Media Informasi Pemuda Peduli Dhuafa Gresik (PPDG) || Website: www.pemudapedulidhuafa.org || Facebook: Pemuda Peduli Dhuafa Gresik || Twitter: @PPD_Gresik || Instagram: Pemuda Peduli Dhuafa Gresik || Email: ppd.gresik@gmail.com || Contact Person: 0838-3199-1684 || Nomor Rekening: 0335202554 BNI a.n. Ihtami Putri Haritani || Konfirmasi Donasi di nomor telepon: 0857-3068-6830 || #SemangatBerkarya #PPDGresik

Selasa, 29 April 2014

Harus Dipaksa

Karena sesuatu paksaan biasanya akan menjadi kebiasaan. Sekalipun hal yang tadinya dipaksa adalah bukan minat kita, suatu saat karena berawal dari paksaan akan berujung menjadi kebiasaan.
Tak jarang paksaan sesuatu juga berakhir menjadi tekanan terhadap seseorang, tingkat kepenatan, terkekang, merasa terbatasi bisa juga timbul karena paksaan. Namun kali ini, bagaimana hal paksa memaksa kita mulai dalam hal kebaikan misal dari paksaan rajin ibadah, menutup aurat serta disiplin dalam berbagai hal? Bisa lho…
Saya punya kisah, ada seorang teman saya kami sama-sama meneruskan ke jenjang perguruan tinggi yang sama di salah satu kota yang terkenal banyak universitas di Indonesia. Universitas tersebut mempunyai paksaan atau nama halusnya sebuah peraturan yang meminta para kaum perempuan yang terdaftar sebagai mahasiswanya untuk memakai penutup aurat. Selain penutup aurat, otomatis tidak hanya atasnya saja dong yang ditutup, bawahnya juga. Dengan nama lain, sebuah tranformasi diri dari yang biasa memakai pakaian minim, menjadi pakaian yang lebih sopan dan menutup seluruh lekuk tubuh, tetap dalam bentuk pakaian ya.
Sebenarnya mengenai peraturan menutup aurat memang sudah jelas tahu, namun apa daya memang disitulah jurusan yang diminati dengan akreditasi terbaik. Kebetulan diterima otomatis ya anggap saja hanya saat kuliah nanti pas diluar dilepas gak apa-apa. Namun, kejadian unik pun terjadi, saat dimana hal yang kita anggap bisa kita selingi pada kenyataannya malah membuat itu menjadi ciri khas kita dimata teman-teman.
Tahukah anda, saat teman saya mencoba untuk tak berhijab diluar saat maen, dengan alasan toh dulu tidak berhijab sah-sah aja dong sekarang gak berhijab? Dengan berbekal alasan itu kemudian pede-lah dia berlenggak lenggok bermain tanpa hijab. It’s ok toh hijab adalah ajakan dari dalam diri, bukan aturan paten untuk diri. Hari berganti, bulan pun berganti, suatu ketika karena mungkin kebiasaannya bermain setelah pulang kuliah, nongkrong ala anak muda tanpa ganti baju atau sekedar melepas hijab katanya males buka, sekalian aja. Dari situlah, teman-teman kampusnya mengenal dia seorang perempuan berhijab, walaupun kenyataannya saat malam keluar entah makan atau nongkrong dengan teman beda kampus dia tak berhijab. Karena teman kampusnya jauh lebih banyak dengan teman beda kampusnya, pada akhirnya dia memilih berhijab dengan alasan yang baru lagi, yakni tak enak melepas karena teman-teman dikampus kalo maen banyak yang gak melepas hijab. Jadilah dia sering keluar menggunakan hijab dengan teman-teman kampusnya karena dia juga kebetulan termasuk perempuan yang aktif dalam organisasi otomatis sering keluar ngumpul dengan teman-teman organisasinya. Dan tak pernah lepas hijab saat bersama teman-teman satu kampusnya.
Dari situ, teman-teman mengenalnya sebagai perempuan berhijab. Beberapa teman kampusnya tahu bahwa dia masih buka tutup hijab, ada yang komentar (maklum manusia, mau tau aja urusan orang) dia bilang, “kamu lebih cantik pake hijab lho, lebih berkarakter”. Awalnya dia gak gubris, namun lama-lama banyak yang komentar sama, hingga pada akhirnya dia memutuskan untuk selalu memakai hijab saat keluar. Bahkan, saat dia keluar dengan teman beda kampus, sempat ditanyakan tumben berhijab, biasanya polosan, dengan entengnya dia berkata, “katanya aku tambah cantik pake hijab” padahal sesungguhnya dia pernah bercerita bahwa hatinya bukan mengiyakan dia cantik memakai hijab, lebih pada ada rasa tertelanjangi, malu dan entah rasa apa lagi saat dia tak berhijab.
Dari penggalan kisah diatas tentu, pelajaran yang dapat dipetik adalah, sesuatu yang berawal dari paksaan tak berarti menghasilkan hal buruk, apalagi paksaan dalam hal kebaikan. Memang awalnya keluhan, cibiran pasti keluar dari mulut kita langsung, membela diri, bahwa aku ya aku, tanpa ada hal apapun yang dapat memaksa. Akhirnya, walau penuh dengan keluhan, namun tak berarti selamanya mengeluh  itu karena dipaksa kan? Suatu saat akan terbiasa, hingga tak terasa dari paksaan yang penuh keluhan, menjadikan kita sosok yang lebih baik, serta melupakan keluhan menjadi kebiasaan untuk selalu mentransformasi diri menjadi lebih baik.
Percayalah, semua pernah merasakan perubahan dalam dirinya, maindset kita perlu dirubah sejak diri, apapun tentang paksaan untuk berubah menjadi lebih baik itu perlu ditanamkan. Otak kita mengatur sepenuhnya apa yang kita inginkan juga kerjakan. Otak juga yang mengatur kerja hati serta jantung. Saat kita sering bergabung dengan orang-orang kreatif tak akan dipungkiri kita pun akan berubah menjadi kreatif, begitupun ketika kita berkumpul dengan orang-orang yang suka berbuat kericuhan, maka tak pelak kita pun akan ikut. Lingkungan sangat berpengaruh untuk diri, namun otak pun dapat menangkalnya dengan selalu menerapkan pemikiran yang positif agar selalu terhindar dari hal-hal buruk. So, paksaan tak selalu membuahkan keburukan kan? Bisa jadi karena paksaan anda malah menjadi pribadi yang tadinya tidak dianggap menjadi dianggap. Paksalah diri anda untuk berubah menjadi pribadi yang selalu lebih baik setiap harinya, maka saat anda ingin berbelok menjadi pribadi yang buruk, maka alarm warning dalam otak akan memantulkan sinyal untuk anda kembali pada jalur perubahan yang memang telah membuat anda menjadi pribadi yang baik.

“Pejabat (Tak) Tahu Malu”

Pasca tenggelamnya kapal feri Sewol yang mengakibatkan 187 penumpang tewas dan 115 penumpang masih belum ditemukan, Perdana Menteri Korea Selatan Chung Hong-won mengundurkan diri pada tanggal 27/04/14. Pasalnya mundurnya Chung Hong-won merupakan bentuk tanggung jawab atas lambatnya penanganan yang dilakukan oleh pemerintah.
Barangkali akan banyak tanggapan yang muncul merespon kemunduran Perdana Menteri Korea Selatan ini. Kendati demikian, harus diakui bahwa budaya malu dan mengakui kesalahan jauh lebih kentara dalam peristiwa ini. Setidaknya apa yang dilakukan perdana menteri korea ini adalah wujud kesadaran akan gagalnya ia menjadi seorang pemimpin sehingga merasa lebih baik merelakan tampuk kepemimpinan kepada orang yang jauh lebih mempuni dibanding dirinya.
Bila kita tarik ke republik ini, dalam periode kepemimpinan SBY-Boediono setidaknya ada dua pejabat publik yang menyatakan diri mundur dari jabatan yang sedang diembannya. Salah satunya Menteri Olah raga Andi Malaranggeng yang mundur dari jabatannya karena ingin fokus menghadapi kasus hukum setelah menjadi tersangka dalam kasus korupsi Hambalang. Selain itu, Menteri Perdagangan, Gita Wirjawan juga pernah mundur dari jabatannya untuk fokus mengikuti konvensi capres partai Demokrat.
Selain dua menteri ini, masih banyak pejabat publik kita yang enggan mundur kendati kegagalan kepemimpinannya sangat kentara di mata khalayak banyak. Masih hangat dalam ingatan kita tatkala Menteri Dalam Negeri, Gamawan Fauzi sempat berjanji akan mundur apabila hingga akhir 2012 E-KTP tidak tuntas. Pada kenyataannya, E-KTP sama sekali belum tuntas hingga kini. Betapa tidak, fenomena kisruhnya DPT pada pemilu baru-baru ini adalah parameter yang sangat akurat menandai kegagalan kebijakan E-KTP. Namun sayangnya janji yang terlanjur dilontarkan oleh pejabat publik ini tidak sanggup digenapi. Ini adalah potret pejabat publik kita yang sangat kontras bila dibandingkan dengan peristiwa mundurnya Perdana Menteri Korea Selatan.
Selain itu, kegagalan Menteri Pendidikan Muhammad Nuh dalam pelaksanaan Ujian Nasional misalnya. Masalah distribusi soal dan lembar ujian yang tidak tepat waktu, kualitas lembar jawaban yang rendah, hingga masih adanya kebocoran soal merupakan kesalahan yang tidak patut ditolerir, apalagi bila hal ini terjadi dalam dua tahun terakhir. Namun, sembari meminta maaf, alih-alih mundur dari jabatannya, Muhammad Nuh justru merespon masalah ini dengan menyalahkan pihak di luar pemerintah yang menjadi rekanan dalam pelaksanaan Ujian Nasional.
Di pihak lain, ada Aceng HM Fikri yang menang telak dalam pileg pada 9 April lalu. Kala itu, kita sempat dikagetkan dengan berita pemakjulan Bupati Garut, Aceng HM Fikri karena kasus pernikahan kilatnya dengan Fany Octora, gadis 18 tahun yang diceraikannya lewat SMS setelah menikah selama empat hari. Celakanya, pasca dimakjulkan karena alasan melanggar etika, mantan Bupati Garut ini justru dibiarkan masuk dalam daftar calon anggota DPD RI pada dapil Jawa Barat.
Tentu saja peristiwa ini sangat mengecewakan dan telah mengoyak rasa keadilan. Betapa tidak, seorang yang sudah dianggap tidak layak sebagai pejabat publik karena pelanggaran etika, dalam tempo yang singkat kembali menjadi pejabat publik di ranah legislatif. Sungguh muramnya wajah negeri ini, tatkala pembuat peraturan daerahnya adalah seseorang yang gagal menghargai etika. Celakanya lagi, duduknya Aceng HM Fikri di kursi DPD RI justru berkat kemauan masyarakat yang termanifestasikan dalam hasil pileg. Alih-alih mengharapkan seorang pejabat publik yang punya budaya malu, ternyata kita justru melanggengkan kepemimpinan seorang yang haus kekuasaan yang buta etika.
Entah siapa yang harus kita salahkan, apakah menyalahkan budaya lupa yang kerap menghantui masyarakat kita ataukah karena sedikitnya kader jujur bangsa ini yang mau bertarung di dunia politik. Bila memang kita merindukan pejabat publik yang melek etika, berbudaya malu, dan berintegritas barangkali kita tidak akan memilih sosok yang bertentangan dengan mimpi kita. Barangkali mata kita juga tidak terbutakan oleh sedikit uang yang mereka gelontorkan setiap kali pesta demokrasi digelar.
Sudah barang tentu dalam benak kita semua, mimpi akan pejabat publik yang lebih menyayangi negerinya dibanding fasilitas jabatannya terbentuk secara paripurna. Sayangnya, mimpi kita kerap dikalahkan oleh keraguan dan ketidakpercayaan kita akan keberadaan pejabat publik ideal dalam dunia yang nyata. Namun, apakah ada mimpi yang menjadi kenyataan tanpa ada usaha yang digelorakan. Mari kita tanya pada diri kita, apa menariknya menerima uang dari politisi, ketimbang menerima apa yang menjadi hak kita secara utuh, tanpa harus dijarah sana-sini?
Dan bila kita berani memimpikan seorang pejabat publik penuh integritas, punya budaya malu, dan melek etika, apa salahnya bila kita berusaha mendidik diri kita sendiri untuk mengantongi karakter itu. Negeri ini sureplus pengkritik, namun krisis orang yang berani bertarung melawan politisi busuk. Kita lebih sering mengatai politik itu kotor, lantas berusaha menjauh dibanding harus menceburkan diri dan membersihkan dunia politik semampu kita. Sementara, tatkala kita membiarkan dunia politik tetap diisi oleh mereka yang tidak bernurani, mungkinkah pejabat publik yang kita impi-impikan turun dari langit? Tentu saja tidak.

Selamatan, Hasil dari Akulturasi?

Merasa sedikit malu untuk mengatakan bahwa baru beberapa hari ini saya mengetahui tentang asal usul tradisi selamatan yang notabenenya merupakan tradisi yang berkembang dan sering saya jumpai di desa saya. Hal ini pun saya ketahui dengan tidak sengaja ketika diberitahu kakak saya ditengah-tengah penggarapan tugas kuliah observasi Antropologi. Berikut penjelasan singkat tentang akulturasi pada selamatan….
Akulturasi (acculturation) mempunyai arti yaitu proses pencampuran dua kebudayaan antara kebudayaan masyarakat asli dengan kebudayaan asing tanpa mengubah kebudayaan asli masyarakat. Koentjaraningrat (1996:247), dalam bukunya Pengantar Ilmu Antropologi, memberikan pengertian akulturasi sebagai berikut: “Proses sosial yang timbul bila suatu kelompok manusia dengan suatu kebudayaan tertentu dihadapkan dengan unsur-unsur dari suatu kebudayaan asing dengan sedemikian rupa, sehingga unsur-unsur kebudayaan asing itu lambat laun diterima dan diolah ke dalam kebudayaan sendiri tanpa menyebabkan hilangnya kepribadian kebudayaan itu sendiri”.
Selamatan merupakan salah satu tradisi masyarakat Jawa yang mengalami akulturasi. Masyarakat Jawa dikenal dengan tradisi budayanya yang kental dan dipengaruhi oleh ajaran dan kepercayaan dari kebudayaan Hindu-Budha. Oleh karena itu, para ulama Islam yang menyebarkan agama Islam di Jawa, atau lebih dikenal sebagai Wali Songo, melakukan langkah akulturasi sebagai cara mereka untuk mengajarkan ajaran agama Islam ke dalam lingkungan masyarakat Jawa. Pencampuran ini dimaksudkan agar tidak terjadi kekagetan terhadap budaya baru (culture shock) pada masyarakat Jawa sehingga dapat menerima dan mengamalkan ajaran agama Islam secara sukarela.
Pada masa sebelum Islam masuk ke Indonesia, selamatan diadakan untuk berterimakasih kepada para dewa dan leluhur mereka atas nikmat yang diberikan. Tradisi ini dilakukan dengan menyiapkan berbagai jenis makanan untuk dijadikan sesajen. Setelah Islam masuk, Selamatan saat ini diartikan sebagai suatu acara yang diadakan sebagai bentuk syukur atas segala nikmat yang diberikan oleh Tuhan. Selamatan ini dilakukan dengan kehadiran beberapa anggota masyarakat yang di depannya disajikan berbagai jenis makanan dan dilakukan pembacaan do’a yang dipanjatkan kepada Allah SWT. oleh seorang tokoh terkemuka dalam masyarakat tersebut.
Selamatan dalam Islam diadakan dalam waktu tertentu misalnya selamatanpernikahan, selamatan kelahiran bayi (aqiqah), selamatan kematian (7 hari, 40 hari, 100 hari, 1000 hari), dan selamatan-selamatan lain.
Akulturasi sangat berperan penting dalam upaya penyebaran agama Islam. Dengan dilakukannya akulturasi, Islam dapat membenahi kebudayaan yang bertentangan dengan agama menjadi selaras dengan agama, tanpa mengubah kebudayaan asli masyarakat tersebut.

Senin, 28 April 2014

Dua Kata, “Lawan dan Buktikan!”

Lawan saat seseorang mengatakan Anda tidak bisa berubah. Selama masih ada umur, artinya masih ada kesempatan untuk menjadi lebih baik. Ingat, itu hanya anggapan orang untuk melemahkan Anda. Semua orang bisa berubah, jika dia mau berubah. Jika tidak bisa, kuncinya tetap kemauan. Meski pun Anda tidak bisa berubah, jika ada kemauan Anda akan belajar untuk berubah.
Buktikan kalau Anda bisa berubah. Jadikan sebagai cambuk positif untuk berubah ke arah yang lebih baik. Tidak ada kata terlambat selama hayat di kandung badan. Mulailah berubah saat ini juga.
Perubahan itu instant seperti Anda membelokan stir mobil Anda. Namun perlu proses dan tahapan untuk mencapai tujuan baru Anda. Silahkan baca: Berubah Itu Langkah Demi Langkah
Dari mana mulai berubah? Silahkan baca: Cara Berubah Itu Mulai Dari Diri Sendiri. Kuncinya adalah itu adalah anggapan orang lain. Apakah Anda bisa atau tidak bisa? Andalah yang menentukan. Jika ANDA berpikir tidak bisa, maka Anda tidak akan pernah bisa. Jika ANDA berpikir bisa, insya Allah Anda akan bisa. Jadi, kuncinya bukan pada apa yang dikatakan oleh orang lain, namun ANDA lah kuncinya.
Anggapan tidak selamanya benar, bahkan sangat besar kemungkinan salah. Lagi pula itu adalah anggapan orang lain. Sebab keyakinan Anda sendirilah yang menentukan, tidak peduli bagaimana anggapan dari orang lain. Jangan biarkan, anggapan orang lain menghancurkan diri Anda.
Jangan Biarkan Orang Lain Merendahkanmu. Maksud saya, bukan berarti langsung memarahi atau memukul orang yang merendahkan Anda. Bukan itu! Namun jangan biarkan diri Anda mengikuti apa yang mereka katakan. Meski pun mereka merendahkan Anda, JANGAN pernah merasa rendah.  Allah saja tidak merendahkan manusia, kita sangat dimuliakan oleh Allah, kita diberikan potensi dahsyat oleh Allah, lalu mengapa harus mendengar ucapan manusia yang merendahkan Anda? Mungkin Anda pernah gagal dalam karir, bisnis, pendidikan, atau rumah tangga. Itu adalah kegagalan, namun tidak mencerminkan diri Anda seutuhnya. Anda bukan orang gagal, hanya pernah gagal. Semua orang juga pernah gagal. Anda masih bisa berhasil jika mau mengambil hikmah dan mencoba lagi. Kegagalan akan terus bersama Anda jika Anda merasa menjadi orang gagal dan menyerah.
Mungkin Anda pernah melakukan kesalahan. Semua orang juga. Anda bukanlah orang salah, hanya pernah melakukan kesalahan. Jika kesalahan itu sebuah dosa, maka bertobalah. Kemudian tekadkan diri Anda menjadi lebih baik lagi. Anda tahu bedanya Petinju dan Peninju? Silahkan baca artikel tersebut. Maknanya dalam. Fakta Anda melakukan kegagalan dan kesalahan. Namun saat orang menganggap Anda rendah, itu hanya asumsi atau opini yang belum tentu benar. Anda harus memahami apa bedanya fakta dan asumsi. Ada artikel menarik tentang fakta dan asumsi, silahkan baca:  Fakta Atau Asumsi?

Menjelang 2 Bulan Lagi Ramadhan

Sekitar 2 bulan lagi  kita akan memasuki bulan Ramadhan. Artinya, kita akan kembali dihadapkan pada kewajiban yang termasuk dalam salah satu perkara 5 Rukun Islam, yaitu berpuasa di bulan Ramadhan. Apa itu puasa ramadhan dan apa pula hikmahnya?

1. Pembagian Ibadah Dalam Islam
Allah swt, menciptakan manusia agar ma’rifah (mengenal) kepada Allah, beribadah kepada-Nya dan melaksanakan hak-hak Rububiyah-Nya. Sebagaimaan yang difirmankan sebagai berikut:
Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia, melainkan supaya beribadah kepada-Ku.” (Adz-Dzaariyat: 56)
Karena itu, Islam menjadikan ta’abbud (peribadatan) hanya kepada Allah swt, dan itu akan menjadi pertanyaan yang harus dipertanggungjawabkan pertama kali oleh seornag muslim. Arkanul Islam yang terdiri dari : membaca dua kalimat syahadat, mendirikan shalataaa, mengeluarkan zakat, berpuasa Ramadhan dan pergihaji ke Baitullah, adalah perwujudan dari aktivitas ibadah kepada Allah swt.
Islam membagi ibadah menjadi beberapa bagian:
  • Ibadah yang dilaksanakan oleh orang muslim yang memerlukan kekuatan badan, misalnya shalat dan puasa. Ibadah ini dinamakan ibadah Jasadiyah.

  • Ibadah yang dilaksanakan dengan mengeluarkan sebagian hartanya, misalnya zakat dan sedekah, dinamakan ibadah maaliyah.

  • Ibadah yang memerlukan harta dan kekuatan fisik, misalnya haji dan umrah.

  • Ibadah yang tampak bentuk pelaksanaannya, misalnya shalat, zakat, dan haji.

  • Ibadah yang memerlukan pengendalian hawa nafsu, seperti puasa.
Karena itu, pengendalian hawa nafsu yagn berupa meninggalkan sesuatu yang dapat membatalkan puasa bukanlah amrun salbi (perkara yang negatif). Sebab yang menjadikan puasa menjadi ibadah adalah karena orang muslim melaksanakannya dengan penuh kesadaran dan keikhlasan degnan niat taqarub ilallah. Dengan demikian ibadah puasa adalah amal badani, amal nafsi (amal yang berkaitan dengan jiwa), dan amal ijabi (amal yang positif) yang pahalanya sangat besar.

2. Kewajiban Puasa Ramadhan
Menurut Al Quran, Al Hadits dan Ijma’, puasa ramadhan merupakan amal ibadah yang diwajibkan bagi semua muslim/ah yang berakal sehat dan telah mencapai usia baligh.
Di dalam Al Quran, Allah SWT berfirman: ’Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa, sebagaijmana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian.” (Al Baqarah:183)

Dalam hadits disebutkan, dari Thalhah bin Ubaidillah, ia menceritakan: ”Ada seorang Badui yang datang kepada Rasulullah dengan rambut yang kusut seraya berkata: Wahai Rasulullah, beritahukan kepadaku shalat apa saja yang diwajibkan oleh Allah? Rasulullah menjawab: Hanya shalat lima waktu, kecuali jika kamu hendak menambahnya dengan shalat sunnat. Orang tersebut bertanya kembali: Beritahukan pula kepadaku puasa apa yang diwajibkan oleh Allah? Rasulullah menjawab: Hanya puasa Ramadhan, kecuali jika kamu hendak berpuasa sunnat. Orang tersebut bertanya lagi: Beritahukan kepadaku zakat apa yangharus aku bayarkan? Maka Rasulullah pun menerangkan kepadanya tentang syari’at Islam.

Akhirnya, orang Badui tersebut berkata: Demi Allah yang telah mengutusmu dengan kebenaran, sedikit pun aku tidak akan menambah maupun mengurangi kewajiban yang telah difardhukan oleh Allah atas diriku. Kemudian Rasulullah pun berkata: Beruntunglah jika ia benar atau akan dimasukkan ke dalam surga jika benar.” (HR Muttaqun’Alaih). Sedangkan menurut ‘ijma kaum muslimin telah sepakat mewajibkan puasa pada bulan Ramadhan.

3. Keutamaan Puasa
a. Dari Abu Hurairah, ia berkata; Bahwa Rasulullah telah bersabda:
”Puasa itu perisai. Apabila salah seorang di antara kalian berpuasa, hendaklah ia tidak berkata keji dan membodohi diri. Jika ada seseorang memerangi atau mengumpatnya, maka hendaklah ia mengatakan: Sesungguhnya aku sedang berpuasa. Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya bau mulut yang keluar dari orang yang berpuasa itu lebih harum di sisi Allah daripada bau kesturi. Orang berpuasa itu meninggalkan makanan dan minumannyua untuk diri-Ku (Allah). Maka puasa itu untuk diri-Ku dan Aku (Allah) sendiri yang akan memberikan pahala karenanya. Kebaikan itu dibalas sepuluh kali lipatnya.” (HR Bukhari)

b. Dari Abu Hurairah, ia berkata: Bahwa Rasulullah saw telah bersabda:
”Apabila datang bulan Ramadhan, maka dibukalah pintu-pintu surga dan ditutup pintu-pintu neraka serta syaitan di belenggu.” (HR Muslim)

Al Qadhi mengatakan: “Pengertian dibukanya semua pintu surga oleh Allah SWT bagi para hamba-Nya adalah agar senantiasa berbuat taat pada bulan tersebut, yang mana kesempatan itu tidak terdapat pada bulan-bulan lainnya. Yaitu seperti shalat tarawih dan berbagai amal kebajikan lainnya serta upaya untuk menghindari berbagai macam pelanggaran. Semuas ini merupakan kunci, sekaligus pintu untuk dapat memasuki surga Allah. Sedangkan ditutupnya seluruh pintu neraka dan dibelenggunya syaitan mengandung pengertian supaya manusia menghindari berbagai macam pelanggaran.
Al Hulaimi mengatakan: “Hal itu mengandung pegnertian bahwa syaitan senantiasa mengintai kaum Muslimin. Karenanya, mereka dibelenggu pada malam-malam Ramadhan dan bukan pada siang harinya. Sebagaimana pada waktu-waktau diturunkannya Al-Quran, Syaitan tidak diperkenankan untuk mengintai. Jadi, pembelengguan mereka itu sebagai kiasan dari ketatnya penjagaan. Selain itu juga mengadung pengertian lain, bahwa syaitan tidak mudah mengganggu kaum Muslimin pada saat berpuasa, sepertihalnya dapat mengganggu mereka pada bulan-bulan lainnya. Sebab, kaum muslimin menyibukkan diri dengan ibadah, yang dengannya mereka menahan segala bentuk hawa nafsu, juga disibukkan membaca Al-Quran dan berdzikir.”
Sedangkan ulama lainnya mengatakan: “Yang dimaksud dengan dibelenggunya syaitan pada hadits tersebut adalah sebagiannya saja., yaitu yang inkar. Adapun dibukanya pintu-pintu langit mereupakan kiasan bagi diturunkan-Nya rahmat dan dihilangkan-Nya berbagai rintangan yang menghalangi naiknya amal perbuatan, yang terkadang dengan mencurahkan taufiq dan terkadang dengan menerimanya dengan baik. Sementara ditutupnya pintu neraka jahananam merupakan kiasan dari bersihnya jiwa orang-orang yang berpuasa dari perbuatan keji dan keinginan untuk berbuat maksiat. Yaitu, dengan cara mengendalikan diri.”
Setelah mentarjih pengertian lahiriyah yang terdapat pada hadits tesebut, Al Qurthubi mengatakan: “Jika dikatakan mengapa kita masih sering melihat berbagai kejahatan dan perbuatan maksiat yang terjadi pada bulan Ramadhan, sementara syaitan telah dibelenggu, mestinya hal semacam itu tidak akan pernah terjadi? Jawabnya adalah, bahwa kejahatan dan maksiat itu berkurang jumlahnya dari orang-orang yang berpuasa, yang benar-benar memelihara syarat dan etikanya. Sedangkah yang dibelenggu itu hanya sebagian dari golongan syaitan, yaitu yang inkar saja dan bukan keseluruhan dari mereka. Kalaupujn seluruh syaitan dibelenggu, maka bukan berarti tidak akan terjadi maksiat. Karena, maksiat itu dapat ditimbulkan oleh beberapa sebab, selain syaitan itu sendiri. Seperti oleh nafsu jahat, kebiasaan buruk dan juga syaitan-syaitan yang berwujud manusia.”
Yang lainnya mengatakan: “Pembelengguan syaitan pada bulan Ramadhan itu merupakan isyarata dihilangkannya alasan negatif yang diada-adakan bagi orang-orang yang diwajibkan berpuasa. Seakan-akan dikatakan kepada mereka, syaitan dari golongan jin telah dijauhkan dari kalian, maka hendaklah kalian jangan menuruti mereka dengan meninggalkan ketaatan dan mengerjakan maksiat.”
c. Dari Abu Umamah, ia menceritakan:
”Aku pernah mendatangi Rasulullah seraya berkata: Perintahkanlah kepadaku suatu amalan yang dapat memasukkan aku ke surga. Beliau menjawab: Hendaklah kamu berpuasa, karena puasa itu merupakan amalan yang tidak ada tandingannya. Kemudian aku mendatangi beliau untuk kedua kalinya dan beliau pun berkata dengan nasihat yang sama.” (HR Ahmad, Nasa’I dan Al-Hakim)

d. Dari Shabat bin Sa’ad, ia berkata: Bahwa Nabi SAW telah bersabda:
”Sesungguhnya surga itu mempunyai satu pintu yang disebut Babu Ar-Rayyan. Pada hari kiamat nanti pintu tersebut akan bertanya: Di mana orang-orang yang berpuasa? Apabila yang terakhir dari mereka telah masuk, maka pintu itu pun akan tertutup.” (HR Muttafaqun’Alaih)

e. Dari Abu Sa’id Al Khudri, ia berkata bahwa Nabi SAW telah bersabda:
”Tidaklah seorang hamba berpuasa pada suatu hari di jalan Allah, melainkan dengan hari itu Allah akan menjauhkan api neraka dari wajahnya selama tujuh puluh musim.” (HR. Jama’ah, kecuali Abu Dawud).

f. Dari Abdullah bin Amr bin Al’Ash, ia berkata: bahwa Nabi SAW, bersabda:
”Berpuasa dan membaca Al Quran akan memberikan syafa’at kepada seorang hamba pada hari kiamat kelak. Amalan puasanya akan berkata: Ya Allah, aku telah melarangnya dari makanan, minum dan nafsu syahwat pada siang hari, sehingga ia telah menitipkan syafa’at kepadaku. Sedangkan amalan membaca Al Quran berkata: Aku telah melarangnya tidur pada malam hari, sehingga ia telah menitipkan syafa’at kepadaku di dalamnya. Maka keduanya pun memberikan syara’at.” (HR Ahmad dengan sanad shahih)

g. Dari Abu Hurairah, ia berkata, bahwa Nabi SAW bersabda:
”Barangsiapa memberikan nafkah untuk dua istri di jalan Allah, maka ia akan dipanggil oleh salah satu pintu surga. Wahai hamba Allah, kemarilah untuk menuju kenikmatan. Barangsiapa berasal dari golongan orang-orang yang senantiasa mendirikan shalat, maka ia akan dipanggil dari pintu shalat, maka ia akan dipanggil dari pintu shalat. Bagi siapa yang berasal dari kalangan orang-orang yang suka berjihad, maka ia akan dipanggil melalui pintu jihad. Barangsiapa berasal dari golongan orang-orang yang senang-senang berpuasa, maka ia akan dipanggil dari pintu Rayyan. Dan barangsiapa berasal dari kalangan orang-orang yang suka bersedekah, maka ia akan dipanggil dari pintu sedekah.

Abu Bakar bertanya: Demi ayah dan ibuku, wahai Rasulullah, apakah setiap hamba akan dipanggil dari pintu-pintu tersebut? Lalu mungkinkah seseorang dipanggil dari seluruh pintu tersebut? Beliau menjawab: ya, ada dan aku berharap engkau wahai Abu Bakar yang termasuk salah seorang di antara mereka.” (HR Bukhari). Demikian sekelumit tentang puasa Ramadhan.

Membedakan Mana Teman Sejati & Mana Teman Biasa

Banyak status bertebaran bunyinya: “Kalau ada maunya baru datang sama saya!”atau “Kalau saya tidak punya apa-apa, dia mulai menjauh”. Pokoknya intinya pertemanan itu ternyata bersyarat, begitulah kira-kira makna dari status-status itu.
Sebagai pengamat sosial di dunia maya maupun di dunia nyata sebagai bagian dari latar belakang pendidikan saya. Saya coba-coba memikirkan mengapa teman bisa secepat itu berubah. Akhirnya saya belajar dari pengalaman dan pengalaman orang lain. Dan sekaligus berbagi tips agar tidak mudah kecewa & waspada kepada teman yang berkualitas imitasi.

1. Jangan mudah terpengaruh, jadilah diri sendiri dengan versi terbaik diri kita
Banyak remaja hanya karena ingin masuk dalam suatu kelompok pertemanan atau genk tertentu, memaksakan dirinya untuk mengikuti standar gaya hidup teman-temannya. Misalnya, dengan latar belakang keluarga yang kurang mampu ia terpaksa harus memiliki barang-barang tertentu sebagai wujud adaptasi agar bisa diterima. Jika sudah begitu, siap-siaplah untuk menuai kecewa. Jangan sekali-kali menyalahkan teman-temanmu, salahkan dirimu kenapa mau memaksakan diri untuk masuk ke dalam komunitas yang menyangkali sejatinya dirimu.

2. Jujur & menghargai diri sendiri
Secara pribadi, kalau saya sudah telanjur berada dalam sebuah komunitas. Kalau teman-teman saya itu suka have fun dengan modal besar, saya akan menolak & jujur bahwa saya tidak mampu. Takut ditinggalkan? Sama sekali tidak. Justru saya merasa bersyukur karena tahu mana yang sebenarnya sejatinya teman atau hanya sekedar teman biasa. Jangan sedikit-sedikit bisa & iya padahal tidak mampu. Apalagi kalau sudah berlagak orang kaya, tidak bisa pakai baju kalau bukan merk tertentu & aslinya memang tidak mampu. Hadeeeh

Mereka boleh memutuskan pertemanan, karena itu memang hak mereka. Dengan bersikap jujur & terbuka, teman-teman yang memang memiliki hati yang tulus juga akan menghargai keberadaan kita plus nyaman berada di sisi kita, karena mereka tidak takut untuk merasa ditipu oleh orang yang sudah terbiasa menjadi dirinya sendiri. Ini merupakan modal besar kalau mau dipilih untuk dijadikan teman sejati. Tidak terpilih? Ya, bersyukur. Masih banyak orang yang tulus untuk dijadikan teman sejati, asal kita tidak hobby pilih-pilih teman.
Dan hanya di tengah-tengah orang tulus yang benar-benar membuat kita nyaman menjadi diri sendiri. Dan secara pribadi, tempat dimana orang-orangnya cenderung tidak menghargai perbedaan, adalah tempat dimana saya selalu berdiam diri. Lalu mengapa saya bertahan? Karena saya memiliki panggilan hidup di situ. Berdiam diri adalah cara saya tidak menyakiti orang lain yang memang masih susah untuk menghargai perbedaan.

3. Fokus mengasah kualitas diri & ikhlas berguna bagi orang lain
Penampilan, fisik & kekayaan bukan satu-satunya daya tarik untuk dijadikan teman. Keikhlasan untuk menolong orang lain melalui kelebihan kita adalah modal besar untuk memikat teman sejati. Kualitas diri meliputi SQ & EQ, bukan sekedar IQ. Percuma pintar kalau tidak punya sopan santun atau etika yang benar. Penghormatan terhadap diri kita tergantung bagaimana kita memperlakukan & menghormati orang lain.


4. Tidak pilih-pilih teman
Saya tidak menganjurkan untuk berteman dengan semua orang, baik yang jahat ataupun yang tidak. Tetapi sikapilah semua orang layaknya seorang teman, tentunya dengan perlakuan yang manusiawi. Untuk menetapkan seorang teman sejati, jadilah seperti nomor 1-3. Yang tetap tinggal itu adalah teman sejati. Tak perlu diragukan. Mereka yang memilih, bukan kita. Jadi ketika kita sudah dipilih oleh mereka, maka jangan tolak itu hanya karena dia memiliki ketidaksamaan dengan kita seperti tidak sama-sama kaya, cantik, ganteng, pintar dll. Kalau tak suka berada dalam list orang yang perlu pertimbangan besar untuk dijadikan teman, maka jangan pilih pilih teman.


5. Menjadi Teman Terbaik

Jika kita sudah dipilih menjadi teman, maka terima saja ketulusan mereka & jadilah teman terbaik meski yang mereka punya hanya ketulusan untuk menerima & menghargai diri kita sedemikian rupa. Daripada capek-capek cari teman mending yang datang menawarkan ketulusan untuk berteman yang dijadikan teman, daripada cari & dapat yang ternyata  tidak menghargai sejatinya diri kita. Iya toh? Kalau terpaksa harus menentukan teman sejati, ya pilih teman yang baik hati & tulus. Daripada ujung-ujungya update status kayak gitu karena salah pilih. Perlakukan semua orang layaknya seorang teman, tetapi teman sejati adalah pilihan, biar tidak kecewa berat. Kalau sudah memilih, jangan juga berharap terlalu berlebihan. Ikhlas saja menjadi teman.


Intinya, lihat mana yang bisa menghargai perbedaan. Dan akhirnya, kata Opa Tjiptadinata Effendi: “Jadilah orang baik. Jika tidak bisa menjadi orang baik, paling tidak janganlah jadi orang yang munafik”. Karena teman sejati tahu mana opini & perbedaan, dan yang mana hubungan pertemanan. Sehingga opini yang berbeda & kehidupan yang berbeda bukanlah alasan untuk memutuskan hubungan pertemanan.
Asal jangan teman makan teman. Wajar itu jika dijauhi. Kalau segala macam punya teman diembat, lama-lama suami atau istrinya juga diembat. Aaaaiiisss.. Tapi kalau sudah punya ke-5 poin di atas, dijamin sudah termasuk teman sejati dan semoga juga mendapat teman sejati. Amin. Karena untuk mendapatkan teman sejati, hanya dengan cara menjadi teman yang berkualitas teman sejati.

Perempuan, Kerja, dan Rumah Tangga

Seiring perkembangan zaman yang semakin maju sekarang kesetaraan gender bukan lagi suatu hal yang aneh. Jangan heran ketika melihat seorang perempuan yang mencari nafkah untuk keluarga sedangkan suaminya mengurusi urusan rumah tangga seperti mengasuh anak terutama di kota-kota besar.
Wanita karir begitulah mereka disebut, yang terbayang di benak saya ketika mendengar wanita karir adalah wanita yang super sibuk dengan pekerjaannya dan jarang punya waktu untuk keluarganya. Bisa dibayangkan, bagaimana dengan anak-anak dan suaminya, siapa yang mengurus?. Kebanyakan wanita karir tentunya akan menyerahkan pekerjaan rumah ke pembantu rumah tangga dan baby sitter  untuk merawat sang buah hati.
Wanita karir otomatis jarang mempunyai waktu untuk keluarga apalagi mereka yang merupakan seorang eksekutif muda. Tidak heran banyak wanita karir yang kehidupan rumah tangganya kurang harmonis karena banyak menghabiskan waktu di luar rumah dan hanya punya sedikit waktu di dalam rumah. Apabila mereka yang sudah memiliki anak apalagi yang masih kecil tentu akan mengurangi kedekatan psikologis antara ibu dan anak, menurut saya itu tidak akan bagus untuk perkembangan seorang anak karena bagaimanapun kasih sayang dari seorang ibu adalah yang paling utama.
Seorang wanita karir menurut saya rawan akan melakukan perselingkuhan mengingat mereka banyak menghabiskan waktu di luar rumah apalagi sang suami juga merupakan orang yang sibuk pasti hubungan verbal antara suami dan istri menjadi terganggu.
Pada dasarnya saya setuju seorang perempuan bekerja tapi dengan catatan tidak mengganggu pekerjaan dan tugas sebagai seorang istri serta ibu dari anak-anaknya. Tidak ada yang salah dengan kesetaraan gender, tapi tidak semuanya juga bisa disetarakan karena bagaimanapun tidak selamanya peran laki-laki dan perempuan bisa sejajar sebab dalam berbagai hal peran laki-laki lebih dominan.