Media Informasi Pemuda Peduli Dhuafa Gresik (PPDG) || Website: www.pemudapedulidhuafa.org || Facebook: Pemuda Peduli Dhuafa Gresik || Twitter: @PPD_Gresik || Instagram: Pemuda Peduli Dhuafa Gresik || Email: ppd.gresik@gmail.com || Contact Person: 0838-3199-1684 || Nomor Rekening: 0335202554 BNI a.n. Ihtami Putri Haritani || Konfirmasi Donasi di nomor telepon: 0857-3068-6830 || #SemangatBerkarya #PPDGresik

Kamis, 29 Mei 2014

Menteri Agama Harus dari Ormas Tertentu?

Memangnya Menteri Agama harus dari ormas Islam tertentu atau lebih ekstrim dari partai tertentu? Terus, kalau Menteri Agama bukan dari ormas yang diikutinya, apakah mereka mau dipimpin dengan tulus ikhlas?.
Saya sebenarnya risih dengan isu ini. Kenapa Islam harus dikotak-kotakan dalam sekat-sekat ormas? Bahkan, saya pernah mendengar ada ormas Islam yang mengkafirkan umat Islam lain yang tidak menjadi anggota ormasnya. Soal perbedaan bacaan sholat, penentuan waktu lebaran dan isu-isu yang tak fundamental dibesar-besarkan, saling menyalahkan dan bahkan sampai menjadi sumber konflik
Seiring dengan pilpres 2014 yang berlangsung dalam waktu dekat ini kok isu ini muncul lagi. Ada isu-isu yang menyebutkan bahwa Menteri Agama harus dari ormas ini. Kalau capres-cawapres ini menang maka Menteri Agamanya pasti dari ormas kita dan lainnya. Ketua Parpol menjamin Menteri Agama dari ormasnya. Cawapres menjadin Menag dari ormas tertentu  dan lainnya.
Liat neh contoh-contoh berita dibawah ini :
http://indonesiasatu.kompas.com/read/2014/05/26/1337414/pkb.jokowi-jk.terpilih.menteri.agama.dari.nu?utm_source=WP&utm_medium=box&utm_campaign=Khlwp
Saya kira ini isu basi. Ndak relevan lah dipakai untuk meraup masa dari kalangan ormas tertentu. Cuma memantik antipati dari ormas lain dan memperuncing perbedaan antara sesama umat islam.
Pertinyiinyiii? Kalau menteri Agama dari ormas loe, loe merasa menang gitu. Kalau Menteri Agama dari ormas, loe, loe yang paling bener? Wah berabe kalau gitu.
Menurut saya, yang terpenting untuk menjadi Menteri Agama adalah sosok yang jujur. Tahu bahwa yang haram ya haram titik nggak pake koma! Jadi, Menteri Agama kudu tahu kalau korupsi, kolusi dan nepotisme adalah perilaku yang haram dilakukan. Menteri Agama yang bisa mengurus haji dengan bener, bukanya uang haji dikorupsi atau menghajikan kroni-kroninya pakai uang negara.
Lanjut lagi, Menteri Agama yang berani dan tegas, sehingga bisa membuat institusi paling korup se Indonesia itu bersih dari korupsi. Menteri agama yang bisa menjaga kerukunan antar umat beragama. Menteri agama yang bisa buat orang mau nikah mudah dan murah. Menteri Agama yang bisa membuat penganut agama di negeri ini menjalankan agamanya dengan baik dan benar.
Jadi, janganlah diulangi menteri agama representasi dari Partai Politik tertentu, apalagi ketuanya. Apalagi kursi menteri agama dijadikan alat bagi-bagi kursi. Janganlah pula memilih Menteri Agama dengan dasar ormas tertentu lah. Kalau perlu, pilih Menteri Agama yang netral saja
Kemudian, ini yang penting juga, Menteri Agama juga bukan Menteri Agama Islam apalagi Menteri Ormas tertentu doang, Menteri Agama harus mengayomi semua agama. Ingat, ada 6 agama yang sudah diakui plus aliran kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

Politik Itu Kejam

Sudah sadar kan politik itu kejam!
Mungkin kekejamannya bisa lebih kejam dan sadis dari ratapan ibu tiri. (mungkin)
Lihat banyak forum, grup, komunitas, perkumpulan, apa saja namanya, dan bahkan wadah dimedia yang dulu suasananya normal, adem ayem dan menarik disimak, sekarang jadi ajang pamer prestasi, ajang membeberkan aib serta segala macam bentuk hal yang bisa jadi keburukan bagi oang lain.
Akhirnya wadah tersebut jadi basi! jadi benar-benar bikin pusing, jadi kacau balau, jadi sembrawut, jadi kaya benang kusut, pokoknya apapun hal yang paling kompleks bisa diibaratkan untuk keadaan yang terjadi pada wadah tersebut.
Walaupun sebenarnya ada yang senang memanfaatkan situasi seperti ini untuk ajang provokasi.fine jika hanya seperti, itu sudah jadi kondisi normal yang tak normal itu memaksakan pendapat orang harus setuju dengannya! *maksa banget
Jika begitukan jadi terlihat norak.
Kalo dari pandanganku sendiri, uruslah pribadimu dan fokus terhadapa target dan tujuanmu, jangan coba mengusik harapan dan target tujuan orang lain.
Politik sih politik, jika ada sebuah pendapat bahwa “politik itu kejam” itu mungkin benar.
tapi dengan hal seperti itu jangan menjadikan dirimu yang sedari awal adalah orang yang mungkin berharga dan baik dimata orang, berubah jadi “SOK” tau karakter pribadi orang lain, “SOK” jadi juri atas tindak-tanduk yang diperbuat orang lain, anda bukanlah seorang yang MAHA-MELIHAT dan MAHA-MENGETAHUI, terlebih lagi anda bukan, bahkan jauh dari kata MAHA-BERENCANA, anda bukan TUHAN!
Lalu jika nanti pilihan yang berdasarkan dari keputusan dari kesadaranmu yang sesadar-sadarnya tanpa paksaan dari pihak lain berhasil terpilih, namun dilain waktu ketika dia (sang pilihan) sengaja ataupun tidak sengaja atas perbuatan yang berujung pada suatu kesalahan yang mungkin saja fatal. bagaimana? masih ingin berkoar-koar “SOK” pro-ini atau pro-itu? masih dengan kepercayadirian 100% dengan sesuatu yang telah kamu putuskan secara sadar dan bijak itu?
Paling hanya bisa diam, melongo!
berharap ada sebuah alasan yang jelas atas hal tersebut itu,
berharap itu hanyalah sebuah fitnah!
berharap jika itu bukanlah real kesalahannya!
Heran?
Bingung?
Masih mikir?
Sama!

Rabu, 28 Mei 2014

Bangsa Indonesia Sangat Memprihatinkan

Saya sangat heran dengan bangsa Indonesia yang mengaku mayoritas beragama islam dan mengaku sebagai bangsa yang religius. Apa yang membuat saya heran dengan pengakuan tersebut adalah perilaku dan kebiasaan masyarakat Indonesia sangat bertolak belakang dengan Islam. Contoh yang sangat sering terlihat adalah; kebiasaan dari masyarakatnya yang jorok, membuang sampah sembarangan padahal ajaran islam salah satunya adalah harus menjaga kebersihan karena Tuhan semesta alam senang bila umatnya senantiasa hidup bersih terutama di mesjid dan mushola tempat untuk melakukan ibadah sholat. Kemudian lagi kebiasaan mencuri/mengambil barang milik orang lain, jangankan barang yang bersifat umum, misalnya property, bayi yang jelas merupakan barang khusus karena dimiliki oleh orang tuanya pun di Indonesia ini sering kita mendengar berita bayi hilang di curi oleh penculik bayi, padahal jelas-jelas bayi ini pemiliknya adalah orangtuanya sendiri dan tidak bisa dipindahtangankan seperti barang ke orang lain. Ck…ck..ck…coba bayangkan bagaimana pula dengan duit…yang juga sering menjadi barang yang dicuri meskipun jelas pencuri tidak punya hak atas duit milik orang lain.
Tidak perlu panjang lebar lagi saya uraikan bagaimana perilaku dan kebiasaan bangsa Indonesia yang sangat bertolak belakang dengan agama islam, terlalu banyak untuk disebutkan satu persatu disini. Namun yang paling ironis dan memprihatinkan adalah tindakan kriminal yang sering sekali terjadi di bumi Indonesia, sehingga dapat disimpulkan bahwa manusia Indonesia adalah jenis mahluk hidup yang sangat mengerikan, jahat dan seperti binatang. Kalau belum percaya, coba saja lihat berita tindakan kriminal pemerkosaan dan pembunuhan, belum lagi pemerintahnya yang sangat Korup. Pemerintahnya samasekali tidak mengurusi rakyatnya, sibuk dengan kepentingan pribadi dan partainya saja. Bila pemerintahnya serius mengelola negara ini tentunya Indonesia sudah menjadi negara maju di ASEAN berhubung memiliki kekayaan sumberdaya alam yang luar biasa, yaitu mulai dari pertambangan, perkebunan dan perikanan.

Namun dikarenakan pemerintahnya tidak serius dalam menjalankan pemerintahan maka negara ini menjadi negara yang terbelakang bahkan di kalangan negara ASEAN, kalah maju dengan Singapura dan Malaysia. Rakyatnya sebagian besar hidup penuh dengan kemiskinan dan pengangguran. Pejabat pemerintahannya sibuk dengan korupsi yang menguras uang negara dan kekayaan alam bangsa Indonesia.
Pemerintah Indonesia sangat tidak peduli dengan urusan rakyat dan negara, sehingga negara ini amburadul dan kacau, dari segi kemajuan negara maupun dari segi kejiwaan bangsa ini, masyarakatnya berjalan sendiri, negara ini adalah negara Auto pilot. Kriminal dan korupsi merajalela karena tidak ada kepastian Hukum. Hukum di negeri ini bisa diperjual belikan, mental sebagian besar bangsa ini adalah mental korups semuanya bisa diatur oleh uang. Hukum dan peraturan tidak jalan karena penegak hukum nya pun bermental korup dan tidak bisa dipercaya.
Pun kalangan oknum ulama nya pun melakukan tindakan melanggar hukum, lihatlah berita seorang ustadz yang melakukan penipuan dengan mengaku dukun yang mampu mengobati pasien namun ujungnya hanya melakukan penipuan yang berkedok sebagai uztadz. A’uzubillah bin jalik….begitu banyak aib dan bobrok bangsa Indonesia ini bila di sebutkan satu persatu. Belum lagi masyarakatnya yang mengaku islam namun percaya dengan hal-hal yang bersifat tahyul, contohnya acara tv yang berjudul memburu hantu dan sejenisnya.
Saya sangat muak dengan negara dan bangsa Indonesia ini, manusianya pada munafik sok religius berkedok agama untuk kepentingan politik dan ambisi duniawi. Padahal manusianya bobrok dan jahat layaknya binatang yang tidak berperikemanusiaan yang sangat jauh dari agama islam. Saya tidak percaya dengan pemerintah nya dan juga sangat kecewa dengan mental bangsa Indonesia yang sangat munafik dan bobrok ini. Sehingga saya punya keinginan untuk hijrah ke negara lain yang jauh lebih baik moral nya namun tidak sok suci dan sok religius.
Bila anda mengunjungi negara tetangga contoh terdekat Singapura, lihatlah betapa sangat bertolak belakang kebiasaan dan keadaan negara ini dengan Indonesia. Singapura adalah negara kecil dan wilayahnya tidak lebih besar dari Jakarta, namun sangat modern dan maju dibandingkan dengan Indonesia yang kaya raya dengan sumber daya alamnya. Masyarakat Singapura sangat tertib, tidak membuang sampah sembarangan, tidak mau mengambil barang yang bukan miliknya (mencuri) dan tidak melakukan tindakan kriminal sadis seperti yang terjadi di Indonesia. Apa sesungguhnya yang membedakan manusia yang tinggal di Singapura dengan Indonesia??. Saya cukup mencontohkan negara yang sangat terdekat dengan Indonesia, belum menceritakan bangsa Jepang yang jaraknya lebih jauh dari Singapura. Singkat kata bangsa Jepang yang beragama shinto saja, berperilaku baik dan mengagumkan layaknya ajaran islam yaitu, sangat menjaga kebersihan, tertib dan tidak suka mencuri barang orang lain apalagi melakukan tindakan pembunuhan dan pemerkosaan.
Kesimpulan sementara saya adalah, semua penyakit yang ada di masyarakat Indonesia ini terjadi akibat pembiaran dan tidak adanya Hukum dan keseriusan Pemerintahnya dalam mengelola negara yang luas wilayahnya ini.
Ada yang punya pendapat lain?

Masihkah Kita Satu Bangsa?

”Mengapa kalian mesti bermusuhan? Bersatupadulah,pertahankanlah kewarasan kalian. Bangunlah bersama negerimu.” 
”Balaslah kejahatan dng kebaikan,namun bila kau tidak mampu melakukan hal itu,maka setidaknya janganlah membalas kejahatan dng kejahatan.” (Dikutip :Shri Sai Satcharita,hal: 98)
Nasehat diatas berasal dari seorang Mistik Sufi dari Shirdi. Sebuah kota di India.Beliau dikenal dengan sebutan Shirdi Baba. 
Sebuah nasehat yang indah dan mengesankan dari seorang fakir, pecinta Allah sejati. Bagaimana Beliau memandang kehidupan secara jauh dan bebas. Tidak terbelenggu oleh pemahaman sempit pikiran yang membuat manusia hidup dalam alam kebencian dan permusuhan.
Agama dilakoni sebagai sebuah amalan nyata dalam laku kehidupan sehari-hari. Perbedaan yang ada dilihat sebagai sebuah kehendak dari Dia Sang Pencipta. Ya…Maha Kehendak Kudus yang menginginkan keanekaaragaaman, kebhinnekaan ciptaannya.
Ketika manusia menyadari hal itu maka akan timbul dari hatinya sebuah pemahaman untuk saling menghormati, saling menghargai sebagai wujud nyata bagian dari Dia Sang Maha Pencipta.
Demikian manusia yang berakal dan berpikir mampu melihat secara jernih persatuan dalam perbedaan. Dan selalu mengupayakan persatuan dan kesatuan.
Seperti analogi sebatang lidi jika disatukan maka akan berubah menjadi sebuah ikatan lidi-lidi yang dapat digunakan untuk menyapu, membersihkan kotoran dan memperindah lingkungan. 
Manusia hadir untuk membuat sejarah, namun jangan lupa juga utk belajar dari sejarah perjalanan manusia pendahulu, mengambil hikmah dan juga kebijaksanaan sehingga dapat belajar dari sejarah tersebut. Karena kalau tidak…
Sejarah hanyalah kumpulan fakta tak berguna tentang kejadian-kejadian di masa lalu, jika kau tidak belajar dari kejadian-kejadian itu.“ (Buku Mahamaya ,verse 86 page 41)
Ya,kita akan selalu mengulang kembali peristiwa-peristiwa sampai kita mampu beranjak darinya.
Dan hari-hari ini kita semua disibukkan oleh hingar-bingar berita tentang Pemilu Presiden yang akan digelar sekitar 50 hari lagi. Banyak berita baik dan buruk menghiasi ruang-ruang publik.
Sebagai negara demokrasi hal tersebut adalah wajar, kebebasan berpendapat dan bersuara diakui oleh negara. Namun jangan sampai hal tersebut melenakan kita untuk menjaga persatuan dan kesatuan sebagai sebuah bangsa lepas dari atribut-atribut kelompok/golongan untuk melihat sebagai satu anak bangsa, bangsa Indonesia Raya.
Masihkah kita merasa sebagai satu bangsa?
Mari kita renungkan bersama…

Hingar Bingar PilPres

Setiap hari melihat, mendengar dan membaca celoteh-celoteh dua kubu pendukung calon dan wakil calon presiden kita yang akan datang, sangat heboh dan miris, tipuan, kebohongan, fitnah terus tersebar kemana-mana…saling lempar kata, sindiran, celaan hanya untuk menjatuhkan lawannya… dan dengan harapan masyarakat percaya dan memilihnya.
Tapi aku percaya masyarakat saat ini cerdas dalam memilih calon Presidennya, karena sekali salah memilih makan 5 tahun dalam kemeranaan, penyesalan….
Indonesia itu mayoritas islam, yang tentu mengerti dan paham, bahwa berprasangka buruk tidak dibenarkan, fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan, mejelek-jelekan itu tidak pantas, tapi kenapa makin hari makin penuh fitnah… padahal kita percaya adanya Allah SWT, kenapa tidak bertanya kepada-Nya dengan solat Malam dan Istihkoroh mengenai siapa Calon Presiden yang terbaik, sehingga kita tak akan menyesal?
Padahal jika kita semua masyarakat Indonesia bersama-sama berdo’a dan melakukan Istikhoroh memohon pada Allah SWT, saya yakin tidak akan ada yang saling menjatuhkan lawan dengan cara-cara kotor dan licik, karena Allah Maha Mengetahui mana yang terbaik diantara Mereka, karena menurut kita baik menurut Allah belum tentu baik.
Pemimpin yang kita dambakan adalah pemimpin yang Rahmatan lil Alamin, bukan kebaikan untuk golongan tertentu saja, tapi kebaikan untuk semua, Yang bisa merangkul semua golongan dalam masyarakat.
Betapa Indah dan Damainya Negeri ini jika punya seorang Pemimpin yang Amanah, yang tidak hanya punya wawasan kebangsaan yang bagus, tapi juga yang menjalankan, Pancasila dengan Kebhinekaan Tunggal Ika, menjalankan UUD 1945 dengan segenap jiwanya dalam Bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Revolusi Mental Sebuah Utopia

Berangkat dari keresahan 16 tahun reformasi yang tidak menghasilkan apa – apa. Ketika perkembangan disegala bidang mengalami perkembangan dan reformasi belum bisa menjawab itu. Terjadi kontradiksi di tengah – tengah masyarakat yang semakin meresahkan. Dari landasan tersebutlah ide dan gagasan “Revolusi Mental” mengemuka dari salah satu Calon Presiden kita, Joko Widodo (Jokowi). Revolusi Mental yang menjadi visi misi Jokowi dalam maju menjadi Capres 2014 ini merupakan gagasan yang sangat ideal. Menjadi pertanyaan bersama, apakah Revolusi Mental ini sebuah keniscayaan? Sebelum di jawab ada baiknya kita dalami lebih dulu Revolusi Mental.
Revolusi Mental didasarkan dari kritik dari pelaksanaan reformasi yang hanya melakukan pembenahan di wilayah Institusional. Proses reformasi selama ini tidak menyentuh wilayah – wilayah unsur intrinsik seperti paradigma, mindsetdan budaya masyarakat. Dan di sisi lain realitas yang terjadi pembenahan institusional tersebut belum mampu menjawab atau malah menyuburkan praktik – praktik budaya dan tradisi orde baru, seperti budaya koruptif, intoleransi, oportunis, pelanggaran hukum dan sebagainya.
Revolusi Mental juga mengkritisi Paham Liberalisme yang dinilai kontradiktif dengan nilai, budaya dan karakter bangsa Indonesia. Untuk membangun bangsa terlebih dahulu wajib diciptakan paradigma, budaya dan pendekatan yang sesuai dengan ciri dan karakter bangsa Indonesia. Oleh karena itu, konsep “Tri Sakti” bung karno turut serta menjadi landasan pembentuk Revolusi Mental ini, Indonesia yang berdaulat secara politik, Indonesia yang mandiri secara ekonomi dan Indonesia yang berkepribadian secara sosial – budaya.
Revolusi Mental yang penekanannya ada pada perubahan sosial dan kebudayaan secara cepat dan menyangkut dasar dan pokok – pokok kehidupan masyarakat, dalam hal ini lebih di tujukan kepada mental – mental manusianya sendiri yang tercerabut dengan paradigma liberatif, mindsetpragmatis - oportunis dan budaya koruptif. Revolusi Mental menjadi suatu keharusan dan diharapkan menjadi solusi di tengah – tengah kegagalan reformasi ini.
Kritik subjektif saya terhadap Revolusi Mental sebelum menjawab pertanyaan di atas. Untuk merubah paradigma, mindset dan budaya itu tidak semudah membalik telapak tangan. Paradigma terbentuk dari realitas yang di alami dan di lihat secara langsung dan akhirnya mempengaruhi alam pikir, bersikap dan bertindak kita. Artinya tidak mudah merubah cara pandang masyarakat di tengah – tengah realita umum dan kebanyakan yang sudah membentuknya.Mindset (pola pikir) terbentuk dari pengalaman seseorang yang bersifat positif maupun negatif yang tidak terlepas dari pembiasaan diri sejak kecil yang sangat membekas atau imprint (J.P. Chaplin dalam Kartini Kartono, Kamus lengkap Psikologi 2006). Sama halnya dengan paradigma, pola pikir ini terbentuk dari pembiasaan sejak usia dini. Ibaratnya tidak mudah merubah bentuk dari batu dengan tidak mengurangi materi di dalamnya. Pun begitu dengan budaya, yang terbentuknya tentu dari kompleksitas berbagai unsur yang mempengaruhi akal dan budi. Tentu dalam ini paradigma, mindset dan budaya secara umum yang melibatkan hal positif dan negatif yang terjadi.
Ketiga aspek tersebut yang menjadi penekanan Revolusi Mental tentu tidak bisa diterapkan kepada Manusia – manusia saat ini. Masyarakat atau manusia hari ini sudah dalam taraf terbentuk – paradigma, mindset, budaya – jadi, bukan dalam taraf membentuk jadi. Taraf membentuk jadi bagi saya diperuntukan bagi manusia – manusia yang fitrah (suci) dalam hal ini anak usia dini. Jika manusia dewasa yang menjadi objek dari Revolusi Mental sedikit banyak akan terbentur dengan bangunan karakter yang sudah terjadi baik itu yang positif maupun negatif.
Dari sini saya berkesimpulan bahwa, Revolusi Mental merupakan ide/ gagasan yang cukup ideal, tetapi dalam implementasinya hanya akan menjadi sebuah utopia saja. Seperti analogi yang saya sebutkan tadi, merubah bentuk batu tanpa mengurangi materinya. Yang menjadi penting hari ini adalah bagaimana merevolusi pendidikan kita untuk membentuk – paradigma,mindset, budaya – jadi tunas bangsa. Tentu dengan pendidikan yang tidak menjadikan lagi tunas bangsa sebagai subjek, atau meminjam terminologi Paulo Freire pendidikan “gaya bank”. Dalam arti luas pendidikan kita di arahkan ke pendidikan yang membebaskan.

Menjadi Pemimpin itu Berat


“Pemimpin itu adalah titipan Allah. Seseorang menjadi pemimpin karena dipercaya (diamanahi) Allah untuk menyampaikan apa yang Allah titikan kepada pemimpin tersebut.” kata ustad itu
“Jadi tidak sembarang orang bisa memimpin” kata santri itu
“Hanya orang yang dipercaya oleh Allah mampu memimpin karena kepemimpinan itu takdir Allah. Oleh karena itu siapa pun yang memimpin, maka kepemimpinannya untukkepentingan Allah, untuk tujuan agar yang dipimpinnya (masyarakat) sadar sebagai hamba Allah (abdillah) sehingga menjadi manusia yang taat kepada Allah (ibadah) (Wama kholaqtul jinna wal insa illa liya’budun). Jadi keberhasilan seorang pemimpin tergantung dari kemampuan pemimpin itu mendekatkan masyarakat yang dipimpinnya kepada Allah. Maka, jika masyarakat yang dipimpinnya semakin jauh dari Allah maka dia bukan pemimpin yang bisa dipercaya (amanah) oleh Allah” kata ustad itu
“Gitu” kata santri itu
“Kepemimpinan adalah konsep integral pemimpin dalam berbagai aspek kehidupan. Kemampuan mengubah masyarakat diawali kemampuan mengubah perilaku keluarga, kemampuan mengubah keluarga diawali kemampuan untuk mengubah perilaku diri pemimpin itu sendiri. Oleh karenanya, seorang pemimpin harus memimpin (menjaga) perilaku dirinya sebelum mampu menjaga perilaku keluarganya, dan mampu menjaga perilaku keluarga sebelum mampu menjaga perilaku masyarakat” kata ustad itu
“Apa maksud memimpin perilaku sendiri” kata santri itu
“Seorang pemimpin harus menjadi pemimpin (menjaga) perilaku lidah nya, telinga nya, mata nya, hidung nya dan rasa nya. Maka, kepemimpinan yang amanah dimulai dari kemampuan seorang pemimpin memimpin dirinya sendiri” kata ustad itu