Media Informasi Pemuda Peduli Dhuafa Gresik (PPDG) || Website: www.pemudapedulidhuafa.org || Facebook: Pemuda Peduli Dhuafa Gresik || Twitter: @PPD_Gresik || Instagram: Pemuda Peduli Dhuafa Gresik || Email: ppd.gresik@gmail.com || Contact Person: 0838-3199-1684 || Nomor Rekening: 0335202554 BNI a.n. Ihtami Putri Haritani || Konfirmasi Donasi di nomor telepon: 0857-3068-6830 || #SemangatBerkarya #PPDGresik

Minggu, 10 November 2013

Buta Huruf Bukan Sekedar Masalah Tidak Bisa Baca

Angka buta huruf di Indonesia lebih kurang berjumlah enam juta jiwa yaitu sekitar 8% dari total seluruh penduduk Indonesia. Banyaknya jumlah jiwa yang masih mengalami buta huruf merupakan salah satu indikator yang menunjukkan bahwa negara kita masih belum maju, karena buta huruf berkaitan dengan pendidikan, sedangkan pendidikan merupakan salah satu indikator kemajuan sebuah bangsa.

Permasalahan buta huruf bukanlah merupakan sebuah masalah satu sektor saja, tetapi lebih kepada permasalahan yang merupakan akibat dari beberapa sektor. Kemiskinan merupakan salah satu sektor permasalahan yang mengakibatkan seseorang buta huruf, kenapa demikian ? Karena jika seseorang hidup miskin maka seseorang akan banyak menghabiskan waktunya untuk mencari penghasilan, selain itu juga jika seseorang itu miskin maka bagaimana mungkin dia akan dapat memenuhi kebutuhan pendidikannya, apalagi ditengah harga pendidikan yang kian melambung. Selain itu juga ada beberapa permasalahan lainnya, seperti sulitnya mencari air bersih, dimana untuk mencari air bersih yang harus menempuh jarak berkilo-kilo. Satu hal lagi yang saya tuliskan disini adalah permasalahan mental, dimana mental masyarakat kita yang lambat laun terbentuk untuk berfikiran bahwa, “buat apa sekolah, nanti kalau ujung-ujungnya jadi pengemis, dan bla-bla“.

Kondisi permasalahan buta huruf ini merupakan masalah kita bersama. Ada beberapa pihak yang sudah mulai melakukan berbagai gerakan, sebagai contoh gerakan Indonesia Mengajar yang dipelopori oleh seorang Bapak Anis Baswedan yang merupakan seorang Top Young Leader versi majalah TIME. Dan ada gerakan-gerakan dari bawah yang mulai mempelopori pemberantasan buta huruf ini.

Disinilah letak peran penting para intelektual yang sudah melek huruf, melek pengetahuan, dan melek terhadap berbagai hal untuk dapat turun langsung. Peran lembaga pendidikan yang tertulis dalam tri dharma perguruan tinggi yang salah satunya adalah pengabdian masyarakat, masih terlihat tumpul dalam mengupayakan pengabdian terhadap masyarakat. Karena terkadang program-program yang digulirkan cenderung menghantam pada satu masalah, tetapi tidak mengatasi masalah lain yang berkenaan. Hal inilah yang membuat program pengentasan buta huruf atau buta aksara menjadi tidak efektif.

Melihat permasalahan diatas, kita biasanya akan mencari kambing hitam, siapa yang akan dipersalahkan atas permasalahan ini, apakah pemerintah atau siapa. Kalau kita sibuk mencari siapa yang salah maka tidak akan ada habisnya. Untuk itu diperlukan solusi-solusi konkrit yang bisa diaplikasikan dan dilaksanakan, berikut solusi yang bisa dilakukan : Berdiskusi dengan pihak institusi untuk mengadakan program KKN yang intinya adalah penerapan keilmuan di tengah-tengah masyarakat. Pengadvokasian KKN kepada insitusi merupakan langkah konkrit untuk menyadarkan kembali kepada institusi bahwa mereka punya andil dalam mengabdi kepada masyarakat sebagaimana tertuang dalam tri dharma perguruan tinggi. Ikut serta dan menjadi bagian dalam program-program yang berkenaan dengan pemberantasan buta aksara. Membiasakan berdiskusi dengan masyarakat sekitar sehingga menumbuhkan rasa kepedulian atau dalam bahasa yang lebih keren yaitu "sense of caring". Dengan adanya rasa kepedulian maka kita akan dapat merasakan bagaimana yang terjadi ditengah-tengah masyarakat, dan akan membuat kita semakin jelas dalam menentukan permasalahan apa yang saat ini harus diselesaikan.

Sabtu, 09 November 2013

Hutanku Lebat, Bangsaku Selamat

Betapa hati ini berduka, ketika mendengar kabar berita saudara-saudara kita tertimpa musibah bencana. Gempa bumi, gunung meletus, tsunami, banjir, dan longsor. Rentetan perjalanan panjang bencana alam sepertinya masih enggan berlalu dan tak henti-hentinya menghempas Negeri ini, bak hantaman pukulan jack seorang petinju yang telak menghantam rahang lawannya hingga membuat sang lawan terkapar. Meskipun kedatangannya yang tak pernah diundang walaupun waktu kehadirannya di siang hari bolong, begitu tiba-tiba melulu lantahkan apa saja yang dihampirinya. Negeri ini terus-menerus berduka, sampai kapankah badai ini akan berlalu ? Apakah ini suatu cobaan, peringatan atau memang hukuman dari Tuhan ? Entahlah yang pasti masih lekat dalam benak ingatan kita semua, betapa dahsyatnya letusan Gunung Merapi, guncangan dahsyat Gempa Bumi, hempasan Gelombang Tsunami Aceh, kabar heboh Banjir yang menghantam istana negara dan Ibukota, bencana Longsor yang pula turut meluluh-lantahkan saudara-saudara kita diberbagai daerah. Bencana telah membawa penderitaan dan rasa prihatin yang mendalam. Setidaknya bagi segenap Bangsa Indonesia yang masih punya rasa cinta kepada negerinya. Kita maklum bila suatu kejadian apapun adalah proses dari rentetan peristiwa asimilasi hukum alam, sebab dan akibat. seorang bijak pernah berkata, “Apa yang kau tanam, itulah yang akan kau petik”.

Menurut berbagai sumber Informasi ternyata tanah air ini telah mengalami kerusakan yang begitu Urgen dan diperkirakan dalam beberapa waktu kedepan Indonesia tak lagi memiliki hutan sebagai paru-parunya dunia kehidupan. Bisa jadi Itu berarti paru-parunya negeri ini rusak teramputasi oleh sebuah keserakahan. Betapa tidak, belakangan rata-rata 3-5 hektar hutan permenit kabarnya hilang akibat penebangan ilegal dan pengalihgunaan lahan. Data Kementerian Kehutanan menyebutkan hutan di Indonesia yang tersisa dalam kondisi bagus (primer) hanya tinggal 64 juta hektar bahkan bisa jadi makin berkurang dari jumlah Data tersebut. Kian merajalelanya sistem eksploitasi hutan dan pembalakan liar di Sumatera dan Kalimantan telah turut berperan meracuni kesuburan hutan kita yang kian terkikis habis dan punah. Belum lagi hamparan hutan penyanggah kota-kota besar meliputi, hutan dan perbukitan di pinggiran kota seperti kota Jakarta dan berbagai kota di daerah lainnya telah lama beralih fungsi menjadi perumahan, mall, gedung pencakar langit, dan berbagai bangunan pabrik. Sungguh ironi bukan, sebuah negeri yang dijuluki jamrud khatulistiwanya Asia yang kaya akan hamparan hutan di sepanjang jauh mata ini memandang harus berakhir tragis, semoga saja tidak.

Tak pernah sadarkah akan kelakuan kita yang serakah, terus-menerus menyakiti hutan dan membuat kerusakan di muka bumi ini, bukankah itu sama artinya berbuat kebodohan, bak memberi kail umpan ikan etong hanya untuk mendapatkan ikan teri. Setidaknya dari faktor keselamatan hidup pun akan mengalami gangguan dengan berbagai ekses negatif ancaman bencana besar, yang sewaktu-waktu akan membuncah menjadi momok tragedi yang memilukan.

Ada seloroh yang cukup menggelitik gendang telinga, seseorang berujar, “Bencana yang sering terjadi ini akibat dari fenomena alam bahwa bumi kita sudah tua”. Wajar dan sah-sah saja bila berasumsi demikian sebab bencana yang sering terjadi menimpa negeri ini disamping akibat dari proses alami itu sendiri tapi juga jangan lupa, jika kita pun tetap berbuat culas terhadap bumi itu sama juga artinya ikut mendorong dan mempercepat proses kerusakan bumi kian bertambah rusak parah dipenghujung usia bumi yang semakin senja. Seharusnya yang mesti dipahami adalah bumi kita memanglah sudah tua, renta, dan riskan akan berbagai serangan komplikasi penyakit.  Seperti Sariawan, sakit Gusi, demam, pilek, flu, dan batuk-batuk. Sariawan dan sakit Gusi begitu kiranya rasa sakit dan pesan yang disampaikan Bumi ketika tiba-tiba lapisan tanahnya membelah dan meruntuhkan berbagai bangunan apa saja yang ada dipermukaannya. Tidak sedikit karenanya ratusan nyawa jadi korban-kerugian besar harus ditanggung makhluk hidup yang berpijak dan hidup diatas permukaan wajahnya. Gejala Demam yang menggrogoti Bumi kita itu, suatu isyarat bahwa bumi kita dalam keadaan bertemperatur suhu yang tinggi dari sebuah peristiwa gejala Global Warming. Alam pun terluka-menderita dan sakit hingga membuat iklim dunia kacau sulit untuk diprediksikan kapan datangnya musim kemarau dan kapan pula musim penghujan menjelang. Hal ini menyebabkan beberapa wilayah di daerah sentra penghasil produksi pertanian gagal panen. Dan tak jarang pula wilayah perkotaan dan berbagai daerah mengalami kebanjiran ataupun kemarau berkepanjangan. Rasa pilek yang menghambat dan amat menyiksanya itu, sebenarnya memperingatkan diri ini untuk selalu menjaga kelestarian hutan dari sebuah eksploitasi tangan-tangan jahil yang kurang bijak mengambil manfaat, secara sembrono dan membabi buta tanpa ada rasa welas asih merubah wajah bumi nan cantik, indah, lebat, nan hijau royo-royo dedaunannya itu menjadi gundul dan rusak lagi rapuh, labil dan mudah longsor. Virus flunya mengajarkan kita untuk segera mengurangi polusi udara dari efek negatif gas Emisi beracun dari berbagai gas pembuangan mesin kendaraan dan pabrik yang mulai membuat bumi ini semakin panas. Serta, Batuk-batuknya menandakan, pegunungan yang terlukis indah itu sedang terganggu metabolisme saluran pernapasannya hingga gairah lava membuncah dan memaksanya menumpahkan lahar panas dari dalam perut bumi.

Senyata diri Bumi pun sama seperti halnya kita "manusia" ketika mengalami gejala penyakit tersebut. Tentu membutuhkan penanganan serius agar segala serangan epidemis virus bakteri yang terus-menerus merusak sistem kekebalan tubuh itu lekas sirna dari dalam tubuh. Sudahkah kita memberi kenyamanan bagi Bumi ini, agar Bumi pun mau bersahabat dengan kita ?.

Sebagaimana sebuah pergaulan yang biasa kita lakukan dalam bersosialisasi dengan orang lain. Saat kita menanam kebaikan apa saja, tentu balasannya sebuah kebaikan juga, bahkan bisa jadi lebih nikmat kebaikan itu ditambahkan. Tapi saat kita berbuat kedzaliman tentu adzab pedih akan melimpah sebagai timbal balik. Ekuvalen juga ketika kita memperlakukan berbagai kekayaan yang terkandung di perut bumi alam semesta ini, baik yang ada di lautan, daratan, udara, pegunungan, hutan-hutan belantara yang begitu Indah menghiasi bumi ibu pertiwi pastilah ada Darma yang harus dibayar mahal.

Perlakukan Alam sebagaimana kita memperlakukan siapapun yang kita sayang. Sebab kasih sayang yang tercurah dengan segenap perhatian tulus akan memberi efek lebih sebuah ketulusan alam untuk menjaga keselamatan, memberi kemaslahatan, kebaikan yang berlebih bagi diri kita sendiri dan orang lain didalam menjalani perjalanan hidup di muka bumi.

Kini saatnya kita mulai berbenah, dan kembali menghijaukan hutan sebagai bentuk rasa tanggung jawab kita kepada barang titipan anak cucu kita, yang akan menjaga dan mengelolanya di masa yang akan datang. Biasakan dan ajarkan anak cucu kita untuk gemar menanam pohon, tidak perlu mesti jauh-jauh bermigrasi kepelosok Belantara hutan, untuk turut melestarikan hutan dari sebuah kepunahan. Mulailah dan biasakan diri ini untuk memanfaatkan lahan kosong disekitar lingkungan, dimana kita bersosialisasi bermasyarakat. Meskipun lahan tanaman yang tersedia tidak luas hanya sejengkal saja adanya. Hijaukan lingkungan sekitar dengan berbagai tumbuhan yang bermanfaat, setidaknya sebagai alat penyerap air tanah di kala turun hujan, sarana pelindung dari teriknya matahari disaat musim kemarau dan sebagai alat bantu penyuplai kebutuhan hidup untuk mendapatkan hembusan udara segar (zat Oksigen) disetiap pagi hari dari tumbuhan yang kita tanam. Dari kebiasaan itu nantinya diharapkan akan menumbuhkan rasa kepedulian kita untuk senantiasa menjaga dan melestarikan lingkungan sekaligus hutan kita dari sebuah kerusakan. Ciptakan lingkungan hutanku lebat, menjadikan bangsaku selamat.

Peduli dengan Lingkungan

Dewasa ini Indonesia adalah kawasan yang padat kekayaan alamnya. Contoh pepohonan berusia puluhan bahkan ratusan tahun. Namun semua itu hanya dapat dinikmati oleh nenek moyang kita, karena apa ? Saat ini banyak pepohonan yang ditebang demi kepentingan pribadi, misal untuk pabrik meuble pembuatan kursi, meja, almari, dan lain sebagainya. Bagaimana kelak keindahan alam bisa terjaga dan dilestarikan untuk cucu kita masa depan ? Siapa yang mau bertanggung jawab atas musibah tanah longsor, banjir, dll. Apa yang akan kita berikan untuk anak cucu kita masa depan ? Saat ini juga banyak sekali upaya pemerintah, institusi, maupun perguruan tinggi dan sekolah untuk melestarikan alam kita.

Salah satu contoh adalah program di Institute Sepuluh Nopember (ITS) yang bertemakan “ITS Exco campus”. Dalam pelaksanaannya mahasiswa yang baru masuk ke ITS ini diwajibkan mengikuti pelaksanaan gugur gunung. Yaitu penanaman berbagai jenis pohon sebagai bentuk penanaman rasa cinta terhadap lingkungan alam. Gugur gunung ini telah berlangsung selama dua tahun, tetapi ditahun pertama tidak bisa berlangsung dengan baik, karena tidak ada controlling secara bertahap. Hal ini menyebabkan banyak pohon yang mati dan tidak terawat. Ditahun kedua pelaksanaannya, mahasiswa mulai diwajibkan untuk melakukan controlling bibit pohon yang mereka tanam. Hal ini juga bisa menumbuhkan rasa kepedeulian mereka secara berjenjang, tidak hanya menanam tetapi mereka bertanggung jawab atas apa yang mereka tanam dengan adanya controlling gugur gunung. Dan adanya hari khusus yaitu hari Jumat jam 06.00-09.00 untuk di adakannya controlling tersebut.


Mari kita semua berbuat bergerak memberikan yang terbaik untuk alam kita ini. Menanam seribu pohom sebagai bentuk menegakkan kepedulian terhadap alam sekitar. Membuang sampah pada tempatnya, mengurangi pemakain kendaraan, mengurangi cerobong asap pabrik, karena asap-asap itu yang akan mengurangi lapisan ozon sedikit demi sedkit dan mengakibatkan global warming. Jadi, marilah kita sebagai penerus bangsa melakukan perubahan untuk negeri kita tercinta ini. Jaga alam kita untuk menjadikan bumi pertiwi semakin indah dan dapat kita nikmati keindahan tersebut.

Jumat, 08 November 2013

Baik Itu bukan Berarti Pasrah, Baik Itu juga Berarti Adil

Kadang kita manusia dipermainkan kata dan keadaan. Saat kata baik mendengung di kepala, maka yang terpikir adalah bagaimana menjadi manusia yang selalu menyenangkan, selalu responsif dan selalu siap membantu kapan pun dan dimanapun. Akan tetapi apakah kondisi diri kita akan selalu berada pada tingkat sewaspada itu ?.

Hampir yakin tidak dalam dinamika kehidupan yang naik turun dan perasaan yang menggelora senang dan susah, sulit rasanya menjaga hati pada tahap selalu aba-aba siap sedia waspada. Toh pada lomba lari sekalipun akan ada masa peluru dilepas dan para atlit melesat maju.

Itulah sejatinya manusia, akan ada masanya kita perlu berteriak “STTOPPP…” karena kalau tidak demikian akan banyak korban lain yang tergilas setelah kita jadi gilasan pertama akibat kebaikan kita sendiri.

Itulah dia, kebaikan kita sendiri kadang sering menjadi bumerang. Betapa kadang batasan antara kebaikan dan kepasrahan yang menyesatkan atau batasan antara kepedulian dan pembiaran yang menyakitkan menjadi sangat tidak jelas dan absurd. Bisa menjadi dua sisi yang saling berkaitan, tapi masing-masing berdiri sendiri, bermakna pada mereka yang memiliki kepentingan yang berbeda, tapi pada satu masalah yang sama.

Mereka yang pasrah dalam kebaikan kadang sebenarnya adalah juga mereka terlalu baik untuk dikatakan menyesatkan, karena dalam kenyataan kebaikan yang mereka lakukan dalam dasar tak mau berpanjang lebar berargumen membela kebenaran yang mereka anut mehadapi lawannya, yang sebenarnya tidak benar. Sehingga tanpa sadar mereka telah memupuk rasa dalam diri lawan bahwa, ”akh..asal ngotot gue pasti menang…”. Dan batas kebenaran yang hakiki akhirnya menjadi hilang.

Padahal begitu banyak di dunia ini kaum oportunis yang memanfaatkan momen, tenggat waktu yang mendesak, rasa iba dan kedekatan hubungan untuk memaksakan kehendaknya secara halus kepada kita. Sehingga lagi-lagi, pasrah yang dikedepankan atas nama simpati dan peduli menghilangkan momen pembelajaran. Menjadi kebaikan tanpa bekas karena seolah kebaikan tersebut adalah rutinitas semata, seolah menjadi kewajiban yang malah menjadi salah kita jika tidak dilaksanakan.

Padahal pada saat momen yang mereka  terdesak seperti itulah sebenarnya saat yang paling tepat buat kita mengingatkan, memberikan pelajaran bahwa pembiaran disaat ini bukan karena tidak ada simpati, tetapi sebaliknya pembiaran saat ini adalah karena kita peduli dan kita ingin mereka tidak merasa menang dan tidak kemudian memultiplikasi keadaan yang sama, mencari kebaikan dan kepasrahan orang lain demi kenyamanan dirinya.


Pembiaran kita dalam jangka panjang merupakan bentuk kepedulian yang diharapkan membuat mereka berpikir jernih dan adil,  bahwa bukan baik orang lain yang harus selalu terus menerus mereka terima, akan tetapi sadari bahwa kebaikan dari kita yang terus menerus akan membuat kita berlaku tidak adil karena akan memanjakan mereka, tidak adil karena akan terjadi tidak ada pembelajaran mandiri dan tidak tergantung orang lain,  tidak adil karena saat tuntutan kebaikan itu kemudian terjadi kembali pada orang lain adalah karena keterlibatan kita dalam pembiaran. Keterlibatan kita dalam menjadi baik yang pasrah, pasrah yang menghilangkan batas antara adil dan tidak.

Rabu, 06 November 2013

Menyehatkan Masyarakat dengan Konstribusi Sederhana yang Nyata

Menyandang status sebagai mahasiswa tentu berbeda dengan status sebagai siswa. Yang membuatnya berbeda bukan hanya kata “maha” yang disandang, melainkan pola pikir, dan kewajiban. Siswa hanya berkewajiban untuk belajar dan mentaati peraturan. Berpikir dengan cara sederhana dan berperan statis masih dimaklumi untuk seorang siswa. Lain halnya dengan mahasiswa. Mahasiswa dituntut untuk lebih luas dalam berpikir. Mahasiswa berkewajiban untuk berpikir lebih kritis dan berorientasi masa depan. Selain itu, mahasiswa juga memiliki kewajiban baru, yaitu mengamalkan ilmu yang diterima dalam bentuk pengabdian ke masyarakat. Hal ini sesuai dengan tri dharma perguruan tinggi yang telah didukung Undang-Undang No. 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi (UU Dikti). Perguruan tinggi tidak boleh membeda-bedakan antara bidang pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat. Seperti yang diungkapkan Mendikbud, Mohammad Nuh bahwa seluruh civitas akademika diharapkan yakin tiga pilar itulah yang harus dikembangkan, ditumbuhkan dan ditegakkan. Salah satu bidang yang sangat mengaharapkan konstribusi dari mahasiswa ialah bidang kesehatan. Mahasiswa kesehatan masyarakat memiliki peran penting dalam hal ini. Ilmu yang dipelajari oleh mahasiswa kesehatan masyarakat akan sangat berguna jika diamalkan untuk menyehatkan masyarakat.

Ilmu kesehatan masyarakat adalah kombinasi antara teori (ilmu) dan praktek (seni) yang bertujuan untuk mencegah penyakit, memperpanjang hidup dan meningkatkan kesehatan penduduk (masyarakat). Dari teori yang dipelajari, jelas terbukti bahwa mahasiswa kesehatan masyarakat memang dipersiapkan untuk bermanfaat bagi masyarakat di bidang kesehatan. Sebagai negara berkembang dengan penduduk super padat, Indonesia memiliki permasalahan kesehatan yang cukup sulit. Salah satu masalah kesehatan masyarakat yang sedang kita hadapi saat ini adalah beban ganda masalah gizi. Pada tahun 1990, prevalensi gizi kurang dan gizi buruk sebanyak 31%, sedangkan pada tahun 2010 terjadi penurunan menjadi 17,9%. Berdasarkan data Riskesdas 2010, prevalensi gizi lebih pada Balita sebesar 14,0 %, meningkat dari keadaan tahun 2007 yaitu sebesar 12,2 %. Masalah gizi lebih yang paling mengkhawatirkan terjadi pada perempuan dewasa yang mencapai 26,9% dan laki-laki dewasa sebesar 16,3%. Selain masalah gizi, sekarang ini meluasnya penyakit seperti demam berdarah, malaria, muntaber, dan flu burung juga menjadi masalah yang perlu dikhawatirkan. Mahasiswa kesehatan masyarakat dituntut untuk lebih peka dan sadar untuk segera melakukan perbaikan dan perubahan.

Melakukan perubahan dan perbaikan besar memang tidak semudah yang dibayangkan. Banyak hal yang harus dipikirkan dan dikerjakan. Namun seorang tokoh dunia bernama Lao Tzu pernah berkata, “Sebuah perjalanan seribu mil dimulai dengan satu langkah”. Jadi, dapat disimpulkan bahwa jika akan melakukan suatu hal besar yang dirasa berat dan sulit, mulailah dari satu langkah sederhana. Satu langkah sederhana dalam proses ini bisa dimulai dari diri sendiri. Sebagai mahasiswa kesehatan masyarakat, tentulah ilmu-ilmu kesehatan yang dipelajari harus benar-benar diresapi dan ditanamkan dalam diri. Contoh penerapannya seperti, menghilangkan kebiasaan buruk yang dapat merusak kesehatan. Bagi yang merokok, segeralah berhenti. Biasakan pola hidup sehat seperti olahraga, makan-makanan bergizi, dan menjaga kebersihan diri. Memang, kegiatan-kegiatan diatas rasanya sangatlah sederhana dan mustahil dapat membawa dampak besar ke masyarakat. Namun, kegiatan yang sederhana ini merupakan langkah nyata untuk memulai semuanya kedepan. Dengan memulainya dari diri sendiri, tentu kedepannya akan lebih mudah menerapkannya ke masyarakat.

Kebiasaan-kebiasaan baik yang sudah ada dalam diri masing-masing selanjutnya bisa ditularkan ke orang sekitar. Dimulai dari orang-orang terdekat, seperti keluarga, teman-teman, kemudian ke tetangga sekitar. Salah satu caranya ialah dengan mengajak mereka untuk ikut serta dalam kebiasaan-kebiasaan baik tersebut. Dengan itu, persepsi mereka tentang pentingnya kesehatan bisa dengan mudah dikembangkan.

Untuk melakukan suatu perubahan besar janganlah jadi orang yang pasif dan hanya menunggu aksi orang lain. Menjadi pencetus dan motor penggerak akan lebih membawa hasil. Contoh kegiatannya ialah dengan membuat komunitas yang dimulai dari teman-teman satu fakultas yang aktif menyelenggarakan gathering dan seminar bersama. Dengan ini, akan ada lebih banyak ide dan rencana yang tersaring. Perluas pergaulan sehingga dapat menjalin kerja sama dengan komunitas-komunitas lain yang sudah besar untuk dapat melakukan aksi-aksi yang langsung turun ke masyarakat seperti penyuluhan, bantuan pelayanan kesehatan (posyandu, puskesmas, dll), serta aktif dalam organisasi semacam PMI.


Kegiatan-kegiatan diatas mungkin sangat sederhana, namun apabila direncanakan matang dan dijalankan dengan sungguh-sungguh dan penuh semangat, maka hasilnya pasti akan lebih baik dibanding perencanaan sempurna namun terlalu lama dan tidak menunjukkan aksi langsungnya. Selain bermanfaat untuk masyarakat, konstribusi seperti ini juga bermanfaat untuk mahasiswa sebagai pengalaman nyata sebagai modal besar untuk membuat skripsi bahkan di dunia kerja nanti.

Selasa, 05 November 2013

Tulisan Saja Tak Cukup untuk Menyelamatkan Hutan

Banyak hal yang dapat kita lakukan sebagai cermin akan kecintaan dan kepedulian kita terhadap kelestarian hutan Indonesia. Dari mulai kebiasaan menggunakan barang-barang ramah lingkungan seperti menggunakan tas belajaan sendiri yang dapat dipakai berulang-berulang kali sampai pada kebiasaan kita menanam pohon dari skala kecil hingga ke skala yang lebih besar.

Sudah sejak lama kita telah mendengar bahwa Indonesia itu adalah Paru-paru dunia dengan hutannya. Namun, nampaknya predikat yang disandangnya itu perlahan-lahan tengah terancam keberadaannya. Ya, hal itu dikarenakan ada sekian banyak tindakan perusakan hutan baik oleh ulah manusia ataupun akibat bencana alam. Tindakan perusakan hutan oleh ulah manusia meliputi pembalakan liar (illegal logging), pembukaan lahan baru untuk pemukiman ataupun lahan pertanian dan penambangan liar. Sementara perusakan hutan akibat bencana alam meliputi kebakaran hutan, letusan gunung berapi dan tanah longsor. 

Lalu kenapa dengan adanya perusakan-perusakan hutan itu kita seolah “kebakaran jenggot” ? Seberapa penting kah sebenarnya hutan itu bagi manusia ?.

Jawabannya bisa sangat beragam, bahkan setiap orang dapat menjelaskannya berdasarkan sudut pandang mereka masing-masing. Dan menurut saya pribadi, hutan itu mempunyai peranan yang sangat penting bagi kehidupan, tidak hanya bagi manusia tetapi juga bagi mahluk hidup lainnya yang tinggal didalamnya. Terlebih lagi hutan Indonesia dinobatkan sebagai paru-parunya dunia, maka sudah dapat dibayangkannya betapa mengerikannya jika organ vital dunia kita ini tengah kritis dan sekarat, dalam hal ini adalah hutan Indonesia. Alasan itulah kenapa kita seolah “kebakaran jenggot”. Tentu sebagai anak bangsa kita tidak menginginkan hal buruk menimpa hutan Indonesia yang akan berdampak luas pada kehidupan mahluk hidup kelak di kemudian hari.
  
Keberadaan hutan sangat penting karena hutan itu mempunyai beragam fungsi bagi kehidupan manusia. Dan berikut ini adalah beberapa fungsi vital hutan : 
1) Pengatur iklim dengan produksi oksigennya (O2) yang diperlukan manusia dan menyerap karbondioksida (CO2) yang merupakan sisa hasil kegiatan manusia. Sebagai catatan gas CO2 merupakan salah satu gas penyebab terjadinya efek rumah kaca (Green Hause Effect) yang berdampak pada pemanasan global.
2) Penyimpan air hujan dan kemudian dialirkan melalui sungai-sungai yang menjadi sumber kehidupan bagi makhluk hidup.
3) Mencegah erosi dan kekeringan yang dapat mengakibatkan bencana banjir di musim hujan dan kekeringan di musim kemarau, dll.

Dan saya rasa setiap orang tentu sudah sangat paham dan mengerti akan pentingnya keberadaan hutan, tinggal bagaimana tekad, semangat, dan dedikasi yang besar dalam menjaga dan merawat kelestarian hutan Indonesia dengan sebaik-baiknya.
  
Menanam Seratus, Seribu bahkan Sejuta pohon itu baik, tetapi jika tidak diikuti dengan hati (kecintaan) saat menanam maka hal itu bisa jadi hal yang sia-sia. Ya, hal itu dikarenakan setelah kita menanam pohon kita akan meninggalkan pohon tersebut tanpa adanya upaya perawatan dan pemeliharaan di hari-hari berikutnya. Maka, menanam dengan “hati” akan jauh lebih baik meskipun jumlahnya cuma satu, dua, lima ataupun sepuluh tetapi dilakukan rutin dan pastinya setelah kita selesai menanam kita bersedia merawat, memelihara dan menjaga pohon tersebut hingga tumbuh besar.

Jangan biarkan paru-paru dunia ini kritis dan sekarat, mulailah dari dalam diri sendiri kita menumbuhkan rasa cinta terhadap hutan Indonesia, yakni melakukan sesuatu dengan “hati”. Banyak cara yang dapat kita lakukan untuk menyelematkan paru-parunya dunia ini. Jika hal-hal besar belum dapat atau sulit kita lakukan, maka lakukanlah hal-hal kecil terlebih dulu. Berawal dari hal-hal kecil akan membawa kita ke suatu hal yang lebih besar. Seperti halnya pepatah “sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit”.

Membiasakan diri menanam pohon di area pekarang rumah, membawa tas belanjaan sendiri saat belanja di super market ataupun selektif dalam penggunaan kendaraan ramah lingkungan seperti menggunakan sepeda jika tempat tujuan yang hendak ditempuh tidak lebih dari 5 km dan menggunakan mobil jika hendak bepergian dengan jumlah orang lebih dari 3 saja, itulah sedikit contoh dari hal-hal kecil yang dapat kita lakukan dalan keseharian kita.


Akhirnya sekali, lewat tulisan saja tidak cukup untuk menyelamatkan hutan kita yang sedang kritis dan sekarat, tetapi juga butuh upaya dan tindakan nyata dari kita semua. Membiasakan dan melakukan hal-hal kecil yang berdampak positif secara rutin dan teratur akan lebih baik daripada melakukan suatu hal yang besar tetapi dilakukan cuma sekali waktu tanpa ada upaya keberlanjutannya.

Sabtu, 02 November 2013

Pendidikan Peningkatan Kesadaran Bela Negara Pemuda Tingkat Nasional

PENDIDIKAN PENINGKATAN KESADARAN BELA NEGARA PEMUDA
TINGKAT NASIONAL


Sesuai amanah Undang-Undang Dasar Tahun 1945 pasal 27 ayat (3), mengisyaratkan hak dan kewajiban warga negara untuk ikut serta dalam upaya bela negara. Dalam hal yang sama juga diamanatkan oleh Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2002 pasal 9 ayat (1 dan 2) tentang Pertahanan Negara dan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2009 tentang Kepemudaan, berkaitan keikutsertaan warga negara dan pelayanan kepemudaan yang diarahkan dalam upaya bela negara.
Menyikapi potensi konflik (yang bersifat konstan), terutama dalam kaitannya dengan pola konflik kekerasan kolektif, masuknya era globalisasi dan reformasi serta transisi demokrasi yang ekses negatifnya terhadap eksklusifisme otonomi daerah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, jika tidak dikelola dengan cerdas dan bijak sesuai dengan hak dan kewajiban konstitusi, melalui langkah-langkah sistematis dan strategis yang dituangkan dalam program pendidikan kesadaran berbangsa dan bela negara, maka akan menimbulkan lunturnya semangat kebersamaan (kesetiakawanan sosial), rapuhnya kerukunan, longgarnya solidaritas dan terciptanya disintegrasi bangsa yang pada gilirannya akan merosotnya harga diri dan kewibawaan bangsa.
Sejalan dengan amanah Undang-undang Dasar pasal 27 ayat (3) UUD 1945, dan pasal 9 ayat (2) Undang-Undang Nomor 3 tahun 2002, serta Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2009 tentang Kepemudaan, maka  Kementerian Pemuda dan Olahraga memandang perlu menyelenggarakan kegiatan Peningkatan Kesadaran Bela Negara Pemuda, dalam rangka untuk mewujudkan cita-cita dan kepentingan nasional di bidang ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan, keamanan dan sebagai proses interaksi pembelajaran dalam rangka meningkatkan kesadaran berbangsa dan bernegara, semangat patriotisme, kesetiakawanan sosial sekaligus menguatkan jati diri dan kemandirian pemuda dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).