Media Informasi Pemuda Peduli Dhuafa Gresik (PPDG) || Website: www.pemudapedulidhuafa.org || Facebook: Pemuda Peduli Dhuafa Gresik || Twitter: @PPD_Gresik || Instagram: Pemuda Peduli Dhuafa Gresik || Email: ppd.gresik@gmail.com || Contact Person: 0838-3199-1684 || Nomor Rekening: 0335202554 BNI a.n. Ihtami Putri Haritani || Konfirmasi Donasi di nomor telepon: 0857-3068-6830 || #SemangatBerkarya #PPDGresik

Kamis, 20 Februari 2014

Anak Jalanan, Tanggung Jawab Siapa ?

Bukan sekali dua kali, sebulan dua bulan, saya melihat anak-anak di lampu merah, berjalan sambil menyodorkan sebuah kotak kepada setiap orang yang dilewatinya. Mungkin kita juga sering menemuinya, dan memilih untuk bersikap cuek. 
Bahkan pernah suatu ketika dalam perjalanan ke rumah teman, di tengah gerimis, saya melihat beberapa anak yang usianya sekitar 4-5 tahun duduk di trotoar double way, di lampu merah, tanpa mengenakan mantel, hanya baju yang tipis.
Dan pernah pula, ketika saya keluar dari sebuah gedung yang mengadakan pameran, dua orang anak menghampiri saya. Menyodorkan sebuah kotak, mereka berkata “Sumbangannya, bu…Seikhlasnya…”. Langkah saya terhenti. Kemudian mereka berkata lagi, “Kasian, bu…Saya belum makan..” “Belum makan?” “Iya, bu…Dari pagi tadi…..” Saat itu pukul 1 siang. Saya tidak tahu mereka bohong atau tidak, “Ya sudah, kalian tunggu di warung depan itu, saya mau ambil motor dulu.” Saya bisa membeli makan apa yang saya mau ketika lapar, atau pulang ke rumah dan di rumah sudah tersedia berbagai jenis makanan, tapi mereka…?? mungkin harus menunggu sampai malam. Tapi seandainya mereka berbohong, toh Tuhan tidak akan membiarkan segala sesuatu berlalu begitu saja. Tapi melihat matanya….Saya pesankan sepiring nasi dengan segelas teh. Saya tidak memikirkan apa yang akan terjadi kemudian, saya hanya tidak tega, mungkin mereka sudah berjalan jauh dan lelah lalu lapar. Itu saja.
Anak-anak itu, masih sangat kecil, seharusnya mereka ada di dekat orang tua mereka, bermain di lapangan, bukan di pinggir jalan, mencari sumbangan. Tak jarang juga saya lihat di trotoar dekat lampu merah mereka bermain sambil istirahat.
Apakah sudah sedemikian parahnya keadaan di negeri kita, sampai anak-anak harus dipekerjakan ? Saya tidak menyalahkan orang tua jika mereka tidak mampu menyekolahkan mereka. Tapi mengijinkan mereka mencari uang di jalan ? Itu sangat berbahaya.
Dan mengapa pemerintah setempat seakan tutup mata ? Jika keberadaan mereka diserahkan kepada masyarakat, tidak semua dari kami merupakan orang yang berlimpah harta.
Jika pemerintah mampu menganggarkan dana yang besar untuk pembangunan ini dan itu (yang sepertinya tidak perlu), apakah pemerintah juga menganggarkan dana untuk kesejahteraan mereka ?.
Menurut saya, jika orang tua benar-benar tidak mampu menyekolahkan anak-anaknya, apakah bisa pemerintah membentuk suatu lembaga/tempat dimana anak-anak itu bisa belajar/diberi keterampilan ? Sebab menurut saya pendidikan tidak harus diberikan di sekolah. Kesimpulan ini saya dapat ketika saya ikut mengajar di sebuah desa dengan beberapa teman dari berbagai organisasi kampus.
Saya juga paham dalam hal ini saya tidak bisa menggantungkan harapan saya sepenuhnya kepada pemerintah. Tapi berjalan seorang diri, saya juga tidak mampu. Namun yang saya percayai dalam hidup ini, pemberian sekecil apapun pasti akan sangat berarti bagi mereka yang membutuhkan. Jika dia tidak berkenan atas bantuan kita, biarkanlah tangan Tuhan yang bekerja. Karena Tuhan tidak akan menjadikan segala sesuatunya menjadi sia-sia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar