Media Informasi Pemuda Peduli Dhuafa Gresik (PPDG) || Website: www.pemudapedulidhuafa.org || Facebook: Pemuda Peduli Dhuafa Gresik || Twitter: @PPD_Gresik || Instagram: Pemuda Peduli Dhuafa Gresik || Email: ppd.gresik@gmail.com || Contact Person: 0838-3199-1684 || Nomor Rekening: 0335202554 BNI a.n. Ihtami Putri Haritani || Konfirmasi Donasi di nomor telepon: 0857-3068-6830 || #SemangatBerkarya #PPDGresik

Rabu, 04 Juni 2014

Hidup Ikhlas-Tanpa Pamrih “Mungkinkah”

Ternyata banyak sekali dari kita lebih cepat menyimpulkan masalah tanpa melihat sejarah, lebih cepat menghakimi tanpa mencari saksi.
Dan beberapa hasil dari itu semua adalah kekecewaan, sakit hati dan sebagainya. Ada sebagian dari kita bisa marah, memojokan siapa saja dan menganalisa sebuah masalah secara berlebihan.
Namun yang lucu adalah di jejaring sosial ada yang menyajikan solusi atau jalan keluar bagi sebuah permasalahan namun tidak paham atas akar masalah yang ada.
Ustadz, sahabat senior Saya tadi menyampaikan, itu seperti dua orang dokter gigi yang sedang berusaha memperbaiki kendaraan tua.
Ya…” Jaka Sembung “ alias tidak nyambung. Hidup ini harus dijalalani dengan ikhlas-tanpa pamrih. Jalankan semua aktifitas karena Allah SWT semata.
Kalau sudah pada tahap itu, maka kata beliau….. semua masalah menjadi tidak berat. Belum punya tabungan banyak, atau belum punya harta lebih.. bahkan belum gajian pun menjadi tidak maslah. Karena segala hal kita tujukan pada proses pengabdian pada Tuhan Kita.
Masalahnya : Mungkinkah kita bisa melakukannya ? kalau bisa ikhlas atau sabar, apakah itu tanpa batas ? Apapun itu, patut kita coba.

Ramadhan Spesial

Ramadhan di Indonesia kali ini terasa istimewa karena berbarengan dengan hajatan berskala nasional. Kampanye pilpres pekan terakhir akan mewarnai awal puasa tahun ini. Lalu puncaknya Pemilu Presiden pada 10 hari pertama. Jadi Indonesia bakal merayakan Idul Fitri dengan Presiden yg baru. Serba baru jadinya. Kesejahteraan adalah tujuan hidup semua orang. Tapi manusia juga punya kebutuhan lain yg tidak bisa dinilai dg uang. Hak asasi utk kesempatan yg sama dlm bermasyarakat. Rasa aman dan keadilan tak bisa dipisahkan. Jika itu yg dimaksud dlm Deklarasi Pemilu yang damai.
Semoga para pemuka agama tidak lalai untuk mengingatkan umatnya. Sosok.pemimpin ideal ( jujur, bersih, berani dsb ) hanya layak utk didapat apabila proses yg dijalani sesuai dg citra yg dibangun. Artinya, jauh dari Dusta. Menghindari konflik yg tidak.perlu. Pantang menghasut / menebar fitnah / memaki.
Sudah saatnya para pemimpin negri ini berdaulat di singgasana kepresidenan. Jangan lagi ada polisi bayangan yg menghakimi sesama warga negara tanpa landasan hukum. Penganiayaan di Yogyakarta terhadap non muslim yang tengah doa bersama di rumah, menyulitkan posisi umat muslim lainnya yg tidak suka disamakan dengan kaum Teroris.
Entah apa yg salah dg pendidikan di negri ini ……Orang beriman bisa merasa terusik dg ibadah agama lain di rumah sendiri. Kalau ingin menegakkan Amar Ma’ ruf Nahi Munkar , kenapa bukan menjadi Pembela Kebenaran seperti super hero di.komik? Ini malah menjadikan pelanggaran hukum sbg sarana berekspresi. Banyak kasus pencabulan oleh guru ngaji terhadap muridnya, kasus KDRT yg berawal dr nafsu zinah, pelecehan seksual terhadap anak jalanan bahkan anggota kluarga terjadi di berbagai daerah. Nasib pelaku nya justru baik baik saja, sungguh ironis.
Rusak susu sebelanga karena nila setitik. Agama seharusnya membuat kualitas hidup orang lebih baik. Menuntut masyarakat menghormati bulan puasa tetapi bertindak kriminal adalah hal yg tidak.masuk nalar. Alih alih mendapat pahala justru dikutuk banyak orang. Rakyat kecil sudah muak.dg arogansi ormas yg sweeping pedagang makanan di siang hari Bukankah Allah Maha Tau dan Maha Mendengar doa orang yang ter dholimi….
Semoga orang yang mengaku beragama bisa menunjukkan akhlak nya dengan amal saleh. Sebaik - baiknya manusia adalah yg bermanfaat bagi orang banyak. Hanya anak kecil dan orang gila saja yg tidak tau bagaimana be rtanggung jawab dg perbuatannya. Amalkan agamamu dg tindakan terpuji. Niscaya pahala lebih menanti.

Kritisisasi Krisisnya Media yang Berimbang (?)

Dalam postingan yang sederhana ini, ijinkan saya untuk menyampaikan pendapat saya pribadi mengenai kedua media yang disebut oleh pak SBY dalam pidatonya beberapa hari yang lalu.
Metro TV dan TVone, berikut kedua stasiun TV swasta yang disebut oleh Pak SBY dalam pidatonya atas media yang sekarang makin ga berimbang. Yah, disini sudah menjadi rahasia umum bahwa kedua stasiun tersebut adalah miliknya ketua partai. Partai tersebut merupakan partai koalisi capres-capres masing-masing, maka saya bilang “wajarlah” jika ada pemberitaan yang memberatkan salah satu pihak.
Namun, terlepas dari itu semua, saya hanya ingin menanggapi jika misalkan saya pribadi menjadi ketua partai yang memiliki sebuah media dan saya koalisi dengan salah satu partai pengusung capres. Kalau saya sih sebenarnya untuk media yang seperti ini sudah tidak bisa diutak-atik lagi, hal ini karena ini merupakan salah satu strategi politik yang mungkin saya anggap oke.
Nah bagaimana agar pemirsa dirumah dapat info-info yang berimbang? Kan stasiun TV di Indonesia itu ga hanya ini berdua, masih banyak lagi, kita bisa seleksi masing-masing media. Atau, kita bisa dengan menggunakan media Facebook. Hal ini yang saya lakukan demi mendapatkan informasi yang berimbang diantara kedua calon presiden.
Nah mungkin sampai disinilah penyampaian pendapat saya, semoga kita bisa memilih “yang benar” sesuai hati nurani kita (bukan karena amplop). Terima kasih sudah membaca postingan pemula ini.

Kontemplasi Keragaman

Pada minggu yang lalu, kita mengalami libur nasional dua kali. Pertama memperingati Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW, lalu dua hari kemudian diikuti dengan Kenaikan Isa Al-Masih . Begitu beragam ajaran agama di negara ini, dan juga dunia ini. Tadi yang disebutkan baru dua.
Pemahaman saya yang sangat terbatas mengatakan bahwa sejatinya ajaran agama itu membawa ke arah kebajikan, menjadi rahmat untuk alam semesta (rahmatan lil ‘alamin) seperti kata ajaran agama Islam yang saya yakini, atau kehidupan yang damai penuh kasih seperti kata sahabatku beragama Nasrani.
Tetapi sejarah menunjukkan bahwa begitu banyak perang dan pertumpahan darah atas nama agama, atas nama Tuhan. Bahkan sejarah pun mencatat tidak sedikit pertumpahan darah terjadi dimulai dengan menyebut nama Tuhan yang sama.
Jika Tuhan menginginkan, niscaya Dia mampu hanya menciptakan manusia ini hanya dengan satu paradigma, satu keyakinan, satu agama, satu iman. Tetapi Dia menciptakan kita penuh keragaman dan juga (harus diakui) penuh perbedaan.
Jadi buat saya, keragaman dan perbedaan itu adalah sunnatullah atau kehendak Tuhan. Tugas kita adalah hidup berdampingan, saling memahami, saling menghormati. Tidak usah ada kebencian. Tidak usah merasa terusik jika ada umat agama lain atau tempat ibadah lain di sekitar kita.
Saya diberi kesempatan mengunjungi kota Jerusalem. Tentu saja saya beribadah di Masjidil Aqsa, tempat utama dalam kisah Isra’ Mi’raj Nabu Muhammad SAW. Tetapi saya juga menyaksikan orang-orang beribadah di Tembok Ratapan, juga di Church of Nativity, mereka melakukan hal yang sama, berkomunikasi dengan Tuhan, dengan cara mereka. Saya dan juga mereka, semua berdoa dan memohon yang terbaik untuk kehidupan walau dimunajatkan dalam bahasa dan cara yang berbeda. Di kota ini Tuhan menunjukkan keragaman itu dengan jelas dan gamblang.
Saya banyak punya sahabat yang sangat baik walau label agama kami berbeda. Di sisi lain, juga banyak orang yang mungkin tidak suka dengan saya walau label agama kami sama. Ya, saya menggunakan kata-kata “label” karena tak ada yang tahu keimanan seseorang. Memiliki sati label yang sama, belum tentu pikiran kita sejalan.
Mungkinkah kita yang keliru menafsirkan firman Tuhan? Keterbatasan kita sebagai manusia yang membuat kita belum mampu menterjemahkan maksud Tuhan dan tercampur dengan persepsi dan ego diri kita?
Bahkan saya pun tidak berani mengklaim pendapat saya ini pasti benar. Tetapi setidaknya, itulah yang saya yakini saat ini. Yang saya yakini, setinggi apapun ilmu kita, ada suatu keterbatasan yang membuat kita tidak mampu menterjemahkan semua maksud atau firman Tuhan secara utuh dan sempurna.
Yakin dengan ajaran agama masing-masing adalah suatu keharusan. Subyektifitas dalam memandang kehidupan dalam perspektif ajaran agama masing-masing adalah suatu keniscayaan. Tetapi keinginan dan kemampuan untuk hidup berdampingan penuh kearifan memahami keragaman dan perbedaan juga merupakan pesan Tuhan.
Ah, ini hanyalah sebuah coretan singkat tentang pemahaman saya. Jika ini memang benar, maka itulah karunia Tuhan terhadap kemampuan perenungan dan pemikiran saya. Jika ternyata salah, itu refleksi keterbatasan saya sebagai manusia. Ini hanyalah sebuah perenungan di antara hari-hari libur keagamaan seminggu yang lalu.

Ramadhan & Naiknya Harga Bahan Pangan

Tidak lama lagi saudara-saudari kita muslim akan memasuki bulan suci ramadhan sebagai persiapan menyambut Hari Raya Idul Fitri. Dalam bulan ramadhan atau bahkan menjelang bulan ramadhan, berita tetap yang selalu menghiasi semua media massa adalah realitas kenaikan harga-harga kebutuhan pokok. Setiap kali menjelang dan sepanjang bulan ramadhan kita selalu melihat, menyaksikan dan mendengar bahwa harga-harga barang, terlebih barang sembako, naik dari biasanya. Kenaikan ini malah berdampak juga pada orang-orang yang sama sekali tidak bersentuhan dengan bulan ramadhan.
Realitas naiknya harga kebutuhan pokok menjelang dan selama masa puasa ini seakan menjadi sebuah tradisi. Dari tradisi ini lahirlah tradisi lain seperti mengeluh. Umumnya kaum ibu-lah yang sering bersentuhan dengan tradisi keluhan ini. Hanya sedikit orang yang merasa bingung dengan realitas ini. Orang bingung karena ramadhan itu selalu dirayakan setiap tahun. Kenapa kejadian kenaikan harga barang ini selalu terulang lagi? Apa berarti selama ini tidak ada penanganannya?
Sebenarnya realitas kenaikan harga barang di bulan ramadhan ini bisa dijelaskan dengan hukum ekonomi. Dalam hukum ekonomi (pasar), di mana persediaan barang sedikit dan permintaan akan barang itu banyak, maka dengan sendirinya harga barang itu akan naik. Naiknya harga ini bisa dipahami agar barang tidak hilang dari pasar.
Karena itu, hukum ekonomi (pasar) ini bisa diterapkan dalam fenomena harga naik pada saat bulan puasa, baik menyongsong maupun sepanjang ramadhan. Bisa dikatakan bahwa menjelang ramadhan persediaan barang yang dibutuhkan sangat sedikit, sementara para pamakainya banyak. Hal ini membuat harga-harga barangnya menjadi naik. Sebagai contoh, telur. Pada hari biasa persediaan telur 1.000, sementara yang membutuhkannya hanya 10 orang, di mana tiap orang cuma butuh 1 atau 2 butir telur. Di sini telur akan dijual murah agar cepat habis. Tapi pada saat ramadhan, di mana persediaan telur tetap 1.000, sementara yang butuh lebih dari 500, di mana tiap orang butuh 2 atau 3 butir, maka pedagang dengan sendirinya akan menaikkan harga telur itu. Atau juga yang butuh tetap 10 orang, tapi tiap orang membutuhkan 100 butir telur, tentulah pedagang juga akan menaikan harga telur. Inilah hukum ekonomi.
Jadi, kenaikan itu merupakan suatu keharusan, sebagaimana yang telah diuraikan dalam hukum ekonomi. Akan tetapi, haruskah kita menyerah pada hukum tersebut, atau bisakah diatur sedemikian rupa sehingga pada masa puasa ini harga barang tidak naik? Tentu saja bisa dan seharusnya bisa.
Kita sudah mengetahui bahwa unsur-unsur yang menyebabkan harga naik tadi, yaitu persediaan barang yang terbatas, peminat yang banyak atau kebutuhan akan barang yang banyak. Peminat atau pemakai sebenarnya tidak terlalu banyak. Tentulah orang-orang itu saja yang membutuhkannya. Tak mungkin setiapramadhan jumlah penduduk kita bertambah banyak. Yang meningkat adalah kebutuhan akan barang. Orang membutuhkan barang dalam jumlah yang tidak biasanya. Jadi, bisa dikatakan bahwa penyebab kenaikan harga barang ini ada dua, yaitu persediaan barang dan kebutuhan.
Untuk mengendalikan harga pasar, tentulah dengan cara mengendalikan kedua unsur tadi. Pertama, persediaan barang harus ditingkatkan jumlahnya. Bulanramadhan sebenarnya bukan hanya sekali dua kali saja terjadi, melainkan berkali-kali. Setiap tahun pasti orang mengalaminya. Karena itu, seharusnya sudah bisa diprediksikan berapa kebutuhan akan barang tertentu. Misalnya, kalau setiapramadhan kebutuhan akan telur sekitar 3000, maka menjelang ramadhan harus sudah disediakan 3000-4000 butir telur.
Kedua, soal kebutuhan akan barang. Karena kebutuhan ini melekat pada manusia, maka yang perlu dikendalikan adalah manusianya. Apa yang harus dikendalikan dari manusianya? NAFSU! Nafsu manusialah yang harus dikendalikan, karena nafsu itulah yang mendorong manusia untuk membeli barang dalam jumlah yang sangat banyak. Jika seandainya nafsu itu dapat dikendalikan atau dimatikan, tentu manusia tidak akan membeli dalam jumlah yang banyak. Konsekuensinya, harga tidak akan naik. Persoalannya, dapatkah manusia mengendalikan nafsunya itu?
Seharusnya dapat. Bukankah bulan ramadhan adalah masa puasa. Puasa merupakan ibadah. Bulan puasa ini umat muslim diminta untuk mengendalikan hawa nafsunya. Dan salah satu hawa nafsu itu adalah nafsu membeli barang dalam jumlah yang banyak. Konsekuensi logisnya adalah di masa ramadhan ini manusia mengendalikan hawa nafsunya, termasuk membeli barang dalam jumlah yang sangat banyak, sehingga dengan demikian harga barang tidak akan naik.
Pertanyaan kita sekarang adalah siapa yang bertanggung jawab akan semuanya ini. Untuk pengendalian unsur yang pertama, yaitu persediaan barang, tentulah yang bertanggung jawab adalah pemerintah, para produsen dan para pedagang. Pemerintah bertanggung jawab untuk mengatur ketersediaan barang di pasar. Dengan wewenang yang dimilikinya, pemerintah dapat mendesak para produsen untuk memproduksi barang dalam jumlah yang banyak menjelang ramadhan. Dan para produsen harus menyediakan hal itu. Jika produsen memproduksi barang dalam jumlah yang banyak di saat mendekati ramadhan, tentulah para pedagang tidak ada niat untuk melakukan penimbunan.
Memang pemerintah bertanggung jawab atas pengendalian harga pasar ini. Namun bukan berarti kesalahan atas naiknya harga barang dalam masa puasa ini mutlak pada pemerintah. Tak pantaslah kita menyalahkan pemerintah saja atas kejadian ini. Pihak lain yang harus disalahkan adalah konsumen, yang merupakan unsur kedua.
Konsumen adalah pengguna atau pemakai barang. Ia merupakan unsur kedua yang bertanggung jawab atas kenaikan harga barang. Konsumen juga berperan penting dalam menstabilkan harga barang. Bagaimana caranya?
Masing-masing orang hendaknya mengendalikan hawa nafsunya untuk membeli barang dalam jumlah sangat banyak. Sebenarnya saat puasa adalah momen yang sangat tepat. Inti dari puasa adalah pengendalian hawa nafsu, bukan keserakahan yang terlihat dari naiknya porsi makanan. Orang selalu heran, kenapa di saatramadhan (bulan puasa) orang justru makan lebih banyak daripada biasanya. Bukankah puasa itu mengajak orang untuk menahan diri? Bukankah pada saat puasa orang hanya makan dua kali sehari?
Dengan adanya pengendalian dua unsur ini, tentulah kejadian naiknya harga barang menjelang dan sepanjang ramadhan tidak akan terjadi lagi. Ramadhan atau bukan kebutuhan orang akan barang tetaplah sama saja. Malah seharusnya di saat ramadhan kebutuhan akan barang mesti turun, karena orang makan cuma 2 kali sehari (pagi dan malam). Semua ini bisa terjadi jika ada kemauan politik dari unsur-unsur yang berkaitan dengan kenaikan harga tadi.

Senin, 02 Juni 2014

Siapa yang Menentukan Nasib Indonesia?

Dalam setiap Pemilu, baik Pilkada, Pileg, maupun Pilpres, saya terlalu sering mendengar seruan banyak kalangan, “Suara Anda menentukan nasib Bangsa ini!” Mereka adalah kumpulan kalangan yang sangat menikmati acara “pemilihan”. Lalu mereka memaparkan segala manfaat mengenai keikutsertaan seluruh warga negara Indonesia dalam Pemilu. Media massa pun sangat gencar menyiarkannya, baik berupa berita, opini maupun iklan-iklan para peserta Pemilu.
Benarkah suara Anda menentukan nasib masa depan Indonesia? Menurut saya, nasib Indonesia tidak ditentukan oleh suara siapa-siapa, dan seruan orang-orang tadi sangatlah keliru. Ya, seruan yang sangatlah keliru! Pasalnya, perkara “nasib”, jelas bahwa hal tersebut justru pengingkaran terhadap Pancasila, khususnya sila I.
Nasib adalah sebuah abstarksi dan transedential. Nasib Bangsa ini tidaklah ditentukan oleh suara atau pilihan Anda. Nasib bukanlah bilangan matematika atau ilmu pasti; 1 + 2 = 3 ataukah 1 + (-2) = -1. Kalaupun ada istilah “mengubah nasib” atau “mengadu nasib”, tetaplah tidak bermakna logis-matematis.
Selain itu, mengenai “siapa yang menentukan nasib Indonesia”, saya melihat adanya upaya pendustaan terhadap spiritualitas alias ‘mengamputasi’ peran utama Tuhan Yang Maha Kuasa. Juga upaya meniadakan ke-Maha Kuasa-an Tuhan dan menggantikannya dengan kehebatan manusia, apalagi presiden terpilih. Ya, seperti yang saya bilang tadi, “pengingkaran terhadap Pancasila, khususnya sila I”.
Lantas, yang tidak keliru, apa? Buang saja kata “nasib”. Dan, tidaklah perlu berpura-pura membesar-besarkan keberadaan rakyat hanya demi kesuksesan “pesta demokrasi” karena selanjutnya bisa terjadi penggusuran, pengusiran, dan lain-lain yang bisa direkayasa, bahkan ‘meniadakan’ kekuasaan Tuhan demi memberhalakan manusia yang terpilih sebagai presiden. Bukankah selama ini Indonesia tidak juga mampu sejahtera di seluruh rakyatnya gara-gara memberhalakan manusia? Begitu saja gampangnya tanpa perlu saya berseru atau bermain kata-kata.

Pudarnya Roh Pancasila

Ende, Flores NTT, merupakan cikal bakal permenungan lahirnya Pancasila oleh Bung Karno ketika beliau di buang oleh Belanda tahun 1934-1938. Maka tidaklah terlalu berlebihan apabila Ende ditempatkan sebagai titik nol kilometer lahirnya Pancasila. Demikian disampaikan oleh Liberius Langsinus atau di kenal dengan sapaan “Bung Sila”, dalam acara bedah buku “Pancasila Dikhianati, Catatan Napak Tilas Misi Pancasila Sakti Keliling Nusantara”, Minggu (1/6), di Pendopo Balai Kota Yogyakarta.
Acara yang berlangsung bertepatan dengan hari lahirnya Pancasila 1 Juni tersebut sengaja dihadirkan guna memacu daya cinta orang muda terhadap Pancasila di tengah pudarnya nilai dan roh Pancasila. Bung Sila” sengaja dihadirkan pada acara tersebut, karena beliau merupakan sosok orang muda yang dengan gigih berjuang demi tegak berdirinya Pancasila, dengan cara berkeliling ke 33 propinsi guna mengemban misi Pancasila sakti.

Mengapa roh Pancasila?
Ketika masa pembuangan di Ende Flores, Bung Karno berdialog dengan pastor Belanda bernama Boimanz Harlger, SVD. Pastor inilah yang memberikan tempat bagi Bung Karno guna mementaskan drama serta kegiatan lainnya. dalam dialog dengan Pastor Boimanz mengatakan “Soekarno sebelum engkau meninggalkan pulau ini, saya yakin suatu saat engkau akan menjadi pemimpin. Tapi saya mau bertanya dimana kau letakan orang Flores dan NTT, ketika suatu saat kelak engkau menjadi Presiden?” Soekarno terdiam sejenak dan berkata “akan kutempatkan mereka sebagai roh dan spirit nilai-nilai yang telah saya dapatkan dalam permenungan panjang dibawah pohon sukun bercabang lima itu.
Dialog yang sangat sederhana tersebut, telah memperlihatkan pada kita bahwa, Bung Karno, selama masa pembuangannya di Ende, mendapat permenungan yang luar biasa. Dalam permenunganya, Bung Karno,  melihat kisah hidup masyarakat Ende yang majemuk, terdiri dari beberapa suku dan agama. Mereka hidup berdampingan secara damai tanpa ada gesekan apapun. Rasa tolong menolong diantara mereka tercipta. Realitas hidup tersebutlah yang menghantarkan Bung Karno pada sebuah kesimpulan bahwa, kerukunan dan kebersamaan hidup  menjadi roh dan spirit nilai bagi bangsa Indonesia yang terdiri dari berbagai suku bangsa, bahasa, adat-istiadat, agama, ras dan sebagainya.
Roh kebersamaan tersebut, bukanlah import dari negara lain. Akan tetapi, dia hidup dalam diri pribadi dan masyarakat Indonesia. Roh kebersamaan tidak mengenal sekat apapun. Dia tidak mengenal agama, suku maupun bahasa. Itu sebabnya Bung Karno menyampaikan gagasan brilian dimana Pancasila sebagai “way of life”, bagi seluruh komponen berbangsa dan bernegara. Karena Pancasila lahir dari spirit dan nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat Indonesia itu sendiri. Di dalam Pancasila terkandung nilai-nilai untuk saling menghormati, guyub rukun, tepo-seliro, tolong- menolong, gotong-royong, musyawarah mufakat serta nilai kearifan lokal lainya.

Roh itu semakin pudar
Roh Pancasila itu semakin pudar. Mungkin kata ini yang bisa kita refleksikan bila melihat berbagai kasus kekerasan yang marak terjadi belakangan ini. Roh dan spirit nilai kebersamaan sepertinya mulai pudar dalam kehidupan berbangsa dan berngera. Di Yogyakarta saja, dalam seminggu terakhir ini, roh kebersamaan itu tercoreng oleh ulah segelintir orang yang mengusik suasana hidup ber-toleransi. Penyerangan terhadap sembahyangan Rosario di Dusun Tanjungsari, Sukoharjo, Ngemplak, Sleman (Kamis, 29/5), serta kasus pengrusakan rumah Pendeta yang dijadikan sebagai tempat beribadah (Minggu,1/6), di Dusun Pangukan, Tridadi, Sleman, menjadi bukti bahwa, roh kebersamaan sebagaimana tertuang dalam nilai-nilai Pancasila semakin pudar adanya.
Dua kasus tersebut, hanyalah sebaian dari berbagai rentetan kasus-kasus yang menunjukan bukti pudarnya roh dan nilai kebersamaan di Yogyakarta. Kasus-kasus kekerasan dan intelorensi tersebut, tentu saja mencoreng wajah Yogyakarta yang di kenal sebagai kota budaya, kota multikultural, kota yang damai, aman, nyaman tentrem. Yogyakarta punya semangat “city of tolerance”, kota yang menjunjung tinggi kemajemukan masyarakatnya. Maka, tidak heran ada sebagian orang menyebut kota ini sebagai “kota suci”. Untuk itulah kita berharap dari “kota suci” inilah roh kebersamaan yang tertuang dalam sila Pancasila tetap hidup dan terjaga. Penyatuan Yogyakarta sebagai sebagai “kota suci” dan spirit roh kebersamaan, akan menjadi kekuatan bagi bangsa dan negara ini, di tengah semakin pudarnya roh Pancasila dari kalangan anak muda negeri ini.