Media Informasi Pemuda Peduli Dhuafa Gresik (PPDG) || Website: www.pemudapedulidhuafa.org || Facebook: Pemuda Peduli Dhuafa Gresik || Twitter: @PPD_Gresik || Instagram: Pemuda Peduli Dhuafa Gresik || Email: ppd.gresik@gmail.com || Contact Person: 0838-3199-1684 || Nomor Rekening: 0335202554 BNI a.n. Ihtami Putri Haritani || Konfirmasi Donasi di nomor telepon: 0857-3068-6830 || #SemangatBerkarya #PPDGresik

Jumat, 04 Juli 2014

Sekali-sekali Kita Jadikan Rakyat Kecil Pemenang di Negeri ini

“People don’t buy what you do; they buy why you do it. And what you do simply proves what you believe” ― Simon Sinek, Start with Why: How Great Leaders Inspire Everyone to Take Action
Suatu pagi dalam perjalanan saya ke kantor di tengah kemacetan jalan kampung melayu saya menengok keluar dari dalam mobil saya. seorang bapak kurus penjual roti sepeda sedang berjuang me-manuver jalan dikelilingi mobil. udara agak terik walau masih pagi, jadi si bapak sudah keringatan. roti jualannya masih penuh.
Saya mendadak terenyuh. Anda dan saya kenal bapak ini. Beliau mungkin berpendapatan kurang dari Rp.500ribu per bulan dan tinggal di bedeng2 di bawah jembatan jalan tol yang kita lewati kalau kita mau ke Bandara Soetta. Beliau mungkin adalah seorang bapak yang suatu hari berkata pada anaknya ‘nak, kamu jangan berharap sekolah tinggi tinggi ya, bapak cuma mampu sekolahkan kamu sampai SD.’
Mendadak ada yang menusuk dada saya, dan mata saya berair. Kepentingan pilpres ini bukan untuk anda dan saya, tapi untuk bapak didepan (kebetulan saya hanya melihat muka di bapak sekilas, saya hanya ada foto beliau dari belakang) dan jutaan warga Indonesia lainnya. Mereka adalah masyarakat miskin yang puluhan tahun dijadikan subjek kampanye politik untuk membangun massa namun sampai saat ini belum mendapatkan penghidupan yang layak. Walau tingkat kemiskinan sudah membaik dibanding 20-30 tahun lalu, mayoritas warga Indonesia masih dibawah garis kemiskinan, ya hidup dengan Rp.500ribu sebulan itu.
Lalu datanglah Jokowi. Sejak awal ada yang aneh dari Jokowi ini, dia bukan hanya berbicara dan berjanji2 mengenai rakyat kecil, tapi tampak fascinated (terkagum kagum) dengan mereka. Kalau ada waktu luang sedikit, buru buru mendatangi masyarakat miskin. Mengunjungi pasar-pasar tradisional dan tersenyum-senyum saja tangannya ditarik-tarik warga. Apa guna citra tanpa kebijakan, anda bertanya. Kebijakan yang paling awal dilakukan si Bapak diberikan untuk rakyat kecil. Jika saya perhatikan prinsip kebijakan Jokowi selalu konsisten, membuka akses untuk warga berpendapatan terendah. Dana untuk kesehatan dan pendidikan sudah sangat besar. Alokasi APBN untuk pendidikan adalah Rp.81 Triliun dan untuk kesehatan Rp. 41 Triliun (sumber: www.kemenkeu.co.id) dan untuk menjamin akses terhadap dana tersebut adalah melalu sistem ‘satu pintu’, Kartu Pintar dan Kartu Sehat. Prinsip yang sama diterapkan untuk transportasi umum. Pengatasan kemacetan bukan yang paling utama karena itu kepentingan pemilik mobil. Yang penting adalah perbaiki kinerja kopaja dan busway dulu. Saya sebagai pengguna jalan agak kesal dengan macetnya Jakarta, tapi didalam hati saya mengerti dan mendukung prioritas si bapak.
Tanggal 26 Juni 2014 saya datang ke satu temu wicara Jokowi dengan komunitas internet (Netizen) . Bagian dari acara adalah pemberian token dari calon pemilih kepada Jokowi. Datang ke atas panggung dua bapak penarik becak dari Jogja, pak ‘Aris Van Java’ dan temannya - yang menarik becaknya dari Jogja ke Jakarta. Kedua Bapak ini berhenti di setiap pemukiman sepanjang perjalanan dari Jogja ke Jakarta tersebut untuk mencari dukungan terhadap Jokowi, banyak dari warga yang menyumbang uang mereka apa adanya. Kalimat yang diucapkan pak Aris di panggung adalah sebagai berikut: ‘pak Jokowi, saya tidak punya apa apa tapi saya punya dengkul dan saya sudah niatkan dengkul saya untuk mendukung bapak semaksimal mungkin’. Si Bapak penarik becak berbicara dengan suara keras namun serak menahan nangis, ruangan yang diisi ratusan orang mendadak menyimak, sebagian besar mata di ruangan itu berkaca kaca.
Jika Jokowi sukses jadi Presiden dan sebagian besar kebijakannya tidak teralisasi, saya kok yakin ya beliau masih akan dekat dengan wong cilik. Kalau ia tidak menang pun, kita pasti akan tetap lihat Jokowi blusukan ke kampong -kampung. Pemilu kali ini bukan hanya mengenai anda dan saya, tapi mengenai jutaan rakyat yang makin kebelakang makin jelas mau nya apa. Sekali-sekali kita jadikan rakyat kecil pemenang Pemilu di negeri ini.
Saya akan amat bersyukur jika tulisan diatas berhasil menggerakkan hati pembaca untuk memilih Jokowi. Jika tidak, anggaplah tulisan ini sebagai tribute saya untuk Bapak Penjual Roti Sepeda di Kampung Melayu, pak Aris dan temannya dari Jogja.

Kamis, 03 Juli 2014

Keselarasan Antara Pancasila dan Ajaran Islam

Pancasila merupakan rangkuman dari ajaran agama dan nilai luhur budaya bangsa Indonesia.
Kelima butir dalam Pancasila sudah selaras dengan agama dan budaya bangsa ini. yang makna nya juga sama antara butir-butir Pancasila dan nilai-nilai ajaran Islam.


1. Ketuhanan Yang Maha Esa
Dengan landasan pada butir pertama,Indonesia berasaskan pada keyakinan terhadap unsur Ketuhanan dan dalilnya pun termaktub dalam kitab suci umat mayoritas di Indonesia.
ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﺭَﺑِّﻲ ﻭَﺭَﺑُّﻜُﻢْ ﻓَﺎﻋْﺒُﺪُﻭﻩُ ۗ ﻫَٰﺬَﺍ ﻣُﺴْﺘَﻘِﻴﻢٌ
ﺻِﺮَﺍﻁ
ٌ
“Sesungguhnya Allah, Tuhanku dan Tuhanmu, karena itu sembahlah Dia. Inilah jalan yang lurus”. (QS.Ali Imran 51)


2. Kemanusiaan Yang Adil danBeradab.
Perspektif sisi kemanusiaan,mengimplimintasikan hubungan manusia dengan sesama manusia agar bersikap adil dan menjadi manusia yang manusiawi.
ﻟَﺎ ﻳَﻨْﻬَﺎﻛُﻢُ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻦِ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻟَﻢْ ﻳُﻘَﺎﺗِﻠُﻮﻛُﻢْ
ﻓِﻲ ﺍﻟﺪِّﻳﻦِ ﻭَﻟَﻢْ ﻳُﺨْﺮِﺟُﻮﻛُﻢْ ﻣِﻦْ ﺩِﻳَﺎﺭِﻛُﻢْ ﺃَﻥْ
ﺗَﺒَﺮُّﻭﻫُﻢْ ﻭَﺗُﻘْﺴِﻄُﻮﺍ ﺇِﻟَﻴْﻬِﻢْ ۚ ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻳُﺤِﺐُّ
ﺍﻟْﻤُﻘْﺴِﻄِﻴﻦ
َ
“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu.Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. ” (QS. Al Mumtahanah 8)


3. Persatuan Indonesia
Statement hakiki sekali, di mana Indonesia tercipta berbagai budaya suku dan keanekaragaman lireratur daerah serta persatuannya untuk saling kenal-mengenal.
ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟﻨَّﺎﺱُ ﺇِﻧَّﺎ ﺧَﻠَﻘْﻨَﺎﻛُﻢْ ﻣِﻦْ ﺫَﻛَﺮٍ
ﻭَﺃُﻧْﺜَﻰٰ ﻭَﺟَﻌَﻠْﻨَﺎﻛُﻢْ ﺷُﻌُﻮﺑًﺎ ﻭَﻗَﺒَﺎﺋِﻞَ ﻟِﺘَﻌَﺎﺭَﻓُﻮﺍ ۚ
ﺇِﻥَّ ﺃَﻛْﺮَﻣَﻜُﻢْ ﻋِﻨْﺪَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺃَﺗْﻘَﺎﻛُﻢْ ۚ ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ
ﻋَﻠِﻴﻢٌ ﺧَﺒِﻴﺮ
ٌ
“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal.
Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya
Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al Hujurat 13)


4. Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan
Seingat saya ketika duduk dibangku SMP dulu dalam pemahaman demokrasi di
Indonesia adalah berlandaskan pada Musyawarah Mufakat dengan sistem pemerintahan dari rakyat oleh (perwakilan) rakyat dan untuk kepentingan rakyat.

ﻓَﺒِﻤَﺎ ﺭَﺣْﻤَﺔٍ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻟِﻨْﺖَ ﻟَﻬُﻢْ ۖ ﻭَﻟَﻮْ ﻛُﻨْﺖَ
ﻓَﻈًّﺎ ﻏَﻠِﻴﻆَ ﺍﻟْﻘَﻠْﺐِ ﻟَﺎﻧْﻔَﻀُّﻮﺍ ﻣِﻦْ ﺣَﻮْﻟِﻚَ ۖ
ﻓَﺎﻋْﻒُ ﻋَﻨْﻬُﻢْ ﻭَﺍﺳْﺘَﻐْﻔِﺮْ ﻟَﻬُﻢْ ﻭَﺷَﺎﻭِﺭْﻫُﻢْ
ﻓِﻲ ﺍﻟْﺄَﻣْﺮِ ۖ ﻓَﺈِﺫَﺍ ﻋَﺰَﻣْﺖَ ﻓَﺘَﻮَﻛَّﻞْ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻠَّﻪِ ۚ
ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻳُﺤِﺐُّ ﺍﻟْﻤُﺘَﻮَﻛِّﻠِﻴﻦ
َ
“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu.
Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya. ” (QS. Ali Imran 159)

ﻭَﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺍﺳْﺘَﺠَﺎﺑُﻮﺍ ﻟِﺮَﺑِّﻬِﻢْ ﻭَﺃَﻗَﺎﻣُﻮﺍ ﺍﻟﺼَّﻠَﺎﺓَ
ﻭَﺃَﻣْﺮُﻫُﻢْ ﺷُﻮﺭَﻯٰ ﺑَﻴْﻨَﻬُﻢْ ﻭَﻣِﻤَّﺎ ﺭَﺯَﻗْﻨَﺎﻫُﻢْ
ﻳُﻨْﻔِﻘُﻮﻥ
َ
“Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan shalat, sedang urusan mereka
(diputuskan) dengan musyawarah antara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian dari rezeki.yang Kami berikan kepada mereka.” (QS. As-Syura 38)


5. Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia
Bersikap adil terhadap seluruh makhluk, terutama dalam kehidupan bermasyarakat
berbangsa-bernegara dalam sisi dan tatanan hukum yang berlaku di Indonesia.

ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻳَﺄْﻣُﺮُﻛُﻢْ ﺃَﻥْ ﺗُﺆَﺩُّﻭﺍ ﺍﻟْﺄَﻣَﺎﻧَﺎﺕِ ﺇِﻟَﻰٰ
ﺃَﻫْﻠِﻬَﺎ ﻭَﺇِﺫَﺍ ﺣَﻜَﻤْﺘُﻢْ ﺑَﻴْﻦَ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ ﺃَﻥْ
ﺗَﺤْﻜُﻤُﻮﺍ ﺑِﺎﻟْﻌَﺪْﻝِ ۚ ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻧِﻌِﻤَّﺎ ﻳَﻌِﻈُﻜُﻢْ ﺑِﻪِ ۗ
ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻛَﺎﻥَ ﺳَﻤِﻴﻌًﺎ ﺑَﺼِﻴﺮًﺍ

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik- baiknya kepadamu.
Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Annisa 58)

ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮﺍ ﻛُﻮﻧُﻮﺍ ﻗَﻮَّﺍﻣِﻴﻦَ ﻟِﻠَّﻪِ
ﺷُﻬَﺪَﺍﺀَ ﺑِﺎﻟْﻘِﺴْﻂِ ۖ ﻭَﻟَﺎ ﻳَﺠْﺮِﻣَﻨَّﻜُﻢْ ﺷَﻨَﺂﻥُ ﻗَﻮْﻡٍ
ﻋَﻠَﻰٰ ﺃَﻟَّﺎ ﺗَﻌْﺪِﻟُﻮﺍ ۚ ﺍﻋْﺪِﻟُﻮﺍ ﻫُﻮَ ﺃَﻗْﺮَﺏُ ﻟِﻠﺘَّﻘْﻮَﻯٰ ۖ
ﻭَﺍﺗَّﻘُﻮﺍ ﺍﻟﻠَّﻪَ ۚ ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﺧَﺒِﻴﺮٌ ﺑِﻤَﺎ ﺗَﻌْﻤَﻠُﻮﻥَ

“Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah,menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Maidah 8)

Rabu, 02 Juli 2014

Setelah Dibantu ACT, Global Wakaf & Yayasan Kerja Bakti, Kini Murid MDA Shirojussibyan Tak Lagi Belajar di Lantai

Dibantu oleh ketiga lembaga yang konsen dibidang kemanusiaan dan kepedulian sosial sebelumnya tidak pernah terbayangkan oleh Ibu Vivi. Ia dengan teman-temannya yang lain hanya bermodal tekad untuk menjalankan sekolah yang bernama MDA Shirojussibyan.
“Sekolah ini, bagi saya adalah tempat pengabdian. Dijalankan dengan bermodal tekad untuk mendidik anak-anak di lingkungan sekitar. Kami hanya terus berbuat dengan kemampuan seadanya. Namun alhamdulillah, tak disangka-sangka pihak ACT, Global Wakaf & Yayasan Kerja Bakti memberikan bantuan. Kita tak pernah membayangkan sebelumnya ada bantuan tersebut.”
Vivi melanjutkan, kami mengucapkan terima kasih banyak atas semua bantuan yang telah diberikan. Rasa syukur kami tak terkira ukurannya dalam menerima bantuan ini. Sebab, tadinya anak-anak hanya bisa belajar dilantai alakadarnya. Sekarang setelah dibantu, anak-anak bisa belajar di kursi dan meja,” terangnya sesaat setelah menerima bantuan, Rabu, 2 Juli 2014.
Salah seorang murid MDA Shirojussibyan, Wildan, mengaku, sangat senang dikelasnya kini ada papan tulis, kursi dan meja yang baru. “Alhamdulillah, saya dan teman-teman tidak belajar dilantai lagi. Biasanya kami kedinginan, sekarang lebih nyaman. Dan kita tidak akan berebut papan tulis lagi, karena sekarang papan tulisnya sudah banyak,” ungkap Wildan.

Membawa Agama Dalam Perang Asemetris Politik

Kondisi Politik akhir-akhir ini semakin panas saja,tak peduli walaupun sedang berada di bulan suci tetap saja saling melempar bola panas.
Seolah Politik sebagai hal yang wajib di jalankan melebihi Agamanya sendiri. Mendewakan sang Calon pemimpin seperti.manusia tanpa cela,membela mati-matian dengan segenap kemampuan.
Hal ini sudah keterlaluan,walaupun yang melakukan memang pendukung sang Jagoan.

Namun yang membuat saya miris dan kecewa adalah adanya Ulama yang dengan entengnya mem”Fatwa” Haram apabila berbeda dengan pilihannya.
Apakah “Surga Neraka” itu miliknya ?
Setiap Fatwa berakhir dengan kewajiban umat menaatinya,apabila ada yang melanggar sudah tentu berdosa.
Bagaimana dengan Ulama lain yang bersebelahan ?
Apakah harus mengeluarkan “Fatwa” haram juga ?

Miris melihat betapa “Fatwa” harus dijual begitu murah demi kesenangan dan kepuasan golongan,mengesampingkan kepentingan Umat yang sebenarnya dalam garis terdepan soal “Fatwa”.
Dalam islan sendiri sudah diatur soal pemimpin itu,jadi untuk apa membuat keputusan yang memecah belah Umat.sehingga meninggalkan Hadist dan Qur’an yang menjadi sumber dari segala macam ilmu.
Urus saja Pesantren,jadilah negarawan yang siap mengkritisi. Jangan mau di manfaatkan untuk kepentingan golongan,masih banyak adik-adik kita yang perlu bimbingan dan nasehat dari Ulama.
Maka berilah contoh yang baik bagi mereka,jangan sekali-kali menyesatkan mereka dengan “Fatwa” anda.

Membangun Dunia Baru dengan Zakat

Alhamdulillah, hari ini, 2 Juli, 2014, Dompet Dhuafa (DD) genap berusia 21 tahun. Dan, hari ulang tahun kali ini terjadi dalam bulan Ramadhan, bulan yang penuh berkah. Bulan turunnya Al Quran, yang menjadi sumber bagi lahir dan pedoman kiprah DD.
Dalam Al Quran, perintah mendirikan shalat diikuti langsung oleh perintah menunaikan zakat. Ada 27 ayat dalam Al Quran yang menyebut ini. Bagi saya, seorang pembelajar Islam, kedua perintah yang berurutan itu seperti two in one. Artinya, tidak sempurna shalat seseorang yang tidak membayar zakat. Dan, DD lahir sebagai LAZ (Lembaga Amil Zakat), yang berkiprah dalam penghimpunan dan pendistribusian zakat sesuai tuntunan Al Quran.
Ada beberapa capaian menonjol yang diraih DD dalam satu tahun terakhir. Salah satunya adalah dalam urusan zakat ini. Tepatnya, penguatan partisipasi DD dalam gerakan zakat internasional. Akhir Mei lalu, DD berperan aktif sebagai pemrakarsa konferensi “World Zakat Forum” di New York, AS, dengan topik “Zakat for Global Welfare” atau “Zakat untuk Kesejahteraan Global”.
Dalam konferensi ini sekitar 60 orang pakar, pengamat dan pengurus organisasi zakat sedunia dari sepuluh negara diundang hadir dan bicara. Mereka dari Afrika Selatan, Sudan, Albania, Bosnia, Yaman, Pakistan, India, Malaysia, Indonesia dan Amerika Serikat. Ada juga wakil dari Islamic Development Bank (IDB) dan Dr. Jeniffer Bremer, guru besar dari American University, Kairo, yang dalam presentasinya banyak menyebut DD sebagai rujukan.
Dalam konferensi itu terungkap bahwa potensi zakat umat Islam sedunia sangat besar.Dan, jika dikelola secara amanah atau profesional, zakat bisa menjadi sarana ampuh bagi kesejahteraan umat manusia sedunia. Sebagai contoh, menurut data BAZNAS, potensi zakat Indonesia per tahun kini adalah Rp 270 trilyun. Sampai sekarang yang sudah terkumpul dan dikelola oleh sejumlah lembaga amil zakat Indonesia, termasuk DD, barulah satu persen saja.
Konferensi itu menjadi ajang pertukaran informasi dan pengalaman, saling belajar dan memupuk kerjasama persaudaraan Muslim sedunia lintas bangsa. Semuanya sepakat perlunya penetapan standard profesionalisme dalam pengelolaan zakat dalam rangka penerapan sistem ekonomi syariah. Secara aklamasi, Ahmad Juwaini, Presdir DD Filantrofi, dipilih menjadi Sekjen World Zakat Forum untuk periode 2014-2017, menggantikan Ustadz Prof. DR. Didin Hafidhuddin, dengan kantor sekretariat tetap di Jakarta. Konferensi itu diselenggarakan DD dan BAZNAS bekerjasama dengan the Nusantara Foundation, New York, pimpinan Ustadz Shamsi Ali, asal Sulawesi Selatan, yang telah berdakwah di AS selama 16 tahun.

Kemiskinan Sangat Kompleks
Sebagai orang yang dituakan, saya diberi kesempatan berbicara tentang Peran Zakat Untuk Mengurangi Kemiskinan. Berdasarkan pengalaman DD, saya sampaikan presentasi berjudul “The Role of Zakat to Reduce Poverty: A DD (Dompet Dhuafa) Way, An Indonesian Example”. Ini mengenai anatomi kemiskinan, penyebab kemiskinan dan cara-cara yang telah dicoba DD untuk mengurangi jumlah orang miskin di Indonesia.
Kemiskinan atau kedhuafaan sulit didefinisikan secara singkat. Kemiskinan tidak hanya berarti tidak punya uang untuk memenuhi kebutuhan dasar, termasuk pangan, sandang, pengobatan, pendidikan dan perumahan. Kemiskinan lebih dari itu, kemiskinan mempunyai banyak wajah. Bank Dunia dalam satu definisinya menyebut kemiskinan adalah ketakutan untuk hidup di suatu waktu yang akan datang. Ini menyangkut masalah mental, kultural dan spiritual, di samping ekonomi.
Salah satu pengukur kemiskinan adalah “garis kemiskinan” (poverty line), yang berbeda dari suatu negara dengan negara lain. Di AS, misalnya, seorang bujangan usia di bawah 65 tahun disebut miskin jika pendapatannya setahun kurang dari 11.940 dollar AS atau sekitar 1.000 dollar per bulan. Untuk keluarga yang terdiri dari empat orang, termasuk dua anak, garisnya adalah 23.550 dolar AS/tahun. Berdasar garis ini, dilaporkan jumah orang miskin di AS naik 15,1 persen pada tahun 2010. Di India, garis kemiskinan ada dua, yakni hidup di bawah 12 dolar AS/bulan untuk orang kota dan 7,5 dolar AS/bulan untuk orang desa.
Di Indonesia, garisnya adalah hidup di bawah 22 dolar/bulan. Dengan angka itu, sekitar 32 juta orang Indonesia termasuk miskin. Jumlah kematian ibu waktu melahirkan juga menjadi ukuran kemiskinan. Indonesia harus berjuang keras untuk menurunkan angka kematian ibu menjadi 105 per 1.000 kelahiran tahun 2015 dari 307/1000 tahun 2009 untuk mencapai sasaran MDGs. Nampaknya ini sulit dicapai.
Untuk mengurangi kemiskinan, DD menempuh cara memotong lima lingkaran setan kemiskinan, yakni miskin ekonomi yang berdampak berturutan: miskin kesehatan, pendidikan, budaya dan imam dan takwa melalui tiga upaya: pemberdayaan ekonomi, pemberian pengobatan dan akses pendidikan. Ketiga upaya itu dibiayai dengan dana Zakat, Infaq, Sedekah dan Wakaf dengan mengamalkan apa yang saya sebut denganProphetic Management atau manajemen kenabian, meneladani empat perilaku mulia Rasulullah Muhammad SAW, yakni siddiq, tabligh, amanah dan fathanah. Sedangkan, salah satu sarana untuk membebaskan orang miskin dari lima lingkaran setan kemiskinan tadi adalah menjadikan masjid sebagai pusat keunggulan (center of excellence): spiritual, ekonomi, kesehatan, pendidikan dan kebudayaan.
Konferensi itu sengaja dilangsungkan di New York yang menjadi pusat dunia, karena Markas Besar PBB ada di situ, demikian pula pusat kapitalisme. Tujuan pertamanya adalah untuk menjadikan zakat sebagai isu global. Sekalipun baru wacana, konferensi itu patut dicatat sebagai awal yang baik.
Saya teringat pidato Presiden Soekarno di Sidang Umum ke-15 PBB pada Jumat, 30 September 1960 di Markas Besar PBB yang berjudul: To Build The World Anew(Membangun Dunia Baru). Pidato itu telah membangunkan kesadaran dunia akan ketidakadilan politik dan ekonomi serta ancaman akan munculnya Perang Dunia Ketiga yang dimotori Blok Barat pimpinan AS dan Blok Timur pimpinan Uni Soviet.
Karena itu, ketika diminta menutup konferensi itu, saya meminjam judul pidato Bung Karno itu dengan mengubahnya sedikit menjadi To Build The World Anew with Zakat. Penutupan itu berlangsung di 42nd Street, di Manhattan, tempat kantor Nusantara Foundation, tak jauh dari Markas Besar PBB.

Umat Islam Indonesia, Waspadalah

Musim kampanye Pilpres 2014 yang tinggal beberapa hari ini menyuguhkan tontonanpersaingan yang sangat ketat dan juga panas. Bagi orang yang rajin membuka akun dunia mayanya, bakal menemukan perseteruan alot antar dua pihak.
Sudah banyak orang yang jenuh dengan status dan komentar yang saling menyerang. Salah seorang sahabat muslim saya menulis di status facebook-nya: “Sekali lagi kunci keberkahan adalah penduduknya yg beriman dan bertaqwa. Maaf-maaf, sekali lagi maaf, membaca apa yang Anda posting di medsos ini, adu argumen (jidal, berbantah-bantah), sebar data yang wallahu ta’ala alam valid apa tidak sudah cukup menjawab kenapa negeri ini seperti tidak diberkahi. Mohon stop isu capres. Buatlah status yg manfaat saja!! Semoga Allah mengampuni kita semua.”
Meski sesama muslim, sahabat saya ini berbeda pilihan capres dengan saya. Tetapi dia jenis orang yang terbuka pikirannya. Kami bertukar pikiran soal kepemimpinan nasional. Ada banyak kesamaan kami dibandingkan perbedaan kami. Saya renungkan mengenai perbedaan kami ini kok mirip ungkapan orang melihat sebuah gelas yang berisi air hanya separuhnya. Bagi sebagian orang, gelas itu disebut “setengah penuh” dan bagian sebagian orang lainnya gelas itu disebut “setengah kosong.”
Itu adalah cara pandang.
Dan kalau cara pandang seperti itu dipadukan dengan perilaku menggampangkan (atau menyederhanakan secara ekstrim), maka tidaklah mengejutkan bahwa masyarakat Islam Indonesia bisa terbelah dua dalam mendukung kedua capres. Masyarakat/umat Islam pendukung Prabowo-Hatta merasa jelas mengapa mereka memilih dan mendukung Prabowo dan sulit memahami mengapa masyarakat/umat Islam selebihnya lebih memilih Jokowi-JK.
Sebaliknya juga demikian, umat Islam pendukung Jokowi-JK merasa jelas mengapa mereka memilih dan mendukung Jokowi-JK dan sekaligus sulit memahami mengapa umat Islam selebihnya lebih memilih Prabowo-Hatta.
Kita tak perlu mendiskusikan di sini, bahwa salah satu pihak kurang akurat dalam menganalisa pilihan mereka. Bahwa mereka kurang jujur pada diri sendiri dalam mendukung Capres-Cawapres pilihan mereka. Bukan itu tujuan adanya tulisan ini.
Yang disayangkan adalah masyarakat/umat Islam Indonesia dipandang hanya sebagai angka saja. Meski ada umat dari agama lain, karena umat Islam masih mayoritas (87-88%), maka hitungan hasil survei bulan Juni dari berbagai pihak bisa menjadi bahan diskusi.
Survei Litbang Kompas menunjukkan komposisi pemilih Prabowo-Hatta 35,3%, Jokowi-JK 42,3%. Ada selisih sekitar 7%. Sementara Indo Barometer yang mengadakan survei tepat setelah Kompas (Litbang Kompas mengadakan survei 1-15 Juni 2014, sedangkan Indo Barometer 16-22 Juni), menunjukkan bahwa pemilih Prabowo-Hatta 42,6%, pemilih Jokowi-JK 46%. Terjadi kenaikan pada kedua capres, tetapi kenaikan pemilih Prabowo (sebesar 7,3%) menunjukkan peningkatan lebih besar daripada pemilih Jokowi-JK (sebesar 3,7%). Analisa saya seperti ini sekedar memudahkan saja untuk menganalisa tentang umat Islam, karena masyarakat yang belum menentukan pilihan turun tajam dari 22,4% di survei Kompas ke 11,4% di survei Indo Barometer. Sekali lagi, ini hanya untuk memudahkan analisa secara cepat saja.
Mengapa bisa terjadi kenaikan tajam seperti itu (dengan asumsi hal itu mendekati kebenaran)?
Adalah jelas kasat mata dari data itu bahwa banyak orang Islam yang tadinya belum punya pilihan kini bisa menentukan pilihan. Yang menarik adalah mencari tahu apa yang menyebabkan mereka kini bisa tegas menentukan capres mana yang bakal mereka pilih di tanggal 9 Juli 2014?
Saya tidak dalam kapasitas menjawab itu dengan analisa panjang dan tajam. Saya hanya ingin mengangkat sebuah fenomena, yaitu banyaknya umat Islam yang memilih berdasarkan asas yang dalam ilmu marketing disebut sebagai trickle-down effect dantrickle-accross effect.
Trickle-down effect maksudnya adalah pengaruh dari atas terus merembes ke jenjang-jenjang di bawahnya sampai pada terbawah; yaitu kalangan dari segmen atas masyarakat mempengaruhi kalangan dari segmen menengah yang ada di bawahnya, dan ini terus mempengaruhi kalangan dari segmen di lapisan terbawah. Ini sangat berkenaan dengan mode, atau opini tentang mode.
Demikian pula halnya dengan membangun opini capres pilihan yang muslim; yaitu dariopinion leader di masyarakat Islam yaitu ulama dan ustadz, turun ke orang terdekatnya, yang terus turun ke orang lain (yang jenjangnya di bawahnya), terus demikian hingga pada orang yang berada di lapis terbawah di masyarakat Islam.
Dan itu saya saya saksikan dalam dua situasi. Seorang kenalan yang menjadi pengurus masjid mengatakan pada saya bahwa kita sudah jelas memilih siapa, karena kelompok “kita” banyaknya ada di pihak siapa. Pada situasi lain, dari seseorang ibu yang anggota majlis taklim yang bercerita mengenai salah satu guru pengajiannya mengatakan bahwa salah satu capres adalah keturunan Cina dan sesungguhnya beragama Nasrani (Kristen).
Itu contoh trickle-down effect.
Sedangkan trickle-across effect adalah pertemanan yang saling mempengaruhi. Dalam marketing, teman membeli merek apa, itu mempengaruhi teman lain yang akan membeli produk yang serupa. Demikian pula dengan pengaruh memilih capres pada tanggal 9 Juli nanti. Alasan dan pertimbangan teman bisa amat mempengaruhi.
Yang disayangkan adalah umat Islam yang mayoritas mudah dipengaruhi oleh berita yang tidak benar, berita bohong yang menyesatkan. Dan disayangkan juga banyak ulama dan umara’ (=pejabat yang muslim) yang masih belum bisa berperilaku “mendahulukan kepentingan umat dibandingkan kepentingan diri sendiri” dan berperilaku “berani berjuang meski dengan risiko rejeki finansial tersendat (sementara).”
Umat Islam Indonesia sampai hari ini, setelah 69 tahun kemerdekaan RI, masih menjadi obyek sebagai alat untuk meraih kursi kekuasaan, bahkan untuk menuju RI 1. Bukan salah umat beragama lain, melainkan lebih pda kesalahan kebanyakan ulama dan ulil albab. Kecintaan pada hal-hal keduniaan mengalihan perhatian pada maksud agama Islam, yaitu rahmatan lil’aalamiin. Rahmat bagi umat Islam dan bagi umat manusia.

Senin, 30 Juni 2014

Menghargai Keberagaman di Negeri yang Beragam

Keragaman yang kita miliki kita menurut saya adalah suatu bentuk kekayaan yang luarbiasa dahsyat. Semakin beragam semakin kaya kita. Namun terkadang keberagaman itu dianggap sebagai malapetaka atau bencana. Maka acap kali keberagaman justru memunculkan banyak pertikaian dan peperangan, sesuatu yang amat sangat disayangkan. Baik itu oleh karena perbedaan prinsip dan pandangan politik, maupun perbedaan keyakinan dan agama. Sebagai contoh, di banyak tempat, Agama yang harusnya menjadi berkat bagi sesama manusia, malahan menjadi yang sebaliknya. Ini tentu tidak diakibatkan oleh semua individu pemeluk agama, namun oleh ulah beberapa pengikut garis keras agama tersebut. Agama bahkan dijadikan alat propaganda politik sesat. Agama diperalat untuk mencapai tujuan-tujuan politis semata.
Bilamana produk religiositas adalah konflik, apalah gunanya kita hidup beragama? Ketika agama kemundian lantas hanya mendatangkan mudarat daripada manfaat, untuk apa kita selalu hadir di rumah-rumah peribadatan memuji dan memuliakan nama Tuhan? Dan kalau agama hanya membentuk sekat-sekat dan semakin mengkotak-kotakkan kita, alangkah kasihannya para pendiri agama mula-mula, mereka yang tentu bertujuan sangat mulia itu, karena ternyata kita tidak memaknai agama itu seperti apa yang mereka harapkan. Bukankah tidak mungkin agama didirikan sebagai alat pertikaian dan sarana pemecah belah?
Indonesia yang memiliki begitu banyak keragaman, mulai dari suku, bahasa, adat istiadat dan agama, tentu pada tataran tertentu dapat saja menjadi sumber konflik berkepanjangan. Untuk itulah perlu ada sikap tenggang rasa, perlu juga memiliki sikap hati yang bijaksana dan rendah hati untuk memaknai semua perbedaan itu. Bahwa keragaman dan perbedaan itu harusnya disyukuri sebagai bentuk kekayaan yang tak ternilai harganya. Berbeda itu indah. Berbeda itu adalah keniscayaan. Dan sejak dunia diciptakan, tentu Tuhan sendiri sudah menghendaki supaya ada perbedaan dan keberagaman.
Para pendiri negara kita telah menetapkan NKRI dengan sebuah semboyan Bhinneka Tunggal Ika, sebuah semboyan yang sesungguhnya sudah ada seratus tahun sebelumnya, yang dicetuskan Mpu Tantular dan ditulis dalam Kitab Sutasoma. Arti semboyan Bhinneka Tunggal Ika adalah berbeda beda tapi satu.
Fakta sejarah telah membuktikan bahwa bangsa yang begitu heterogen sekalipun ternyata bisa juga hidup bahu membahu berjuang untuk kemerdekaan Indonesia. Dengan latar belakang suku, agama, dan budaya yang berbeda, satu dengan yang lain dapat hidup rukun saling menghargai dan menghormati. Di dalam mengisi kemerdekaan pun, sudah semestinya kerukunan dan toleransi itu tetap dipertahankan sebagai kekuatan kita untuk menjadikan Indonesia yang lebih baik dan lebih maju.
Agama Kristen dalam Kitab Yohanes 13:34 menyatakan, “Aku memberikan perintah baru kepadamu yaitu supaya kamu saling mengasihi seperti Aku telah mengasihi kamu, demikian pula kamu saling mengasihi.” Ataupun ada ayat lain yang berkata kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Jelas di situ dikatakan kasihilah sesamamu manusia (siapapun dia), dan bukan hanya kasihilah sesamamu orang Kristen.
Islam dalam kitab suci Alquran tertulis, “Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan hanya satu umat saja, tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian/ Anugerah-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah kamu sekalian dalam berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu sekalian, maka Aku akan beri tahukan apa yang kamu perselisihkan itu…”
Setiap agama, meskipun dengan bahasa yang berbeda-beda, isi kitab suci yang berbeda-beda, namun dalam hal kemanusiaan substansinya terlihat sama. Yaitu bahwa manusia harus berbuat kebajikan kepada sesamanya manusia. Menjadi berkat bagi orang lain. Menghadirkan sorga di dunia ini. Meminjam istilah Dr. Samratulangi, “Manusia hidup untuk menghidupkan orang lain” atau juga, “Manusia hidup untuk memanusiakan orang lain.”
Semoga kita dapat hidup dengan penuh tanggungjawab di republik ini. Hidup dalam ikatan tanggungjawab memelihara kerukunan dan persatuan, karena ke sanalah berkah Tuhan akan tercurah. Sejarah hidup yang amat panjang di negeri ini sudah mengajarkan kepada kita untuk menghargai perbedaan. Seberapa besarpun perbedaan kita dengan orang lain, mereka tetaplah sesama manusia yang harus kita kasihi itu.