Media Informasi Pemuda Peduli Dhuafa Gresik (PPDG) || Website: www.pemudapedulidhuafa.org || Facebook: Pemuda Peduli Dhuafa Gresik || Twitter: @PPD_Gresik || Instagram: Pemuda Peduli Dhuafa Gresik || Email: ppd.gresik@gmail.com || Contact Person: 0838-3199-1684 || Nomor Rekening: 0335202554 BNI a.n. Ihtami Putri Haritani || Konfirmasi Donasi di nomor telepon: 0857-3068-6830 || #SemangatBerkarya #PPDGresik

Jumat, 07 Februari 2014

Anak Jalanan dan Masa Depan yang Masih dalam Angan

Waktu perjalanan mau cari makan di kampus, sebuah pemandangan rasanya menusuk penglihatan saya. Bukan sesuatu yang tabuh sih, di negara tropis yang beranama Indonesia. Tapi rasanya apa ya, miris aja.
Saya lihat ada 2 anak kecil yang lagi kerja di kampus. Kebetulan di kampus ada proyek pembangunan gedung gitu. Dua anak kecil itu, kita kasih nama mereka Upin dan Ipin ya. Tadi aku liat Upin lagi bawa gerobak dorong yang isinya semen, terus Ipin ngikutin dari belakang. Upin dan Ipin kayanya seumuran. Tampang mereka gak jauh beda dari anak umur 10 tahunan. 
Agak tersentak juga ya, mengingat umur saya 21 tahun dan saya masih bisa makan makanan enak yang saya mau, saya masih bisa jalan-jalan dan ngabisin duit orang tua, saya kalo kehabisan duit langsung minta ke orang tua, biasanya langsung dikasih. 
Miris aja, waktu seumuran mereka. Rasanya hidup aku gak sesusah itu, aku bisa main bebas tanpa harus mikirin dari mana uangnya, aku bisa jajan bebas tanpa harus dibebani oleh embel-embel “mencari nafkah”. Mungkin sebagian dari kita, masa kecilnya juga demikian. 
Mereka, diusia mereka yang masih sangat kecil. Sudah memiliki beban yang sangat berat. Mereka kan harusnya sekolah, main, belajar. Tempat mereka bukan di proyek pembangunan yang jelas bukan diperuntukan untuk anak usia mereka. 
Selain Upin dan Ipin yang tadi saya lihat di kampus. Ada anak lain yang juga sebenarnya mengusik nurani saya. Kita kasih dia nama Jarjit ya. Jarjit itu suka ada di Indomaret deket kos-an. Setiap kali saya belanja ke Indomaret pastilah ketemu Jarjit. Jarjit suka duduk deket pintu, melamun. Saya juga gak paham sebenarnya dia lagi apa dan ngelamunin apa. Jarjit suka bawa-bawa karung gitu.
Fenomena anak jalanan Indonesia bukan hal yang aneh lagi sih. Dikota-kota besar dapat dengan mudah kita menemukan mereka di pertigaan lampu merah. Biasanya, anak anak jalanan ini bekerja karena memang dia tidak memiliki orang tua, atau dia bekerja atas perintah orang tua. Dari mulai mengemis, ngamen, atau bahkan pekerjaan kuli yang sekali lagi tak seharusnya dilakukan oleh anak kecil. 
Selain Jarjit dan Upin, Ipin. Pastinya banyak sekali anak anak Indonesia yang mengalami nasib serupa dengan mereka, hidup dijalan, bekerja serabutan. Belum saatnya mereka bekerja keras seperti demikian, dan jalanan bukan tempat yang layak bagi anak-anak itu. Belum lagi perlakuan yang kadang mereka terima premanisme, razia trantib. Kasian tuh kan. Apa ya, terlalu keras untuk anak seumuran mereka. Jujur, sedih rasanya ketika melihat wajah polos dan tubuh kecil mereka yang kelelahan, wajah mereka yang tertidur lelap di emperan toko.
Keberadaan anak jalanan menurut hasil Survey tahun 1999 ADB-Depsos-UniversitasAtmajaya pada 12 kota diperkirakan kurang lebih 40.000 anak, dimana 48 % dari mereka merupakan pendatang baru dari hasil penelitiannya 12 % anak jalanan itu perempuan dari keseluruhan 60 % telah meninggalkan bangku sekolah dan 20 % masih tinggal bersama orang tuanya. Saya pernah melihat sebuah program televisi yang juga menyoroti mengenai anak jalanan.
Masih ingat mengenai wancana bahwa pada 2014 Indonesia bebas anak jalanan, juga Kak Seto yang melarang memberi pada anak jalanan ? Bagaimana nasib mereka nanti kedepannyaa ?. 
Bagaimana kabar pemerintah dengan  Pasal 34 UUD 45 yang menyebutkan : “Fakir Miskin dan Anak Terlantar Dipelihara Oleh Negara”. Dan mengapa mereka malah ditelantarkan. Bagaimana pun anak anak jalanan adalah anak indonesia yang berhak mendapatkan pendidikan dan kehidupan yang layak, dan seharusnya pemerintah mampu menjamin semuanya. Mereka berhak untuk mendapatkan masa depan yang lebih baik. Tapi kenyataannya pemerintah seolah menutup mata dari semua hal tersebut.
Saya berkhayal mengenai anak-anak jalanan. Mereka akan dikumpulkan dan diberi tempat tinggal. Mereka akan bersekolah dan menjadi anak pintar. Saya berkhayal akan ada sebuah rumah yang akan memberikan mereka kenyamanan jauh dari keadaan yang mereka dapatkan dijalan. Mereka akan mendapatkan kasih sayang dan juga perhatian, mereka gak akan takut kedingingan, kelaparan atau takut diusir trantip. Mereka akan belajar matematika, belajar mengaji, belajar bermain gitar, atau bahkan mereka akan belajar menari dan menyanyi. Hingga kemudian mereka akan tumbuh menjadi orang besar, menjadi orang yang berguna. Bisakah pemerintah melakukannya ? Atau bagaiamana dengan program orang tua asuh ? Itu sepertinya akan menjadi program yang bagus untuk masa depan anak anak jalanan kita. Selain itu pemerintah juga bisa mengadakan program rumah pintar. Dan sebenarnya jika memang pemerintah berkomitmen untuk memberdayakan mereka, banyak caranya kok. 

Anak anak Indonesia adalah aset yang penting bagi bangsa kita, mereka tetap memiliki hak seperti yang dimiliki seluruh anak di dunia. Mereka ada untuk dipelihara negara, bukan untuk diabaikan atau dibiarkan berceceran dan terkatung-katung dijalanan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar