Potensi resiko yang cukup tinggi terhadap penularan penyakit HIV/AIDS. Meski sampai saat ini belum ditemukan anak jalanan yang terinfeksi HIV/AIDS tapi sudah selayaknya bila kita juga ikut memikirkan mereka agar terhindar dari penyakit yang belum ditemukan obatnya sampai kini. Yang menjadi pertanyaan bagaimana peran pemerintah yang lebih berkompeten dalam mengurusi anak-anak jalanan ini ? Apakah harus menunggu penyakit ini menjangkiti anak-anak yang menjadi cikal bakal anak bangsa dan negara ?.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar