Media Informasi Pemuda Peduli Dhuafa Gresik (PPDG) || Website: www.pemudapedulidhuafa.org || Facebook: Pemuda Peduli Dhuafa Gresik || Twitter: @PPD_Gresik || Instagram: Pemuda Peduli Dhuafa Gresik || Email: ppd.gresik@gmail.com || Contact Person: 0838-3199-1684 || Nomor Rekening: 0335202554 BNI a.n. Ihtami Putri Haritani || Konfirmasi Donasi di nomor telepon: 0857-3068-6830 || #SemangatBerkarya #PPDGresik

Kamis, 01 Mei 2014

Melihat Yang Tidak Ada

Menceritakan seorang anak yang kehilangan uang sebesar Rp 10.000. Dia begitu sedihnya dan menangis sejadi-jadinya. Paman anak tersebut merasa kasihan, kemudian dia menghampiri anak itu. 
“Kenapa kamu menangis?” tanya pamannya dengan penuh kasih sayang.
“Uang saya hilang. Rp 10.000.” katanya sambil terisak-isak.
“Tenang saja, nich paman ganti yah… paman kasih Rp 10.000 buat kamu. Jangan menangis yah!” kata pamannya sambil menyerahkan selembar uang Rp 10.000. Namun, sia anak tetap saja menangis. Kenapa?
“Kenapa kamu masih menangis saja? Kan sudah diganti?” tanya pamannya.
“Kalau tidak hilang… uang saya sekarang Rp 20.000.” kata anak itu dan terus menangis.
Pamannya bingung…
“Terserah kamu saja dech….”, katanya sambil pergi.
Ayahnya yang baru pulang kantor mendapati anaknya masih menangis.
“Kenapa sayang? Koq menangis sich. Lihat mata kamu, sudah bengkak begitu. Nangis dari tadi yah?” tanyanya sambi menyeka air mata anaknya.
“Uang saya hilang Rp 10.000.” kata anaknya mengadu.
“Ooohhh. Lho itu punya uang Rp 10.000? Katanya hilang?” tanya ayahnya yang heran karena dia melihat anaknya memegang uang Rp 10.000
“Ini dari paman…. uang saya hilang. Kalau tidak hilang saya punya Rp 20.000.” jawabnya sambil terus menangis.
“Sudahlah…. nih ayah ganti. Ayah ganti dengan uang yang lebih besar. Ayah kasih kamu Rp 20.000. Jangan menangis lagi yah!” kata ayahnya sambil menyerahkan selembar uang Rp 20.000.
Si anak menerima uang itu. Tetapi masih tetap saja menangis. Ayahnya heran, kemudian bertanya lagi.
“Kenapa masih menangis saja? Kan sudah diganti?”
“Kalau tidak hilang, uang saya Rp 50.000.”
Ayahnya hanya geleng-geleng kepala.
“Kalau gitu dikasih berapa pun, kamu akan nangis terus.” sambil mengendong anaknya.

Dongeng motivasi ini nyata? Tidak juga, ini hanya rekayasa. Dalam kenyataannya banyak orang yang memiliki sikap seperti anak tadi. Dia hanya melihat apa yang tidak ada, dia hanya melihat apa yang kurang, tanpa melihat sebenarnya dia sudah memiliki banyak hal. Sifat manusia yang selalu merasa kurang padahal nikmat Allah begitu banyaknya sudah dia terima.
Banyak orang mengeluh tidak bisa bisnis, sebab dia tidak punya uang untuk modal. Padahal modal hanyalah salah satu yang diperlukan dalam bisnis. Bisa jadi dia sudah punya waktu, punya tenaga, dan punya ilmu untuk bisnis. Namun dia tidak juga bertindak sebab dia hanya fokus melihat kekurangan, bukannya bertindak dengan memanfaatkan apa yang ada. Mulailah Bertindak Dari Yang Sudah Ada. Bersyukurlah jika Anda merasa tersindir dengan dongeng motivasi diatas, artinya Anda perlu berubah sekarang.

Dzat yang Membolak-balik Hati

Allah dzat yang membolak-balikkan hati, memalingkan hati hambanya sesuai hikmah-Nya. Seorang pemuda merantau untuk menjadi insinyur, sekembalinya ke kampung malah menjadi santri. Seorang aktivis yang menyibukkan diri berdakwah, setelah bekerja tidak terlihat lagi syi’ar islam ada padanya. Semua kebaikan atau keburukan di masa ini adalah hasil dari masa lalu. Merasa aman dengan semua yang kita peroleh saat ini adalah sebuah kerugian.
Abdullah adalah seorang pemuda belum mengenal dakwah meskipun sangat marak di kampusnya. Hampir setiap hari taklim selalu hadir di sekitar kampus dengan mendatangkan ustadz-ustadz alumni timur tengah maupun lokal. Dia enggan menyempatkan diri duduk di hadapan para ustadz untuk mendengar firman Allah maupun sabda Rasulullah. Di hatinya telah tumbuh rasa puas dengan agamanya dan selalu haus akan dunianya.
Abdurrahman, seorang pemuda yang aktif dalam dunia dakwah kampus, selalu mengisi hari-harinya dengan kegiatan keagamaan, bahkan sempat didaulat sebagai ketua di organisasi dakwah tingkat jurusan. Hari-harinya dilalui dengan berkumpul dengan teman-teman sesama aktivis kampus. Meskipun mereka berdua berteman, mereka menempuh jalan masing-masing dalam hidup.
Setelah lulus S1, Abdullah melanjutkan belajar ke luar negeri, di sebuah negeri dengan penduduk mayoritas non muslim. Di negeri tersebut adzan tidak pernah berkumandang di angkasa, bahkan di dalam satu kota hanya terdapat satu buah masjid yang terletak jauh dari kampus dan tempat tinggalnya. Meskipun begitu, pihak kampus mengijinkan para mahasiswa muslim shalat jama’ah di kampus. Mereka selalu shalat berjamaah di kampus, kecuali shalat subuh.
Seringnya berkumpul dengan sesama mahasiswa muslim tiap kali menunaikan shalat membuat cakrawala baru tentang Islam terbuka, sesuatu yang selama ini dia sia-siakan meskipun berada di dekatnya. Berawal dari shalat berjamaah, lalu Abdullah mengikuti kelas tahsin untuk memperbaiki bacaan Al Qur’annya. Tidak hanya sampai disitu, kemudian dia berlanjut ke kajian materi diniyyah, sebuah ilmu yang bisa mengobati kehausannya akan dunia. Ilmu yang selama ini mengelilinginya tetapi dia selalu berpaling darinya.
Akhirnya jatuh ketetapan di hatinya untuk lebih mendalami ilmu agama, ilmu yang bisa menyelamatkannya di dunia dan akherat. Setelah menggenggam gelar Master, dia memutuskan pulang dengan mengubur impiannya untuk belajar ke jenjang yang lebih tinggi.
Allah dzat yang mebolak balik kan hati, Abdullah mendapati temannya, abdurrahman, sudah tidak seperti dahulu. Abdurrahman mulai menikmati harapan kosong dunia, semua telah berubah semenjak kepergiannya. Kekecewaan akan temannya membuatnya sadar bahwa dia bisa saja sewaktu-waktu berubah.
Rasa aman dengan apa yang kita usahakan saat ini adalah semu, bisa saja kita berubah dalam sekejap mata. Boleh jadi di pagi hari kita menjadi penuntut ilmu, ternyata di sore hari kita menjadi orang yang bermaksiyat. Maka Rasulullah telah mewarisakan doa agar kita tetap diberi keteguhan hati:
يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ
Artinya: “Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.”

Demokrasi dalam Berbahasa dan Berbudaya

Pilihan hidup setiap lapisan masyarakat tentu sesuai dengan kemampuan dan kondisi dari sekitarnya. Begitu pula dengan pemilihan kata dalam berbahasa dan beraktivitas sehari-hari, tidak terlepas akibat perkembangan budaya.  Globalisasi selalu menjadi topik setiap bahasan untuk segala pertukaran budaya antar-negara didunia. Fenomena ini bukanlah hal yang asing, karena dunia sekarang menuntut negara untuk terus berinovasi mengembangkan pola hidup menjadi instan, berkomunikasi dengan waktu yang singkat. Begitulah kenyataan perkembangan teknologi yang tertata diantara negara, seolah-olah seperti tidak ada garis geografis untuk saling mengenal budaya satu dan lainnya. Pola kehidupan masyarakat pun menjadi terlihat homogen dengan identitas kebudayaan masing-masing yang diperkenalkan keluar wilayahnya.
Budaya berarti kebiasaan yang dapat terbentuk dari bahasa dalam berkomunikasi. Bahasa termasuk dalam kebudayaan, namun  budaya tidak hanya membahas tentang  kebahasaan. Indonesia yang memiliki banyak provinsi, menghasilkan diferensiasi budaya. Terdapat bahasa Jawa untuk Provinsi Jawa Timur dan Jawa Tengah, berbeda dengan Provinsi Jawa Barat yang nama bahasanya disebut bahasa Sunda. Provinsi lainnya, seperti Sumatera terdapat bahasa Batak, Bali terkenal dengan bahasa Bali. Sistem pemerintahan Indonesia mendorong masyarakat berhak memilih berbahasa maupun berbudaya melalui domisilinya tanpa lepas dari nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Sehingga sistem ini berpengaruh kuat untuk arah identitas negeri ibu pertiwi. Karena itu, Demokrasi Pancasila telah menjadi tonggak pemicu langkah rakyat mengiringi pemerintah, berlari bersama menunjukkan pada negara asing bahwa Indonesia juga memiliki banyak pertunjukan seni yang khas. Demokrasi Pancasila membentuk paradigma berbeda untuk negara lainnya karena ideologi Indonesia terus eksis diutamakan dalam aktivitas pemerintahan. Namun, arah pergerakan dari sistem ini tidak ekuivalen terhadap hasilnya. Dasar negara kuat bertahan, namun pertumbuhannya di masyarakat menjadi rapuh.
Demokrasi Pancasila milik Indonesia tentu berbeda dengan demokrasi liberal.Demokrasi liberal merupakan suatu bentuk sistem yang meembebaskan hak rakyat tetapi tidak sampai melanggar hukum Walaupun sebelumnya, di tahun 1945 Indonesia pernah menggunakan sistem demokrasi liberal, namun Pancasila tetap membedakan hal ini. Demokrasi yang berarti hak ada ditangan rakyat, dapat membentuk karakter Indonesia dengan ketentuan yang tertera dalam Pancasila. Tidak hanya suara rakyat yang dibutuhkan dalam memilih pemimpin negara, namun hal ini juga perlu dalam pembentukan karakter Indonesia. Bhinneka Tunggal Ika yang menyatukan garis-garis wilayah Indonesia, memberi pandangan global untuk masyarakat bahwa negaranya kaya budaya berasal dari beragam keyakinan, karakter, suku namun tetap satu. Hal ini yang menjadi acuan dari ideologi dan tujuan negara, namun nyatanya perkembanganzaman membawa korelasi yang tidak seimbang.  Fenomena sosial yang terjadi dikalangan pemuda kini, semakin mengagumi budaya negara lain, menjadi konsumtif terhadap teknologi. Seperti dikatakan Fareed Zakaria dalam  bukunya yang berjudul Masa Depan Kebebasan, “Kuantitas telah menjadi kualitas.” Budaya demokrasi telah menjadi pembentuk pola pikir untuk konsumtif. Konsumtif termasuk dalam budaya yang mengarahkan kelompok masyarakat untuk memiliki barang bestseller. Bentuk dari konsumtif dapat menumbuhkan rasa kebanggaan tersendiri, karena nilai prestige dari penggunaan sebuah produk. Prestige tersebut lahir melalui komentar dan semakin meningkatnya konsumen pengguna produk yang sama dikalangan masyarakat. Fakta ini harus dilewati dalam era sekarang yang memang mengacu pada pasar, bukan pada pemasoknya. Dalam ekonomi, pemasok menyusun strategi pemasaran yang bersumber dari minat konsumen. Seperti layaknya perekonomian Negara, pemerintah memang memiliki wewenang untuk kontrol dan menata. Namun itu semua bergatung pada rakyatnya. Kalaupun ada masyarakat yang menutup dirinya untuk tidak mengikuti permintaan zaman, maka bahasa maupun budayanya tidaklah dapat timbal-balik untuk sekitarnya. Mereka akan menjadi kaum yang tidak dikenal.
Sumpah Pemuda tahun 1928 telah menetapkan bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu bangsa. Peran bahasa Indonesia dalam wilayah pluralisme, memanglah besar untuk jembatan saling mengenal antar daerah. Selain bahasa Indonesia, terdapat pula bahasa daerah dan bahasa gaul sebagai alternatif komunikasi lainnya ditengah masyarakat kini. Penggunaan bahasa daerah tentunya untuk asal penduduk yang berdomisili sama. Sedangkan bahasa gaul tumbuh dari kalangan remaja.
Bahasa gaul seperti kepo, alay, lebay, ketiganya menjadi kalimat yang bertranformasi dikalangan pemuda saat ini, dan akan melahirkan sikap-sikap sejajar dengan makna kata itu. Bahasa sebagai media komunikasi, dapat menyejajarkan perilaku seseorang.Sama halnya dengan pemahaman demokrasi sebagai sistem pemerintahan yang membentuk tata laku masyarakat. Dengan sistem demokrasi, maka tidak hanya pemerintahan berjalan dengan sistem tersebut, namun dalam musyawarah, hak memilih berbahasa dan berbudaya juga menggunakan sistem ini. Hak rakyat memang yang utama dalam sistem demokrasi, namun pancasia sebagai ideologi Indonesia menentukan batasnya agar keutuhan jiwa pemuda bangsa tidak ambigu.  Hak asasi manusia untuk hidup menjalani budayanya, namun tantangan globalisasi terus menerus memengaruhi hidup masyarakat yang semakin lama mengarah pada kebebasan.
Kebebasan dan demokrasi tentu berbeda, karena demokrasi sesungguhnya lebih ditujukan pada hak suara rakyat. Namun, apabila dianalisa dalam kenyataannya, penemuan, perkembangan dan jati diri masyarakat lahir dari adanya arus mayoritas. Sehingga, demokrasi memanglah menuntun pada kebebasan, walaupun Indonesia sebenarnya tidak bertujuan membentuk warganya seperti itu. Arah pergaulan pemuda saat ini tidak dapat dipungkiri memang lebih berkiblat pada Negara asing. Hal ini sebenarnya bukan untuk dihindari, namun harus dibentuk sikap kompetitif ditengah pemuda Indonesia untuk membangun budayanya sendiri. Banyak media yang dapat diolah untuk produk dalam negeri menurut perkembangan pemuda terkini, seperti aplikasi, permainan dalam komputer maupun handphone. Seperti aplikasi chatting terkini yang menyediakan gambar-gambar untuk komunikasinya dapat digantikan dengan gambar wayang, bunyi suaranya dengan alat musik daerah Indonesia, yang membuat penggunanya lebih tertarik dengan budaya sendiri. Ketertarikan ini dapat ditumbuhkan sampai menyediakan sekolah bisnis kesenian. Untuk lebih mengapresiasi kesenian sebagai hal yang nantinya dapat diekspor, sehingga membantu perekonomian Negara dan dapat membuka lapangan pekerjaan lebih banyak serta mengurangi kemiskinan.
Bentuk dari Negara demokrasi menjunjung tinggi hak asasi manusia. Oleh karena itu, Indonesia juga memberikan ruang banyak untuk warganya berinovasi, mengekspresikan opini maupun idenya untuk negeri. Kesempatan ini sama dikalangan manapun, tinggal langkahnya saja dibentuk. Membentuk semangat berbudaya sendiri itu sulit karena faktanya asimilasi budaya akan terus ada dan harus diterima dengan resikonya. Namun, negara yang menang dalam tataran bentuk globalisasi saat ini pastinya yang paling cerdik memanfaatkan peluang ditengah masalah masyarakat sekitarnya. Bagaimanapun, bahasa dan budaya Indonesia hingga kini tetap ada dan utuh. Hanya saja, kurang adanya semangat untuk membudidayakan hingga terbentuk rasa bangga tersendiri bagi pemiliknya sehingga dapat diperkenalkan keluar Indonesia.

Kita = Buruh

Menyebutkan kata buruh, tentunya pikiran kita akan tertuju pada sosok badan kekar, lusuh, tidak terurus, miskin, bahkan tidak berpendidikan. Atau mungkin lebih kongkretnya mengacu pada tukang angkat barang di pelabuhan, pekerja – pekerja kasar di pabrik, para pekerja di gudang, dan sebagainya. Buruh adalah potret hina bagi orang – orang awam di Indonesia.
Banyak orang yang sedikit mengerutkan dahinya ketika saya menyebutkan “Kita semua adalah buruh, apapun itu.” Ya mereka yang mendengarnya seakan takut dikategorikan dalam kasta terendah dalam struktur sosial, mereka seakan diremehkan dalam konteks bermasyarakat ketika dikatakan buruh. Dekonstruksi perlu dilakukan agar kita sadar siapa kita sebenarnya.
Istilah buruh mungkin tak bisa lepas dari seorang Karl Marx, beliau memandang Buruh atau proletar sebagai faktor produksi yang bekerja bagi pemilik modal atau borjuis. Istilah tersebut mungkin sedikit materialis, ya wajarlah Seorang Marx memang berangkat dari filsafat yang beranggapan bahwa zatlah yang menjadi sifat dan kenyataan terakhir.

Siapakah “Buruh” itu ?
Bagi saya buruh secara luas dapat dimulai dari pikiran kita. Pikiran kita yang teralienasi, pikiran kita yang sangat fetish terhadap “tuan – tuan” kebendaan. Saya kemudian menerjemahkan “borjuis” itu sebagai suatu konsep materi yang kita idamkan, sehingga diri kita menjadi “buruh” demi mengejar tuan “Borjuis” materi dan menyebabkan diri kita teralienasi (terasing) dari kehidupan diri sendiri & lingkungan kita. “buruh” itu adalah ambisi yang berkobar – kobar dalam diri. Dengannya kita lupa akan hakikat kita sebagai manusia. Cita – cita seorang Marx yang menghancurkan kelas – kelas sosial dalam masyarakat haruslah dimulai dari meredam gagasan materialisme di kepala.
“Buruh” bisa jadi seorang CEO yang jarang pulang ke rumah dan tersibukkan akan urusan kantornya, bisa juga seorang ibu rumah tangga cantik yang hobi ke salon sampai lupa kewajibannya sebagai istri dan ibu bagi anaknya, mahasiswa burenkyang terlalu takut IPnya rendah seraya tunduk pada birokrasi, wakil rakyat yang tunduk pada kekayaan sehingga korupsi atau bahkan pembunuh massal yang berambisi menjadi presiden. Buruh itu ada di dalam diri saya, anda, kita, dan mereka.
Manusia.. manusia.. dan manusia, itulah impian seorang Marx, manusia yang bebas, bebas dari kungkungan ekonomi, manusia yang dapat menghubungkan dirinya secara utuh dengan sesamanya dan alam. Disebutkan diperlukan sebuah kesadaran untuk mencapai revolusi yang disebut kesadaran. Kesadaran akan roda hidup bukan seputar uang, kerja, & kekayaan. Ada hal – hal yang tidak bisa dibeli dengan hal tersebut yang disebut kebahagiaan Bayangkan saja pelatihan untuk menemukan kebahagiaan dengan biaya berjuta – juta ada di negeri kita. Manusia mungkin mulai mersakan krisis kebahagiaan disebabkan dahaga spiritual.

Merenungkan Perayaan Hari “Buruh”
Sejarah menuliskan, pada tanggal 4 Mei 1886 di Chicago lahirlah sebuah kerusuhan oleh para buruh yang berdemonstrasi di Haymarket. Selanjutnya yang kemudian di sahkan menjadi satu mei di Kongres Internasional di Paris pada 1889. Dan kemudian pada selanjutnya hari buruh menjadi rutinitas para pekerja kasar untuk melakukan aksi entah itu demonstrasi bahkan disertai bentrokan dengan polisi untuk menambah gaji. Ah … selalu saja masalah perut. Kita seakan lupa ada “makna” tersirat dari hari buruh. Ada cita – cita di balik perayaan May Day tiap tahun. Ada selalu harapan besar selain dari upah minimum tiap periode.
Mungkin hanya sebagian yang sadar bahwa secara esensial Hari Buruh adalah untuk kita semua agar merehatkan sejenak aktivitas – aktivitas “buruh” , menghentikan segala nafsu “buruh” kita, mendekatkan diri pada diri sendiri, alam, & orang – orang yang kita cintai. Selain dari itu makna kita harus “turun ke jalan” yang selalu digaungkan di mimbar Hari buruh, saya lebih menerjemahkannya agar kita senantiasa mengingat apapun yang disekitar kita baik yang hidup mapun yang benda mati, senantiasa sadar akan keadaan diri. Pesta May Day adalah pesta manusia terlahir merdeka, merdeka dari kehambaan akan rupiah – rupiah yang dikejar setiap hari dan diterima tiap bulan berakhir, serta merayakan bahwa kita bukan mesin yang diperbudak oleh tirani “nafsu” materi yang tidak berujung.
Masyarakat Utopia yang diinginkan oleh Karl Marx adalah masyarakat komunis tanpa kelas, dimana setiap individu di dalamnya tidak terjebak dalam tekanan ekonomi, penuh tenggang rasa, sama rata, damai, adil, cinta kasih, dan lain – lain. Dalam literasi biasa disebut Masyarakat Madani sangat berbeda dengan hari ini, ketika dibalik kaca mobil – mobil mewah di jalan berselonjor tangan – tangan pengemis yang belum makan, ketika kita sedang sibuk nge-tweet atau nge-path dengan teman – teman jauhada teman terlupakan di dekat kita, ketika kita asik bekerja ada teman kita diPHK, dan banyak hal contoh lainnya.
Sudahlah, mungkin semua hal itu terlalu utopis, seperti seorang Marx yang ramalan – ramalannya masih belum valid hingga hari ini. Yang jelas dengan ditanggal merahkannya Hari Buruh ini, mungkin ada baiknya kita berpikir seperti seorang Bejo dalam film The Raid 2. “Ini semua soal ambisi, bukan.. ini soal batasan.” Quotes tersebut dalam tafsiran saya kita harus mengingat batasan khususnya dalam setiap materil yang kita kejar entahkah itu uang, jabatan, wanita, kekayaan, aset, dan lain - lain. Materi bukanlah tujuan tapi alat untuk mencapai tujuan yang lebih besar. Semoga perjuangan hari buruh bukan cuma masalah kenaikan UMR/UMP, namun juga kesediaan diri kita untuk meredam para “borjuis” di dalam hati dan pikiran kita agar kita tidak menjadi “buruh” yang teralienasi.

Ambulance RSJ Sedang Manasin Mesinnya Untuk Caleg Gagal

Sudah banyak kiranya Caleg gagal yang kini menjadi sensasi berita. Dengan semua kekesalan dan amarahnya, mereka menganggap Pileg kemarin penuh kecurangan. Mulai dari money politic yang akut. Entah Caleg gagal ini ‘minim’ dana serangan fajar. Sampai utak-atik jumlah suara yang berbeda menurut mereka, KPUD, sampai tingkat TPS. Semua ini adalah beban berat kegagalan seorang Caleg. Semua usaha jor-joran, fisik, fikiran, uang, dan lobi-lobi yang ada kini berbuah pahit. Mereka gagal menjadi Anggota Legislatif. Sebutir pil pahit kegegalan yang berujung depresi.
Mulai dari Caleg yang kembali mengambil sumbangan mushola seperti semen, batu dan bahan bangunan lain karena pemilihnya di daerah itu minim. Caleg asal Tulungagung ini merasa ditipu oleh warga sekitar. Ada pula Caleg gagal yang nekat menyegel sebuah mushola di Kolaka, Sulteng. Kemudian ada Caleg yang nekat menutup akses jalan desa di Pandeglang Banten dan Ogan Komering Ilir. Sampai-sampai ada Caleg yang nekat gantung diri akibat gagal mendapat suara bejibun. Perbuatan putus asa akibat kegagalan nyaleg ini dilakukan oleh seorang Caleg asal Banjar, Jawa Barat. (berita: antaranews.com)
Dan seolah sudah diperkirakan, banyak Rumah Sakit Jiwa sudah menyiapkan kamar dan layanan khusus bagi ‘korban’ Pileg ini. Dan beberapa artikel di Kompasiana pun sudah membahasnya. Dan kini, kita semua memasuki masa ‘Siaga Depresi’. Dimana para Caleg gagal yang sudah mulai runyam fikirannya, akan mengalamni breakdown of sanity. Bahkan kini, Puskesmas di Jember pun siap merawat pasian Caleg gagal dn depresi ini. Jika pun ada masalah yang akut dalam depresi sang Caleg gagal, ia akan dirujuk ke RSUD setempat.
Humas Dinas Kesehatan Kabupaten Jember, Jumarlis pada Senin (17/2/2014) berkata,” Sebagai pelayanan kesehatan primer yang bersentuhan langsung dengan masyarakat, semua masalah kesehatan masyarakat menjadi tanggung jawab puskesmas. Jadi kalau ada masalah kaitannya depresi ya, itu akan ditangani oleh puskesmas”. (berita: tanyadok.com)
Kondisi ini pun saya umpamakan, ambulance Rumah Sakit Jiwa sedang manasin mesin. Yang pada hari-hari biasa sebelum Pileg ambulance ini hanya njogrok di halaman RSJ, kini sepertinya ia akan seing digunakan. Coba lihat film-film jaman dahulu seperti film Warkop DKI. Disitu digambarkan jika ada orang yang gila, akan langsung dijemput oleh ambulance RSJ. Dengan sigap dan siaga, para staff medis diambulan akan langsung menangkap dan mengekang si orang gila di kasur tandu ambulance.
Caleg gagal yang kemudian depresi pun saya kira masih pada taraf Caleg awam (baca: bodoh). Sebenarnya mereka tahu kalau Pileg dan menjadi Caleg adalah seumpama berjudi. Mendapat suara adalah seberapa berani dan banyak si Caleg mengeluarkan uang. Ratusan juta sampai puluhan miliar harus siap dirogoh. Teman saya yang menjadi timses seorang Caleg berujar, kalau Caleg awam ini tidak faham benar ‘berjudi’.
Caleg yang umumnya kaya raya (bahkan ultra super kaya) menganggap ecek-ecek dana puluhan miliar untuk Pileg. Bahkan ada Caleg (yang sudah ‘expert’) cuma mau ikut dan ikut mejeng namanya di Surat Suara, walau pun ia kalah. Dan kini ia malah biasa saja perasaannya. Yang pentin baginya adalah bisa ‘terkenal’ walau duitnya melayang percuma. Toh bisa cari lagi. Caleg gagal ini kalau soal urusan uang sudah remeh, ujar teman saya.
Jadi, jangan heran banyak Caleg gagal berkoar semena-mena di media. Itulah tanda-tanda siap untuk dijemput ambulance RSJ. Semoga mereka bisa berdamai dengan kegagalan.

Libur Nasional Mayday, Cermin Demokrasi Positif Indonesia

“Sebuah aksi Internasional besar harus diorganisir pada satu hari tertentu dimana semua negara dan kota-kota pada waktu yang bersamaan, pada satu hari yang disepakati bersama, semua buruh menuntut agar pemerintah secara legal mengurangi jam kerja menjadi delapan jam perhari, dan melaksanakan semua hasil Kongres Buruh Internasional Perancis.”
Awal dari kebangkitan para buruh untuk melakukan aksi demonstrasi dan tuntutan terhadap pemerintah dan perusahaan dimana mereka bekerja, berawal dari hasil rapat Kongres Sosialis Dunia yang dilakukan Juli 1889 di Paris, Prancis. Hasil rapat tersebut bukan merupakan hal pertama yang dilakukan oleh buruh, jauh sebelumnya perjuangan kelas pekerja telah ada sejak awal abad ke-19, segera setelah pemberontakan para buruh akibat dari penerapan kapitalisme dalam suatu perusahaan.
Perkembangan kapitalisme yang merupakan dampak ditemukannya mesin uap oleh James Watt, telah mengubah drastis kondisi sosial-ekonomi dan stabilitas politik suatu negara sekalipun, tertutama bagi negara-negara kapitalis yang berada di kawasan industri seperti Eropa dan Amerika.
Kompetisi produktifitas antara buruh dan mesin, perlahan mendegradasi peran penting buruh dalam suatu perusahaan. Mesin dianggap telah menjadi Starting Point buruh sekaligus cambuk bagi mereka untuk meningkatkan kualitas produksi dan kapabilitas kinerja. Pemberlakuan pengetatan disiplin dan pengintesifan jam kerja merupakan hal-hal yang dimanfaatkan para kaum kapital untuk mengeksploitasi para pekerjanya.
Buruh tidaklah bodoh, terkesan merugikan dan dianggap menindas, perlakuan para kaum kapital ditentang keras oleh kaum buruh. Menginginkan hasil produksi tinggi agar keuntungan maksimal dapat diperoleh namun tidak dibarengi dengan peningkatan upah serta perbaikan kondisi kerja pabrik, telah melahirkan kekecewaan para buruh yang berbentuk perlawanan dari kalangan kelas pekerja.
Aksi perlawanan buruh yang terkenang terjadi di Cordwainers 1806 di Amerika, adalah bentuk perlawanan dari ekploitasi tenaga kerja yang dituntut bekerja selama 19- 20 jam sehari. Hal yang tak masuk diakal namun fakta terjadi.
New Jersey, 1872, peringatan hari buruh ditandai dengan provokasi oleh Peter McGuire dan Matthew Maguire seorang pekerja mesin yang mogok bekerja bersama 100.000 pekerja lain guna mengurangi jam bekerja. Hal yang sama juga terjadi di Missouri, New York, Oregon, dan negara di Asia maupun Eropa.
Akhirnya pada 1 mei 1886, telah terjadi demonstrasi besar-besaran selama empat hari oleh kurang lebih 400.000 buruh di Amerika Serikat dalam memperjuangkan tuntutan mereka untuk menetapkan waktu bekerja mereka selama 8 jam sehari. Tak tanggung-tanggung, pawai besar yang menimbulkan kericuhan membuat para polisi geram. Dilepaskanlah tembakan demi tembakan kepada para provokator demo dan berujung pada hukuman mati para demonstran yang berhasil ditangkap.
Butuh waktu beberapa dekade bagi Indonesia untuk mengadopsi kultur serupa dan se-abad untuk menerapkannya di tanah air. Bukti penghormatan terhadap hari buruh di Indonesia baru dilegitimasi pengimplementasiannya tepat pada tahun 2014. Melibur nasionalkan tanggal 1 Mei adalah segenap upaya pemerintah dalam mengakomodir aspirasi para buruh. Sengaja diciptakan, sehingga dengan adanya keistimewaan ini, para buruh diharapkan dapat aktif menyuarakan pendapatnya namun tetap dalam koridor yang telah ditetapkan.
Berbeda dengan zaman orde baru yang dahulu masih menerapkan UU subversi. Setiap kegiatan layaknya demonstrasi buruh, selalu diafiliasikan dengan gerakan menetang pemerintah dan cabang dari penyuaraan ideologi komunis musuh utama Pancasila. Akibatnya, kebebasan buruh dalam menyuarakan tuntutan cenderung terbatasi dan terkekang hingga pada pintu reformasi terbuka.
Perlu diingat bahwa peringatan mayday di Indonesia merupakan implementasi dari demokrasi yang berprestasi. Sebagai warga Indonesia kita patut berbangga, karena hingga saat ini peringatan hari buruh nasional di Indonesia belum pernah sama sekali menumpahkan satu darah dan selalu berujung dalam rel kedamaian dan ketertiban bersama.

Sistem Dapat Merubah Kebiasaan

Salah satu program pemerintah DKI Jakarta yang sedang berjalan hingga saat ini adalah program rumah deret. Program ini menjadi salah satu cara untuk menata perumahan di daerah padat penduduk seperti di daerah Gang Kana, Rawamangun, Jakarta Timur. Program ini di anggap efektif dalam membenahi ruang tata kota yang minim di daerah tersebut dan merupan jalur evakuasi kebakaran.Namun, bukan program ini yang menjadi pembahasan penulis. Pada kesempatan ini penulis akan menjelaskan dampak program rumah deret dari segi sistem yang sadar atau tidak sadar merubah kebiasaan masyarakat sekitar.
Ketika pembangunan berlansung, keadaan di daerah ini sangatlah berantakan, banyak bahan-bahan banguan seperti pasir, batu kolar, besi sampai batu bata ada disetiap rumah warga. Pembangunan berlansung bertahap dimulai dari pagar, ruang tamu, kamar sampai terakhir kamar mandi.
Dampak dari program rumah deret ini, menjadikan daerah yang biasa digunakan masyarakat untuk bertransaksi jual beli atau pasar menjadi terganggu, belum lagi tumpukan sampah bekas runtuhan rumah berserakan disekitar tempat yang warga jadikan pasar sementara itu.
Masalah banyaknya sampah bekas runtuhan rumah seperti triplek dan barang-barang bekas lainnya dibuang dibadan jalan yang biasa di lewati pejalan kali maupun pengendara motor. Terlihat begitu kumuh dan semerawut. Tak adanya sistem pembuangan sampah yang baik membuat warga dengan seenak membuang sampah disitu.
Sudah menjadi budaya masyarakat atau memang tidak adanya sistem yang mengatur pembuangan sampah sementara ini, membuat tokoh masyarakat seperti pengurus RT, RW dan warga peduli kebersihan berpikir untuk membuat suatu pekarangan tanaman d tempat dimana sampah itu berada. Setelah sampah diangkut, dengan segera masyarak merealisasikan pekarangan tanaman ini.
Dengan begitu warga yang tidak bertanggungjawab tersebut mau tidak mau harus membuang sampah di TPA. Ternyata dengan sistem yang baik, masyarakat kita bisa merubah kebiasaan membuang sampah sembarangan ini. Sekarang jalan itu menjadi lebih cantik dan tertata.membuat orang yang lalu lalang selalu melirik kearahnya.