Media Informasi Pemuda Peduli Dhuafa Gresik (PPDG) || Website: www.pemudapedulidhuafa.org || Facebook: Pemuda Peduli Dhuafa Gresik || Twitter: @PPD_Gresik || Instagram: Pemuda Peduli Dhuafa Gresik || Email: ppd.gresik@gmail.com || Contact Person: 0838-3199-1684 || Nomor Rekening: 0335202554 BNI a.n. Ihtami Putri Haritani || Konfirmasi Donasi di nomor telepon: 0857-3068-6830 || #SemangatBerkarya #PPDGresik

Kamis, 19 September 2013

Eksistensi Pemuda dalam Dinamika Bangsa

Pemuda semestinya jauh dari sikap eksklusif dan apatis terhadap dinamika bangsa, apalagi berkhianat terhadap amanah rakyat. Dalam kondisi bangsa yang masih dilanda sakit akibat terpaan krisis multidimensional yang tidak kunjung reda, dibutuhkan kearifan setiap komponen anak negeri ini untuk berperan serta mengantarkan Indonesia naik ke podium terhormat dalam kompetisi global. Obsesi tersebut cukup realistis apabila semangat optimisme mampu ditumbuhkan seperti prinsip filsafat Hegelian yang menyebutkan bahwa tidak akan besar suatu bangsa tanpa adanya konflik atau krisis. Sudah semestinya pemuda tidak ketinggalan langkah untuk turun gelanggang bersama rakyat membangun peradaban bangsa melalui kemampuan kritis dan akademisnya. ”Jangan tanyakan apa yang kita dapat dari negara namun tanyakan apa yang telah kita lakukan untuk bangsa ini” inilah falsafah kebangsaan yang harus ditancapkan kuat dalam setiap diri pemuda.

Idealisme di atas akan mencapai optimal jika setiap komponen paham akan fungsi, peran, dan posisinya masing-masing. Setidaknya ada tiga fungsi yang harus diketahui dan dipahami oleh pemuda untuk diaktualisasikan dalam kehidupannya. Pertama, Pemuda merupakan cadangan keras (iron stock) yang akan meneruskan estafet kepemimpinan bangsa. Pemuda digadang-gadang (sangat diharapkan) oleh rakyat untuk mampu mengimplementasikan idealisme dan kemampuannya dalam memperjuangkan kepentingan rakyat. Apabila kita refleksikan dengan perjalanan bangsa yang tentunya tidak bisa dipisahkan dengan dinamika kepemudaan, kerasnya sang cadangan tersebut banyak yang mulai mencair dan menguap untuk menjaga konsistensi pelaksanaaan fungsinya khususnya ketika mulai melepas karakternya, karena tidak kuat menghadapi godaan. Lebih memprihatinkan lagi, dalam kondisi kekinian pemuda Indonesia mulai ada indikasi melemah kepekaan dan kepedulian sosial terhadap dinamika lingkungannya. Padahal inilah yang menyebabkan keberhasilan angkatan 1998 mendobrak rezim orde baru dengan mengusung agenda reformasi. Pemuda tidak mampu mengawalnya, sehingga keadaan menjadi semakin tak menentu. Sebuah pembelajaran sebenarnya telah diberikan melalui pengalaman gagalnya angkatan 1966 mempertahankan idealismenya, hingga malah menumbuhkan sebuah rezim yang kokoh bercokol selama 32 tahun. Hal tersebut sangat kontradiktif bila dikorelasikan dengan fungsi kedua pemuda sebagai agent of change (agen perubahan). Idealnya dengan fungsi ini pemuda tidak akan rela melihat setiap ketidakberesan dan penyelewengan. Pemuda akan tampil memperjuangkan perubahan menuju perbaikan. Idealisme yang tinggi juga telah menempatkan pemuda memiliki fungsi sebagai sang penyeru kebenaran, murni tanpa ada keberpihakan terhadap suatu kepentingan kecuali kepentingan rakyat dan bangsa.

Pemahaman yang tepat terhadap fungsinya, akan mudah dibuktikan dengan melihat peran nyata apa yang mampu dimainkan pemuda dalam dinamika bangsa. Melihat fungsi strategis yang dimiliki, maka semakin mempertegas tuntutan akan eksistensi pemuda dalam menunjukkan perannya di garda depan perjalanan bangsa. Sekali lagi intelektualitas dan idealisme merupakan bekal utama untuk beraktualitas yang telah ditunggu-tunggu karya nyatanya.

Lebih dari tiga dasawarsa bangsa ini berjalan dalam kungkungan konsep ideologi yang selalu mengutamakan pertumbuhan dan modernisasi tanpa memeperhatikan aspek pemerataan. Dobrakan rakyat melalui mahasiaswa dan pemuda berhasil membuka pintu bagi lahirnya era reformasi. Kesuksesan tersebut masih merupakan awalan perjuangan panjang. Namun, pemuda justru terlena dan terperdaya sehingga menjadi kurang kuat dalam mengawal agenda reformasi. Sudah saatnya pemuda kembali tampil pada jalannya, melakukan kontrol dan berkontribusi bagi perjalanan bangsa ini. Relakah kita bangsa yang konon mempunyai nilai budaya tertinggi di jagad ini terus menerus terbaring dalam kondisi sakit dan hanya menjadi pecundang dalam tataran kehidupan global ?. Apapun peran yang diambil, posisi yang strategis harus ditempatkan pemuda bila ingin memberikan penghargaan bagi bangsa. Di pundak pemudalah beban dipikulkan untuk dapat melihat kecerahan di negeri ini. Allah Tuhan yang Mahakuasa tidak akan mengubah keadaan jika tidak ada usaha dari yang bersangkutan untuk mengubahnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar