Media Informasi Pemuda Peduli Dhuafa Gresik (PPDG) || Website: www.pemudapedulidhuafa.org || Facebook: Pemuda Peduli Dhuafa Gresik || Twitter: @PPD_Gresik || Instagram: Pemuda Peduli Dhuafa Gresik || Email: ppd.gresik@gmail.com || Contact Person: 0838-3199-1684 || Nomor Rekening: 0335202554 BNI a.n. Ihtami Putri Haritani || Konfirmasi Donasi di nomor telepon: 0857-3068-6830 || #SemangatBerkarya #PPDGresik

Minggu, 04 Mei 2014

Kekuatan Rayap – Hikmah Ramadhan

Anda tahu rayap? Rayap adalah binatang kecil yang biasa memakan kayu. Rayap dikenal sebagai hama yang bisa merusak rumah kita, setidaknya bahan rumah kita yang terbuat dari kayu. Kekuatan rayap sungguh luar biasa, sebuah bangunan besar bisa hancur oleh binatang kecil ini. Namun bukan hanya ini saja kekuatannya. Selain memiliki kekuatan merusak, rayap pun memiliki kekuatan membangun.
Rayap memiliki kekuatan membangun sarangnya lengkap dengan sistem Air Conditioning-nya plus tata ruang yang apik dengan ketinggian sampai 9 meter. Ini adalah suatu pencapaian luar biasa sebab tubuh rayap sendiri hanya memiliki tinggi sekitar 3 mm saja. Artinya rayap mampu membangun tempat tinggalnya sampai 3.000 kali tinggi badannya.
Sementara manusia, dengan berbagai peralatan dan bahan-bahan yang canggih, sampai sekarang belum mampu membangun bangunan dengan ketinggian sampai 1.000 kali tinggi badannya. Sampai saat ini bangunan tertinggi yang sudah dibuat manusia baru sampai ketinggian sekitar 1.000 meter saja.
Bagaimana rayap bisa membangun tempat tinggalnya begitu tinggi? Ada dua hikmah yang bisa kita dapatkan dari rayap:
Mereka bekerja sama dalam membangun sarangnya. Tubuh kecil dan lemah bisa diatasi dengan cara bekerja sama. Bekerja sama membuat mereka memiliki kekuatan yang dahsyat baik dalam menghancurkan maupun membangun.
Mereka bekerja dengan mengikuti insting, yang merupakan fitrah yang diberikan Allah kepada makhluq ini. Mereka tidak punya ilmu arsitektur. Mereka tidak memiliki ilmu dengan pengkondisian udara dan tata ruang. Mereka tidak pernah kuliah cara mengawetkan makanan. Mereka mampu, karena mereka hidup dalam fitrahnya.
Manusia yang seharusnya memiliki kemampuan yang jauh lebih dahsyat bisa kehilangan kemampuan itu karena disebabkan oleh dua hal.
Yang pertama, jika seseorang sudah tidak mau lagi bekerja sama sesama dengan saudaranya. Kesombongan dan keangkuhan mereka menghalangi untuk bekerja sama sehingga hasil yang diperoleh tidak optimal. “Saya bisa, saya hebat, dan saya mampu. Buat apa bekerja sama?” Orang yang berkata seperti ini adalah mereka yang kehilangan banyak potensi keberhasilan dalam hidupnya.
Hikmah kedua, banyak manusia yang sudah jauh dari fitrahnya. Mereka hidup dengan cara sendiri. Cara yang diproduksi oleh akalnya sendiri yang sungguh lemah dan banyak kekurangannya. Padahal kita sudah punya cara hidup yang sesuai dengan fitrah manusia karena cara hidup ini dibuat oleh Pencipta kita. Cara hidup itu adalah Al Quran dan Hadits Nabi SAW. Mudah-mudahan kita semua kembali ke fitrah kita (idul fitri) serta memiliki jiwa sosial yang tinggi. Dengan demikian kita bisa mengembalikan potensi kita yang sebenarnya, baik untuk meraih sukses dunia maupun akhirat. Amin

Konflik Pemicu Permusuhan atau Pertemanan?

Konflik selama ini menjadi hal yang dianggap negative oleh berbagai masyarakat umum. Namun jika dilihat lebih mendalam lagi konflik bisa saja menjadi asal dari pertemanan. Jika konflik tersebut mengarah pada perpecahan sudah pastilah konflik tersebut mendatangkan perpecahan, namun jika konflik untuk membangun satu sama lain ? apakah itu masih disebut konflik yang mengarah negative.
Konflik berasal dari kata kerja Latin configere yang berarti saling memukul. Secara sosiologis, konflik diartikan sebagai suatu proses sosial antara dua orang atau lebih (bisa juga kelompok) dimana salah satu pihak berusaha menyingkirkan pihak lain denngan menghancurkan atau membuatnya tidak berdaya (Wikipedia). Konflik merupakan ekspresi ertikaian antara individu dengan individu lain, kelompok dengan kelompok lain karena beberapa alasan. Dlam pandangan ini, pertikaian menunjukan adanya perbedaan antara dua atau lebih individu yang diekspresikan, diingat, dan dialami (Pace & Faules, 1994:249).
Konflik memang selalu menjadi topic pembicaraan yang tiada henti.konflik sendiri memiliki arti yang sedemikian rupa. Namun konflik diakalangan orang terpelajar yang saling berkonflik untuk bisa menjadi terbaik bukanlah sesuatu yang harus dinilai negative. Bisa saja konflik ini mengarah pada peremanan yang pada intinya saling memberi motivasi yang kuat antara satu dengan lainnya. Konflik yang membawa pertemanan ini akan memiliki nilai positif jika dilakukan dengan keadaan yang tetap tenang tanpa adanya kekerasan fisik maupun hal-hal yang menimbulkan keributan.
Contohnya, mungkin yang tau anime Jepang yang berjudul “Death Note”, cerita yang tergambar mencerminkan konflik yang membawa pada pertemanan antara kedua tokoh yang genius yaitu sang detektif “L” dan sang pembunuh “Kira”. Mereka sebenarnya tengah berkonflik hebat tentang kasus “Kira” namunkonflik mereka tidak menimbulkan hal-hal negative. Malah mereka berteman akrab dan sama-sama mencari kebenaran “Kira”. Memang mereka saling mencurigai satu dan lainnya tetapi masing-masing dari mereka termotivasi kuat untuk menjadi pemenang. Akhir cerita memang harus ada yang kalah dan menang, terjadilah penangkapan “Kira” dan berakhir dengan kematian sang “Kira”.
Anime Jepang ini adalah sedikit contoh yang dapat dikutip mengenai konflik yang mendatangkan pertemanan anatar kedua pihak yang berkonflik. Namun sebenarnya dalam dunia yang nyata ini banyak sekali konflik-konflik pertemanan ini. Intinya, konflik janganlah dianggap sebagai suatu negaatif saja, tapi ubahlah pandangan kita dan sikap kita dalam menilai konflik agar tidak terjadi konflik-konflik yang bernilai negative lagi. Konflik bukanlah sebuah ajang untuk menjadikan antar individu sebagai seorang musuh yang harus dibasmi, namun konflik harus dijadikan sebagai sesuatu yang bisa mendorong individu untuk menjadi terbaik dengan cara-cara yang terhormat.

Kebudayaan Merupakan Cerminan Tata Kehidupan Manusia

Kebudayaan didefinisikan pertama kali oleh E. B Taylor pada tahun 1871, lebih dari seratus tahun yang lalu, dalam bukunya Primitive Culture dimana kebudayaan diartikan sebagai keseluruhan yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, seni, moral, hukum, adat, serta kemampuan dan kebiasaan yang diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat. Sedangkan kuntjaraningrat secara lebih terperinci membagi kebudayaan menjadi unsur-unsur yang terdiri dari sistem religi dan upacara keagamaan, sistem dan organisasi kemasyarakatan, sistem pengetahuan, bahasa, kesenian, sistem mata pencaharian, serta sistem teknologi dan peralatan.
Manusia dalam kehidupannya mempunyai kebutuhan yang sangat banyak,. Adanya kebutuhan hidup inilah yang mendorong manusia untuk melakukan berbagai macam  tindakan dalam rangkan memenuhi kebutuhannya tersebut. Menurut Ashlaey Montagu, kebudayaan mencerminkan tanggappan mnusia terhadap kebutuhan dasar kehidupannya. Manusia berbeda dengan binatang bukan hanya dalam hal kebutuhan namum dalam cara memenuhi kebutuhannya. Kebudayaan dalam konteks ini, yang memberikan garis pemisah antara manusia dan binatang. Maslow mengidentifikasikan lima kelompok kebutuhan manusia yaitu kebutuhan fisiologi, rasa aman, afiliasi, harga diri, dan pengembangan potensi. Pada binatang terdapat dua kelompok kebutuhan menurut Maslow yaitu kebutuhan fisiologis dan rasa aman serta memenuhi kebutuhan ini secara instiktif. Sedangkan pada manusia tidak mempunyai kemampuan bertindak secara otomatis yang berdasrkan instink oleh sebab itu manusi berpaling kepada kebudayaan yang mengajarkan cara hidup.
Ketidak mampuan manusia untuk tindak instinktif ini diimbangi dengan kemampuan lain yaitu kemampuan untuk belajar, berkomunikasi, dan menguasai obyek-obyek yang bersifat fisik. Kemampuan belajar ini memungkinkan berkembangnya inteligensi dan cara berfikir simbolik. Terlebih lagi manusia mempunyai budi yang merupakan pola kejiwaan yang di dalamnya terdapat “dorongan-dorongan hidup yang dasar, insting, perasaan, dengan pikiran, kemauan dan fantasi”. Budi inilah yang menyebabkan manusia mengembangkan suatu hubungan yang bermakna dengan alam sekitarnya dengan jalan memberi penilaian terhadap obyek dan kajian. Pilihan nilai inilah yang menjadi tujuan dan isi kebudayaan.
Nilai-nilai budaya ini adalah jiwa dari kebudayaan dan menjadi dasar dari segenap terwujudnya kebudayaan. Pada dasarnya tata kehidupan merupakan pencerminan yang kongkret dari nilai budaya yang bersifat abstrak: kegiatan manusia dapat ditangkap oleh pancaindra sedangkan nilai budaya hanya terlihat oleh budi manusia. Di samping maka nilai budaya dan tata hidup manusia  ditopang oleh perwujudan kebudayaan yang berupa sarana kebudayaan. Sarana kebudayaan ini pada dasarnya merupakan perwujudan dari yang bersifat fisik yang merupakan produk dari kebudayaan atau alat yang memberikan kemudahan dalam menjalani kehidupan.

Sabtu, 03 Mei 2014

(Senior-Junior) Saat Belajar Ajari Kekerasan, Saat di Kantor Ajari Korupsi

Tanah air dan dunia pendidikan dikejutkan dan berduka dengan tewasnya, mahasiswa semester pertama, Dimas Handoko. Diduga ia tewas, karena dianiai oleh kakak-kakak kelas atau senior-seniornya. Ada 7 kakak senior yang terlibat. Disinyalir, penganiayan yang mengakibatkan Dimas tewas itu, telah direncanakan sebelumnya, karena ada kicauan di salah satu twitter tersangka dengan inti kata “eksekusi”, serta adanya permintaan ke-7 senior untuk bertemu dengan Dimas di malam kejadian.
.
Apapun itu, ini adalah sinyal sistem pendidikan yang salah antara senior dan junior. Sebuah pendidikan yang mengajarkan balas dendam, karena si senior yang melampiaskan kekerasan kepada juniornya, melakukan kekerasan itu dikarenakan para senior itu adalah korban kekerasan senior-senior sebelumnya.
Apa yang terjadi jika orang-orang seperti itu (pendendam, pembully, menggunakan kekerasan lewat jabatan/otoriter), yang mengisi kantor kantor pemerintahan Indonesia, niscaya hancurlah negeri ini.
.

13990969291818233270
sumber foto : cyberdakwah.com
.
Waktu-waktu awal memberantas korupsi, Hongkong memecat seluruh pegawai pemerintahannya. Lalu diganti sementara dengan pegawai dari Inggris dan India. Setelah diadakan rekrutmen ketat pegawai yang baru, akhirnya Hongkong dapat memutus mata rantai korupsi. Karena salah satu faktor penyebab korupsi berkembang adalah si senior ajarkan si junior teknik-teknik korupsi. Atau si junior belajar korupsi dari tingkah-polah senior.
Lalu bagaimana dengan Indonesia? Beranikah mematikan mata rantai korupsi, mengikuti apa yang dilakukan Hongkong. Mengganti semua pegawai pemerintahannya dengan yang baru. Dan bagaimana Indonesia mengubah sistem pendidikan yang akan menghasilkan tunas-tunas bangsa yang mulia dan bermartabat, bukan tunas-tunas pendendam dan otoriter.

Dunia Pesugihan Versus Dunia Politik

Pada jaman dahulu kala, orang yang ingin mendapatkan kekayaan yang melimpah secara singkat akan menempuh jalan yang sedikit keluar dari mainstream, bahkan berani menabrak norma – norma, seperti pesugihan, memuja sesuatu yang dianggap keramat, dan hsl lsin yang berkonotasi ‘mistis’. Walaupun begitu, orang yang menempuh jalan ini cenderung sembunyi – sembunyi dan malu apabila hal tersebut sampai diketahui oleh orang lain. Sanksi yang didapat pun apabila hal ini terungkap atau diketahui oleh khalayak berupa sanksi sosial, namun sanksi sosial saja sudah cukup membuat orang merasa ketakutan dan cenderung menutup serapat – rapatnya apa yang dilakukannya sehingga tidak diketahui oleh orang lain. Tetapi, pada jaman yang serba carut marut ini, hal – hal yang yang berbau mistis sudah tidak semenjanjikan seperti jaman dulu, kemajuan teknologi membuat orang semakin menuntut kelogisan terhadap segala sesuatu yang dia hadapi.
Sekarang ini sebagai pengganti trend pesugihan atau mistis dan lainnya, orang yang ingin mendapatkan harta yang berlimpah dalam waktu singkat memilih untuk terjun ke ‘dunia politik’. Dalam logika berfikir manusia jaman sekarang, ‘dunia politik’ adalah dunia yang menjanjikan kekayaan harta yang melimpah ruah bagi siapa saja yang mau memasuki dunia tersebut. Fenomena inilah yang sekarang menjadi trend dalam kehidupan rakyat Indonesia. ‘Pesugihan’ yang dulu dianggap sebagai sesuatu yang tabu dan dilaknat oleh agama kini berganti jubah sehingga menjadi tujuan jutaan orang di negeri ini. Bahkan para pelakunya menempati kasta yang tinggi dalam kehidupan bermasyarakat. Sungguh ironi sekali, para pelaku ‘politik’ secara terang – terangan mendeklarasikan dirinya sebagai ‘Orang Politik’. Tidak lagi ada rasa malu, semuanya dibungkus dengan rapi mengatasnamakan mewakili suara rakyat. Padahal yang dia wakili hanyalah nafsu dan ambisinya sendiri. Realita inilah yang dihadapi bangsa Indonesia saat ini, sangat sulit sekali membedakan atau memilih seorang politikus yang benar – benar membawa atau mewakili suara hati rakyat. Sebagian besar dari mereka hanyalah mencari ‘pesugihan’ modern yang terkesan sopan dan mulia. Kalau para pelaku ‘pesugihan’ jaman dulu berkantor di tempat – tempat yang dianggap keramat, kotor, angker dan lain-lain, sekarang ini para pelakunya melakukan kegiatannya di istana-istana megah dan mewah. Bahkan mereka secara terang-terangan, secara terorganisir dan berjamaah mengeruk harta sebanyak-banyaknya. Sedangkan rakyat seperti biasa, hanya menjadi penonton.
Jadi, apa bedanya pelaku pesugihan dengan pelaku politik yang hanya mencari kekayaan semata???

Religi dan Keyakinan adalah Kekuatan Positif Diri Kita

Di dalam setiap diri manusia terdapat suatu kekuatan yang menjadikan manusia tersebut dapat beraktifitas dan menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang ada dikehidupannya. Kekuatan itu tidak datang dengan sendirinya, namun berasal dari pikiran manusia. Pikiran manusia yang dapat membawa pada pemikiran-pemikiran positif, maka kekuatan yang akan timbul dari dirinya adalah kekuatan positif pula. Pemikiran-pemikiran yang muncul dari dalam diri manusia berasal dari lingkungan yang di indranya. Misalnya, jika seseorang berada di lingkungan yang berbau positif, maka pemikiran yang dapat ia cerna adalah pemikiran-pemikiran positif. Sehingga kekuatan ia menjadi bernilai positif.
Kadang lingkungan yang berbau positif belum menjamin seseorang dapat memiliki kekuatan positif dan juga pemikiran-pemikiran positif. Kadang semua itu timbul dari sebuah keyakinan dalam diri setiap manusia yang dapat dijadikan kekuatan baginya. Keyakinan itu tidak terlepas dari kekuatan religi atau agama. Agama kita juga yang dapat memberikan kita kekuatan positif.
Agama adalah sistem simbol yang berfungsi untuk menanamkan semangat dan motivasi yang kuat, mendalam, dan bertahan lama pada manusia dengan menciptakan konsepsi-konsepsi yang bersifat umum tentang eksistensi, dan membungkus konsepsi-konsepsi itu sedemikian rupa dalam suasana faktualitas sehingga suasana dan motivasi itu kelihatan sangat realistis (Geertz 1966:4). Dalam pengertian menurut Geertz ini agama adalah sumber kekuatan terbesar yang ada dalam diri manusia.
Kekuatan yang bersifat positif ada pada agama. Karena agama memiliki segudang tata cara, aturan, Tuhan Yang Maha Esa untuk disembah, dll. Semua yang ada pada agama mewajibkan manusia yang meyakini agama tersebut melaksanakan segala perintah dan menjauhi segala larangan yang ada. Dalam hal ini, kita sebagai orang yang meyakini adanya agama tersebut secara tidak langsung sudah berikrar diri untuk mentaati dan meyakini agama tersebut. Maka segala tindakan yang kita kerjakan mengandung resiko dan konsekuensi. Karena adanya hal ini maka kita akan mengerjakan hal-hal yang dianggap baik oleh agama, sehingga kekuatan positif kita dalam melakukan aktifitas akan muncul.
Kekuatan positif yang timbul juga harus dilandasi oleh keyakinan kuat kita terhadap keagaaman yang kita yakini. Semakin orang tersebut meyakini agamanya dengan kuat, maka semakin fanatic orang tersebut dalam berpikir. Bagi orang tersebut ia sudah mengeluarkan pemikiran dan energy positif yang dikeluarkannya. Selain itu semakin tunduk orang tersebut dalam beragama.
Kekuatan positif adalah hal yang bisa kita dapatkan baik itu dari lingkungan kita maupun keyakinan kita terhadap agama kita. sebenarnya agama itu sangat berarti dalam kehidupan kita di dunia ini. Tanpa adanya agama, kita akan kehilangan kendali bagi diri kita. contohnya saja orang-orang atheis (tidak beragama), mereka hidup di dunia hanya mencari kesenangan di dunia. Kesenangan tersebut didapatkan dari berbagai cara entah cara itu baik atau tidak. Hal ini terbukti bahwa dengan tidak adanya Tuhan yang disembah tidak akan mendatangkan kekuatan positif pada diri oarng tersebut.
Sebagai seorang warga Indonesia, kita harus bangga telah berwarga negara indoneisa karena diwajibkan atas kita semua untuk memeluk agama yang kita yakini. Dengan memiliki agama yang diyakini, secara otomatis kita seudah memiliki Tuhan dan memiliki tujuan hidup yang jelas seperti yang sudah dijelaskan oleh masing-masing agama kita.

Zakat dan Pengentasan Kemiskinan

Zakat apabila tidak terkelola secara baik, baik oleh amil atau pencatat yang dibentuk oleh swasta ataupun Negara hanya akan menjadi ritualitas dan formalitas saja tanpa mengena esensi dari zakat sebagai media untuk berbagi dan mengentaskan kemiskinan.
Dalam konsepsi zakat, zakat terbagi menjadi dua yakni zakat fitarh dan zakat mal. Zakat fitrah adalah zakat untuk mensucikan diri dan biasa dikeluarkan umat islam pada bulan ramadhan dan bagikan oleh para amil kepada delapan mustahik yang tertera dalam al-Qur’an surat at-Taubah, sedangkan zakat mal adalah zakat harta yang harus dikeluarkan oleh umat islam terhadap harta yang dimilikinya atau profesi yang melekat pada dirinya yang dibatasi oleh konsep haul dan nisab.
Zakat sebagai bagian dari shari’ah umat terdahulu diwajibkan juga kepada umat Nabi Muhammad yang hukumnya wajib dikeluarkan oleh individu-individu yang menyatakan dirinya umat islam. Sebagai bagian dari shari’ah Nabi Muhammad, zakat adalah pembersihan harta dari hal-hal bathil atau shubhat (status hukumnys tidak jelas).

Optimalisasi pemberantasan kefakiran dan kemiskinan
Konsepsi muzakki memiliki pengertia orang-orang yang wajib zakat, sedangkanmustahik adalah orang-orang yang berhak menerima zakat yang kriteria dan jumlah orangnya telah ditentukan dalam al-qur’an. beberapa dari mustahik itu adalah fakir, miskin dan fisabilillah yang memiliki arti orang-orang yang berjuang dijalan Allah atau mujahid.
Makna fisabilillah yang awalnya identik dengan orang yang berperang untuk menegakkan agama Allah dikonversikan oleh para ulama kekinian menjadi orang yang menuntut ilmu, orang-orang yang menyebarkan ilmu dan orang-orang yang selalu berusaha untuk memakmurkan masjid. Dikonversikan makna fisabilillah tersebut disebabkan tidak adanya lagi orang kafir yang menyatakan perang secara terbuka terhadap orang-orang islam.
Melihat konteks kekinian, makna fisabilillah yang diartikan sebagai orang-orang yang menuntut ilmu agama masih relevan untuk dijadikan mustahik dalam konteks memberikan beasiswa pendidikan kepada siswa atau mahasiswa miskin. Tetapi kalau makna fisabilallah dikonversikan menjadi para tuan guru yang memiliki lembaga pendidikan untuk dijadikan mustahik, bagi penulis tidaklah patut mereka atau lembaganya menjadi mustahik. Kenapa??? Karena kalau kita melihat tuan guru hari ini rata-rata mereka memiliki rumah mewah dan mobil mewah, sedangkan lembaganya mendapatkan operasional dari SPP siswa atau mahasiswanya dan bantuan-bantuan lainnya dari pemerintah dalam bentuk BOS (Bantuan operasional sekolah) dan proposal-propsal silmuan lainnya. Sehingga bagi penulis tidak layak zakat yang dikelola oleh BAZNAS atau BAZDA (Badan Amil Zakat Daerah) disalurkan ke lembaga-lembaga pendidikan sebab sangat rentan dijadikan media kampanye oleh orang-orang yang memiliki kepentingan dan akan mencederai nurani rakyat.
Sudah saatnya hari ini, untuk rethinking (berpikir kembali) dalam menafsirkan maknafisabilillah dengan makna yang baru dalam rangka meciptakan masyarakat elegan dan sejehtera untuk menghindari terciptanya masyarakat yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin miskin sehingga akan meligitamsi bahwa agama adalah candu kehidupan.
Melihat fenomena kemiskinan dan kefakiran yang hampir-hampir mendekati kekupuran, seharusnya orang-orang yang merasa mampu selama ini, puasa untuk menerima zakat, baik dalam bentuk zakat fitrah atau mal. Dengan tujuan optimalisasi penyaluran zakat bagi kaum fakir dan miskin. Sehingga tujuan zakat sebagai media peningkatan kesejahteraan umat dapat terwujud secara maksimal.
Dalam sejarahnya, baitu mal yang ada pada zaman Nabi dan sahabat adalah tempat untuk menampung hasil zakat dan disalurkan kepada orang-orang tepat. Dengan semangat berbagi dan memutus mata rantai kemiskinan. Karena apabila kemiskinan masih ada dalam kehidupan bermasyarakt ada kekhawatiran orang-orang islam akan mudah berubah akidahnya.

Zakat sebagai media menjadikan NTB bumi sejuta sapi (BSS)
Berangkat dari hadis Nabi yang artinya “ ampir-hampir kepakiran mendekati kekupuran”. Hadis tersebut memberikan isyarat bahwa kemiskinan itu harus diberantas kalau tidak bias ya diminimalisir. Orang islam sudah tidak saatnya lagi terjebak dengan pemikiran “dunia adalah penjara bagi orang islam dan surge bagi orang kafir”. Apabila pemikiran ini berlarut-larut umat islam akan mudah menggadaikan imanya dengan sebungkus supermi apalagi gerakan kristenisasi mengerah kepulau seribu masjid ini.
Provinsi NTB pada era kepemimpinan Tuan Guru Bajang (TGB) hari ini mendapatkan predikat telah mampu menurunkan angka kemiskinan masyarakatnya menurut data BPS (Badan Pusat Statistik) dan ini harus kita berikan apresiasi.
Tetapi akan lebih baiknya, program Bumi sejuta sapi (BSS) yang menjadi program unggulan pemerintahan provinsi hari ini harus benar-benar diwujudkan. Problem yang ada hari ini apakah seluruh masyarakat merasakan program tersebut dengan jalur birokrasi yang begitu ketat atau apakah masyarakt masih percaya dengan SKPD yang ada??. Melihat realitas yang ada program tersebut dirasakan dampaknya oleh kelompok yang mendapatkan rekomendasi dari pemerintah daerah tingkat kabupaten/kota yang ada, yang pada akhirnya program tersebut hanya dirasakan oleh orang-orang yang memiliki kedekatan dengan tokoh ini dan itu.
Untuk membuktikan apakah program tersebut dikenal oleh masyarakat bawah, cobalah tanyakan kepada mereka, apa mereka mengetahui atau tidak?
Kenapa zakat yang dikelola oleh Bazda tersebut sebagai media untuk membumikan sejuta sapi??? Sebab apabila hasil zakat yang ada terkelola secara baik dan disalurkan kepada orang yang tepat maka program tersebut akan mampu menjadi program unggulan yang membumi serta akan mampu memutus mata rantai kemiskinan yang ada secara totalitas.
Cara untuk mewujudkan program tersebut adalah hasil zakat yang ada dibelikan sapi produktif oleh pemerintah daerah untuk dibagikan kepada orang-orang yang benar-benar miskin dan fakir. Dan sapi tersebut disalurkan melalui Team Indefendent yang dibentuk oleh pemerintah dan orang-orang yang menjadi anggota team tersebut adalah orang yang memiliki integritas tinggi dan kualitas diri yang tegas dan berpihak kepada orang-orang miskin.
Dalam rangka menyukseskan program tersebut, semua elemen entah itu pemerintah daerah, tokoh agama seperti Tuan Guru dan kelembagaan Majlis Ulama harus berani memfatwakan cara baru untuk mengelola zakat serta penyalurannya demi kemaslahatan ummat dan memutus mata rantai garis kemiskinan yang sistemik saat ini.
Hukum islam akan selalu kontekstual dan menjadi rahmatallilalamin apabila individu-individu yang memiliki kualifikasi sebagai mujtahid berani untuk menfatwakan hukum sesuai dengan kebutuhan zaman hari ini, karena produk hukum yang terkodifikasi dalam bentuk fiqh tidak bersifat mutlak disebabkan produk hukum yang difatwakan oleh mujtahid terdahulu sesuai dengan kebutuhan zamannya. Untuk kondisi saat ini, yang faham tentang zaman kita adalah kita sendiri.
Optimisme ini memang berlebihan, tetapi apa salahnya pemerintah harus mencoba untuk menyalurkan zakat dengan cara seperti ini, sehingga yang diberikan pemerintah kepada masyarakatnya tidak hanya ikan yang akan membuat masyarakat menjadi manja dan memiliki etos kerja yang lemah, tetapi mereka harus diberikan kail untuk mendidik masyarakat menjadi pekerja keras dan mandiri dalam rangka menciptakan masyarakat madani. Karena apabila hasil zakat yang ada dibagikan secara konvensional seperti selama ini, masyarakat miskin dan fakir hanya bisa menikmatinya untuk beberapa hari saja. Tetapi apabila mereka diberikan sapi atau kambing untuk dia ternak maka mereka akan menikmatinya untuk waktu yang cukup panjang.