Media Informasi Pemuda Peduli Dhuafa Gresik (PPDG) || Website: www.pemudapedulidhuafa.org || Facebook: Pemuda Peduli Dhuafa Gresik || Twitter: @PPD_Gresik || Instagram: Pemuda Peduli Dhuafa Gresik || Email: ppd.gresik@gmail.com || Contact Person: 0838-3199-1684 || Nomor Rekening: 0335202554 BNI a.n. Ihtami Putri Haritani || Konfirmasi Donasi di nomor telepon: 0857-3068-6830 || #SemangatBerkarya #PPDGresik

Rabu, 05 November 2014

Dengan Semangat Sumpah Pemuda, Mari Wujudkan Pemuda yang Berkemanfaatan

Sumpah pemuda adalah wujud optimisme yang digaungkan oleh para pemuda pada masanya. Siapa yang mampu membayangkan, Indonesia dapat memerdekakan diri di tahun 1928 atau siapa yang mampu membayangkan indonesia menjadi sebuah bangsa di tahun 1928. Akan tetapi, ditengah segala keterbatasan dan ancaman, pemuda masa itu berani mengikrarkan diri untuk menjadi satu bangsa. Mungkin, jika dikontekskan dengan kondisi saat ini, siapa yang mampu membayangkan bahwa indonesia menjadi negara kuat dan sejahtera? Saat ini, angan-angan menjadi negara kuat dan sejahtera sepertinya hanya menjadi bualan, lelucon dan terus menjadi mimpi. 
Tentu bukannya tanpa alasan, keterpurukan negeri ini didukung oleh perilaku elit yang korup, masayarakat umum yang tidak terdidik dan miskin serta pemuda yang terperangkap dalam apatisme. Alhasil, kebanggaan terbesar bangsa ini, yang selalu diajarkan sejak bangku SD, yaitu sumber daya alam yang melimpah tidak dapat kita nikmati.
Selain mengalami kerusakan sumber daya manusia kita juga mengalami bencana sumber daya alam. Tanah kita dijual, ikan yang ada dilaut kita dipancing oleh orang asing atau dijual kepihak asing, hutan kita dibabat dan Pancasila menjadi abu-abu serta tidak bermakna. Kita seolah mengalami masalah yang tidak berujung. Pemecahan persoalan kebangsaan ini menjadi sangat sulit dan entah mau dimulai dari mana.
Ditengah pesimisme, sebenarnya pemuda (senior-senior kita) ditahun 1928 sudah mengajarkan kita untuk terus bersemangat dan membagikan rasa optimistik. Jika melihat pemuda masa lalu yang masih memakai blankon, dengan pakaian khas jawa tradisional, keterbatasan informasi dan teknologi dan ditengah ancaman penjajahan mampu menularkan semangat perjuangan. Kita dapat melihat, hal-hal kecil yang pemuda masa lalu lakukan dapat melahirkan suatu perubahan besar di masa mendatang. Siapa sangka, hasil dari diskusi-diskusi kecil diruang kuliah dan lab anatomi stovia mampu melahirkan kebangkitan nasional, dan 20 tahun kemudian, diskusi-diskusi kecil tersebut mampu melahrikan kongres pemuda Indonesia (sumpah pemuda). Sebuah peristiwa yang sangat bersejarah bagi bangsa ini, dan siapa yang sangka, hanya kurang dari 20 tahun kemudian, kongres atau pertemuan pemuda itu berefek pada indonesia merdeka di tahun 1945. Di tahun 1945 itu, penduduk indonesia berjumlah 70 juta dan 90% diantara buta huruf dan saat ini, penduduk Indonesia berjumlah 240 juta orang dan hanya kurang dari 5% penduduk kita yang buta huruf. Hanya sedikit bangsa yang mampu melakukan perubahan sedahsyat itu. Sebuah proses rentetan sejarah yang awalnya hanya berasal dari hal-hal kecil. 
Melihat perjalanan sejarah keindonesiaan, menempatkan peran pemuda sebagai pencetus kebangkitan nasional. Kabar baiknya adalah, di tahun 2030 penduduk Indonesia akan didominasi oleh usia produktif. Inilah bonus demografi yang sering disebut sebagai generasi emas indonesia. Untuk menuju generasi emas tersebut tentu harus dipersiapkan dengan cermat. Pengisi posisi strategis di 2030 nantinya adalah orang-orang yang menjadi mahasiswa sekarang ini, sehingga kapasitas dan kemampuan mahasiswa saat ini harus kita persiapkan. 
Indonesia sebagai sebuah bangsa dan negara ternyata bermula dari semangat yang tak kenal henti dan dari hal-hal yang yang kecil. Dengan semangat sumpah pemuda, mari kita perbaiki hal-hal kecil disekitar kita dan mari kita menebar semangat perubahan pada lingkungan sekitar kita. Tidak ada yang sangka perubahan kecil tersebut mungkin mampu menjadi pondasi perubahan besar di masa mendatang. Amin.
Esensi:
Pemuda cerdas adalah pemuda yang dapat bertindak cerdas dalam melihat suatu keadaan di sekitar lingkungannya. Mari wujudkan rasa nasionalisme dalam tiap diri kita, agar menghasilkan karya nyata, sehingga dapat memberikan sumbangan bagi kemajuan bangsa yang kita cintai ini, yaitu berupa prestasi-prestasi. Jangan sampai kerja keras para pemuda terdahulu sia-sia dengan kondisi kita sekarang. Sebagai penutup, menurut seorang bijak ”Kesejatian seorang pemuda bukanlah dari apa yang dipikirkan atau yang diyakininya, tetapi dari apa yang ia perbuat untuk bangsanya”.

Faisal Ahmad Fani (Ketua Umum Pemuda Peduli Dhuafa Gresik)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar