Media Informasi Pemuda Peduli Dhuafa Gresik (PPDG) || Website: www.pemudapedulidhuafa.org || Facebook: Pemuda Peduli Dhuafa Gresik || Twitter: @PPD_Gresik || Instagram: Pemuda Peduli Dhuafa Gresik || Email: ppd.gresik@gmail.com || Contact Person: 0838-3199-1684 || Nomor Rekening: 0335202554 BNI a.n. Ihtami Putri Haritani || Konfirmasi Donasi di nomor telepon: 0857-3068-6830 || #SemangatBerkarya #PPDGresik

Rabu, 28 Mei 2014

Perkembangan Pendidikan di Papua

Edgar Dalle mengungkapkan bahwa Pendidikan merupakan usaha sadar yang dilakukan oleh keluarga, masyarakat, dan pemerintah melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan latihan, yang berlangsung di sekolah dan di luar sekolah sepanjang hayat untuk mempersiapkan peserta didik agar dapat mempermainkan peranan dalam berbagai lingkungan hidup secara tetap untuk masa yang akan datang. Dari pengertian diatas dapat kita katakan bahwa salah satu peranan pendidikan adalah untuk mempersiapkan sumber daya manusia yang dapat mendukung pembangunan. Dengan demikian Pendidikan  adalah salah satu komponen penting dalam menggerakan roda pembangunan, bahkan pendidikan menjadi salah satu indikator keberhasilan pembangunan itu sendiri. Seperti halnya di Papua, dinamika pembangunan terasa semakin cepat ditandai dengan semakin meningkatnya mutu pendidikan. Sejalan dengan hal tersebut Kualitas maupun kuantitas pendidikan juga semakin meningkat seiring semakin cepatnya laju pembangunan di tanah Papua.
Semakin banyaknya tokoh nasional baik di kalangan militer, birokrat maupun teknokrat yang berasal dari tanah Papua juga secara tidak langsung menjadi indikator dari semakin meningkatnya kualitas pendidikan di Papua. Sebut saja Annike Nelce Bowaire (juara lomba fisika dunia), Enos Rumansara (Antropolog), Hans Wospakrik (Ahli Fisika ITB), Balthasar Kambuaya (Menteri Lingkungan Hidup), Paulus Waterpauw (Wakapolda Papua), Fredy Numberi (mantan Menteri Perhubungan) dan masih banyak lagi. Perkembangan pendidikan di Papua tidak terlepas dari usaha keras dari pemerintah baik pusat maupun daerah beserta komponen bangsa yang lain seperti TNI/Polri dan tentu saja peran aktif dari seluruh masyarakat khususnya masyarakat Papua itu sendiri.
Peran serta masyrakat dalam peningkatan mutu pendidikan dapat kita lihat dari adanya program Indonesia Mengajar yang di gagas oleh Anies Baswedan. Program ini turut membantu mengatasi masalah keterbatasan tenaga pengajar di daerah terpencil di Papua. Menurut data IndonesiaMengajar.org, tahun 2013 ini terdapat delapan orang tenaga pengajar sukarela yang tersebar di wilayah kabupaten Fak-fak Provinsi Papua Barat. Hal yang sama juga dilakukan oleh pihak TNI. Melalui operasi Pembinaan Teritorialnya, banyak prajurit TNI yang menjadi tenaga pengajar di daerah-daerah terpencil di seluruh wilayah Papua. Prajurit-prajurit TNI tersebut dengan semagat yang tinggi mencoba memberikan karya mereka sebagai guru di wilayah terpencil dengan tetap mengutamakan tugas pokoknya di bidang pertahanan dan keamanan.
Tidak hanya masalah tenaga pendidik, pemerintah juga menggenjot pembangunan fasilitas-fasilitas pendidikan. Secara fisik kita dapat melihat pertumbuhan jumlah bangunan sekolah yang ada di Papua, baik dari tingkat sekolah Dasar sampai dengan sekolah lanjutan tingkat atas. Infrastruktur pendukung seperti jalan dan jembatan juga semakin tumbuh berkembang sehingga memudahkan akses bagi masyarakat Papua untuk memperoleh pendidikan yang lebih baik. Demikian juga animo masyarakat untuk mengecap pendidikan juga semakin meningkat, terlihat dengan semakin banyaknya jumlah siswa setiap sekolah dari tahun ke tahun. Peningkatan animo tersebut di respon oleh pemerintah dengan program affirmative Action yaitu memberikan prioritas bagi putra asli Papua yang ingin melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi di Perguruan tinggi yang ada di pulau Jawa melalui jalur Beasiswa. Program Affirmative Action ini juga memberikan kesempatan yang lebih besar bagi putra asli Papua yang ingin menjadi perwira TNI. Seperti yang dilansir oleh laman resmi Unit Percepatan Pembangunan Papua dan Papua Barat (UP4B) pada hari rabu tanggal 01 Mei 2013 bahwa TNI memberikan kuota bagi 29 Putra Asli Papua disiapkan menjadi calon perwira TNI akan dibagi 20 angkatan darat, empat taruna angkatan udara serta lima taruna angkatan laut. Untuk tahun ajaran 2014 ini bahkan TNI AD memberikan kesempatan lebih besar lagi bagi 24 putra asli Papua yang memenuhi syarat untuk mengikuti pendidikan di Akademi Militer. Pertumbuhan kuantitas secara fisik tersebut juga diikuti peningkatan mutu tenaga pendidik dengan mengoptimalkan peran Lembaga Peningkatan Mutu Pendidikan (LPMP). LPMP  secara rutin melaksanakan penataran, seminar maupun pelatihan bagi guru-guru yang ada di wilayah Papua.
Secara umum kondisi peningkatan mutu pendidikan di Papua berjalan dinamis kearah yang lebih baik. Pemerintah baik pusat maupun daerah dibantu oleh seluruh komponen bangsa lainnya terus berupaya mengatasi kendala-kendala yang ada seperti kekurangan tenaga pendidik, fasilitas pendidikan dan infrastuktur penunjang yang belum maksimal. Dengan semangat dan optimisme yang tinggi pendidikan di Papua akan berkembang dengan lebih pesat lagi.

Selasa, 27 Mei 2014

Tenaga Kependidikan Semakin Terpuruk?

Berbagai kasus didunia pendidikan saat ini semakin merebak. Diantaranya kasus tentang pencabulan terhadap anak yang dilakukan oleh para oknum pengajar. Bukan kah guru atau pengajar harusnya memberikan suri tauladan yang baik bagi anak didiknya bukan malah memberikan contoh yang buruk bagi anak didiknya. Bagaimana pendidkan di indonesia dapat maju apabila para pengajar memberikan contoh buruk pada peserta didik?
Pendidik adalah orang kedua setelah keluarga yang mempunyai pengaruh penting bagi kemajuan bangsa ini. Akan tetapi yang terjadi saat ini sangatlah ironis, guru yang seharusnya memberikan ilmu atau pengetahuan ternyat malah melakukan hal-hal yang snagat bertentangan dengan norma dan hukum. Sungguh miris, tetapi itulah yang terjadi saat ini mereka melakukan hal keji tersebut hanya demi memburu nafsu tanpa memikirkan dampak psikis yang akan dialami si anak. Dikhawatirkan akan tumbuh rasa balas dendam dalam diri anak dari sejak kecil. Yang akan menyebabkan kelak saat dia mulai dewasa akan melakukan hal yang sama seperti yang dialaminya saat masih kecil dahulu.
Akan tetapi tidak dipungkiri bahwa masih banyak tenaga pendidik yang berdedikasi tinggi untuk memajukan peserta didiknya. Jadi tidak semua pendidik memiliki tabiat yang buruk, karena itu hanya dilakukan beberapa oknum saja.

Televisi, Media dan Partai Politik

Media massa khusunya TV saat ini menjadi primadona di kalangan masyarakat dibandingakn dengan media lain seperti koran dan radio. Hampir setiap hari masyarakat selalu menonton TV, baik daerah perkotaan maupun yang tinggal di perdesaan. TV menjadi sarana informasi yang selalu terdepan dalam memberitakan berbagai hal yang terjadi di masyarakat.  Hal ini sangat disadari oleh pemilik media yang juga ketua partai politik. Dalam konteks media dan politik, ada premis yang berbunyi “siapa yang memiliki media massa, ia akan menguasai politik.” Hal ini terbukti terjadi di Italia. Mantan Perdana Menteri Italia, Silvio Berlusconi merupakanpemilik sebuah perusahaan media, dan dia dapat menguasai politik.
TV di Indonesia dihadapkan pada isu keberpihakan media terhadap salah satu partai politik. Hal tersebut bukan tanpa alasan. Seperti yang kita ketahui bersama pendiri Partai Nasdem, Surya Paloh menggandeng bos RCTI Hary Tanoesoedibjo. Masyarakat kita sekarang bukanlah masyarakat yang gampang dibodohi, tentu di balik itu semua ada niat dan tujuan untuk menggalang dukungan. Apalagi menjelang pilpres 2014, isu pencalonan Surya Paloh menjadi presiden bukan tidak mungkin dapat terjadi.
Hal ini tidak hanya terjadi pada satu partai saja, TVOne sebagai TV berita selain Metro TV juga disokong oleh pengusaha yang memiliki anak perusahaan dimana-mana. TVOne tidak sendiri dia diperkuat oleh ANTV yang sama-sama dipimpin oleh Bakrie Group. Nama Bakrie sudah tidak asing lagi apabila dikaitkan dengan Partai Golkar. Monopoli penguasaan media bukan hanya terjadi pada saat ini saja, tetapi sudah ada  sejak jaman orde baru.  Dikhawatirkan, kedua media yang sama-sama dimiliki petinggi partai ini memanfaatkan media sebagai corong parpolnya.
Namun hal ini tidak berlaku bagi wartawan. Seorang wartawan memang menyuarakan berbagai fenomena di masyarakat dan tetap bersikap netral tidak menjadi media corong dari petinggi parpol. Anggapan menyamakan wartawan corong dari partai tentu merendahkan derajat seorang wartawan yang bekerja pada instusi media. Wartawan yang profesional memegang kode etik jurnalisme dalam mencari betrita. Wartawan sebagai kuli tinta setiap hari mencari berita untuk masyarakat, bukan robot yang dapat disetir dan dikendalikan para pemilik kepentingan.
Kedua kekuatan media yaitu TVOne dan MetroTV, apabila tidak disadari oleh media lain, tentu akan menjadi saingan politik yang tidak seimbang. Para penguasa partai politik seharusnya dapat memanfaatkan media dalam bentuk pemberitaan yang berimbang, namum dalam prakteknya hal itu sulit terlaksana. Terlihat adanya perbedaan yang menonjol dalam kampanye iklan antara parpol yang kaya dan parpol yang miskin. Namun sepertinya dewan pers maupun Komisi Penyiaran Indonesia belum bertidak secara serius menangani hal ini.
Secara teorits, pers sebaiknya tidak memihak, harus independent dan kredibel dalam memberitakan informasi kepada masyarakat. Namun prakteknya, pers sering mempunyai kepentingan apalagi jika menyangkut petinggi partai yang menyokong dana media cetak atau media penyiaran seperti TV atau radio.
Dalam pemberitaannya, media harus mengedepankan prinsip obyektif, independen dan berimbang. Namun seperti yang pernah disampaikan Jakob Oetama dalam pidato pengukuhan gelar doktor honoris causa dari Universitas Gajah Mada, “obyektivitas media massa merupakan obyektivitas yang subyektif.” Bisnis industri televisi memang menggiurkan dan sarat akan nilai kapitalisme. Pengusaha yang mempunyai modal besar dapat menggelontorkan uangnya untuk membangun sebuah media penyiaran yang nantinya dapat mendukung kegiatan dan sarana kampanye parpol.

Senin, 26 Mei 2014

Hati-Hati Berucap Belajar Dari Kasus Anas, Akil dan JK

Semakin maraknya politikus dan para pejabat yang keseleo gara-gara omongannya sendiri. Lidah memang tak bertulang, kata yang sudah terucap memang tak bisa ditarik kembali yang ada malah menjilat ludah sendiri. Sepatutnya kita sebagai manusia biasa yang tak luput dari kesalahan belajar dari para petinggi-petinggi di negara ini agar tak salah berucap dan pada akhirnya jadi bumerang bagi diri sendiri.
Kasus pertama tentang janji Anas Urbaningrum yang mau bersedia digantung di tugu monas apabila terbukti dia korupsi satu rupiah pun dari proyek hambalang yang sebelumnya telah banyak menyeret para petinggi partai demokrat ke bilik penjara KPK. Setelah hampir satu tahun mendekam dibalik dinginnya tembok penjara apa kabar janjinya itu? sudahkah beliau ini menepati janjinya untuk digantung di tugu monas. Mungkin Anas lupa, tapi saya rasa beliau tidak lupa bahkan mungkin sangat ingat sekali kalaupun lupa pasti banyak orang yang akan mengingatkan salah satunya ketika salah seorang warga Indramayu bernama Masnun menyambangi gedung Komisi Pemberantasan Korupsi, Jakarta, Jumat (10/1/2014) lalu untuk menagih janji Anas dengan membawa seutas tali .
Mungkin ketika berucap janji yang sensasional itu Anas barangkali lupa, beliau ini bukanlah rakyat jelata yang sedang bersumpah, sepertinya beliau lupa dia adalah seorang pejabat dan petinggi partai yang tindak tanduknya diawasi banyak orang. Selain lupa bahwa beliau seorang pejabat, saya rasa ketika berucap Anas terlalu terpancing emosi dan terlalu berapi-api dengan lantang mengatakan bahwa dirinya bersih dari korupsi atau pada saat itu beliau memang lupa pernah melakukan korupsi sehingga dengan yakin dan secara jantan bersedia digantung apabila terbukti korupsi. Setahun berlalu apa yang terjadi hari ini, janji itu melempem, Anas tak lagi jantan, mulutnya tertutup rapat bila disinggung perihal itu, harga dirinya semakin terkoyak-koyak sudah masuk penjara termakan ucapan sendiri pula.
Kasus kedua yang juga fenomenal di jagat janji berjanji, pak Akil Mochtar yang Ketua mahkamah Konstitusi dengan mudahnya berucap janji kepada banyak orang apabila terbukti korupsi beliau ini rela jarinya dipotong. Akil yang tersangkut kasus suapterkait penanganan sengketa Pilkada Gunung Mas, Kalimantan Tengah. Setelah terbukti dan banyak orang menagih janji kepada pak Akil tapi apa yang terjadi salah seorang wartawan mendapat tamparan dipipi dari sang koruptor gara-gara menagih janji ke Pak Akil. Pak Akil ini aneh ya, dia yang berjanji dia juga yang mengingkari bahkan dengan tanpa basa basi bertindak anarkis kepada salah satu wartawan. Sepetinya pak Akil ini sudah kehilangan urat malunya sehingga tak peduli lagi dengan janji-janjinya barangkali beliau ini sudah terbiasa melanggar janji seperti halnya melanggar sumpah jabatan ketika diangkat sebagai Ketua Mahkamah Konstitusi.
Yang terakhir ini mungkin bukan termasuk kepada janji melainkan sebuah sikap konsisten dari seorang tokoh. Sejak semalam pemberitaan heboh dengan kemunculan video Pak JK yang sedang diwawancara oleh Harian Bisnis TV, Pak JK yang secara lantang mengatakan “Jokowi presiden bisa hancur negara ini”. Saya setuju sekali dengan pendapat pak JK satu setengah tahun lalu itu, memimpin Solo Jokowi bisa dikatakan sukses tapi untuk jadi Presiden beliau harus bisa membenahi Jakarta terlebih dahulu. Tapi apa yang terjadi pernyataan pak JK sangat kontradiktif dengan kenyataan hari ini, beliau ini sekarang telah jadi cawapresnya jokowi. Tentulah banyak orang bertanya-tanya pak JK ini kok cepat sekali berubah ya?. Ah sudahlah saya mencoba untuk berpikiran positif mungkin menurut beliau dalam waktu kurang dua tahun saja Jokowi sudah sukses memimpin Jakarta dan sudah layak untuk jadi presiden. Dua tahun bisa dikatakan sukses oleh seorang JK berarti ini pencapaian yang luar biasa seorang Jokowi tapi kalau melihat fakta di lapangan bagaimana kondisi Jakarta hari ini, biarlah masyarakat banyak yang menilai terutama warga Jakarta Jokowi sudah sukses atau belum memimpin jakarta?. Terlepas dari adanya muatan politis apapun itu saya akan tetap mencoba untuk berpikiran positif agar saya bisa netral pada pilpres mendatang.
Semalam saya juga sempat baca di salah satu media online yang memberitakan bahwa Pak JK mengatakan Siapapun yang bisa membuktikan dirinya korupsi akan diberi hadiah 1 milyar. Wow, 1 M loh kira-kira siapa yang mampu membuktikan pak JK korupsi ya, semoga memang tidak ada yang bisa membuktikan dan kita beranggapan beliau ini adalah pemimpin yang jujur dan bersih. Tapi jumlah 1 M dibandingkan dengan mahar yang katanya 10 T itu berapalah ya, tapi sekali lagi itu bukan urusan kita sebagai orang awam meskipun mahar itu benar adanya selagi pak JK tidk memakai uang negara ya tidak masalah, yang saya khawatirkancuma satu kata-kata yang sudah terlanjur keluar itu seperti yang saya bold di atas.
siapa pun yang membuktikan dirinya korupsi akan dia beri  hadiah Rp 1 miliar. - See more at: http://www.asatunews.com/hukum-kriminal/2014/05/24/trio-macan-menantang-jusuf-kalla#sthash.oAaRF84z.dpuf
siapa pun yang membuktikan dirinya korupsi akan dia beri  hadiah Rp 1 miliar. - See more at: http://www.asatunews.com/hukum-kriminal/2014/05/24/trio-macan-menantang-jusuf-kalla#sthash.oAaRF84z.dpuf
siapa pun yang membuktikan dirinya korupsi akan dia beri  hadiah Rp 1 miliar. - See more at: http://www.asatunews.com/hukum-kriminal/2014/05/24/trio-macan-menantang-jusuf-kalla#sthash.oAaRF84z.dpuf
siapa pun yang membuktikan dirinya korupsi akan dia beri  hadiah Rp 1 miliar. - See more at: http://www.asatunews.com/hukum-kriminal/2014/05/24/trio-macan-menantang-jusuf-kalla#sthash.oAaRF84z.dpuf
Sudah seharusnya kita mengambil hikmah dan pelajaran yang berharga dari catatan-catatan yang telah diukir orang-orang di atas. Lidah memang tak bertulang tapi dampak yang dapat ditimbulkannya sungguh luar biasa bukan. Malu kan kalau harus menjilat ludah sendiri yang sudah dibuang, lebih baik berpegang pada kata sedikit bicara banyak bekerja dari pada banyak omong tong kosong itu nyaring bunyinya.

Minggu, 25 Mei 2014

Setelah Korupsi Haji Tinggal Menunggu Adzab Menimpa

Kementerian agama adalah institusi paling relijius. Sehari-hari urusannya cuma ibadah saja. Pasti insan-insan yang berani mengabdi disana suci.Mana mungkin penjahat berani berkantor disana, bahkan mantan penjahat –mantan preman yang sudah taubatan nasuha saja masih keder dan minder untuk bekerja disana. Namun ibarat sepandai-pandainya tupai melompat,  ia akan jatuh pula- sesuci-sucinya insan agamis mengais, ia akan terangkap KPK.
Tumbennya, saat ada penyimpangan dalam hal-hal beraroma agama pasti akan ada yang tak tahan dan tak malu-malu berkata tunggu adzab menimpa jika melawan kehendakNYA. Padahal korupsi yang berhubungan dengan pelaksanaan ibadah itu bukan penyimpangan main-main. Bandingkan misalnya saat Jokowi-Ahok maju pada pemilukada Jakarta 2012, muncul fatwa haram memilih mereka disertai ancaman akan datangnya adzab bila mereka berdua terpilih. Serangan-serangan SARA bertubi-tubi, Jokowi dianggap berbau yahudi karena istrinya Iriana aktif di organisasi amal yang divonis sebagai kaki tangan yahudi, sedangkan Ahok sebagai Tionghwa nasrani distempel sebagai orang yang akan melakukan nasranisasi di Jakarta. Semua tokoh agama yang suci-suci mengancam bila memilih mereka berdua ini maka akan datang adzab.
Kini saat isu korupsi menghantam kementrian agama, dimulai dari kasus pengadaan Al Quran kemudian kasus dana haji yang paling mutakhir mingu lalu, sepertinya tokoh-tokoh agama yang paling suci dunia akhirat pada terdiam membisu seribu bahasa. Tidak ada demonstrasi di jalanan seperti saat mengutuk israel-amrik dan barat pada umumnya. Atau juga tiada demonstrasi  mensweeping tempat maksiat yang kini ada di kementerian agama, mungkin saja tokoh-tokoh agama sangat memaklumi dan permisif terhadap korupsi asalkan pelakunya sesama tokoh agama?, lain halnya bila pelakunya bukan tokoh agama, maka haram ia korupsi.
Mengapa mereka yang langganan demonstrasi anti israel-amrik tidak berani melakukan hal serupa terhadap kementerian agama?, sangat faktual ucapan Bung Karno bahwa perjuangan untuk merdeka sangat mudah karena menghadapi bangsa asing, yang sukar itu mengisi kemerdekaan  karena berhadapan dengan bangsa sendiri,yaitu bangsat-bangsat dari bangsa sendiri.
Sekarang mari tunggu saja adzab apa yang akan menimpa kementerian agama. Kalau tak ada, ke depannya jangan lagi bicara apapun tentang adzab karena itu cuma khayalan saja.

Hati-Hati Calon Pemimpin yang Tiba-tiba Terlihat Alim, Meningkatkan Ibadah

Hati-hati calon pemimpin. Di saat ia ingin dipilih, ia meningkatkan ibadahnya. Tiba-tiba beribadah umrah. Atau tiba-tiba kepada pemilihnya, mengaku, “Saya sudah umrah, sudah haji, rajin shalat, setiap hari ngaji, saya muslim yang taat, dan lain-lain”
Ini terjadi di semua pemilihan di Indonesia. Calon-calon pemimpin, dengan bangga menampilkan status hajinya ke publik, seolah-olah berisyarat karena saya memiliki gelar H (Haji) jadi pantas dipilih. Lalu tiba-tiba rajin ke pesantren-pesantren/rumah-rumah yatin, sedekah fakir miskin, infak ke rumah ibadah, sowan ke ulama-ulama, dan lain-lain.
Memang tidak ada salahnya, seorang calon pemimpin tiba-tiba terlihat alim. Tapi, keadaan hatinya yang sebenarnya hanya Tuhan yang tahu. Ikhlas atau tidak ibadahnya, hanya Tuhan yang tahu. Niatnya apa tiba-tiba meningkatkan ibadah itu, hanya Tuhan yang tahu.
Kalau tindakan tiba-tibanya meningkatkan ibadah, niatnya menginginkan jabatan, ingin dipilih, bukan ikhlas karena Allah, maka kelakuannya itu seperti iblis.
Di saat Allah mengumumkan akan menunjuk khalifah di bumi, iblis meningkatkan ibadahnya. Meningkatkan zikirnya. Meningkatkan pujian-pujian memuji Allah. Niatnya supaya Allah, memilihnya. Namun, Allah Maha Tahu niat iblis meningkatkan ibadah. Ketika Allah tak memilihnya, memilih Adam AS, iblis yang sebelumnya sangat taat, berbalik kufur.

Sabtu, 24 Mei 2014

Orang Baik Berkumpul Dengan Orang Baik, Kok Malah Kampanye Hitam dan Menyebar Fitnah?

Entah gejala apa yang terjadi belakangan ini, semakin banyak orang yang “aneh” berseliweran dengan bangganya di segala penjuru lapangan media, berlomba memuji muji diri sendiri dan kelompoknya dengan sangat percaya diri, tanpa ada rasa malu. Mungkin mereka ini sedang bermasalah sehingga mencoba menyelesaikan masalah tanpa masalah dengan menggadaikan rasa malunya.
Banyak yang curhat mulai sulit menemukan orang baik akhir akhir ini. Buat saya tidak, banyak sekali orang baik di sekitar saya, alhamdulillah. Di masjid masih bisa ketemu orang baik, di pasar juga banyak yang baik, di jalan pas berangkat ke kantor banyak banget orang baik, di kantor banyak juga, di kompasiana wuih lebih banyak lagi.
Kategori orang disebut baik atau tidak pun juga macam macam tergantung juri dan komentatornya, lha wong X-Factor sama Idol aja kategorinya beda meskipun komentatornya ya Ahmad Dhani. Tapi ada beberapa kategori umum yang biasa dipakai berdasarkan hasil survey cak lemper (mungkin masih sodaraan sama cak lontong) di bawah ini;
1. Orang baik tidak akan menyebut diri atau kelompoknya sendiri sebagai orang baik. ini kayaknya gak perlu penjelasan deh, masa gitu aja gak ngerti, mikir..!!! (kata cak lontong lho ya)
2. Orang baik gak bakalan sempat omongin aib orang lain apalagi nyebarin fitnah. Nah ini yang lagi ngetren nih. Banyak yang ngaku mendukung orang baik, orang baik akan berkumpul dengan orang baik, tapi sibuk nyari aib orang lain trus ditambahin MSG dan “disedekahkan” gratis dimana mana. Ya amplop, gak segitunya keles (kata cak lontong lagi lho ya).
3. Orang baik biasanya telah mengusai ilmu ikhlas (jadi inget sinetronnya Dedi Mizwar). Orang baik melakukan segala sesuatu tanpa pamrih, melakukan segalanya bukan untuk mencari pujian dari sesama manusia, tanpa publikasi, tanpa bawa bawa wartawan ngalor ngidul ngetan bali ngulon.
4. Orang baik itu tidak pernah memposisikan dirinya terdzalimi. Orang baik biasanya lapang dada dan tidak pernah mengumumkan ke seantero bumi bahwa dialah orang termiskin di dunia, dialah orang yang paling tersakiti, dialah orang difitnah dengan berbagai macam tuduhan sampai diberitakan telah pindah ke alam barzah.
5. Orang baik itu selalu amanah, tidak ingkar janji dan tidak kemaruk. Orang baik itu amanah, dapat dipercaya sehingga kalau diberi amanah akan menyelesaikan amanah itu sampai tuntas sesuai janjinya, pantang mengingkari janji. Orang baik itu tidakkemaruk, yang ini bahasa jawa, kalau kata pak ustad tama’, gak pernah merasa cukup, makan belum habis udah ambil lagi, tangan kanan udah pegang pisang eh tangan kiri berusaha ambil pisang lagi padahal di mulut udah ada pisang juga. Lebih gila lagi 2 kakinya juga berusaha ambil pisang, gila gak tuh?.
Orang baik juga gak kemaruk dalam tugasnya. Tugas yang satu belum selesai eh minta tugas yang lain yang lebih, udah dapet tugas yang lebih sebentar aja malah minta tugas lain lagi yang lebih besar. Mudah ditebak hasilnya, atau bahkan sulit ditebak hasilnya karena memang belum ada hasilnya.
Orang baik memang akan berkumpul dengan orang baik untuk memberi kesejukan bukan untuk saling membakar ambisi dan menyebar fitnah.
Orang baik akan berkumpul dengan orang baik untuk mengoreksi dirinya sendiri apakah telah benar benar baik bukan mengumbar aib orang yang belum tentu kebenarannya.
Orang baik tidak akan teriak lantang bahwa dirinyalah orang baik.