Media Informasi Pemuda Peduli Dhuafa Gresik (PPDG) || Website: www.pemudapedulidhuafa.org || Facebook: Pemuda Peduli Dhuafa Gresik || Twitter: @PPD_Gresik || Instagram: Pemuda Peduli Dhuafa Gresik || Email: ppd.gresik@gmail.com || Contact Person: 0838-3199-1684 || Nomor Rekening: 0335202554 BNI a.n. Ihtami Putri Haritani || Konfirmasi Donasi di nomor telepon: 0857-3068-6830 || #SemangatBerkarya #PPDGresik

Sabtu, 28 Juni 2014

Ramadhan: Bulan Penuh Berkah (Sebuah Refleksi)

Setelah melewati Bulan Rajab dan Sya’ban, penanggalan bulan menurut kalender Hijriyah. Bulan Rajab dan Sya’ban adalah bulan yang di dalamnya mengandung keberkahan. Kini umat Muslim akan menyambut Bulan yang di dalamnya terdapat berbagai keistimewaan yang luar biasa dibanding dengan bulan-bulan lainnya. Lebih tepatnya umat muslim akan berpuasa selama satu bulan penuh. dengan menahan seluruh yang dilarang-Nya, dan mengerjakan apa yang diperintahkan-Nya. Janji pahala yang berlipat didalamnya ketika seseorang mengerjakan banyak kebaikan. Dan akan bernilai pahala jika semuanya diniatkan untuk semata-mata menggapai ridha Allah swt.
Dalam dunia ke-pesantrenan, seluruh kegiatan yang ada pada bulan Ramdhan tidak asing lagi akan diisi dan dipenuhi dengan berbagai pengajian kitab kuning(Kutubutturats). Kitab Kuning, hanyalah sebuah istilah, pada hakikatnya kitab kuningadalah kitab-kitab karangan Ulama-ulama klasik (salafushaalih) yang sampai sekarang masih digunakan di pesantren-pesantren. Pengajian kitab ini bisa dibilang seharian penuh. dari kitab-kitab yang menguraikan penjelasan panjang lebar, sampai dengan kitab-kitab yang ringkas.
Uforia ini jelas dibarengi semangat para santri untuk menggali kitab-kitab yang akan di pelajarinya.  Ini diantaranya keistimewaan bulan Ramdhan yang terjadi di pesantren. Rasanya sebagai pembelajar yang selalu haus akan ilmu-ilmu keagamaan. rutinitas ini nyaris tidak terasa capek atau pun kelelahan. karena semuanya diniatkan lillahi ta’ala,hanya untuk menggapai ridha  Allah semata.
Berbeda dengan masyarakat muslim keseharian. Dunia santri dengan rutinitas pengajiannya, sedangkan masyarakat muslim keberkahan tersebut bisa dirasakan pada saat ingin berbuka puasa. Banyak dari para pedagang-pedagang yang menjajakan makanan-makanan untuk berbuka puasa (Ta’jil) yang mendapatkan keberkahan dari Ramadhan. makanan ta’jil terkadang selalu menarik untuk menu buka puasa, dan ini yang selalu dicari oleh konsumen untuk berbuka puasa. Alhasil, tempat-tempat yang biasanya menjajakan makanan ta’jil untuk berbuka selalu padat dan ramai di banjiri oleh masyrakat.
Walau demikian, semoga keseharian yang dilakukan masyarakat tersebut tidak meninggalkan esensi dari bulan ramdhan itu sendiri, yaitu meningkatkan kadar keimanan, ketakwaan, karena ramdhan adalah bulan pembakaran, yakni pembakaran teruntuk dosa-dosa yang telah diperbuat sebelumnya. seperti yang diungkapkan sebuah Hadits Nabi saw.
من صام رمضان إيمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه
barang siapa berpuasa Ramdhan, dengan kondisi keimanan dan hanya mengharapkan pahala Allah, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.

Ramadhan Merajut Ukhuwah Islamiah

Ada yang tidak berubah saat datangnya bulan Ramadhan.Khususnya di Indonesia kita akan selalu dihadapkan pada kenyataan bahwa terdapat perbedaan pendapat mengenai akhir bulan Sya’ban dan awal bulan Ramadhan.Perbedaan ini utamanya mengenai metode yang digunakan didalam menentukan awal puasa.Pemerintah menggunakan metode Rukyat yaitu mengamati kenampaan dari hilal.Dilain pihak Muhammadiyah menggunakan metode Hisab yang menggunakan perhitungan matematis.Karena perbedaan kedua metode inilah maka seringkali kita mengalami perbedaan awal puasa dan hari raya idul fitri.
Tetapi yang patut diapresiasi adalah sikap yang ditunjukkan oleh para petinggi ormas Islam dan pemerintah yang membuat perbedaan itu sebagai sebuah rahmat dan tidak perlu untuk di jadikan alasan untuk saling menyalahkan. Dan nilai-nilai persaudaraan yang telah diperlihatkan oleh tokoh-tokoh Islam saat dilangsungkannya sidang isbat tadi malam paling tidak telah memberi angin segar tumbuhnya nilai-nilai persaudaraan didalam Islam khususnya di Indonesia.Dan sebagai Negara dengan mayoritas penduduknya beragama Islam , maka dengan menjaga Ukhuwah Islamiah dalam Negara ini secara tidak langsung telah berupaya untuk menjaga semangat persatuan dan kesatuan bangsa.
Dalam banyak kesempatan pernah digulirkan harapan untuk menyatukan penentuan awal Ramadhan.Harapan yang akan membuat pelaksanaan puasa dan hari raya berlangsung secara bersamaan.Namun hal itu sebenarnya bukanlah hal yang penting utamanya dalam mewujudkan konsepsi Ukhuwah Islamiah.Hal yang penting sebenarnya adalah bagaimana kita menyikapi perbedaan itu dengan bijaksana tanpa harus menyalahkan atau merasa paling benar.Karena hal yang menakjubkan dari Ukhuwah Islamiah itu bukan saat Umat Islam bersatu karena persamaan tetapi Umat Islam bersatu dengan perbedaan.Dan di Indonesia hal ini adalah sebuah keunikan tersendiri yang walaupun pada hari ini konsep itu perlahan tetapi pasti mulai terkikis.
Dalam kehidupan yang lebih luas kita melihat bagaimana perbedaan dalam Islam telah membuat terjadinya banyak perselisihan.Sunni melawan Syiah adalah salah satu contohnya.Perbedaan antara keduanya telah menjadikan Negara timur tengah yang merupakan basis utama agama islam menjadi terpecah belah.Konflik demi konflik semakin membesar yang saya kira sangat berbahaya bagi keberlngsungan kehidupan beragama Islam.Parahnya konflik sektarian itu selalu ditunggangi oleh kepentingan-kepentingan politik yang mengarah pada perebutan kekuasaan.
Di Indonesia ,konflik sektarian utamanya yang mengangkat isu Suni-Syiah pernah terjadi di daerah Jawa Timur yaitu kawasan Sampang , Pasuruan dan Jember.Hal ini tentu menjadi sebuah keprihatinan karena hal ini terjadi di Jawa Timur dimana daerah ini merupakan basis ormas Nahdatul Ulama yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai toleransi dalam beragama.Pertanyaan besar akan muncul ,”Di daerah yang dihuni oleh pengikut-pengikut ormas yang toleran saja terjadi perselisihan terus bagaimana dengan daerah lainnya?”
Baginda Nabi pernah bersabda dalam sebuah hadis yang mengingatkan umat akan perpecahan yang terjadi di dalam tubuh Islam dimana dalam perpecahan itu hanya satu golongan yang masuk surga yaitu golongan “Jamaah”.Untuk sementara kita berselisih tentang siapa sebenarnya golongan Jamaah tersebut.Masing-masing pihak kemudian membuat klaim atas golongan tersebut.Dan seperti yang sudah-sudah , karena merasa paling benar maka kemudian dengan sangat berani menyebut golongan yang tidak sepaham dengan sebutan golongan sesat , kafir dsb.Padahal konteks dan keprihatinan yang mungkin ingin disampaikan oleh Baginda Nabi adalah perpecahan itu sendiri.Karena bagaimanapun musuh terbesar umat Islam adalah perpecahan di tubuh Islam itu sendiri.
Karenanya boleh jadi golongan yang dimaksudkan Baginda Nabi adalah golongan-golongan yang tidak mau berpecah belah salah satu contohnya adalah seperti halnya apa yang telah dilakukan oleh tokoh-tokoh Islam tadi malam.Wallahualam.
Semoga Ramadhan kali ini memberi berkah dan mengokohkan semangat Ukhuwah Islamiah utamanya di Republik tercinta kita ini.
Marhaban ya Ramadhan…Selamat menunaikan ibadah puasa bagi semua saudara saya sesama Muslim….  

Jumat, 27 Juni 2014

Ritus Ramadhan Indonesia Rasa Jawa

Bosan berkomentar politik, apalagi melihat berita televisi nasional di Indonesia, hari ini Jumat 27 Juni 2014 ummat Islam di Indonesia akan menyambut bulan Ramadhan (wulan puoso). Sejenak kita move on dari gejolak caci maki politik yang tidak merubah kehidupan kita kedepan.
Saya akan membahas bukanlah dari ayat-ayat Qur’an dan hadis-hadis berkenaan dengan wajibnya puasa dan amalan-amalan yang dianjurkan. Studi fenomenologis bukan pula semata-mata puja-puji dan sugesti untuk memborong segenap kebajikan yang diiming-imingi selama Ramadan.
Hassan Hanafi—intelelektual Mesir yang suka mengunakan pendekatan ini dalam studi agama—mengatakan bahwa studi fenomenologis Ramadan merupakan upaya menyelidiki fakta Ramadan sebagaimana dipraktikkan suatu masyarakat tertentu (ramadhân fil mumârasât al-ijtimâiyyah). Dengan pendekatan ini, kita menguji sejauh mana unsur-unsur yang normatif dalam agama jadi bermakna dan diwujudkan dalam kenyataan di suatu masyarakat. Dengan itu pula, kritik sosial jalan dan mendapat ruang
Di bulan Rhamadhan ini. Tuhan betul-betul maha pemurah. Derajat pahala Ia lipatgandakan(dosa pun demikian). Setan-setan di kerangkeng. Itulah kenapa semua orang Islam sepakat, Ramadan adalah bulan penuh berkah. Tapi sebagai seorang mahasiswa antropologi agama, Saya mencoba tidak berhenti di sini. selain penuh berkah, Ramadan di Jawa adalah bulan yang penuh ritus khususnya Cirebon, pada umumnya Jawa.
Ramadan di Jawa adalah sebuah rentang waktu yang luar biasa unik di mana sejumlah ritus dirayakan secara terus-menerus tanpa putus dan dinikmati dengan penuh kegembiraan dan sukacita. Dua ciri utama itulah yang membuat Ramadan di Jawa punya keunikan yang sukar ditemukan bandingannya di tempat mana pun.
Orang Jawa sudah memulai perayaan Ramadan sejak setengah bulan sebelum bulan penuh berkah itu datang. Sejumlah ritus digelar guna menyambut Ramadan: dari acara nisfu syaban, arak-arakan keliling kota, bersih desa, ziarah di kuburan, hingga padusan.
Di Cirebon ada kegiatan Munggahan, ada yang berziarah ke makam wali, ada yang Ziarah ke Maqam orang tua, syekh atau ulama penyebar Islam. Bisa juga dengan cara mandi di sungai, mandi di laut bahkan, ada yang membahagiakan kedatangan bulan Ramadhan dengan cara makan bersama-sama (babancakan) di pegunungan, di sawah, dan bukit-bukit.
Bagi Muslim di Indonesia, khususnya di  Cirebon Jawa Barat, munggah adalah hari terakhir di bulan Ruwah,.Sehari sebelum memasuki bulan penuh suci dan penuh berkah. Bagi mereka, penyambutan terhadap bulan Ramadhan atau munggahan tak kalah pentingnya dengan beribadah puasa itu sendiri.
Namun, kita sering lupa mempertanyakan: adakah kata munggah dalam kosakata Arab, negeri kelahiran Islam dan bahasa Al Quran itu? Atau ada kah aturan dan kewajiban umat Muslim untuk menggelar Munggahan? Tapi tak perlu seserius itu dalam menyikapi Munggahan sebagai fenomena budaya masyarakat Islam Cirebon. Karena tujuan dari perayaan adalah bentuk nyata dari rasa syukur atas kehidupan. Begitu pula dengan Munggahan.Anggap saja ini sekadar berbagi.
Seperti yang dilakukan di lingkungan Keraton Kasepuhan Cirebon, Jawa Barat, yang memiliki tradisi unik yaitu tradisi drugdad atau menabuh bedug yang merupakan peninggalan Wali Songo sebagai tanda dimulainya puasa. Tradisi drugdag adalah tradisi menabuh bedug untuk memperingati atau menyambut bulan suci ramadhan yang sudah dilakukan oleh para wali dalam menyiarkan agama Islam di Cirebon, Jawa Barat. Sampai dengan saat ini, Keraton Kasepuhan Cirebon masih setia menjalankan tradisi drugdad yang dilakukan H-1 puasa atau tepatnya pada hari Jumat sore ini.
Tradisi drugdad dilakukan dengan memukul bedug di dalam masjid Keraton Kasepuhan sehabis salat Asar atau pada sore hari menjelang malam sebagai tanda bahwa esok hari kaum muslim akan shaum. Uniknya, dalam hal menabuh drugdag atau bedug tak bisa dilakukan oleh sembarang orang, karena harus dilakukan oleh keturunan dari Keraton Kasepuhan.
Tradisi drugdad yang sudah dilakukan ratusan tahun ini, semata mata hanya untuk memperingati atau menyabut bulan suci ramadhan dan sekaligus memberitahu kepada warga sekitar keraton bahwa besok sudah akan memulai menjalankan ibadah puasa.
Pesantren Annadamah salah satu pesantren tertua di Jawa Barat ada juga tradisi drugdag atau lazim disebut dengan dugdag ada sebuah persamaan dengan drugdag di keraton Cirebon, yaitu di pukul satu hari menjelang puasa selepas salat Ashar.
Di Annadamah Pesantren dugdag sebagai sebuah petanda esok adalah puasa Rhamadhan, dugdag ini di pukul oleh para santri, jamaah saat ikut jamaah di Msjdid Agung Annadamah Pesantren Cirebon. Tentunya hal ini dilakukan atas perintah dari sang kiai sepuh di pondok Annadamah Pesantren.
Memukul beduk di masjid tidak hanya sekadar memberitahukan waktu salat telah tiba.Melainkan juga sebagai sarana komunikasi pengurus masjid denganmasyarakat untuk mengumumkan awal tibanya bulan Ramadan. Untuk mendapatkan nada yang enak didengar, setiap 20 menit sekali pemukul beduk bergantian memukul beduk. Gendang besar itu dibunyikan dengan tiga nada pukul yang berbeda-beda. Masing-masing nada memiliki kelainan sehingga suara beduk yang dibunyikan pada tengah malam itu memiliki kekhasan tersendiri
Ketika Ramadan datang, ritus-ritus lain dirayakan dengan intensitas yang makin kencang: acara buka puasa bersama, takjilan, tadarusan, taraweh, dugderan membangunkan sahur, nuzulul qurían, Pasaran, dll. Media massa, baik cetak maupun elektronik, juga merayakannya. Koran-koran menyediakan kolom khusus Ramadan. Acara tivi dipenuhi nuansa Ramadan, mulai sinetron Ramadan, lagu-lagu Ramadan, kultum, acara sahur.
Sebulan sebelum bulan Rhamadhan , dulu di kampung tersebut beberapa anak kecil, dewasa, baik laki-laki maupun perempuan . mereka mandi dengan air dari sumur terbuka, atau lazim di sebut dengan “Adus pitung sumur’. Mereka mandi selepas salat Ashar di hitung dari satu sumur ke sumur lainnya hingga jumlah tujuh sumur.
Yang juga menjadi khas di Cirebon adalah peran perempuan selama Ramadan. Tidak seperti di Maroko(Geertz, Islam Maaroko), misalnya, perempuan di Jawa mengikuti taraweh dengan leluasa, bahkan separuh jemaah taraweh biasanya perempuan. Peran perempuan juga menonjol dalam ritus- ritus lain, seperti selametan, ruwahan.
Ini sekaligus membantah pandangan umum peneliti asing yang kerap menganggap selametandan ruwahan adalah ritus milik laki- laki. Yang juga khas Jawa, Ramadan tak hanya jadi milik orang dewasa. Anak-anak ikut memiliki Ramadan. Jangan heran jika kita lihat anak-anak bisa leluasa bermainmain dan berlarian ke sana ke mari selama taraweh berlangsung, sesuatu yang tak akan kita temukan di Masjidil Haram, misalnya.
Orang dewasa (orang tua) tampak membiarkannya dan seakan ingin menanamkan kesan yang membekas kepada anak-anak tentang suasana Ramadan (semua orang di Jawa pasti punya kenangan manis tentang Ramadan di masa kecilnya). Semua itu dicatat dengan baik oleh anak-anak itu di buku catatan yang kelak akan diserahkan kepada guru agamanya di sekolah.
Ketika Ramadan berakhir, tidak berarti perayaan ritus itu usai. Sejumlah ritus seusai Ramadan masih menunggu. Dari mulai ritus mudik (yang oleh Cak Nur sebut sebagai puncak pengalaman sosial keagamaan orang Indonesia), takbiran keliling, shalat id, nyekar, sungkeman, salam tempel, makan ketupat, hingga enam hari puasa Syawal. Kemudian di susul dengan lebaran ketupat atau lebaran Syawalan.
Dengan memusatkan perhatian pada bagaimana ritus peribadatan itu dilakukan bagaimana jiwa Islam di kepala dan hati orang Jawa terlalu dalam untuk disepelekan sebagai melulu pengaruh ajaran Hindu-Budha seperti yang dituduhkan penganut Geertzian. (Nilai-nilai) Islam, dalam pengalaman pengamatan saya ini , tampak kuat. Seperti yang juga dikatakan Mark Woodward, Islam adalah kekuatan utama dalam iman dan ibadah orang Islam di Jawa dan bahwa Islam membentuk watak hubungan sosial dan keseharian di semua lapisan masyarakat Jawa.

Euforia Menyambut Ramadan

Euforia menyambut Piala Dunia jangan mengalahkan euforia kita sebagai Muslim menyambut Piala akhirat, berupa surga Allah Ta’ala melalui amalan di bulan Ramadan. Piala dunia boleh, piala akhirat lebih penting. Dan akhirat itu lebih baik bagimu dari pada dunia (QS Ad Dhuha: 4)
SEBENTAR lagi, Ramadan tahun ini menghampiri kaum Muslimin. Jiwa yang dipenuhi keimanan akan menyambutnya dengan penuh pengharapan. Sebaliknya, akan menjadi sumber kegelisahan bagi jiwa yang tak pernah menyadari betapa istimewanya Ramadan. Letak persoalannya, sejauh mana ilmu dan tingkat keimanan seorang insan.
Dalam rangka penyambutan Ramadan demi tercapainya kualitas ibadah puasa (shiyam) yang diharapkan, paling tidak kita (umat Islam) harus memahami dua persoalan. Pertama, pentingnya mempersiapkan diri untuk pelaksanakan puasa, di antaranya dengan ilmu pengetahuan. Kedua, pentingnya memahami makna penyambutan (tarhib) Ramadan.

Persiapan ilmu
Ketepatan dalam beramal dan sikap yang benar menyambut Ramadan sangat ditentukan oleh ilmu yang kita miliki. Sebab itu, ilmu pengetahuan merupakan dasar utama berdirinya amalan. Ibnu Taimiyah menyatakan Al’ilmu baabun likulli ta’abbuddin, ilmu adalah pintu dari segala ibadah. Imam Bukhari menulis satu bab dalam kitab hadisnya dengan Al’ilmu qablal kaul wal amal, yang berarti berilmu sebelum berkata dan beramal.
Paling tidak kita memahami jawaban formula 5W+1H untuk pelaksanaan ibadah puasa Ramadan yang penuh makna.Pertama, what. Apa itu puasa? Apa dalil dan hukum puasa? Apa rukun dan syarat puasa? Apa yang membatalkan puasa? Apa hikmah dan manfaat puasa?
Kedua, why. Mengapa kita harus berpuasa? Jawaban pertanyaan inilah yang menjadi landasan setiap Muslim untuk melaksanakan ibadah puasa. Ketiga, when. Kapan kita harus puasa serta memulai dan mengakhiri puasa? Keempat, who. Siapa yang diwajibkan dan tidak diwajibkan, bahkan diharamkan berpuasa? Kelima, where. Saat melaksanakan puasa di bulan Ramadan, dimana kebanyakan kaum Muslimin seharusnya berada?
Terakhir H yang berarti how (bagaimana?) Bagaimana seharusnya umat Islam berpuasa? Di antara jawabannya dijelaskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam dalam sabdanya: “Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadan dengan iman dan mengharap pahala dari Allah maka dosanya di masa lalu akan diampuni” (HR Bukhari dan Muslim).
Dengan demikian, cara berpuasa kaum Muslimin adalah dengan iman yang dibangun di atas ilmu pengetahuan. Dan ihtisaban, yakni berpuasa dengan penuh perhitungan dan mengharapkan pahala di sisi Allah Ta’ala.
Jika pertanyaan 5W dan 1H di atas dijawab berdasarkan dalil-dalil yang sahih, merujuk kepada keterangan ulama dan buku-buku agama yang muktabar (terpercaya), diyakini dan dilaksanakan sepenuh hati, maka setiap Muslim akan merasakan nikmatnya dekapan pelaksanaan puasa yang penuh kualitas, berkah dan maghfirah.
Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam mengingatkan: “Betapa banyak orang yang puasa, tetapi yang didapatnya hanyalah rasa lapar (saja). Betapa banyak orang yang bangun (tengah malam) beribadah, tetapi yang didapatnya tidak lebih terjaganya mata” (HR An Nasa’i, Ibn Majah, dan Hakim). Persiapan ilmu sangat penting agar amalan puasa tak salah dan sia-sia.

Tarhib Ramadan
Ada beberapa makna atau pesan dari kegiatan tarhib atau menyambut bulan Ramadan. Pertama, ditinjau dari psikologi yang menyambut, jelas menunjukkan suasana hati yang penuh harap dan bahagia. Sebelum Ramadan datang RasulullahShallallahu ‘Alaihi Wassalam memperbanyak puasa sunnah dan berdo’a: Ya Allah, hantarkan diriku kepada bulan Ramadan dan hantarkan Ramadan kepada diriku serta terimalah (amalan-amalan) Ramadan dariku (HR Abu Dawud).
Kedua, dari sisi yang disambut yakni Ramadan, jelas mengindikasikan keistimewaan dan kemuliaan. Banyak gelar yang disematkan kepada Ramadan. Di antaranya, ia merupakan bulan yang dipilih Allah Ta’ala di mana hari-harinya diwajibkan kepada manusia untuk mempuasakannya. Maka ia disebut syahrul shiyam.
Pada bulan Ramadan permulaan ayat-ayat suci Alqur’an diturunkan (lihat QS Albaqarah: 185). Dan malaikat Jibril menemui Rasulullah untuk melakukan tadarrusAlqur’an bersama di bulan Ramadan. Maka Ramadan disebut syahrul Qur’an dantilawah.
Pada bulan Ramadan keberkahan diturunkan, dosa diampuni, pahala amalan dilipatgandakan, pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu, seperti dijelaskan dalam HR. Muslim. Bahkan, Allah Ta’ala akan menyediakan pintu khusus surga untuk dimasuki hanya bagi hamba-Nya yang berpuasa. Pintu surga tersebut dinamakan ar Royyan, dijelaskan dalam HR Bukhari dari Sahl bin Sa’ad. Istimewanya lagi, Allah menyediakan satu malam di bulan Ramadan yang nilai keutamaannya sama dengan 1000 bulan, yakni lailatul qadar (lihat QS. Al Qadr: 1-3).
Ketiga, adanya tarhib menunjukkan kesungguhan atau komitmen dalam menyikapi Ramadan. Orang yang tak berminat dengan Ramadan tak peduli dengan kedatangan Ramadan. Oleh sebab itu, tarhib Ramadan dimaknai sebagai kesungguhan, usaha persiapan diri, penetapan ulang langkah dan tujuan, dan mengokohkan azam menyikapi kedatangan Ramadan.
Memperbarui motivasi dan komitmensangat penting dalam mengawali pekerjaan. Karena ini akan menentukan kualitas kerja dan kesuksesan. Dalam agama disebut sebagai niat, penentu diterima atau ditolaknya amalan. Rasulullah bersabda:“Sesungguhnya amal itu dengan niat, dan setiap orang mendapat balasan amal sesuai dengan niatnya” (HR Bukhari).
Sikap menyambut Ramadan yang didasari dengan ilmu dan iman sangat penting bagi seorang Muslim. Tidak ada yang bisa menjamin kita bisa bersua dengan Ramadan tahun ini. Jika Allah menakdirkan nafas kita berhenti sebelum Ramadan kita masuki, kita berharap pahala bahagia tarhib Ramadan di bulan Sya’ban ini dihitung menjadi investasi di akhirat nanti. Wallahu A’lam.

Kamis, 26 Juni 2014

Isak Tangis Uni dalam Ucapan Terimakasihnya

Uni tak berharap apa-apa ketika tim ACT datang berkunjung kerumahnya seminggu yang lalu. Ia hanya berujar penuh syukur kepada Allah, karena masih ada yang peduli dengan nasibnya. Ia hanya terus berdoa seraya mengucapkan alhamdulillah berulang kali.
Rabu, 25 Juni 2014, Tim Relawan ACT kembali menyambangi rumahnya untuk berbagi bantuan dari donatur. Uni, nampak kaget menerima kedatangan kami yang disertai tokoh masyarakat Desa Cikoneng. Tak sengaja ia berlinangan air mata dihadapan kami. Ia ucapkan terima kasih berulang kali kepada ACT yang telah membantu diri dan keluarganya.
Pria yang berpenghasilan rata-rata 8 ribu rupiah perhari ini, sedikit dapat bernapas lega. Bantuan yang diberikan ACT akan dibelikannya 2000 buah bata. “Saya tidak ingin menghabiskan uang bantuan ini untuk konsumsi kebutuhan sehari-hari. Saya ingin istri dan anak-anak saya tak lagi terkena air hujan. Maka dari itu, meski sedikit, saya akan memulai untuk membangun rumah,” ungkapnya.
Meski sulit, uni terlihat bertekad. Ia tak menyalahkan penduduk sekitar, karena kondisinya hampir sama dengan yang dia alami. Bahkan dirinya akan berusaha semaksimal mungkin untuk mencari rizki agar dapat menyicil bahan bangunan yang kelak akan disatukan untuk mendirikan bangunan rumah. Tidak muluk-muluk yang diharapkan, asal anak dan istrinya tidak lagi terlantar dan aman ketika alam tidak mendukung kondisinya.

Sudah 4 Tahun Tak Kunjung Sembuh, Ibu Hamil di Pandeglang Berpenyakit Kaki Gajah

Adalah ibu Suhartini warga kampung Kaduguling Desa Medong Kecamatan Banjar Pandeglang mengalami penyakit yang menahun. Sudah empat tahun lebih penyakit kaki gajah dideritanya. Suhartini mengira penyakit ini hanya penyakit biasa yang mudah disembuhkan. Tapi ternyata tidak, kenyataan berkata lain.
Ia bersama suaminya Juhra sudah berusaha untuk menyembuhkan penyakit itu. Seluruh tenaga kesehatan yang ada di tingkat desa sampai kabupaten sudah pernah di datanginya. Namun hasilnya nihil. Bahkan ia sudah berulangkali datang Ke RSUD pandeglang untuk dirawat, tapi tidak membuahkan hasil.
“Saya sudah menemui seluruh tenaga kesehatan yang ada di puskesmas, bahkan sudah kedokter. Dan sudah beberapa kali ke rumah sakit, kata dokter diagnosanya hanya darah tinggi. Tapi kenapa jika darah tinggi hanya satu kaki yang bengkak dan tidak sembuh-sembuh. Akhirnya, kami hanya rawat dirumah dengan alakadarnya. Karena kami sudah hampir kehilangan harapan dengan keterbatasan biaya,” Terang Juhra.
Lanjut Juhra, Istrinya kini sedang hamil sembilan bulan. Saya sangat mengkhawatirkan kondisi ini.
“Saya sedih sekali, karena istri saya juga sedang hamil 9 bulan. Sebentar lagi ia melahirkan. Saya memikirkan bagaimana nanti ia dapat mengurus bayinya sedangkan kondisi tubuhnya sedang tidak normal.”

Sebagai informasi, kasus ini diketahui ketika ACT dan Yayasan Kerja Bakti bekerjasama melaksanakan pelayanan kesehatan gratis di desa Cibodas Kecamatan Banjar Pandeglang Banten Selasa, 24 Juni 2014. Ibu Suhartini datang ke pengobatan gratis ini karena mendapatkan informasi dari masyarakat Desa Cibodas. Desa Cibodas dan Desa Medong tidak terlalu jauh jaraknya.

Rabu, 25 Juni 2014

Perbedaan Awal Ramadhan, Keragaman Dalam Menjalankan Ibadah Puasa

Beberapa hari lagi umat muslim akan menjalani ibadah puasa ramadhan. Setiap menjelang awal ramadhan Pemerintah mengadakan sidang isbat (penetapan) yang dihadiri oleh para ulama, ahli astronomi dan perwakilan ormas, yang memiliki kompetensi dalam hisab dan rukyat.
Para ahli memberikan masukan dan informasi tentang awal bulan (Ramadhan atau Syawal) kepada Menteri Agama. Hasil sidang ini dipergunakan oleh pemerintah untuk mengeluarkan keputusan menentukan awal ramadhan.
Dalam beberapa referensi, istilah hisab secara harfiah berarti “perhitungan”. Istilah hisab sering dipergunakan dalam ilmu falak (astronomi) untuk memperkirakan posisi matahari dan bulan terhadap bumi.
Posisi Matahari menjadi penting karena menjadi patokan bagi umat islam untuk menentukan masuknya waktu shalat. Posisi Bulan diperkirakan untuk mengetahui terjadinya hilal sebagai tanda masuknya periode bulan baru dalam kalender Hijriyah.
Saat ini metode hisab telah ada aplikasi software yang cukup praktis untuk memperhitungkan dengan menggunakan komputer yang presisi dan akurasinya cukup tinggi.
Rukyat (pengamatan) merupakan aktivitas mengamati visibilitas hilal, yakni penampakan bulan sabit yang pertama kali tampak setelah terjadinya ijtimak atau disebut konjungsi geosentris, peristiwa dimana bumi dan bulan berada di posisi bujur langit yang sama jika diamati dari bumi.
Rukyat dapat dilakukan dengan cara melihat secara langsung (mata telanjang) maupun dengan menggunakan alat bantu optik seperti teleskop.
Adanya sidang isbat (penetapan) yang dilakukan pemerintah, idealnya keputusan tersebut diikuti oleh rakyatnya. Pemimpin yang amanah wajib diikuti. Namun seringkali penetapan yang telah dilakukan oleh pemerintah tidak serta merta diikuti oleh sebagian kelompok masyarakat.
Beberapa kelompok jamaah di beberapa tempat di Indonesia bahkan menjalankan ibadah shalat taraweh dan menunaikan ibadah puasa mendahului keputusan pemerintah.
Saya tidak mengkritisi cara penentuan awal ramadhan oleh pemerintah, karena saya bukan seorang ahli isbat ataupun ahli falak. Idealnya satu negara menggunakan satu jadwal yang sama!
Terkait perbedaan awal ramadhan, jawaban yang paling bijak yaitu menyatakan: Perbedaan adalah rahmatan lilalamin. Semua pihak harus saling menghormati awal ramadhan karena ibadah puasa dilandasi atas keyakinan masing-masing umat.
Terpenting pemerintah dapat memfasilitasi setiap umat beragama yang akan menjalankan ibadahnya. Dan menghimbau meningkatkan ketakwaan, toleransi dan kerukunan antar umat beragama. Tidak kalah penting tutup tempat-tempat hiburan yang mengganggu kesucian bulan ramadhan.
Kita tidak dapat menyalahkan yang satu benar atau yang satu salah. Sepanjang ijtihad kita benar tidak perlu khawatir terhadap perbedaan. Kalau kita benar mendapat dua pahala, seandainya kita salah tetap mendapat satu pahala. Kebenaran sejati hanya ada pada Yang Maha Kuasa. Selamat menunaikan ibadah puasa. Marhaban yaa ramadhan. Mohon maaf lahir batin.