Media Informasi Pemuda Peduli Dhuafa Gresik (PPDG) || Website: www.pemudapedulidhuafa.org || Facebook: Pemuda Peduli Dhuafa Gresik || Twitter: @PPD_Gresik || Instagram: Pemuda Peduli Dhuafa Gresik || Email: ppd.gresik@gmail.com || Contact Person: 0838-3199-1684 || Nomor Rekening: 0335202554 BNI a.n. Ihtami Putri Haritani || Konfirmasi Donasi di nomor telepon: 0857-3068-6830 || #SemangatBerkarya #PPDGresik

Senin, 13 Januari 2014

Menakar Cinta Kepada Rosul (Kritik Sosial pada Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW)

Labil itu pasti. Perubahan itu niscaya. Begitu pula dengan iman kita. Kadang naik, kadang turun. Saat melonjak tinggi, itu patut disyukuri. Tapi kalau merosot drastis, harus diwaspadai. Agar saat iman turun tak terlalu ekstrim, kita butuh momentum. Gebrakan bagi kesadaran kita. Daya yang mampu menghentakkan tenaga kita. Sesuatu yang membuat kita menjadi lebih bergairah.
Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW inilah momentum kita. Ia adalah warning. Semacam alarm penggugah kesadaran. Seberapa besar cinta kita kepada Rosulullah SAW. Seberapa mirip kita mengaktualisasikan ajaran beliau dalam keseharian.
Hari lahir Nabi Muhammad SAW yang jatuh pada tanggal 12 Robi’ul Awal Hijriah dirayakan dengan berbagai cara. Ada yang berkumpul mengadakan pengajian, bergantian membaca siroh(sejarah) Nabi Muhammad SAW dalam bahasa arab yang ditulis oleh Imam, Syekh dan ulama sholih zaman dahulu. Diantaranya : Maulid Barzanji Natsar, Maulid Diba’iy, Maulid ‘Azib, Maulid Syariful Anam, Maulid Barzanji Nadhom, Qosidah Burdah dan Qosidah Munfarijah. Pengajian ini dilakukan mulai tanggal 1 sampai dengan 12 Robi’ul Awal. Puncaknya pada tanggal 12, biasa disebut rolasan, dihadirkan ulama untuk memberi tausiyah (nasehat) seputar Maulid Nabi Muhammad SAW.
Partisipasi dalam acara-acara tersebut menjadi salah satu indikator cinta kita pada Rosulullah. Tapi hadir saja, cukup ? Tentu tidak. Faktanya, sejarah Nabi Muhammad SAW yang dituangkan dalam berbagai kitab berbahasa arab tersebut hanya dilafalkan. Masyarakat tidak begitu peduli arti, apalagi maknanya. Padahal tanpa pemahaman terhadap arti, mustahil kita dapat meneladani ajaran Nabi. Meneladani apa ? Mengerti isinya saja tidak.
Namun tidak serta merta pengajian tersebut menjadi tak berarti sama sekali. Sebagaimana membaca Al Qur’an yang berbahasa arab. Walau tidak tahu artinya, bisa menenangkan hati. Hanya cukup memahami saat mengaji berati sedang mendekatkan diri alias curhat sama Allah, sudah cukup menjadi oase jiwa. Membaca sejarah Nabi Muhammad SAW yang berbahasa arab pun begitu. Cukup dihayati dengan penuh rindu dan mengharap syafa’at beliau, balasan dan manfaatnya sudah dijanjikan oleh Allah SWT.
Analognya begini : Orang yang suka lagu india bisa sangat menghayati dengan penuh ekspresi saat bernyanyi lagu india. Padahal dia sama sekali tidak tahu apa yang dia ucapkan. Lantaran ketertarikan hati menjadikan ketidaktahuan arti menjadi bukan masalah berarti.
Hanya saja akan lebih powerful jika tidak hanya dilafalkan, tetapi juga dipahami maknanya. Daya ungkit terhadap iman kita akan lebih ekstra dan menggetarkan jiwa. Menengok sejarah perjuangan Nabi Muhammad SAW akan menjadi ruh pembaruan, kekuatan dari dalam yang mampu menggerakkan hati, pikiran dan badan agar bertindak lebih dahsyat, bermanfaat bagi diri, keluarga dan masyarakat.
Peringatan Hari Besar Islam (PHBI) oleh sebagian besar masyarakat masih sekedar ceremoni. Datang menghadiri PHBI untuk memenuhi kewajiban status sebagai orang beragama. Agama hanya simbol yang cukup dijalani lalu ditinggalkan tanpa dihayati artinya .Tak sedikit yang melewatkan momen ini tanpa makna.
Padahal posisi Peringatan Hari Lahir Nabi Muhammad SAW patut dijadikan renungan sosial. Sosok teladan hidup pada beliau layak dicontoh. Sebagai pemimpin maupun rakyat jelata. Sebagai orang kaya maupun orang miskin. Sebagai pedagang dan juga ulama. Sebagai milisi, sebagai motivator. Al Amin (dapat dipercaya) sebagai sifat yang melekat pada Nabi Muhammad SAW. Bahkan sebelum diangkat menjadi rosul, patut direnungi oleh para pemimpin negeri ini. Bahwa hidup tak berhenti sampai di sini, di dunia ini. Apapun yang diperbuat akan dimintai pertanggungjawaban. Pun oleh pemimpin di level terkecil seperti keluarga. Tiap diri pun menjadi pemimpin bagi dirinya sendiri.
Akhirnya, momentum Maulid Nabi selayaknya dijadikan sarana refreshing mental dari kejenuhan hidup yang penuh dengan hiruk-pikuk materi. Mencari sesuatu yang hilang dari kehidupan negeri ini, dengan bercermin pada Sang Pembawa Rahmat Tuhan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar