Media Informasi Pemuda Peduli Dhuafa Gresik (PPDG) || Website: www.pemudapedulidhuafa.org || Facebook: Pemuda Peduli Dhuafa Gresik || Twitter: @PPD_Gresik || Instagram: Pemuda Peduli Dhuafa Gresik || Email: ppd.gresik@gmail.com || Contact Person: 0838-3199-1684 || Nomor Rekening: 0335202554 BNI a.n. Ihtami Putri Haritani || Konfirmasi Donasi di nomor telepon: 0857-3068-6830 || #SemangatBerkarya #PPDGresik

Sabtu, 07 Juni 2014

“Jual Ginjal” Solusi Absurd Pertaruhan Politik Sampai Tiket Konser

Dalam benak Chandra Saputra mungkin dulu tidak pernah terlintas saat mencalonkan diri sebagai anggota legislatif di daerahnya, Pekalongan Jawa Tengah, akan berakhir dramatis. Mahalnya biaya politik kini terus menghantui kehidupannya. Uang yang dipinjamnya dari rentenir mencapai Rp.420 juta kini hilang sia-sia. Hingga Chandra Saputra pun lari ke Jakarta dengan niat “menjual ginjal” demi bisa menutupi hutangnya itu.
Banyak cerita pahit menghantarkan penulis pada sebuah kenyataan, mengapa manusia sebegitu mudahnya hendak menjual “organ tubuhnya” terutama ginjal demi kepentingan ekonomi finansial ?
Yang bikin geleng-geleng kepala, kemarin ada tweet kurang lebih bunyinya “Mau nonton One Direction, gak punya duit, siapa mau ginjal saya ? “….
Kali ini saya mengajak pembaca untuk intip kegiatan “jual beli ginjal” di media sosial, terutama Facebook dan Twitter. Hal ini penting saya sampaikan, untuk memperkuat alasan saya mengapa “jual Ginjal” adalah permasalahan baru dan bukan lagi menjadi solusi untuk keluar dari jeratan lingkaran setan ekonomi kita.
Kabarnya , satu ginjal manusia dihargai mahal. Dari belasan juta hingga ada tawaran mencapai 2,1 Milyar Rupiah per ginjal. Tapi tidak semudah yang dibayangkan. Karena pendonor harus dalam keadaan sehat dan menjalani serangkaian prosedur test kesehatan. Bukan hal yang mudah, karena menurut beberapa informasi , walaupun pendonor tidak merokok, tidak minum alkohol dan tidak pernah terdeteksi penyakit-penyakit berat, belum tentu ginjalnya cocok buat penerima yang sudah atau akan membayar ginjal pendonor. Ini masih untung-untungan, kata beberapa dokter yang pernah saya tanya. Bahkan maut selalu mengintai buat para pendonor ginjal yang notabene keadaan ginjalnya hanya ada 1 dalam tubuhnya.
Lingkaran setan “Jual Beli Ginjal” hampir mirip dengan lingkaran setan perekonomian. Ada penawaran, ada kondisi kebutuhan meningkat, ada kenaikan harga dan kembali lagi manusia-manusia pelaku jual beli ginjal hanyalah pelaku peradaban ekonomi yang sempit dan kondisional.
Meneropong lebih dalam dengan membaca broadcast yang dipasang para penjual ginjal itu membuat hati miris. Dan beberapa penjual ginjal itu rata-rata berkisar di usia 20 tahun hingga 37 Tahun. Artinya itu adalah usia produktif. Dimana mereka masih bisa memberi makna dalam kehidupan dengan bekerja dan mencari rezeki tanpa harus menjual salah satu ginjal mereka.

Politik & Rahmatan Lil ‘Alamin

Saya khawatir melihat dan memperhatikan panasnya kampanye Pilpres 2014 kali ini, terutama sekali bagaimana kalau terjadi kebrutalan antar pendukungnya?
Saya khawatir begitu banyak tokoh yang bisa jadi lupa memprediksi karena terlalu berambisi, atau tergadainya nurani?
Saya khawatir memperhatikan peta dukungan untuk kedua Capres, maaf, terutama dukungan dari Ulama, Kiai, Habib, dan seterusnya ……
Saya khawatir ketika “misalnya” Kiai, Ulama atau Tokoh agama dari satu wadah besar NU sebagian memberi dukungan untuk Capres A dan sebagian lagi Capres B. Apakah hal itu tidak rawan untuk terjadinya konflik?
Saya khawatir mereka semua lupa untuk tidak mempertaruhkan agama dalam hingar bingar politik. Seandainya toh, tidak terjadi keributan, dan memang itu yang saya harapkan, apakah tidak membingungkan umat ketika Kiai A, B, C, D, E, … mendukung Capres X, lalu Kiai yang lainnya memberi dukungan Capres Y? Lalu semua Kiai pendukung Capres-Capres itu mengeluarkan fatwa-fatwa yang sudah pasti berbeda sesuai dengan yang didukungnya.
Saya khawatir terjadi bencana pada agama Rahmatan Lil ‘Alamin hanya karena banyak tokohnya lupa mengkhawatirkan. Kalau semua Capres/Cawapres meminta dukungan kesemua orang, bisa dipahami karena memang ingin menang, itulah sebab perlu bijaksana untuk memberi dukungan. Terlebih lagi kalau misalnya akan mengeluarkan fatwa-fatwa yang saling bertentangan, kasihan umat dibawah kalau sampai salah memaknainya, semoga tidak terjadi pertikaian, karena agama memang sangat rentan ditunggangi politik juga diselewengkan ….. Mohon maaf kalau kurang berkenan, karena memang saya khawatir.

Jumat, 06 Juni 2014

Menggugah Rasa Kebanggaan Jadi Orang Indonesia

Banyak cara menggugah Rasa Kebanggaan Jadi Orang Indonesia, salah satu caranya adalah dengan menggelorakan lagi semangat cinta produk lokal. Produk lokal asli buatan Indonesia tidak kalah dengan produk impor. Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan, Srie Agustina, mengungkapkan, berdasarkan riset Universitas Indonesia, terdapat 91 persen responden yang menyatakan bangga dengan produk Indonesia.Namun, dalam survei yang sama ditemukan hanya 34 persen responden yang mau membeli produk Indonesia.
Jangan biarkan produk impor mendominasi isi rumah, tas, dan segala yang kita kenakan dalam keseharian kita. Alasan beli produk lokal:
Pertama, membeli produk Indonesia bukan karena lebih baik, bukan karena lebih murah, tetapi karena milik bangsa sendiri.
Dua, membeli produk lokal dalam upaya untuk membela bangsa Indonesia. Terakhir, membeli produk Indonesia untuk menghidupkan semangat persaudaraan.
Ketiga, Bukan antiproduk asing, menggugah rasa kebanggaan menjadi orang Indonesia sehingga senang memakai produk buatan sendiri.
Keempat, Mengurangi nilai Impor sehingga menghemat devisa negara.
Kelima, memberikan kesempatan bagi masyarakat Indonesia menciptakan produk baru, karena ada keyakinan konsumsi dari masyarakat sendiri
Keenam, kualitas produk lokal akan meningkat karena semakin banyak pengguna maka semakin mendorong industri untuk meningkatkan kualitasnya
Ketujuh, Produk Indonesia bisa semakin dikenal di seluruh dunia.
Jelas dalam Instruksi Presiden Nomor: 2 Tahun 2009  tentang Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri dalam Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah mengamanatkan hal tersebut. Aku Cinta Indonesia memang gerakan yang digalakkan pemerintah sejak tahun 2009. Tujuan gerakan ACI adalah meningkatkan pemahaman, pembuatan dan penggunaan barang produksi dalam negeri.
Cara untuk mencapai tujuan ACI cukup dengan menggunakan dan memproduksi barang dari negeri. Dalam jangka panjang diharapkan menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan produksi dalam negeri.  Selain inpres tersebut, keputusan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Selaku Ketua Harian Tim Nasional Peningkatan Ekspor dan Peningkatan Investasi Nomor: Kep-08/M.Ekon/02/2009 tentang Logo dan Koordinasi Pelaksanaan Kegiatan Aku Cinta Indonesia, turut menguatkan gerakan ini.
14020456491834108900
www.banyakbanget.com
Seberapa besar sih pengaruh rasa cinta pada produk dalam negeri akan berpengaruh pada kemajuan bangsa ini, berikut ini diagramnya:
1402045817771805986
http://www.adipala.com/
Ayo beli produk lokal, kekuatan konsumen sangat besar untuk mendorong pertumbuhan industri dalam negeri kita. Cara ini, akan menjadi proteksi alamiah bagi produk dalam negeri dari produk impor. Kalau kita mau menggunakan produk dalam negeri, dengan sendirinya produk impor akan tersingkir.
Banyak pameran produk dalam negeri di Indonesia, sekarang sudah ada di tiap daerah, baik itu skala besar dengan kapasitas gedung ber AC dan stand produk yang besar, ataupun pameran yang sederhana gedung yang tidak ber AC cukup suasana sejuk dengan stand produk yang sederhana. Saatnya kita ikuti dan kunjungi berbagai pameran produk Indonesia, kalau ada duit ya beli dong, masa cuma dilihat aja? Antusiasme pengunjung pameran berkat informasi yang disebarluaskan melalui media massa dan media sosial, ini bukti barang-barang berkualitas berasal dari Indonesia!

Menuju Negara “Padhajayanya”

Leluhur umat manusia, lebih khusus leluhur bangsa ini, bagi Penulis, memiliki kekuatan adi luhung. Memang terlalu umum jika disebutkan seperti itu. Sebab, kehidupan manusia di setiap mileu tidak akan terlepas dari dua hal; antara baik dan jahat. Pun dengan leluhur bangsa ini, mereka sudah pasti terdiri dari dua unsur yang saling berparadoks, baik dan jahat, baik sikap mau pun pikiran.
Ke-adi luhung- an, leluhur Nusantara terlihat dari cara mereka menyusun dengan penuh kontemplatif segala sesuatu yang akan menjadi produk mereka, apa yang telah mereka hasilkan, dan filosofi-filosofi mendalam dalam tutur kehidupan leluhur kita hingga sekarang yang telah mengendap menjadi ajaran, nilai, serta norma-norma pengatur kehidupan.
Fokus penting para leluhur dalam menghasilkan sebuah produk adalah kedekatakan mereka dengan Sang Pencipta, ajaran pertama tentang kesakralan, ajaran yang bersumber dari nilai-nilai ke-Tuhanan. Para leluhur Nusantara tidak akan melahirkan produk apa pun tanpa melakukan proses permenungan dan sikap kontemplatif terlebih dahulu. Kenapa? Agar segala yang mereka hasilkan tidak bertolak belakang dengan kehendak Yang Maha Kuasa. Begitu pun dalam melahirkan ajaran-ajaran dan hukum-hukum dalam ketata-negaraan. Produk apa pun akan terlihat adanya keterikatan dan keterkaitan antara satu hal dengan hal lain.
Mencermati hal tersebut di atas, maka tidak menjadi persoalan, jika peradaban manusia tertua di dunia ini, kemungkinan besar, berasal dari Nusantara. Ini bukan sikap aplogetik, kecuali merupakan harapan, sebuah idealisme agar bangsa ini sadar terhadap ke-adi luhung-an para leluhur mereka.
Kemarin, Penulis mencoba melakukan pendekatan sejarah terhadap fenomena pemilihan presiden tahun 2014. Sedikit ada kemiripian antara pemilihan presiden saat ini dengan sekelumit sejarah kerajaan Mataram di era: Suksesi Tahta Jawa ke-dua. Dalam tradisi Nusantara (Sunda Besar dan Sunda Kecil), kondisi Negara, ketika terjadi perebutan kekuasaan, percekcokan dimana-mana, saling klaim kebenaran, terjadinya rusuh dalam satu ikatan Negara, sangat cocok dengan susunan abjad aksara Sunda-Jawa-Bali, SAWALA, percekcokan di sana- sini, alasan-alasan menjadi aroma kehidupan. Padahal, leluhur kita telah menciptakan agar kehidupan bernegara ini DATA SAWALA, jangan banyak percekcokan.
Jika diderivasi lebih luas, konsep HANA CARAKA, DATA SAWALA, PADHAJAYANYA, MAGA BATHANGA yang telah disusun oleh leluhur kita menggambarkan sebuah Negara ideal. Prapanca dalam Kitab Nagarakratagama, menyebutkan sebuah Negara yang lahir dari aturan-aturan kesucian, Negara yang tidak bisa dipisahkan dengan aturan-aturan ilahi. Negara ideal, menurut Plato dan Santo Augustinus adalah Negara atau Kota Tuhan, dimana segala potensi yang lahir di Negara tersebut adalah potensi yang telah diberikan oleh Tuhan kepada manusia. Bukan Negara sebaliknya, Negara Iblis.
Dalam De Civita Dei, Augustinus menjabarkan, Kota atau Negara Iblis adalam sebuah tempat dimana percekcokan, saling klaim kebenaran, memperjual belikan ayat-ayat Tuhan demi mencapai tujuan, mengaku-aku diri sebagai utusan Tuhan di muka bumi, mengagungkan diri lebih dari Pencipta, dan berkumpulnya segala potensi kejahatan. Bahkan, Plato menyitir dengan nada keras, konsep Polytheisme Yunani merupakan cerminan berkumpulnya segala potensi kejahatan di dalam pribadi-pribadi para dewa. Dewa-dewa memiliki sikap iri, dengki, bahkan egosentris, merengek-rengek seperti anak kecil kepada Zeus agar maksud dan tujuan mereka tercapai.
Abjad aksara “HANA CARAKA, DATA SAWALA, PADHAJAYANYA, MAGA BATHANGA”, bagi siapa pun merupakan siklus kehidupan bernegara seperti Plato dan Aristoteles yang telah menyusun bentuk Negara dan sisitem pemerintahan. “HANA CARAKA “ adalah konsep kehidupan bernegara, dimana manusia bertindak sebagaiCARAKA (utusan) Tuhan. Siklus pertama ini lahir ketika awal alam diciptakan oleh Tuhan. Dalam tradisi Semitik, Alloh menciptakan Adam sebagai kholifah di muka bumi sekaligus bertindak sebagai utusan-Nya. Masing-masing peradaban memiliki interpretasi berbeda terhadap manusia pertama ini, namun secara substansi, semua peradaban memberikan penegasan, manusia pertama di muka bumi ini bertindak sebagai utusan Alloh, bertugas menjaga dan memakmurkan bumi.
Kehidupan manusia semakin berkembang, dan ini membawa manusia kepada kondisi non- “DATA SAWALA”, sebuah roda, dimana teriakan dan demonstrasi dianggap hal wajar, caci-maki dan obral janji menjadi hal biasa bahkan terkesan lumrah. Kehidupan sulit untuk menemukan sikap-sikap “amanah”, kebobrokan dimanipulasi dengan alasan dan alibi. Hingga penentuan kepada Negara pun harus diserta oleh adu mulut, debat kusir, tidak bisa menerima kritik dan saran dari pihak lain. Oleh satu pihak, demokrasi dianggap sebagai sisitem yang harus diTuhankan, sementara oleh pihak lain, demokrasi disebut sebagai barang haram yang telah merenggut hak Tuhan. Percekcokan ini telah melahirkan kesubhatan /kebiasan dan kesamaran terhadap kebenaran sejati. Padahal, Alloh SWT tidak pernah memberikan beban berat kepada manusia untuk mengatur alam ini. Mekanisme yang telah diciptakan oleh Alloh telah benar-benar memerhatikan kapasitas manusia sendiri, hukum kausalitas, sebab akibat.
Ketika sisitem “DATA SAWALA” telah hilang dari kehidupan, sudah dipastikan Negara “PADHAJAYANYA” akan hilang, kondisi bobrok ini akan melahirkan Negara non- “MAGA BATHANGA”, sebuah kondisi perpecahan, baku-hantam, keropos, dan amah akan tetap sulit dijalankan di muka bumi. Lahirnya pemikiran, konsep Negara yang baik seperti dalam Wealth of Nation (Negara Berkemakmuran), Adam Smith,Scandinavian State Welfare, atau Nagarakretagama Mpu Prapanca pada dasarnya dilator belakangi agar kehidupan benar-benar selaran dengan konsep “HANA CARAKA , DATA SAWALA, PADHAJAYANYA, MAGA BATHANGA”.

Kisah Umar bin Khattab dan Sungai Nil dan Tradisi Syirik di Lingkungan Kita

Sering kali, untuk alasan keselamatan dalam bekerja, atau demi lancarnya keberlangsungan suatu acara, atau dengan dalih tertentu untuk menutupi kelemahan berpikir kita, maka kita melakukan permohonan bantuan kepada “sesuatu” yang selanjutnya kebablasan menjadi suatu “tradisi”, yg terus-menerus kita uri-uri atau kita lestarikan.
Bahkan bilamana terjadi aral atau ketidak lancarannya prosesi pekerjaan tsb, selalu kita gandengkan dengan hitungan harinya, tumbalnya, dsb, dsb, dsb.

Menuruti apa saja anjuran dukun/paranormal, membuat sesaji-sesaji, menyediakan tumbal (yang biasanya sangat keji caranya), menyembah pundhen/berhala/pusaka, dan makin parahnya justru memerintahkan bawahan kita untuk ikut melaksanakan “tradisi” tersebut secara kolosal.
Naudzubillah, … Bagaimanapun juga semestinya kita harus senantiasa menanamkan prinsip utama dari kalimat “Laa illaha illallah” ke dalam qalbu dan akal pikiran kita, sehingga terhindarkan menyekutukan-Nya dg “sesuatu yg bodoh” tadi. Syirik = otomatis masuk neraka Jahannam, neraka yang paling dasar dan tidak ada grasi/remisi/abolisi/rehabilitasi apapun untuk keluar darinya.
Sebaiknya dan sebagusnya, marilah kita tauladani bagaimana sikap seharusnya terhadap “tradisi syirik” tsb dari kisah Khalifah Umar bin Khattab dan Sungai Nil berikut ini :
Pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab r.a, negeri Mesir telah menjadi bagian dari pemerintahan Islam di Madinah. Sekitar th 20 H, suatu hari perwakilan pemimpin masyarakat Mesir mendatangi sahabat Amr bin ‘Ash r.a yang saat itu ditugaskan Khalifah Umar untuk menjadi Gubernur Mesir.
“wahai Amr, Sungai Nil kami ini memiliki tradisi yang dengan tradisi itu maka arus sungai Nil ini dapat mengalir terus menerus” ujar mereka
lalu Amr bertanya “apakah tradisi itu ?”
mereka menjawab “di malam ke sekian dari bulan ini, kami akan mencari seorang wanita perawan yang paling cantik dan paling sempurna, yang kami ambil dari orangtuanya … meskipun kami juga akan berusaha membujuk orangtuanya agar merelakan anaknya kami bawa” lanjutnya
“setelah itu, kami akan menghiasnya dengan berbagai perhiasan yang membuatnya sangat cantik, juga pakaian yang paling indah untuknya..”
dengan sedikit ragu mereka meneruskan penjelasannya “… setelah itu kami akan korbankan dirinya dengan membuangnya ke Sungai Nil”
Amr pun langsung menjawab “Astaghfirullah, tradisi ini dilarang dalam islam, sesungguhnya kita harus meruntuhkan tradisi syirik seperti ini!”
jawaban tegas dari Amr membuat mereka diam dan tidak berani berbuat apa apa.
Dan sungguh, dalam kenyataannya beberapa hari kemudian sungai Nil menjadi kering sekering keringnya.
Telah beberapa bulan berlalu, Sungai Nil tidak sedikitpun mengalirkan airnya, sehingga muncul suara-suara sumbang dari penduduk sekitar sungai Nil terhadap kebijakan Gubernur, akibat kepayahan mereka tanpa adanya air dari Nil. Penduduk yg telah tidak tahan dg kepayahan tsb telah bersiap siap melakukan eksodus, mengungsi dari Mesir.
Amr bin Ash segera mengirim surat kepada Khalifah Umar memberitakan kejadian tersebut, dan mohon solusi secepatnya.
Dalam balasan suratnya khalifah Umar berkata “sesungguhnya kebijakan yang kau (Gubernur Amr bin Ash) ambil sudah tepat,.. dan aku telah mengirim bersama surat ini sebuah lembaran. maka lemparkanlah lembaran ini ke dasar sungai Nil”
Maka Amr bin ‘Ash segera ketepian sungai Nil untuk melakukan perintah Khalifah Umar, melemparkan sebuah lembaran dari Khalifah ke dasar sungainya.
Dan di pagi harinya, tentu atas ijin Allah, sungai Nil telah kembali mengalirkan airnya. Bahkan dalam hari itu pula permukaan air bertambah tinggi sehingga kembali menggenangi keringnya seluruh sungai Nil yang luas dan panjang. Dan sejak tahun itu, tradisi syirik jahiliah di Mesir terkait sungai Nil hingga sekarang telah dihilangkan.
Gubernur Amr bin ‘Ash sendiri masih mengingat isi lembaran yang harus ia lemparkan itu, yang hanya berupa tulisan/surat yang bunyinya;
“dari hamba Allah Umar bin Khattab kepada Sungai Nil milik penduduk Mesir, Amma ba’du : “jika engkau mengalir karena dirimu dan atas keinginanmu sendiri, maka tidak usah kau mengalir dan sungguh kami tidak membutuhkanmu karena hal itu. tetapi jika engkau mengalir karena perintah Allah Yang Maha Satu dan Perkasa, sebab Dia-lah yang membuatmu mengalir, maka kami memohon kepada Allah agar membuatmu mengalir”.

Kamis, 05 Juni 2014

Menyikapi Menang Atau Kalah dalam Pilpres

Dukungan masyarakat begitu besar kepada masing-masing calon presiden dan calon wakil presiden pilihan mereka. Tampak selalu antusiasme di Kompasiana ini, berbagai tulisan muncul, beraneka ragam, ada hasil riset, pembangunan opini berdasarkan data, atau gosip-gosip, kemudian komentar dibawah tulisan tersebut sesekali memojokkan salah satu calon, kemudian terjadi adu pendapat, tidak jarang berkhir caci-maki, dan tentu saja sangat tidak bagus untuk dibaca.
Kemudian saya berpikir bagaimana sikap pendukung pasangan calon presiden dan wakil presiden bila pasangan calon yang mereka dukung bila kalah dalam putaran pertama? Akankah mereka menuntut putaran kedua? Dengan kampanye yang begitu banyak di berbagai media cetak elektronik, sosial media telah menyebar, akankah menjadi sia-sia? Apakah mereka menggugat perhitungan suara? Atau yang lebih sederhananya apakah mereka marah, kemudian menuduh, caci-maki pasangan calon yang menang?
UU Pilpres yang belaku pada Pilpres mendatang adalah  UU no 42 tahun 2008. Dalam UU tersebut syarat memenangkan Pilpres  tercantum pada pasal 159 . Pada ayat 1 berbunyi:
Pasangan Calon terpilih adalah Pasangan Calon yang memperoleh suara lebih dari 50% (lima puluh persen) dari jumlah suara dalam Pemilu Presiden dan Wakil Presiden dengan sedikitnya 20% (dua puluh persen) suara di setiap provinsi yang tersebar di lebih dari ½ (setengah) jumlah provinsi di Indonesia.
Menurut hemat saya bila syarat diatas terpenuhi salah satu calon maka dia akan menang dalam satu putaran, bila tidak akan dilangsungkan dua putaran.

Menggugat Hasil Pilpres
Selama Orde Baru, tidak pernah dijumpai permasalahan pemilu berakhir pada proses di pengadilan. Tidak heran kalau kasus gugatan terhadap hasil pilpres menimbulkan pendapat dan pemahaman yang beragam. Ada yang berpandangan politik memang runyam. Melahirkan anggapan siapapun yang menang dalam pemilu di negara ini pasti akan direcoki. Para elite hanya cenderung berorientasi kepada kekuasaan. Bila gagal meraih kekuasaan maka apapun akan dilakukannya, termasuk menggugat hasil pemilu.
Jika tidak ada indikasi kecurangan atau pelanggaran atau kekeliruan atau apalah namanya, kecil kemungkinannya muncul gugatan seperti ini. Pendukung pasangan calon bisa menganggap sudah lama kecurangan dalam pilpres. Ini masih diteruskan meski katanya kita sudah masuk dalam era reformasi.
Kemudian kredibilitas MK diuji, karena tanggung jawab memutus perkara gugatan hasil pilpres kini berada di pundak Mahkamah Konstitusi (MK). Beban ini menjadikan posisi MK menjadi sangat dilematis mengingat keputusan dari kasus ini akan menimbulkan implikasi yang sangat luas bagi kehidupan politik di negara ini. Sebagaimana tercantum dalam UUD 1945 hasil amandemen Pasal 24C disebutkan, MK berwenang mengadili pada tingkat pertama dan terakhir yang putusannya bersifat final dan mengikat untuk menguji undang-undang terhadap UUD, memutus sengketa kewenangan lembaga negara yang kewenangannya diberikan oleh UUD, memutus pembubaran partai politik, dan memutus perselisihan tentang hasil pemilihan umum. Sekarang, MK dituntut memutus perselisihan tentang hasil pilpres.
Dewan Pimpinan Pusat Partai (DPP) Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Rochmin Dahuri pernah bercerita Megawati Soekarno Putri tidak pernah merasa sakit hati kepada SBY yang mengalahkannya pada Pilrpes 2004 dan 2009. Sebaliknya, Megawati justru merasa legawa dengan kekalahannya maju di Pilpres 2004 dan 2009. “Beliau (Megawati) menerima kekalahan itu dengan legawa,” kata Ketua DPP PDIP, Rochmin Dahuri ketika Rochmin menyatakan sikap legawa Megawati misalnya terlihat dari penolakan bersikap anarkis. Padahal saat itu, kata Rochmin, banyak massa pendukung Megawati yang tidak terima dengan kemenangan SBY karena menilai syarat kecurangan. Megawati, imbuh Rochmin, juga tidak mengambil langkah hukum atas kekalahan yang dialaminya dua kali berturut-turut.

Sikap Menerima Kekalahan
Bagi umat muslim cara menyikapi kekalahan terdapat dalam Al  Qur’an, tentang kisah peperangan Uhud dalam 60 ayat, yang terdapat dalam surah Ali ‘Imran dan dimulai dari ayat 121 hingga ayat 179. Penjelasan itu diawali dengan sebuah rekonstruksi yang menjelaskan latar belakang psikohistoris Perang Uhud (ayat 121) dan diakhiri dengan sebuah komentar penutup yang menggambarkan keseluruhan makna dan hikmah dari peristiwa tersebut (ayat 179). Allah SWT mengatakan :
“Allah sekali-kali tidak akan membiarkan orang-orang yang beriman dalam keadaan kamu sekarang ini, sehingga Dia menyisihkan yang buruk (munafik) dari yang baik (Mukmin). Dan Allah sekali-kali tidak akan memperlihatkan kepada kamu hal-hal yang gaib, akan tetapi Allah memilih siapa yang dikehendaki-Nya di antara rasul-rasul-Nya. Karena itu, berimanlah kepada Allah dan rasul-rasul-Nya; dan jika kamu beriman dan bertaqwa, maka bagimu pahala yang besar.” (Ali ‘Imran: 179)
Dalam runtut penjelasan panjang itu, Allah Swt hendak mengajarkan kaum Muslimin cara yang tepat untuk menghadapi dan menyikapi kekalahan. Bahwasanya, bencana yang lebih besar dari kekalahan adalah apabila kita kehilangan kemampuan menentukan sikap dalam menghadapi kekalahan itu sendiri. Berikut penjelasannya;
  1. Pelajaran pertama. Untuk orang-orang kalah, mereka harus mempertahankan keseimbangan jiwa manakala kekalahan itu datang.
  2. Pelajaran kedua. Untuk orang-orang kalah, mereka harus mengetahui kalau kemenangan dan kekalahan itu sesungguhnya bukanlah situasi yang permanen (tetap). Kemenangan dan kekalahan adalah piala yang dipergilirkan oleh sejarah di antara semua umat. Maka, tidak ada umat yang dapat memenangkan semua babak pertarungan, juga tidak ada umat yang ditakdirkan untuk kalah selama-lamanya.
  3. Pelajaran ketiga. Untuk orang-orang kalah, kemenangan dan kekalahan sesungguhnya merupakan fenomena yang diatur oleh sebuah kaidah. Maka, setiap umat mempunyai hak untuk menang jika mereka memenuhi syarat-syarat kemenangan. Setiap umat pasti kalah jika sebab-sebab kekalahan itu ada dalam diri mereka.
Kegagalan adalah permainan yang memang harus dimainkan, dilewati dan disudahi. Ketika Kita gagal, masuklah kedalam proses kegagalan itu, periksa persoalan intinya dan berusahalah untuk memperbaikinya. Dengan demikian Kita akan menjadi manusia yang lebih bijaksana, lebih arif, dan lebih pandai. Ketika Kita dikecewakan, pergilah untuk beberapa saat, carilah penghiburan agar pikiran Kita bisa kembali fresh. Dengan demikian Kita akan lebih fokus dan presfektif Kita akan menjadi lebih baik. Siap menang harus juga siap kalah dong :)

Senyum Terindah Menyambut Masalah

Jamak kita temui, hampir setiap orang yang menghadapi masalah terlihat kusut di wajahnya. Pada tingkatan tertentu, ada sebagian orang bahkan sampai stres dalam menghadapi masalah. Fenomena ini sekalian hari semakin bertambah jumlahnya. Mulai dari caleg yang gagal, siswa yang merasa tidak bisa menyelesaikan unas sampai masalah keluarga dan ekonomi. Ironisnya diatara mereka yang “tidak kuat” menyelesaikan masalah sampai bunuh diri. Naudzubillah!
Pada tulisan kali ini, penulis akan melihat masalah dari sudut pandang yang lain. Masalah bukan menjadi beban. Tapi masalah sebagai sarana menaikkan derajat manusia, baik di sisi manusia apalagi di sisi Allah.

Belajar dari “Ohm”
Penulis teringat guru SMA saat mengajari rumus fisika, “V=I x R”. V adalah tegangan atau beda potensial, I adalah arus dan R adalah hambatan atau beban. Sekilas memang rumus ini terkesan hanya rumus dasar orang elektro yang dikenal dengan hukum ohm.
Tapi berangkat dari keyakinan bahwa ilmu Allah itu tidak terlepas dengan bidang lainnya, penulis mencoba menghubungkan dengan permasalahan sosial. Dari rumus ini penulis bahasakan, potensial seseorang itu (V) berbanding lurus (=) dengan arus atau usaha / amal / ikhtiar (I) dikalikan dengan beban atau masalah (R).
Paling tidak ada dua poin penting yang bisa kita renungkan dari rumus ini. Pertama dari sisi ikhtiar (I). Bahasa sederhananya, sekalipun manusia punya potensi –sebesar apapun– untuk menyelesaikan sebuah masalah –sekecil apapun–, tapi tidak ada ikhtiar (I=0) untuk menyelesaikannya, maka tidak akan ada artinya potensial itu. Artinya, masalah tersebut tidak terselesaikan. Jadi untuk kasus ini bukan karena tiadanya potensi tapi karena tiadanya ikhtiar (I). Allah mengingatkan kita, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa apa yang pada diri mereka ”. (QS 13:11)
Kedua dari sisi potensial (V). Ikhtiar sudah dilakukan bahkan sampai ngoyo. Tapi karena potensial lemah atau kecil maka kita hanya bisa menyelesaikan masalah-masalah yang kecil. Begitu masalah yang datang lebih besar, maka bisa dipastikan kita tidak akan mampu untuk menyelesaikannya. Banyak contoh dari saudara-saudara kita, ketika sakit tidak bisa berobat yang terbaik. Ketika mau menyekolahkan anaknya di sekolah terbaik, juga terkendala dengan biaya. Dari sahabat Abu Hurairah, kita diingatkan sabda Rasulullah, “Mu’min yang kuat lebih dicintai Allah dari mu’min yang lemah”. (HR. Muslim)

Potensi dan Masalah
Titik tekan kita selanjutnya adalah di poin kedua, bagaimana potensial kita mampu untuk menyelesaikan masalah. Karena pada dasarnya Allah tidak akan memberi beban kecuali kita mampu untuk menyelesaikannya. “Allah tidak akan memberikan beban kepada seseorang di luar batas kemampuannya”. (QS 2:286)
Lalu bagaimana meningkatkan potensi kita? Tiada rumus yang jitu untuk meningkatkan potensi kita kecuali berangkat dari firman-Nya dalam Al-Qur`an surat Al-Mujaadilah ayat 11 : “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat”. Ya dengan iman dan ilmu. Karena ilmu yang dilandasi iman adalah syarat awal sebelum beramal, agar amal kita diterima. Dan Semakin banyak ikhtiar atau amal yang kita lakukan, selain berdemensi ukhrawi – ada nilai pahala di sisi Allah—juga meningkatkan kadar keahlian atau profesional kita.
Coba perhatikan, jika potensial (V) kita bertambah sedangkan masalah (R) tetap, maka dipastikan usaha atau ikhtiar (I) yang dilakukan tidak terlalu berat atau tanpa ngoyo. Inilah kekuatan bertambahnya ilmu yang dilandasi iman sebagai dasar beramal. Contoh dalam keseharian ini banyak kita temui di lapangan.
Tiada ceritanya, orang yang terbiasa melakukan amal (sholih), lalu tidak meningkat potensi dan  kualitas amalnya. Semisal, seorang kuli bangunan yang baru pertama kali kerja, biasanya di hari petama terasa berat. Namun seiring berjalannya waktu dan pengalaman, maka semakin hari terasa ringan dan mudah. Bahkan di waktu tertentu, saatnya bebannya ditambah. Kenapa ditambah? Ya, karena potensinya si tukang kuli sudah bertambah.
Itulah hakekat dari usaha atau ikhtiar. Semakin banyak ikhtiar (I) kita, kalau dihubungkan dengan rumus di atas, semakin besar nilai di sisi kanan ( I x R ) meskipun dengan beban yang tetap pasti sisi sebelah kiri (V) semakin bertambah. Sementara dengan beban (R) ditambah dan ikhtiar (I) semakin besar, pasti potensi (V) semakin besar pula.
Hikmahnya, bagi orang yang terbiasa menyelesaikan masalah yang besar lalu dia diberi beban yang kecil maka terasa ringan. Begitu juga Sebaliknya. Sebagai contoh, orang yang jarang berinfaq, maka ketika diminta untuk berinfaq akan terasa berat, meskipun infaq itu sangat kecil dibanding kekayaannya.

Selamat datang Masalah
Akhirnya pada kesadaran, selama kita masih hidup atau selama potensi (V) masih ada, maka kita tidak akan lepas dari masalah (R). Beda halnya kalau kita sudah mati, maka potensi (V) kita — sebesar apapun — sudah diNOLkan oleh Allah. Meskipun kita berikhtiar (I) sekuat tenaga tiada akan bermakna. Surat Al Mu’minuun : 99-100 menjelaskan, “Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia) agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampal hari mereka dibangkitkan”.
Karenanya, Setiap masalah datang bukan untuk ditakuti, tapi harus dihadapi. Semakin sering kita menghadapi masalah, semakin sering kita menghapi beban, maka disitulah potensial kita semakin besar. Mari siapkan diri untuk beramal yang terbaik sebelum ajal menjemput kita. Lalu katakan kepada masalah, “Selamat datang masalah, dengan senyum terindah kau kusambut. Ku yakin masalah ini bisa diselesaikan dan meningkatkan potensi diri ini, Karena Allah yang Maha Besar bersamaku”.