Media Informasi Pemuda Peduli Dhuafa Gresik (PPDG) || Website: www.pemudapedulidhuafa.org || Facebook: Pemuda Peduli Dhuafa Gresik || Twitter: @PPD_Gresik || Instagram: Pemuda Peduli Dhuafa Gresik || Email: ppd.gresik@gmail.com || Contact Person: 0838-3199-1684 || Nomor Rekening: 0335202554 BNI a.n. Ihtami Putri Haritani || Konfirmasi Donasi di nomor telepon: 0857-3068-6830 || #SemangatBerkarya #PPDGresik

Kamis, 24 Juli 2014

Kan Kucari Pengikat Cahaya Ramadhan

Satu bulan cahaya ramadhan lembut bersinar
Benderangkan dian nurani nan mulai pudar
Kesuciannya tulus membersihkan
Keagungannya teduh memuliakan

Sungguh, lemah adalah fitrah insan
Maka ramadhan telah menguatkan
Lalai dan lupa kadang menguasai
Salah dan khilaf diam-diam menodai
Namun ramadhan ikhlas mengajari
Untuk senantiasa memperbaiki diri

Cahaya ramadhan merasuki tubuhku
Melalui ubun-ubun, jantung lalu terangi kalbu
Menembus pori-pori hingga larut menadi
Memperkaya batin dengan kalam Illahi

Cahaya ramadhan miliki keistimewaan
Melangitkan doa hingga dikabulkan
Mampu rontokkan jelaga seberinda raga
Bersihkan dinding hati dari selaput dosa

Perjalanan ramadhan kini hampir usai
Namun bukan berarti ibadahku selesai
Kan kucari pengikat cahaya ramadhan
Temalikan keutamaannya sebelas bulan kemudian
Agar senantiasa bersemayam di dasar jiwaku
Menjaga segenap pikiran, lisan dan perbuatanku

Ya Rabb, rinduku belumlah terobati
Dahagaku akan berkahnya belum terpuasi
Sempurnakan penghambaanku kepada-Mu
Curahkan ampunan dan ridho-Mu padaku
Sampaikan aku pada ssedalam makna kefitrian
Pertemukan aku dengan ramadhan tahun depan

Ki Sunda dan Kaum Dhuafa

Ki Sunda secara sederhana dapat diartikan etnis Sunda. Ternyata. Dalam perhelatan politik nasional (baca: Pilpres) belum mampu memberi warna. Tentunya. Warna dominan sebagai calon presiden atau wakil presiden Indonesia.
Banyak pakar politik dan budaya menghembuskan wacana. Bahwa: etnis Sunda perlu tandang makalangan dalam kancah politik Tatar Nusantara. Mengingat, urang Sunda merupakan populasi terbesar ke-dua.
Fakta. Ki Sunda belum mendapat perhatian sehingga belum dipercaya. Sejatinya. Calon presiden atau wakil presiden merupakan orang yang dipercaya minimal oleh partai pengusungnya.
Mengapa? Tentu perlu diteliti dan dibahas bersama-sama. Setidaknya. Kepercayaan itu diperoleh setelah teruji dan terbukti kebenarannya. Dalam Qur’an Surat Ali ‘Imran ayat 140 Alloh berfirman: Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, maka sesungguhnya kaum (kafir) itupun (pada perang Badar) mendapat luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada.
Alloh SWT sekalipun menguji manusia. Menguji keimanannya. Menguji ketaqwaannya. Peristiwa perang Uhud bisa kita baca dalam Al-Qur’an Mulia. Alloh SWT menguji manusia dengan kekalahan di medan laga. Ternyata. Ada beberapa manusia yang lari dan meninggalkan Rasul-Nya. Sebagian lagi maju dan mengorbankan jiwa dan raga. Menjadi Syuhada. Syuhada inilah yang lulus ujian dari Yang Maha Kuasa.
Begitu pula. Fitrah manusia cenderung percaya kepada hal-hal yang telah teruji dan terbukti kebenarannya. Sudahkah Ki Sunda melewati masa-masa ujian untuk membuktikan kehebatannya?
Bagi urang Sunda cukup banyak tokoh yang dipandang cakap dan memiliki kharisma. Mereka diantaranya adalah Marty Natalegawa, Ginandjar Kartasasmita, Mohamad Surya, Agun Gunandjar Sudarsa dan Gandjar Kurnia. Tokoh Sunda terdahulu diantaranya Umar Wirahadikusumah dan Otto Iskandar Dinata.
Berkaca ke masa lampau dan menatap masa yang ada di depan mata, rasanya tidak susah mencari tokoh Sunda. Banyak tokoh Sunda yang telah teruji dalam profesi dan kapasitasnya. Tapi mengapa? Ki Sunda belum mampu merebut hati masyarakat Indonesia.
Mencermati karakter calon presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Prabowo Subianto nampaknya ada yang sama. Persamaan yang membuat 2 orang etnis Jawa ini dominan dalam berbagai survey yang ada. Keduanya sama-sama menyayangi dan dekat dengan kaum dhuafa.
Para pedagang kecil dan tunawisma adalah kaum lemah (dhuafa) yang kerap menjadi perhatian Jokowi waktu menjabat Walikota Surakarta dan Gubernur Jakarta. Para pedagang di pasar tradisional dilindungi dengan dibuatkan kios-kios yang layak guna. Di Surakarta, kehadiran pemodal besar yang mengusung konsep waralaba dibatasi sehingga tidak menggusur nasib rakyat jelata. Pantas saja. Tatkala, Jokowi maju dalam pemilihan Gubernur Jakarta, banyak warga masyarakat Surakarta yang tidak rela melepas kepergiannya ke Ibu Kota. Saking sayangnya!
Demikian juga dengan Prabowo Subianto yang maju sebagai Capres diwakili Hatta Rajasa. Prabowo dikenal sangat dekat dengan dhuafa. Seorang teman saya yang menjabat Babinsa di sebuah Koramil menjadi saksinya. “Pak Prabowo senantiasa bertanya dan ingin tahu kebutuhan bawahannya,” ungkapnya.
Selain dekat dengan bawahan saat masih aktif sebagai tentara, ternyata Prabowo pun dekat dengan para petani yang mayoritas belum berdaya. Tak heran, Prabowo dipercaya menjadi Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia.
Kedekatan Jokowi dan Prabowo dengan kaum dhuafa ternyata membawa energi positif bagi keduanya. Energi positif tersebut menjadi magnet bagi media massa untuk mempublikasikan apa-apa yang diperbuat keduanya. Tentu, yang sangat populer di masyarakat adalah energi positif yang dikeluarkan Jokowi ketika mendorong adanya mobil nasional Esemka dan menambah ruang terbuka hijau di ibu kota.
Karakter Jokowi santun dan sederhana. Karakter Prabowo kuat dan penuh kharisma. Itu terbentuk secara alami dan mengalir apa adanya. Intinya mereka mendapatkan kepercayaan masyarakat setelah teruji energi positif yang dikeluarkannya gak ada matinya. Energi positif yang diperoleh setelah secara ikhlas membantu kaum dhuafa.
Hal positif Jokowi dan Prabowo tentu perlu di contoh oleh urang Sunda. Apalagi dalam bahasa Sunda dikenal istilah ngabandungan yang sarat dengan makna. Ngabandungan yang berarti tidak hanya mendengar tapi juga memahami apa yang didengarnya. Ngabandungan apa yang terjadi di masyarakat dan ngabandungan keluh kesah kaum dhuafa.
Malaikat Jibril menurunkan wahyu kepada Rasululloh yaitu permulaan surat Al Insaan atau Hal Ata dengan latarbelakang peristiwa keluarga ‘Ali Karomallohu wajhah memberi makan kaum dhuafa. Seperti diriwayatkan Ibnu Abbas: keluarga ‘Ali-Fatimah mengucapkan nazar untuk kesembuhan Hasan-Husain putranya. Mereka mengucapkan nazar apabila Hasan-Husain sembuh dari sakit keras yang dideritanya mereka akan melakukan puasa 3 hari lamanya.
Setelah Hasan-Husain sembuh ‘Ali-Fatimah pun melaksanakan nazarnya. Saat mereka hendak berbuka tiba-tiba datang orang miskin (dhuafa) meminta makan maka diserahkannya hidangan berbuka dan mereka berbuka dengan segelas air saja. Demikian juga saat berbuka pada hari ke-dua dan ke-tiga. Mereka dimintai makanan oleh anak yatim pada hari ke-dua kemudian oleh tawanan pada hari ke-tiga. Selama tiga hari itu keluarga ‘Ali dan Fatimah berbuka dengan segelas air semata.
Pada hari ke-empat Rasululloh SAW melihat betapa keadaan fisik keluarga anak dan mantunya (keluarga ‘Ali) tampak tidak berdaya. Bahkan, ketika Rasululloh melihat anaknya (Fatimah) melaksanakan shalat tidak kuasa menahan iba. Mata Fatimah cekung dan perutnya seakan-akan rata. Kala itulah, Jibril turun menyampaikan wahyu-Nya. Keluarga nabi telah menjadi insan kamil atau manusia yang sebenarnya.
Tentu tidak sedikit urang Sunda yang dekat dengan kaum dhuafa. Tetapi mengingat media massa lebih menyorot inohong Sunda yang ada dari sisi kinerja, nama orang-orang shaleh itu tidak pernah mengemuka. Apakah inohong-inohong Sunda sudah dekat dan berpihak kepada dhuafa? Silahkan bandungan bersama-sama.

Rabu, 23 Juli 2014

Kampung Tasripin Arena Pelampiasan?

14060968861738947689
ngrumput untuk pakan ternak_koleksi pribadi
Sebenarnya bukan untuk membuka yang sebenarnya bahwa kita itu yang memulai melampiaskan Tasripin dan penghuni kampung Pesawahan Desa Gununglurah Kec.Cilongok Kab. Banyumas yang terletak di Jawa Tengah. Singkat cerita sebenarnya kita dari komunitas masyarakat desa hutan di Jawa Tengah dengan pasukan garda depan para pelajar/siswa tingkat menengah sebut saja Boarding School “Mbangun Desa” sebuah lembaga pendidikan layanan khusus bagi anak-anak dengan latar belakang kehidupan yang cukup terpencil, terbelakang, terisolir, dan yang pasti keluarga yang dekat dengan berbagai keterbatasan sehingga anak-anak usia sekolah SMA tidak bisa sekolah, itulah kenapa kurang lebih 32 siswa yang berasal dari 5 kabupaten di Jawa Tengah itu menjadi tinggal bersama kita di bangunan pendopo eks balai desa dengan ditambah gubung-gubug pembelajaran semi permanen, di atas lahan yang ngontrak tentunya, karena kita belum punya asset sendiri. Ya tapi kami punya cukup modal yang cukup, baik itu modal sosial dan yang paling penting modal kemauan yang kuat dari hati yang semoga menjadi tidak luntur karena tulisan ini.
2011 kami mulai berjalan menyusuri jalan berbatuan, melewati 3-5 tanjakan berbukit yang dikanan-kirinya menjulang tinggi hutan dengan kondisinya, yak arena akses jalan kesana saat itu masih jalan berbatu dan harus melewati hutan Indonesia, karena statusnya kampung Pesawahan ada di lereng Gunung tertinggi di Jawa Tengah.
Dan pada prinsipnya kampung itu kita jadikan labsite anak-anak boarding school “Mbangun Desa” karena salah satu standar kompetensi anak didik nantinya harus mampu menjadi calon kader pembangun desa, paling tidak untuk desanya sendiri. Kegiatan pun mulai berjalan dengan hilir mudik harus terus berjuang dengan mencoba berbagi dan masuk lebih dalam pada kehidupan masyarakatnya.
Dan singkat cerita akhirnya kita putuskan untuk membuat program bagi siswa untuk bersepakat untuk sedikit sombong katakanlah membantu program pemerintah, karena konteknya anak-anak belajar latihan menjadi tukang sensus penduduk, yang akhirnya ketemu dan kita peroleh data kampung pesawahan, ya kurang lebih sudah berjalan 1 tahun-an, ketemulah Keluarga termiskin saat itu, Keluarga Tasripin Bocah Ajaib dengan 3 adiknya (rianti, dandi, dan daryo) yang cukup menjadi perhatian public,karena sejak dini sudah menjadi kepala keluarga, dan ini menjadi perhatian sampai-sampai orang no.1 di negeri ini pun sampai mengutus staff ahlinya untuk mengirim uang 100 juta lho…cas tanpa perantara siapapun. Dan itu yang jelas terlihat, ya saat itu April 2013 belum lagi bantuan dari berbagai sumber ya kurang lebih Tasripin pun mendadak menjadi anak terkaya saat itu di jawa tengah kali yaa..karena deposit tabungannya kurang lebih 400 jutaan, belum lagi bantuan yang berujud benda, makanan dan lain sebagainya, subhanalloh, inilah yang menurut saya dibalikkeprihatinan susah tapi ulet membawa berkah.
Tasripin pun menjadi pahlawan bagi kampungnya, dibalik kemiskinan yang melilitnya, namun bocah yang berperan jadi kepala keluarga itu pun akhirnya, See more at: http://www.kopertis12.or.id/2013/04/15/tasripin-bocah-sekecil-itu-menanggung-beban-keluarga.html#sthash.3TY5GaJH.dpuf menjadi sorotan berbagai media cetak bahkan media televisi pun tidak berhenti diberbagai acara yang dihelat, satu dampak yang sangat terasa bagi seluruh penghuni kampung pesawahan adalah karena akses jalan menuju kampung tasripin sekarang sudah begitu mudah untuk dilewati ya sangat mudah karena sudah teraspal dengan rapi.
Dan babak baru pun dimulai, peran yang biasa dilakukan oleh anak-anak boarding school mbangun desa pun, hasil sensus pun menjadi titik balik yang kemudian kita di tahun pelajaran 2013/2014 tepatnya 1 tahun yang lalu bahkan persisnya di bulan Ramadhan anak-anak Mbangun Desa pun mendirikan sebuah gazebo atau gubuk dari bamboo maksud hati sebagai tempat pembelajaran karena kita akan memulai babak baru…ya babak baru menjadi siswa yang terus belajar dan akan membelajarkan (memberikan layanan pendidikan setingkat SLTP) melalui jalur dunia Madrasah Tsanawiyah (MTs) dengan nama “PAKIS”. Lebih jelasnya bisa dilihat di http://edukasi.kompasiana.com/2014/07/16/cangkul-bisa-untuk-daftar-sekolah–664574.html.
1406104129753224644
mbangun ruang belajar di pinggir hutan_koleksi pribadi
1406104216320779750
siswa MTs belajar dengan fasilitas apa adanya_koleksi pribadi
Kampung Tasripin pun benar-benar menjadi objek bahkan ajang pelampiasan bagi banyak orang akhirnya, dalam hal ini bukan hanya pelampiasan belajar anak-anak boarding school mbangun desa, namun ajang untuk menjadi pahlawan yang bangun kesiangan, biasa adat masyarakat kita yang kadang seolah-olah paling ngerti dan mau menjadi pahlawan, tapi shi kita tidak masalah, kita tetap jalan pada roda yang sedang kita inisiasi, ya berjalan di ril kendaraan realitas kehidupan khususnya persoalan pendidikan yang begitu kompleks dikampung itu.
Genap 1 tahun pas bulan puasa, berkah buat kita boarding school mbangun desa, karena tidak pernah terbayang bahkan termimpikan pun belum saat itu, diawali dari membangun ruang belajar dari bambu 3 buah dengan ukuran 4×6 meter pun baru selesai berdiri 2 buah namun belum mencapai finishing, karena kondisinya baru bisa terpakai 1 buah ruang belajar yang berada tepat di bawah pohon pinus, dipinggir telaga kumpe dan ini menjadi ruang terindah selama 1 tahun kemarin bagi anak-anak yang belajar, walau kata orang sekolah kok kaya kandang kambing, namun kita tetapspiritfulty and happiness menjalani proses belajar dan mengajarkan di kandang yang lebih jelek dari kandang kambing kata orang, tapi bagi kami ini tempat yang penuhhistory dan tak akan pernah terlupakan, karena jelas menghadap telaga ya telaga kumpe namanya yang saat ini menjadi magnet paling kuat mendatangkan banyak orang untuk melampiaskan datang ke kampungnya Tasripin.
1406104381854985858
MOPDB MTs_koleksi pribadi
14061044511594082878
nuansa baru belajar di ruang kelas baru_koleksi pribadi
Tapi berkah yang saat ini Madrasah Tsanawiyah (MTs PAKIS) jelas kami rasakan bersama-sama anak-anak MTs dan siswa boarding school Mbangun Desa adalah wujud bangunan permanen ruang kelas baru, yang itu sudah kita pakai persis di bulan ramadan 2014 sekarang ini, itupun berkah dan sekaligus dampak kegiatan yang kita lakukan dengan Tasripin, yang akhirnya SDA (Kemenag Pusat) pas Tasripin ketemu di Hotel di Jakarta beliau mengeluarkan statement kampung tasripin akan dibangun madrasah mulai dari MI,MTs,MA kalau bisa Madrasah Negeri, dan saat ini sudah berdiri megah dulu ukuran 4x 6 meter sekararang memang subhanalloh, sim salabim abrakadabrah 1 ruang belajar ukuran 7×9 meter, 2 ruang ukuran 7×8 meter, 1 ruang relawan ukuran 4×7 meter. Benar-benar mimpi yang tak terbayang, ya semoga berkah, walau kini SDA konon katanya terkena sandungan dan harus berurusan dengan KPK negeri ini, semoga tidak karena membantu kita di kampung Tasripin.
Ibarat semakin tinggi pohon maka semakin tinggi pula tantangan untuk roboh karena tertiup angin, dan yang terpenting jangan roboh karena ditebang karena hanya mendadak butuh dan dijadikan pengganti untuk pelampiasan diri, kampung tasripin dan aktifitas kita makin tahun makin berat, penuh tantangan dan perjuangan, mohon doanya ya buat kompasianer, pasalnya berharap penuh siswa lulusan SD 2 Sambirata bersekolah di MTs PAKIS namun ternyata yang ndaftar hanya 7 anak, itu pun dari kampung Tasripin baru 1, yang lain dari kampung sebelah yang Tasripin harus jalan kaki 3 km untuk sekolah SD, itulah kenapa infrastruktur yang sekarang mudah membuat orang khusnudhon saya mereka menyekolahkan anak-anaknya di wilayah di pusat yang dekat dengan Kecamatan Cilongok, dan semoga bukan karena di MTs Pakis yang masih minim fasilitas pembelajaran, dan guru yang belum ada sampai saat ini, hanya mengandalkan relawan Boarding School Mbangun Desa, mana tanggungjawab kita sebagai satu bagian yang tak terpisahkan negeri ini ? jangan hanya menjadi pahlawan di saat hiruk pikuk Tasripin saja.
Ayolah mari saling bahu membahu, angin semakin besar menerpa kita, belum lagi bagi kalangan oknum yang datang ke kampung dengan embel-embel penasaran, dan datang hanya untuk melampiaskan untuk mendapatkan kenikmatan individual dengan tidak mengindahkan di kampung itu banyak persoalan rumah yang butuhekspektasi dari banyak orang. Karena oknum yang hanya pelampiasan pribadinya hanya menikmati kenikmatan sesaat, karena benar adanya secara alamiah kampung Pesawahan kampungnya Tasripin itu benar sejuk, segar, bahkan sangat alamiah untuk dinikmati dan bagus untuk kesehatan mata, namun menjadi tidak sehat karena banyak yang sudah mulai datang dengan pasangan dengan status pacaran, hura-hura kelompok, bahkan yang menjadi sakit hati, bahkan hati ini terasa di iris-iris karena ulah para pengecut di bulan ramadhan 2014 ini, baca juga :http://lifestyle.kompasiana.com/catatan/2014/07/23/pengecut-itu-mau-menang-tapi-menyerah–665610.html . lalu apakah ini bisa di ibaratkan seperti ramainya maneuver-manuver politik di pilpres 2014 ini, yang kemarin pasalnya sudah ada sejarah dan babak baru bagi para pasangan capres, yaa barangkali babak baru dan sejarah baru ada yang menjadi pengecut sebelum pertandingan usai atau karena lupa dia sedang tanding, atau karena itu benar bahwa sebenarnya manusia itu bodoh, dan munkin ini benar adanya karena scenario Tuhan untuk menguji manusia untuk lebih piawai dalam bertanding, belum lagi para pengecut yang jelas sudah menang, eh malah banyak menyerang bahkan memberikan bumbu yang tidak sedap bahkan mencela pasangan capres yang mundur, lalu bagaimana tanggung jawab moral bangsa ini, kita masih merah putih kan kawan-kawan (Jokowi lovers/Prabowo mania) dan para kompasianer? Sudahlah kita kan boleh beropini, bercerita ngalor ngidul tapi semoga saja ini menjadi awal bagi kita untuk lebih selektif, ketika mau memilah dan mimilih perpaduan kata yang penuh kontradiksi tentunya.
Dan saya tidak mau kecewa, begitu juga kawan-kawan kompasianer nda mau kecewa kan? Mari kita fokus pada apa yang sedang kita lakukan di dunia perdesaan atau didunia maya sekalipun hanya karena niat ingin bahagia dunia akhirat dengan sedikit berbuat untuk negeri dan penghuninya, ituah kenapa saya tidak akan berharap banyak kepada presiden baru atau siapapun kalian yang memiliki kekuasaan, saya hanya akan berharap kepada Tuhan saya Allah SWT, karena petunjuknyalah kita untuk selalu berdo’a dan terus berusaha semaksimal mungkin untuk natinya akan ketemu dengan orang-orang yang berjiwa besar bukan bersua dengan mereka yang menjadi pengecut dan semoga kita akan ketemu dengan pemenang sebelum nanti kita akan menang sejatinya. Wallahu A’lam Bissawab.
14061047951701630587
pelampiasan utk kambing_koleksi pribadi

Maaf Memaafkan; Tak Sesederhana yang Diucapkan


Keberanian meminta maaf dan kerelaan untuk memaafkan sebenarnya bukan persoalan yang sederhana. Ia sarat dengan beban psikologis, kemeriahan kultural dan dimensi spiritual. Dikatakan beban psikologis karena meminta maaf itu tidak mudah. Meminta maaf itu pada dasarnya berat karena ada pertaruhan gengsi pribadi, harga diri, rasa malu, ketulusan niat dan sejenisnya.
Begitu pun sebaliknya. Memberi maaf juga tidak kalah beratnya karena harus berangkat dari kemurnian nurani untuk melupakan sakit hati yang dialami. Faktor inilah yang barang kali menjadi penyebab banyak orang saling bermusuhan dan tidak saling menyapa dalam rentang waktu yang lama meski pun mereka itu sebenarnya bersaudara.
Karena persoalan maaf memaafkan antar personal manusia pada umumnya begitu berat untuk dilakukan, maka diperlukan campur tangan kemeriahaan kultural. Maksudnya, harus ada semacam pengkondisian lingkungan yang bersifat rutin untuk mendorong terciptanya kebiasaan meminta maaf dan memberi maaf secara massal. Dengan begitu, beban psikologis peminta maaf dan pemberi maaf tidak lagi begitu berat terasa.
Pada titik inilah, tradisi umat muslim negeri ini di setiap selesai puasa ramadhan untuk saling meminta maaf menemukan garis relevansinya. Pada hari-hari itu, suasana Hari Raya Idul Fitri seakan-akan mampu menciptakan kejernihan pikiran, ketenangan batin, kesucian hati dan dorongan psikologis untuk berani meminta maaf dan siap memaafkan.
Namun, aspek psikologis-kultural ini sangat berhubungan erat dengan dimensi spiritual. Maksudnya, tidak ada satu pun jenis ilmu pengetahuan yang bisa membuktikan secara ilmiah terkait ikhlas tidaknya meminta maaf ketika Idul Fitri tiba. Tidak ada satu pun jenis penelitian yang bisa membuktikan secara empiris tentang tulus tidaknya hati seseorang yang memberi maaf dikala hari raya. Bahkan, tidak ada satu pun jenis teknologi yang mampu menunjukkan orang yang saling berkirim sms atau kartu lebaran dengan disertai kalimat-kalimat puitis yang sarat dengan kata-kata indah serta gambar-gambar unik, benar-benar berasal dari kemurnian niat.
Bisa saja orang yang meminta maaf meski sambil meneteskan air mata tidak berangkat dari kesadaran diri tapi sekedar berpura-pura. Bisa juga orang yang memberi maaf juga tidak berasal dari keikhlasan hatinya tapi lebih karena situasi yang terpaksa. Bahkan, tidak menutup kemungkinan kalau tulisan-tulisan itu hanya sekedar bagian dari ekspresi diri dalam ikut serta memeriahkan kemeriahan hari raya.
Maka persoalan maaf memaafkan kemudian sangat berhubungan dengan dimensi ketuhanan. Artinya, hanya Tuhan saja yang paling tahu siapa diantara hambaNya yang meminta maaf dan memberi maaf dengan hati yang tulus. Karena itu, wajar bila kemurnian niat peminta dan pemberi maaf kemudian mendapatkan derajat yang tinggi di sisi Tuhan. Kemuliaan derajat orang yang meminta maaf disebabkan dosa vertikalnya sudah terhapus lantaran telah dimaafkan kesalahannya oleh sesama. Sedangkan kemuliaan derajat orang yang memaafkan karena ketika mau memberi maaf, detik itu pula dia telah mensifati dirinya dengan sifat-sifat ketuhanan.
Ternyata, maaf-memaafkan itu memang bukan sekedar persoalan yang sederhana. Karena itu, menjelang idul fitri ini, dengan segala kerendahan hati, saya benar-benar memohon maaf kepada anda atas semua kesalahan yang pernah saya perbuat. Semoga pada hari raya kali ini, kita termasuk golongan minal a’idzin wal fa’izin. Amin ya robb.

Senin, 21 Juli 2014

Idul Fitri Media Menebarkan Spirit Silaturahim

1405931635771882549
silaturahim
Oleh Wahyu Tanoto
‘Idul Fitri tahun ini menjemput bangsa Indonesia dalam kondisi hubungan masyarakat yang relative belum lebur-membaur. Masih tampak jelas dalam raut wajah-wajah yang penuh dengan “ketegangan” baik antar sesama teman, kerabat, keluarga, organisasi masyarakat hingga para petinggi dan elit negeri kita ini. Alhasil, berangkat dari peristiwa tersebut maka momentum ‘Idul Fitri dapat dijadikan suatu model untuk menebarkan spirit Silaturahim di tengah masyarakat.
Memang tidak dapat dipungkiri oleh siapapun jika ‘Idul Fitri merupakan ritual semata atau dalam bahasa lain peristiwa rutin, namun sudah semestinya ‘Idul Fitri mampu menghadirkan makna kehidupan yang lebih mendalam yang terinternalisasi bagi setiap manusia. Dengan begitu, setidaknya ‘Idul Fitri tidak hanya sebagai perayaan “boros” yang menghamburkan banyak materi  namun dapat menjadi perantara pembangunan relasi kehidupan di tengah masyarakat menjadi lebih tertata, toleran dan menumbuhkan kasih sayang.
Secara kasat mata dapat kita perhatikan, bahwa kehadiran ‘Idul Fitri selalu saja membawa pesan-pesan perbaikan. Mulai infrastruktur jalan, perbaikan moda transportasi angkutan umum atau bahkan meningkatnya layanan transportasi di semua angkutan. Lalu secara moral etik, kualitas kehidupan beragama-pun menjadi tampak lebih “religious” dibanding har-hari sebelumnya. Hal ini membuktikan bahwa diakui ataupun tidak ‘Idul Fitri sesungguhnya telah turut serta memberikan sumbangan yang tidak sedikit bagi kehidupan umat manusia.
Kalimat silaturahim yang selama ini kita kenal, sebenarnya berasal dari bahasa Arab, yaitu dari kata shilah dan ar-rahim. Kata shilah yang berarti ‘sampai, menyambung’. Adapun kata ar-rahim, berarti  “hubungan kekerabatan. Atau secara sederhana silaturahim berarti menyambung tali persaudaraan kepada kerabat yang memiliki hubungan kerabat. Intinya adalah silaturahim sesungguhnya adalah membangun relasi antar manusia, tidak hanya terhadap sanak saudara namun lebih dari itu kepada siapapun yang tidak kita kenal. Bahkan argumentasi menganai silaturahim ini diperkuat dengan sebuah hadist; “Barangsiapa ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, hendaklah ia bersilaturahim.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Marilah kita perhatikan sejenak tentang silaturahim, terutama dari sisi sosiologis. Sesungguhnya Silaturahim menjadi suatu tonggak yang mampu memperkuat/memperkokoh banyak hal, mulai dari persatuan dan kesatuan bangsa, perhatian, kasih sayang, mata pencaharian, hingga secara agami sebagai jalan untuk meraih ridha sang Khaliq. Dari kacamata sosiologi, silaturahim menjadi bagian dari network yang akan memperluas jangkauan seseorang. Semakin banyak Silaturahimnya maka jaringannya akan semakin banyak dan kuat sehingga memungkinkan baginya membangun hubungan yang tidak terbatas.
Secara sederhana, sebenarnya silaturahim adalah ilmu membangun komunikasi. Kita semua mengetahui bahwa komunikasi adalah salah satu dari sekian banyak hal yang signifikan untuk dilakukan manusia. Dalam hal ini yang saya maksud adalah terutama komunikasi di tengah keluarga. Boleh saja niat silaturahim ini awalnya karena “perintah” agama, namun tidak ada salahnya mulai dari sekarang kita memutar haluan menempatkan silaturahim atau komunikasi ini sebagai bahagian dari hobbi atau bahkan gaya hidup di tengah kondisi masyarakat yang cenderung apatis terhadap persoalan-persoalan kontemporer, meminjam istilah Deddy Mulyana yang melakukan penelitian mengenai silaturahim bahwa sebenarnya silaturahim pada dasarnya adalah dorongan jiwa setiap manusia.
Meminjam apa yang disampaikan oleh Arif Mulyadi, sesungguhnya silaturahim memiliki beberapa macam fungsi, setidaknya ada dua hal yang ingin saya utarakan. Pertama, sebagai proses transformasi dan pelembagaan nilai. Artinya bahwa perilaku saling kunjung-mengkungi akan semakin mengukuhkan silaturahim sebagai salah satu system nilai kehidupan yang merakyat tanpa melihat golongan darimana berasal yang selanjutnya tidak hanya memberikan ruang teoritis saja namun silaturahim secara tepat akan mampu memlihara ikatan batiniyah setiap manusia, atau dalam istilah lain sesungguhnya silaturahim adalah doktrin doktrin kemanusiaan dalam agama Islam.
Kedua, sebagai proses pembuktian ajaran. Setiap manusia yang mengaku beragama selalu dituntut untuk membuktikan keimanananya kepada sang Khaliq, tidaklah memiliki makna apapun manakala ada seseorang yang mengaku dirinya beriman namun di sisi lain tidak bersedia membuktikan keimanannya. Oleh karena itu, sebenarnya silaturahim adalah bentuk lain dari salah satu cara pembuktian keimanan seseorang kepada Allah swt.
Akhirnya tidaklah terlalu berlebihan kalau saya katakana bahwa sesungguhnya silaturahim adalah bagian tidak terpisahkan dari perjalanan kehidupan manusia. Bahkan, saking pentingnya silaturahim para ulama bersepakat bahwa menyambung silaturahim adalah suatu keharusan (wajib), sedangkan berpikir untuk memutuskan silaturahim adalah tindakan yang tidak diperkenankan atau dalam bahasa agama secara tegas diharamkan. Bahkan dalam salah satu ajaran kitab suci Al-Qur’an (QS. al-Ra’d, 13:25) Allah swt berfirman memberikan ultimatum kepada manusia ayang memutus tali silaturahim. “Orang-orang yang merusak janji Allah setelah diikrarkan dengan teguh dan memutuskan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan dan mengadakan kerusakan di bumi, orang-orang itulah yang memperoleh kutukan dan bagi mereka tempat kediaman yang buruk (neraka).” Wallahu a’lam

Ibadah Haji : Antara Sakralitas dan Rasionalitas

Berdasarkan informasi dari mbah google bahwa antrian calon haji sudah mencapai 2,2 juta orang untuk 10 tahun ke depan. Ini menarik.
Tingginya animo masyarakat untuk menunaikan ibadah haji disebabkan oleh beberapa faktor.
Faktor pertama faktor prestise. Prestise ini ditandai dengan menjadikan haji sebagai seperti gelar di mana kata haji dilekatkan di depan nama kita. Faktor prestise ini hanya khas Indonesia karena di negara lain, terutama di Arab Saudi, pencantuman kata haji di depan nama kita tidak dikenal.
Faktor kedua adalah sakralitas tempat yang akan dikunjungi. Mekkah dan Madinah merupakan tempat paling sakral bagi umat muslim karena di kedua tempat tersebut tempat beradanya Ka’bah dan makam Nabi Muhammad SAW. Sedangkan peribadatan haji sebagian besar merupakan pengulangan sebagian sejarah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail.
Faktor ketiga adalah panggilan iman. Inilah yang sebenarnya yang sangat diharapkan.
Sakralitas haji dengan melihat tingginya animo masyarakat untuk mengamalkannya perlu dilakukan bedah kasus agar ibadah haji bisa ditempatkan pada sakralitas yang proporsional rasional dan bukan pada sakralitas yang berlebihan.
Ada beberapa cara pandang dan perilaku yang berlebihan yang bisa menyebabkan ibadah haji memiliki sakralitas yang berlebihan. Seolah-olah ibadah haji merupakan kewajiban tanpa syarat. Seolah-olah apabila tidak melaksanakan ibadah haji maka kualitas keIslamannya menjadi tidak maksimal. Padahal ibadah haji hanya diperuntukkan kepada yang mampu melaksanakannya. Mampu dalam artian mampu pisik, mampu batin, mampu hidup bagi keluarga yang ditinggalkan sementara dan mampu hidup setelah menunaikan ibadah haji. Tidak sedikit yang memaksakan beribadah haji padahal fisiknya sudah sudah tidak mampu lagi. Malah ada yang sengaja melaksanakan haji walau menyadari sudah tidak mampu secara fisik lagi dengan niatan ingin meninggal di tanah suci. Banyak yang melaksanakan ibadah haji dengan memaksakan biaya dari menjual seluruh atau sebagian hartanya padahal anak cucunya masih sangat membutuhkan biaya untuk mendukung hidupnya. Akibatnya setelah selesai berhaji maka anak cucu termasuk dirinya sendiri hidup miskin melarat. Yang lebih menyedihkan adalah berhutang demi agar bisa menunaikan ibadah haji. Yang paling parah adalah korupsi untuk biaya haji.
Di sini peranan para ulama untuk lebih proposional mendakwahkan ibadah haji sesuai poporsinya. Bahwa sesungguhnya ibadah haji sama pentingnya dengan ibadah yang lain seperti ibadah sholat, puasa dan zakat (fitrah dan mal).
Justru dakwah tentang zakat mal begitu kurang sehingga ada pemahaman keliru bahwa zakat mal bukan sesuatu yang wajib dan tidak ada dosa ketika meninggalkannya. Berhaji tapi meninggalkan zakat mal justru berpotensi haji tidak mabrur atau setengah mabrur.

Dengan Kekuatan Sabar

Dalam kegiatan apapun dibutuhkan orang-orang yang sabar, tidak terkecuali di dunia pendidikan. Di sana diperlukan tangan-tangan terampil, celotehan manis yang membimbing, goresan papan tulis yang mencerahkan dst. Sehingga dapat mengantarkan insan yang cerdas, beriman dan bertaqwa, menjadi anak-anak cerdas terbaik umat. Dan itu dapat dilakukan oleh orang-orang yang punya kesabaran dalam membimbing dan mengarahkan.
Dalam kaitan ini, tentu sabar adalah seni dalam beramal. Ia menjadi hiburan spiritual yang membuat ahlul-’amal justru bisa merasakan kenikmatan di tengah-tengah lelahnya bekerja dan beramal.  Ia menjadi pitamin yang membuat para pencinta amal terus bersemangat, kebal dari penyakit putus asa dan cepat bosan.
Alloh SWT dalam firman-Nya,
Hai Nabi, kobarkanlah semangat para mu’min untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. Dan jika ada seratus orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan seribu dari pada orang kafir, disebabkan orang-orang kafir itu kaum yang tidak mengerti. QS al-Anfal: 65
Inilah ruh yang harus dimiliki orang-orang mukmin, guru-guru beriman yaitu ruh kesebaran. Baik dalam beramal, berjuang, juga dalam menghadapi berbagai ujian membimbing dan mengarahkan anak didik. Dari saeratus anak terdapat seratus karakter, kebiasaan dan pola pikir yang berbeda, keisengan dan kenakalan yang kadang sulit dimengerti. Tetapi ditangan-tangan yang penuh kesabaran kesemuanya dapat teratasi meskipun memang kadang harus lama, penuh kesabaran.
Beberapa hari lalu, dibeberapa media disampaikan berkaitan dengan kekerasan yang terjadi di sekolah, adanya senior yang menghukum junior, kakak kelas yang mengeroyok adik kelasnya gara-gara es yang seribu rupiah jatuh tersenggol. Di sampaikan bahwa kekerasan yang diperlihatkan tenaga pendidik dengan maksud disiplin tidaklah semua membuahkan kebaikan. Banyak diantaranya menimbulkan dendam dengan meneladani kekerasan yang dihadapinya dalam keseharian. Nontonan tayangan tv dengan kekerasan juga cukup punya andil dalam kekerasan anak di sekolah, mereka mempratekkan apa yang dilihatnya, disangkanya apa yang dilihat itu sebuah kebeneran, bukan laga, kepura-puraan.
“Mendidik dengan sabar berarti mendidik dengan ucapan yang halus dan tidak bernada marah. Bahkan kalau perlu dengan raut muka yang senyum. Kalau mendidik dengan kasar, membuat anak menjadi takut dan pendidikan yang diajarkan menjadi terlupakan. Sebaliknya sentuhan yang baik dengan mengelus pundak kanan dan kiri, mengelus punggung, mengelus kepala bagian belakang, sentuhan pada bagian tersebut yang diajarkan Nabi Muhammad SAW yang membuat anak menjadi mudah patuh dan mengakui kesalahannya.
إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ
“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (az-Zumar: 10)
jelasnya, menjalankan ketaatan dalam tugas apapun, membutuhkan kesabaran, dan siapa yang mampu bersabar, akan ditambah dengan dua macam kesabaran, maka ia akan mendapatkan keberuntungan hidup dan pahala melimpah.
Allah SubhanahuWaTa’alaberfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu beruntung.” (QS. Ali Imran: 200)