Media Informasi Pemuda Peduli Dhuafa Gresik (PPDG) || Website: www.pemudapedulidhuafa.org || Facebook: Pemuda Peduli Dhuafa Gresik || Twitter: @PPD_Gresik || Instagram: Pemuda Peduli Dhuafa Gresik || Email: ppd.gresik@gmail.com || Contact Person: 0838-3199-1684 || Nomor Rekening: 0335202554 BNI a.n. Ihtami Putri Haritani || Konfirmasi Donasi di nomor telepon: 0857-3068-6830 || #SemangatBerkarya #PPDGresik

Sabtu, 14 Desember 2013

Guru “Penggerak” Pendidikan di Era Globalisasi (Selamat Hari Guru Nasional)

25 November, seluruh guru di tanah air memperingati hari Guru Nasional ke-20 dan HUT PGRI ke-68. Guru yang merupakan penggerak pendidikan, sejenak merenungkan sudah sampai dimana kemajuan pendidikan tanah air kita, sudah dimanakah posisi pendidikan tanah air kita bila dibandingkan dengan Negara-negara lain. Tidak usah jauh-jauh, sudah sampai dimana level pendidikan kita bila dibandingkan dengan Negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura? Sungguh ironis, bila kita membandingkan kemajuan dunia pendidikan kita dengan Negara tetangga, Negara serumpun Malaysia, Negara kita tertinggal jauh, jika dulu tahun 1969 atau masa Presiden Soekarno, Guru-guru di Negara kita sangat begitu dihargai dan diakui kualitasnya, sehingga Negara seperti Malaysia dan Singapura banyak belajar dan mendatangkan mereka sebagai tenaga pengajar, maka kini situasinya berbalik 180 derajat, dimana kita yang lebih banyak belajar dari metode pendidikan mereka.
Suasana Upacara, Himne Guru dinyanyikan dengan Khidmat. PGRI yang telah berusia 68 tahun masih banyak mengalami masalah pendidikan, mulai dari sikap dan perilaku peserta didik yang sudah sampai ke hal-hal yang abnormal, misalnya: tawuran yang makin merajalela, sampai-sampai membajak bus, penyiraman air keras (soda) dan tidak lagi menghargai guru, tidak memiliki minat belajar yang tinggi, mengakibatkan dunia pendidikan dan system pendidikan kita menjadi mandek. Kita tidak bisa menutup mata atas kejadian-kejadian seperti ini. Sudah saatnya kita sama-sama untuk meningkatkan mutu pendidikan kita. Boleh saja kita mengatakan kita telah mempunyai Kurikulum 2013, yang oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan melalui angketnya direspon masyarakat dengan positif, namun kenyataan di lapangan, system ini mandek karena peserta didik sebagai output (hasil) dari system pendidikan (kurikulum 2013/kurikulum KTSP) yang guru terapkan ternyata masih stagnan (begitu-begitu saja).
Untuk meningkatkan mutu pendidikan sehingga Tujuan Pendidikan Nasional seperti yang tertuang dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 dapat terwujud, telah banyak yang oleh Pemerintah lakukan, misalnya: menaikkan Anggaran Belanja Negara untuk pendidikan sebesar 20%, mengganti kurikulum setiap ganti kabinet atau ganti Menteri dan menyatakan bahwa Kurikulum ini adalah kurikulum paling pas, padahal itu adalah adopsi dari kurikulum Negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Australia, Kanada, Selandia Baru dan Singapura. Mengadopsi dan Mengadaptasikan kurikulum dari Negara lain bukanlah tindakan yang bijak bagi pendidikan tanah air, karena letak geografis, situasi dan kondisi, latar belakang budaya bangsa kita, pola pikir dan karakter kita sungguh berbeda dengan Negara-negara lain. Pemerintah seharusnya mengidentifikasi, meneliti, merumuskan serta memutuskan pendidikan yang seperti apa yang cocok di tanah air kita untuk dikembangkan. Sehingga Kurikulum yang kita punya tidak seperti “proyek” yang banyak digerogoti.
Meningkatkan profesionalisme guru dan pendidik, memberikan penghargaan, memberikan sarana dan prasarana yang layak serta sebisa mungkin mengurangi atau memberantas korupsi adalah program yang harus disinergikan oleh pemerintah dan guru dalam hal proses meningkatkan mutu pendidikan nasional kita. Pemerintah seharusnya tetap pada program peningkatan profesionalisme Guru dan pendidik. Bagi guru-guru muda seperti saya, masih sangat membutuhkan pelatihan-pelatihan, sehingga pengetahuan saya akan wawasan dan kebijakan-kebijakan dunia pendidikan semakin bertambah. Dengan adanya seminar dan pelatihan yang berkelanjutan maka Guru memiliki pengetahuan tentang teori belajar dan pembelajaran, penelitian pendidikan (Penelitian Tindakan Kelas), evaluasi pembelajaran, kepemimpinan pendidikan, manajemen pengelolaan kelas (sekolah) serta perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi sebagai ujung tombak perkembangan Pendidikan di tanah air. TIK memiliki peranan yang sangat vital dalam era globalisasi ini untuk mengembangkan pendidikan dan sebagai hasil dari pendidikan itu sendiri. Profesi Guru yang telah dibuktikan dengan Sertifikasi sudah memberikan semangat bagi guru untuk memberikan pengajaran. Namun tidak dapat dipungkiri, bahwa belum semua guru memiliki sertifikat profesi, sehingga program ini masih berjalan.

Sungguh, masih banyak PR kita jika kita ingin dunia pendidikan kita maju, semua pihak harus bersinergi untuk memberikan yang terbaik bagi dunia pendidikan kita dan bagi anak-anak bangsa kita, sebab Negara kita ditentukan oleh anak-anak yang kita didik. Selamat Hari Guru Nasional yang ke-20 dan HUT PGRI yang ke-68. Guru Jaya, Pendidikan Jaya…!!!.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar