Media Informasi Pemuda Peduli Dhuafa Gresik (PPDG) || Website: www.pemudapedulidhuafa.org || Facebook: Pemuda Peduli Dhuafa Gresik || Twitter: @PPD_Gresik || Instagram: Pemuda Peduli Dhuafa Gresik || Email: ppd.gresik@gmail.com || Contact Person: 0838-3199-1684 || Nomor Rekening: 0335202554 BNI a.n. Ihtami Putri Haritani || Konfirmasi Donasi di nomor telepon: 0857-3068-6830 || #SemangatBerkarya #PPDGresik

Selasa, 29 April 2014

Hidup Secara Layak Meninggal dengan Layak

Seringkali kita sebagai manusia ketika merencanakan masa depan hanya membatasi diri dengan keinginan terhadap kebutuhan-kebutuhan jasmani seperti tempat tinggal, konsumsi dan kendaraan. Termasuk pula orang tua ketika memotivasi anak-anaknya tidak lepas dari harapan-harapan kesejahteraan duniawi belaka. Wajar saja karena hal tersebut merupakan bukti pencapaian kita terhadap kehidupan dunia sebagai manusia normal. Tidak jarang sebagian kita lupa dengan keinginan kita untuk meninggal dengan cara sebaik keinginan kita untuk hidup seperti yang diharapkan.
Meninggal dengan cara yang baik berarti dalam kondisi beriman dan teguh dalam keimanannya. Hal tersebut dapat dirasakan dirinya sendiri dan orang lain. Karena hati nuraninya selalu jujur menilai dirinya sendiri sebelum dinilai oleh orang lain. Indikasi lainnya adalah orang lain menilai dirinya orang baik. Dengan kata lain selama hidup hubungan sosialnya dengan orang lain dianggap baik. Tetangga merasa aman dari gangguannya, teman kerja dan teman bergaul juga merasa nyaman dekat dengan dirinya.
Nah lalu bagaimana caranya untuk menggapai itu semua? Jaga iman, jaga ibadah dan perbanyak amal kebaikan. Dengan iman hidup kita akan terarah, ibadah membuat kita terjaga dari godaan kejelekan dan amal kebaikan menambah pahala juga membuat hubungan sosial kita harmonis dengan orang lain. Tentu saja untuk istiqomah dan konsisten melakukan itu semua butuh perjuangan ekstra keras. Godaan dari manusia dan setan menjadi penghalang paling besar bagi seseorang untuk dapat istiqomah dengan prinsip-prinsip hidup tersebut. Tetapi kita dilarang untuk pesimis dan putus asa karena Allah swt menjanjikan pertolongan serta bantuan bagi hamba-hambaNya yang senantiasa berbuat kebaikan dan menghindari dari sifat berfutus asa.
Begitu diantara isi ceramah seorang ustadz yang kemarin saya ikuti pengajiannya. Disampaikan dengan bahasa yang santun, suarannya jelas sehingga masih terngiang jelas dalam pikiran dan hati saya. Saya lihat disekitar tempat duduk saya baik bapak-bapak, ibu-ibu maupun anak-anak remaja memperhatikan beliau dengan serius dan tidak jarang menagguk-anggukan kepalanya tanda menyetujui apa yang beliau sampaikan.

Pesona Aceng, Andika dan Andiara

Perhitungan jumlah suara caleg belum selesai. Tapi beberapa indikator kegagalan atau keberhasilan sudah mulai terlihat. Banyak calon petahana yang harus segera berkemas meninggalkan Senayan. Beberapa wajah baru yang benar-benar baru matanya bulai berbinar membayangkan empuknya “kursi panas” di parlemen. Sebagian wajah baru ~tapi stok lama~ berganti kulit dari DPR ke DPD dan sebaliknya. Lumayan, karena belum benar-benar terusir dari kompleks wakil rakyat.
Sangat mengagetkan ~walaupun sebenarnya bisa diduga kuat~ ada beberapa wajah yang seharusnya kurang pas jika menjadi wakil kita di pusat sana. Sebut saja mantan Bupati Bantul Idham Samawi yang berhasil mendapatlan satu kursi di Senayan. Padahal kita tahu bahwa Idham Samawi sudah ditetapkan sebagai tersangka kasus korupsi dana hibah Persiba sebesar Rp 12,5 miliar pada tahun 2011 oleh Kejaksaan Tinggi Daerah Istimewa Yogyakarta.
Keterpilihan dia menjadi gunjingan sebagian besar masyarakat Yogyakarta. Mereka kecewa atas terpilihnya Idham Samawawi yang dicalonkan oleh Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Padahal selama ini PDIP sangat serius  pada pemberantasan korupsi. Tidak kurang, Megawati saat kampanye Di Yogyakarta tepatnya di Sleman saat pemilu legislatif selalu mengatakan anti korupsi. Namun kenyataannya berbeda. PDIP tetap secara sengaja merestui pencalonan Idham Samawi walau yang bersangkutan sudah ditetapkan sebagai tersangka.
Belum lagi sosok sentral Kabupaten Garut yang pernah menghebohkan jagat politik Indonesia. Aceng Fikri yang fenomenal dengan pernikahan kilat dan perceraiannya via sms. Dia melenggang ke Senayan melalui kendaraan DPD. Dia betul-betul hebat dan luar biasa, karena dia harus mengumpulkan suara di seluruh propinsi Jawa Barat. Coba bandingkan dengan caleg DPR yang dapilnya hanya memerlukan 2-5 kabupaten atau kota saja. Luar biasanya lagi, Jawa barat adalah propinsi yang besar dan sangat padat penduduknya. Sang mantan Bupati Garut ini tidak perlu mendompleng nama besar partai, karena konon tidak ada partai yang menerimanya menjadi anggota. Terakhir Partai Hanura pun menolaknya karena kasus “pelecehan wanita” nya tersebut.
Sebut lagi Andika Hazrumy, putra sulung Atut yan pada periode 2009–2014 menjadi anggota DPD mewakili Provinsi Banten, Kini melenggang kembali ke Senayan lagi dengan kostum DPR RI. Andika yang masuk melalui Partai Golkar yang sempat dipimpin almarhum ayahnya, kini dipimpin oleh tantenya, melalui Dapil Banten I (Kabupaten Lebak dan Pandeglang), mendapat 70.846 suara dari total 192.641 suara yang didapat Partai Golkar di Dapil itu. Dengan 37% suara di dapilnya, dipastikan Andika berhak atas satu kursi di Parlemen. Lalu adiknya, Andiara Aprilia Hikmat, yang masih hijau di kancah politik, kini menggantikan posisinya di DPD, mewakili Provinsi Banten dengan mengumpulkan 904.221 suara.
Duh gustii… Apa yang terjadi dengan republik ini? Mengapa ini bisa terjadi? Seperti mimpi, tapi ini benar-benar nyata dalam peta politik kita. Rakyat masih memilih mereka karena bisa jadi memang sampai detik ini “beliau-beliau” itu masih jadi panutan rakyat. Kita semua paham kultur bangsa ini jika berhadapan dengan para petinggi yang dihormatinya. Apalagi jika dinasti yang dibangun para caleg itu sudah berakar bertahun-tahun. Sulit untuk melepaskan atau mengalihkan pandangan mereka terhadap orang-orang yang dicintainya. Baik atau buruk, hidup mati dipertaruhkan untuk idolanya. Kita mungkin masih ingat kecintaan orang Jawa kepada almarhum Abdurahman Wahid. Pejah gesang nderek Gus Dur. Kalimat yang sulit direnggut begitu saja dari mindset para pengagumnya. Belum lagi kharisma Bung Karno yang dipercayai sebagian besar pendukung fanatik PDI-P menitis di jiwa Megawati.
Namun tidak bisa dipungkiri juga adanya kemungkinan bahwa kemenangan mereka lantaran hartanya yang melimpah. Siapa yang tidak kenal Aceng Fikri. Bahkan penasehat hukumnya saja yang cantik jelita malah menjadi isterinya. Pesona danduitnya ga berseri. Siapa yang tidak tahu Ratu Atut  dan dinastinya yang melegenda di Banten. Baru dari tangan seorang Wawan saja sudah begitu luar biasa kekayaan dinasti ini. Belum lagi jika digabungkan dengan anggota keluarga besar lainnya.
Tidak sulit bagi mereka untuk membeli apapun termasuk membeli suara jika mau. Bisa jadi banyak caleg-caleg “recehan” yang dengan suka rela maupun paksa rela menjual suaranya yang “tidak seberapa” kepada mereka. Simbiosis mutualitis. Caleg yang tidak lolos mendapatkan uang, mereka yang punya uang mendulang suaranya. Jika memang itu benar, mereka melaju ke Senayan bukan atas pilihan rakyat dong… Lalu di mana suara rakyat yang konon adalah suara Tuhan? EGEPE…. Rakyat kan sudah menerima sepuluh, dua puluh, sampai lima puluh ribu… Cukup buat beli beras sekilo, minyak goreng seliter dan ikan peda sepotong….. Makan kenyang, tidur pulas, mimpi indah tentang eloknya negeri khatulistiwa ini.. Besok hari? Ya gimana besok aja.

Menjalin Tali Silaturahmi

Menjalin Silaturahmi itu sangat penting sekali. Silaturahmi adalah ibadah yang sangat mudah dan membawa berkah bagi yang melaksanakannya. Dan juga akan memberikan kebaikan di dunia dan di akhirat. Setiap kaum muslimin hendaknya tidak melalaikan dan melupakan untuk bersilaturahmi.
Silaturahmi merupakan salah satu perintah Allah SWT. Barang siapa yang melaksanakan perintah tersebut akan mendapatkan pahala dan juga kebaikan-kebaikan yang banyak sekali dengan silaturahmi akan memperbanyak saudara atau teman, memperluas rezeki dan lebih meningkatkan ibadah kita. Allah SWT berfirman di dalam (Q.S An-Nisaa : 1) “Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) namanya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahmi. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu”.
Begitu banyak kebaikan-kebaikan yang diberikan oleh Allah kepada kita dengan menyambung tali silaturahmi. Kenapa kita harus memutuskannya. Memutus tali silaturahmi adalah perbuatan yang sangat dilarang dengan Agama dan dibenci oleh Allah. Dengan memutuskan tali silaturahmi itu tandanya menjauhkan kita dari rahmat Allah. Bersilaturahmi tidak harus melihat status seseorang. Kepada siapa saja baik itu saudara atau tetangga, teman yang kaya maupun yang tidak mampu. Selain itu kepada orang yang berbuat jahat kepada kita sekalipun hendaknya kita tetap menjalin silaturahmi. Janganlah kita banyak menyimpan kedengkian dan dendam kepada seseorang. Tidak ada salahnya kalau kita memaafkannya. Bukanlah kita hidup di dunia untuk mencari atau mengejar kebaikan-kebaikan dan pahala, yang nantinya akan mengantarkan kita ke pintu surga. Salah satunya yaitu tetap selalu menjaga dan menjalin tali silaturahmi.

Bahaya Politisasi Buruh

May Day atau hari buruh yang diperingati setiap 1 Mei. Peringatan 1 telah dilakukan sejak tahun 1920. Namun memasuki masa pemerintahan orde baru hari buruh tidaklagi diperingati sebab masih adanya sentimental terhadap gerakan yang dilakukan PKIpada masa itu. Kemudian pasca Orde Baru, May Day kembali di rayakan sebagaisimbol hari buruh di Indonesia. Seiring perkembangan waktu May Day lebih diidentikan dengan kegiatan demonstrasi oleh para buruh, para buruh selalu memberikan tuntutan-tuntutan terkait kebutuhan buruh itu sendiri  kepada pemerintah.
Pada tahun 2013 para buruh Indonesia yang tergabung dalam Persatuan Buruh Republik Indonesia melontarkan tuntutan antara lain : melakukan penolakan kenaikan harga BBM, menolak upah murah yang masih diterapkan di beberapa provinsi seperti Bali (55,79 %), Maluku utara (70,31%), Gorontalo (73,33%), dan Kalimantan Barat (75,56%), Revisi peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Pemerkentrans) No. 13/2012 tentang kebutuhan Hidup Layak (KHL). Jumlah KHL sebanyak 60 item belum merepresentasikan kebutuhan hidup rill pekerja lajang yang seharusnya mencapai 84 item, menolak ijin penangguhan upah minimum secara nonprosedural oleh pemimpin daerah karena tidak sesuai dengan regulasi yang ada.
Pada tahun 2014, perayaan May Day diprediksi akan ditandai dengan semakin maraknya aksi-aksi demonstrasi dan unjuk rasa di berbagai daerah di Indonesia, hal ini didasarkan atas situasi tahun 2014 yang bernuansa politik, serta jadwal antaraperayaan May Day dan pelaksanaan Pemilu Presiden di Indonesia menyebabkan semakin banyak pihak yang akan mempolitisasi para buruh untuk melakukan unjuk rasa demi kepentingan pihak dan bertujuan untuk menjatuhkan dan menyudutkan pemerintah Indonesia.
Politisasi salah satu pihak demi kepentingannya terhadap kaum buruh juga menyebabkan ketidaktercapaian kesejahteraan buruh. Buruh seakan dimotori oleh kepentingan-kepentingan yang sebenarnya tidak bermanfaat untuk pencapaian kesejahteraannya. Selain itu semakin banyaknya jaringan perserikatan buruh yang sekarang sudah merambah ke setiap desa di Indonesia. Dengan jaringan tersebut maka semakin banyak tuntutan-tuntutan yang diajukan dari setiap orang yang selanjutnya mengakibatkan akumulasi tuntutan semakin banyak ditingkat petinggi perserikatan , dengan banyaknya akumulasi tersebut menyebabkan semakin beragam dan banyak tuntutan-tuntutan yang berskala nasional dari perserikatan buruh kepada pemerintah ataupun kepada perusahaan tempat buruh tersebut bekerja.
Dengan adanya masalah tersebut sebaiknya pemerintah melalui lembaga-lembagaterkait melakukan pendeteksian, pencegahan, dan peminimalisasian terhadap politisasi buruh yang dapat mencederai  pesta demokrasi dan menyadarkan para buruh terhadap adanya politisasi yang telah dilakukan untuk kepentingan pihak-pihak tertentu yang pada akhirnya akan merugikan kaum buruh itu sendiri. Melalui lembaga kepolisian pemerintah juga dapat melakukan pengamanan situasi dan kondisi pada pelaksanaan hari buruh agar perayaan hari buruh ditandai dengan kebahagian dan kedamaian serta terciptanya rasa solidaritas yang baik buka malah diisi dengan aksi unjuk rasa dan demonstrasi di berbagai tempat terlebih aksi brutalisme dan anarkhisme yang jauh dari budaya orang Indonesia.

Istimewanya Sahabat yang Membantu dalam Taat

“Sahabat-sahabat sejati merupakan perlindungan yang pasti.” -Aristoteles


Dalam kehidupan, tak jarang terjadi persaingan. Di lingkungan pekerjaan, sekolah, bahkan keluarga. Padahal sesungguhnya mengembangkan persahabatan dalam kehidupan adalah kerangka menuju kesuksesan.
Presiden Abraham Lincoln pernah mengatakan, “Jika anda ingin membuat seseorang bersedia membantu Anda, ia harus diyakinkan bahwa Anda adalah sahabat yang tulus.”
Hubungan yang baik membuat Anda mampu mempengaruhi seseorang. Persahabatan merupakan hubungan positif yang perlu Anda kembangkan dalam kehidupan. Kesuksesan jangka panjang tidak dapat dicapai tanpa adanya keterampilan menjalin hubungan baik dengan banyak orang. Tanpa hubungan baik, sebagian besar pencapaian jadi mustahil dan apa yang kita capai menjadi terasa hampa.

Cara menjalin persahabatan sebenarnya mudah. Carilah nilai-nilai kebaikan pada diri seseorang. Saat datang masalah, sahabat menjadi pelindung. Jika Anda menghadapi hari yang buruk, tentu sahabat yang membuat Anda merasa lebih baik. Ketika Anda jatuh, sahabat juga yang membantu Anda bangkit kembali. Seperti yang dikatakan penasihat rohani Ratu Victoria, Charles Kingsley:
“Hal yang paling membahagiakan bagi setiap laki-laki atau perempuan adalah memiliki seorang sahabat. Seorang pribadi yang dapat kita percayai sepenuhnya, yang mengetahui apa yang terbaik dan terburuk bagi kita dan tetap mengasihi kita walaupun kita punya banyak kesalahan.”

Inilah pentingnya mencari teman. Tapi bukan sekedar teman. Teman yang mampu membantu kita dalam ketaatan. Sahabat yang dapat membawa kita kepada kebaikan.
Imam Hasan al-Bashri berkata, “Perbanyaklah teman orang-orang yang beriman, karena kelak mereka akan memberikan syafaat pada hari kiamat.”

Sahabat yang baik tidak hanya untuk berbagi, mereka juga bisa memberi syafaat kepada kita di akhirat kelak. Imam Muslim meriwayatkan dalam haditsnya bahwa Rasulullah bersabda,
“Hingga setelah orang-orang mukmin itu dibebaskan dari neraka, demi Allah, Dzat yang jiwaku berada ditangan-Nya, sungguh kalian begitu gigih dalam memohon kepada Allah untuk memperjuangkan keselamatan untuk saudara-saudaranya yang berada di dalam neraka pada hari Kiamat. Mereka memohon, Wahai Rabb kami, mereka itu (sebagian yang tinggal di neraka) pernah berpuasa, shalat, dan juga haji bersama kami.”
Lalu dikatakan, ‘Keluarkan (dari neraka) orang-orang yang kalian kenal.’ Hingga wajah mereka diharamkan untuk dibakar oleh api neraka. Kemudian para mukminin ini pun mengeluarkan banyak saudaranya yang telah dibakar di neraka. Kemudian orang mukmin itu berkata,

رَبَّنَالَمْ نَذَرْفِيهَاأَحَدًامَّمِنْ أَمَرْتَنَا
“Wahai Rabb kami, orang yang Engkau perintahkan untuk dientaskan dari neraka sudah tidak tersisa.” (HR.Muslim)
Bukan sekedar mencari tetapi juga berusaha bagaimana untuk tetap menjaga hubungan baik dengan sahabat kita. Sangat disayangkan, jika persahabatan retak karena urusan sepele. Kalau anak muda kebanyakan karena cinta. Teman kita suka dengan orang yang kita suka. Haha. Iya atau iya? :D
Imam Syafi’i memberikan nasihat kepada kita, “Apabila Anda memiliki sahabat yang membantumu dalam taat, maka eratkanlah pegangan tanganmu terhadapnya. Betapa sulitnya mencari teman dalam taat dan alangkah mudahnya ia terlepas.”

Banyak faktor retaknya telur ini, eh persahabatan ini. Mungkin karena perbedaan karakter, miskomunikasi atau karena kita terlalu rajin mengakumulasi kesalahan sahabat, sehingga yang tampak hanya keburukan. Terkadang rusaknya persahabatan karena adanya berita miring yang datang dari oranglain dan kita menerimanya dengan mentah-mentah. Terkadang pula karena seseoran tergesa-gesa dalam menyimpulkan apa yang diucapkan temannya, padahal bisa jadi kita hanya salah tangkap, hanya kesalahpahaman.
Imam Syafi’i  pernah menasihati Yunus bin Abdil A’la tentang bergaul dengan sahabat dalam kebaikan, “Wahai Yunus, jika kamu mendengar sesuatu yang tak kau suka dari sahabatmu, maka jangan tergesa-gesa kamu segera memusuhinya dan memutus persahabatanmu. Jika itu yang kamu lakukan, berarti kamu termasuk orang yang menghancurkan sesuatu yang meyakinkan dengan sesuatu yang masih meragukan.”
Untuk itu temuilah dia, mintalah penjelasan atas kabar yang kita terima. Jika ia memberikan alasan yang dapat diterima, maka terimalah. Namun jika tak bisa kau terima, anggap ini adalah hanya sebuah kesalahan. Maafkan dia. Sahabat juga manusia yang tak pernah luput dari kesalahan.

Kalau ternyata nafsumu mendorongmu untuk membalas dia, maka ingat kembali kebaikan-kebaikan yang pernah ia lakukan untukmu. Dan jangan sekali-kali kita mengurangi kebaikan-kebaikan sahabat kita hanya karena kesalahan yang mereka perbuat.
Jika kau memiliki sahabat dekat maka peganglah erat-erat. Karena mencari sahabat amatlah susah. Sedang memutuskan persahabatan amatlah mudah.

Ketika Pamer Menjadi Kebutuhan

Bukan menjadi hal yang mengherankan lagi, bahwa hidup kita saat ini sangat dekat dan lekat dengan media sosial (medsos) yang dapat diakses dari berbagai piranti canggih. Medsos menjadi benda ajaib yang mungkin belum pernah diterka akan menjadi mainan baru manusia jaman ini dengan segala baik buruknya. Medsos menjadi persinggahan yang sangat permisif hingga manusia dapat membagikan hal yang dahulu mungkin hanya akan diketahui oleh diri sendiri, Tuhan dan dinding kamar.
Medsos dengan berbagai format dan jenis peruntukan, telah menjadi agen perubahan kehidupan manusia. Melalui medsos, manusia dapat menskenariokan diri menjadi tokoh apapun sesuai keinginannya. Seperti saya singgung di paragraf atas, medsos merupakan media yang sangat permisif. Kita bebas melakukan apa saja, tentu dengan beberapa konsekuensi yang harus kita bayar di kemudian hari.
Medsos pada dasarnya adalah media untuk berinteraksi. Fungsinya tak beda jauh dengan bertelepon, berkirim telegram atau mengutus merpati untuk menyampaikan secarik pesan. Hanya saja, saat ini, dimana kemajuan teknologi sungguh pesat, interaksi mengalami perkembangan yang di dalamnya terkandung perubahan pada media, cara dan mungkin rasa.
Dalam berinteraksi, tentu akan terdapat proyek bernama berbagi. Medsos mempermudah manusia untuk membagikan apa pun yang dipunyainya. Bebas, bebas sekali.
Medsos memang ada untuk berbagi. Berbagi menjadi ciri autentik manusia yang memang diprogram Tuhan untuk menjadi makhluk sosial. Yang menjadi pengamatan saya, atau mungkin banyak orang di luar sana, medsos dalam perjalanannya menjadi lembaga baru yang sungguh nyaman untuk show off, untuk memamerkan segala hal.
Pamer adalah keponakan dari berbagi. Namun, pamer dan berbagi memiliki esensi yang berbeda. Berbagi membawa kemaslahatan, sedangkan pamer belum jelas fungsinya selain untuk unjuk kepunyaan.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia pamer adalah menunjukkan (mendemonstrasikan) sesuatu yang dimiliki kepada orang lain dengan maksud memperlihatkan kelebihan atau keunggulan untuk menyombongkan diri. Dari definisi resmi itu, jelas bahwa pamer dilakukan bukan dengan niat luhur. Pamer dilakukan untuk mempertontonkan apa yang dimilikinya kepada orang lain.
***
Pamer dalam konteks era medsos memiliki banyak sekali jenis teknik. Mulai dari teknik pamer terang-terangan sampai kepada jenis pamer terselubung (dislimurke). Orang yang tidak suka pamer dan orang yang suka pamer memiliki berbagai macam kemungkinan. Berikut ini kemungkinan-kemungkinan tentang orang yang tidak dan suka pamer:
Orang yang tidak suka pamer
a. Memang ia tipe orang yang tak suka berpamer. Sudah wataknya memang demikian.
b. Ia tidak memiliki sesuatu yang menurutnya pantas untuk dipamerkan
c. Ia sudah lama memiliki sesuatu, yang mungkin bagi orang lain hebat dan pantas dipamerkan, hanya karena ia sudah lama memilikinya, lalu merasa biasa saja
Orang yang suka berpamer
a. Memang dari lahir ia suka berpamer, sudah wataknya seperti itu
b. Ia baru saja memiliki sesuatu, sehingga ia merasa heran sendiri dan tak tahan untuk   menyiarkannya ke seluruh dunia
Kira-kira seperti itu beberapa kemungkinan variabel penyebab mengapa orang suka dan tidak suka pamer. Sekarang, mari bergeser ke beberapa teknik pamer di medsos. Berikut ini beberapa diantaranya:
a. Suka selfie dengan jurus Camera360
Selfie tentu salah satu bentuk pamer. Memamerkan keindahan wajah, tubuh atau benda di belakangnya. Itu semua tak masalah, sampai pada digunakannya softwarepenyunting foto yang pada akhirnya merugikan pelaku selfie sendiri. Dengansoftware Camera360, wajah akan menjadi terlihat lebih bening dan bibir menjadi ranum, tak peduli bagaimana penampakan asli si objek foto. Walau memang fitrah manusia ingin tampil indah, namun dengan melakukan manipulasi seperti itu, akan membawa kepada kekecewaan jika kelak ada seseorang yang tertarik dengan penampakan di foto, lalu ingin melakukan perjumpaan secara langsung. Niscaya, ia akan berpekik: “LHA KOK JEBULNYA BEGINI? PIYE IKI? *lalu lapor polisi dengan kasus penipuan dan perbuatan tidak menyenangkan*
b. Berfoto di depan kaca
Berfoto dengan model seperti itu akan memunculkan dugaan, selain sedang memamerkan penampilan hari ini (outfit of the day), sebenarnya juga sedang menampilkan back cover gadget yang digunakan untuk berfoto, dan si pemirsa akan berdecak kagum: “HAPENYA KEREN BEUH, MERK MITU BEUH”
c. Teknik peletakan benda-benda keren
Jamak terlihat, selain memamerkan makanan yang akan atau sedang dikonsumsi melalui foto, beberapa orang dengan sengaja meletakkan benda-benda yang mungkin menurutnya akan menaikkan citra dirinya. Di foto-foto kasus ini, di samping piring, atau terselip di bawah kaki meja (?) akan terlihat kunci mobil, ponsel mahal dan tangan gebetan (?)
d. Difoto hanya ketika makan di tempat keren
Kasus seperti ini bisa disebut sebagai hiperealitas. Hiperealitas adalah kecenderungan membesarkan sebagian fakta dan sekaligus menyembunyikan fakta lain. Nah, ini ‘kan cocok dengan kebanyakan yang terjadi di medsos. Makanan yang difoto hanya ketika makan di tempat elite, mahal dan biasanya makanan produk asing. Mengapa ketika makan di warteg dekat kelurahan atau di angkringan depan pos kamling tidak difoto?
e. Dengan teknik mengeluh dan bersyukur
Ini jenis pamer yang termasuk ke dalam jenis pamer dengan teknik yang lumayan. Bisa dengan mengeluh, bisa dengan berucap syukur, atau kombinasi keduanya. Misalnya seperti ini: “Duh, hape yang dibeliin papah di Nigeria lecet-lecet nih”.
Sepertinya memang keluhan sebagaimana layaknya keluhan, namun biasanya di dalamnya disisipi hal yang mungkin bagi banyak orang di luar sana akan menimbulkan kekaguman. Bisa tentang benda mahal atau tempat dimana benda itu dibeli dan lain sebagainya. Bagaimana tidak kagum kalau beli hape saja harus ke Nigeria.
Teknik pamer berikutnya adalah dengan bersyukur, misalkan: “Syukur alhamdulillah mama akhirnya sampai juga di Namibia”. Tentu saja itu akan menimbulkan decak bagi orang yang membaca status di medsos. Kagum dong, ngapain gitu si mama ke Namibia.
Teknik berikutnya adalah dengan mengombinasikan mengeluh dan bersyukur, seperti ini biasanya: “Huft alhamdulillah setelah deg-degan nunggu kabar, papah mamah pesawatnya nyampe juga di Wonogiri”

Sebenarnya masih banyak jenis-jenis pamer yang sering terdapati di medsos. Namun saya pilih beberapa saja yang sekiranya cukup mewakili untuk dijadikan contoh. Perihal apa yang menjadi kebanggaan, tentu sangat relatif dan subjektif.

***
Sejak medsos marak dan saya menjadi salah satu penggiatnya, saya tertarik dengan fenomena pamer melalui alam virtual. Terlepas apakah itu diniatkan untuk pamer atau tidak, intinya adalah menampilkan segala hal yang berpotensi mengundang keheranan dan kekaguman orang yang menyaksikannya. Pamer di dunia maya menjadi hal yang murni baru, karena medsos asli keturunan kandung dekade ini.
Melalui medsos, potensi pamer manusia -yang terpaksa disimpan sekian lama karena ketiadaan tempat pengejawantahan- seperti mendapatkan wahana realisasi. Karena keterbatasan, untuk jangka waktu yang demikian panjang, potensi pamer yang ada pada manusia harus diendapkan. Mungkin pamer secara terbatas sudah terlaksana melalui media konvensional yaitu komunikasi tatap muka dan foto cetak atau lainnya. Namun, medsos secara masif mampu menjadi pelepas dahaga yang akhirnya mampu melunaskan gelegak pamer yang lama tertahan.
Melalui medsos, terpantau orang berlomba mengabarkan apa yang dimilikinya. Entah itu lekuk tubuh, materi kebendaan atau kemampuan keilmuan. Lantas, apa sebenarnya yang melandasi ini semua, hingga kemudian medsos menjelma menjadi media yang sungguh pas untuk menampilkannya?
Setelah berpikir, akhirnya saya teringat suatu konsep teori kebutuhan yang dilontarkan oleh Abraham Maslow. Salah satu mata kuliah yang saya pelajari di bangku kuliah mengijinkan saya untuk sedikit mencicipi teori psikologi yang sangat masyhur tersebut. Saya pun kembali membuka teori yang lama terlupa.
Abraham Maslow membagi kebutuhan manusia menjadi piramida yang terdiri dari lima tingkat. Kebutuhan diawali dari piramida strata paling dasar yaitu kebutuhan fisiologis, lalu berlanjut ke kebutuhan keamanan, kebutuhan cinta, sayang dan kepemilikan, kebutuhan penghargaan dan paling atas, kebutuhan aktualisasi diri. Dimanakah posisi pamer jika dikorelasikan dengan Teori Maslow?
Melalui logika rasional sederhana, akhirnya saya merasakan bahwa pamer paling pas jika dimasukkan ke dalam tingkat piramida keempat, yaitu kebutuhan penghargaan (esteem). Dengan mudah tersimpulkan, para penggiat medsos secara relatif dapat dikategorikan ke dalam golongan kelas menengah yang telah mampu memenuhi kebutuhan primer. Mereka termasuk ke dalam kasta yang sudah tidak memikirkan bagaimana cara makan besok, apakah akan basah jika hujan turun dan memiliki kerabat yang cukup untuk kebutuhan kasih sayang. Namun, penggiat medsos –yang gemar berpamer– rasanya belum sampai ke tingkat puncak piramida Maslow, yaitu aktualisasi diri.
Mereka rata-rata belum cukup “dewasa” untuk mampu mengenali arti hakikat kehidupan. Mereka belum khatam mengenali diri sendiri. Mereka belum cukup memiliki karakter diri kuat yang pantas untuk disimpulkan sebagai ciri asli dirinya sebagai manusia matang. Mereka belum sampai pada taraf untuk melihat kehidupan secara komprehensif dan memilih untuk menghadapi segala permasalahan, bukan menghindarinya. Mereka belum sampai tingkat menjadi pribadi yang mengenali potensi dan kemampuan diri yang sebenarnya, untuk kemudian diaktualisasikan dan diniatkan untuk kemaslahatan pribadinya dan orang lain.
Manusia yang telah sampai di piramida tertinggi Maslow berorientasi kepada tujuan, terus maju dan berkembang menuju ke arah yang lebih baik. Bukan lagi manusia yang masih terjebak pada bahasan orang lain tentang dirinya. Bukan lagi manusia yang masih kebingungan dan lelah mendengar apa yang diomongkan kiri kanan.
Penggiat medsos yang gemar berpamer masih berada pada piramida keempat, kebutuhan penghargaan. Karena mereka masih memiliki kebutuhan prestise, penghargaan dari orang lain, status, ketenaran, dominasi, menjadi penting, kehormatan dan apresiasi. Mereka menampilkan segala apa yang dimiliki, bahkan terkadang sedikit menutupi/tak menampilkan keadaan yang sesungguhnya karena masih butuh pengakuan. Begitulah..
Pamer dengan segala bentuknya memang sangat wajar dan termasuk kebutuhan. Pamer adalah perilaku yang sangat manusiawi. Manusia memang sudah digariskan untuk menampilkan apa yang menjadi kebanggaannya, dan itu bisa dijelaskan melalui teori keilmuan yang sudah diakui. Tentang apakah pamer itu disarankan atau tidak, berguna atau tidak, berdosa atau tidak, saya tidak memiliki wewenang ilmiah dan spiritual untuk mengukur dan menghasilkan keputusan final yang dapat dipertanggungjawabkan kadar kesahihannya.

Penting Mana? Status Sosial atau Nilai Sosial?

Seorang wanita berjalan cepat menyusuri tangga. Setelah sampai di muka pintu kaca, sambil menunggu bus, dikeluarkannya sebuah ear-phone yang tersambung dengan telepon pintarnya. Sesekali hembusan nafasnya terdengar tak teratur di balik masker yang menutup mulut dan hidungnya.
Orang di sebelahnya hampir memiliki kenampakan yang sama. Hawa gelisahnya seolah terfasilitasi saat menunggu bus—meski tanpa ear-phone, aktivitas jari, mata, dan pikiran bersama telepon pintarnya cenderung intensif.
Di seberang jalan, terlihat lelaki berkacamata hitam berumur 30an tahun mengendarai sebuah mobil pabrikan Jepang. Sesekali klakson dibunyikan, seakan mengingatkan angkutan kota di depannya yang berhenti sembarangan.
“Urip kok rasane kemrungsung (Hidup rasanya tergesa-gesa)”, begitu ungkapan teman saat saya mendiskusikan tentang fenomena yang saya lihat di atas.
Meeting, deadline, project, tuntutan bos, dan segala isu tentang dunia pekerjaan seolah menjadi penghuni tetap pikiran, kemudian meluap menjadi bahan pembicaraan, selanjutnya menjadi pembentuk fenomena-fenomena sosial.
Kadang fenomena seorang individu bertabrakan dengan individu lainnya, atau bahkan kelompok lainnya. Jadilah kegelisahan sosial meletup di mana-mana. Meledak di titik-titik penjuru negeri ini.
Gejala tentang lengsernya nilai-nilai sosial yang dari dulu diwariskan oleh leluhur mulai muncul di sudut-sudut media. Di antaranya adalah berbagai berita miris tentang tindakan ironis yang akhir-akhir ini tersuguh di mata kita. Mulai dari kisah Dinda di kereta, pelecehan di JIS (Jakarta International School), sampai peristiwa kematian siswa STIP Jakarta.
Ada apa sebenarnya di balik berita-berita yang kita tonton? Apa sebenarnya yang terjadi di setiap kepala, badan, dan hati kita? Apakah sudah sedemikian jauh perasaan “memanusiakan manusia” kepada sesama manusia? Apa kabarnya nilai-nilai luhur yang katanya diwariskan oleh orang tua kita? Ada apa di balik semua ini?
*
Seperti prolog tentang fenomena sosial yang saya tulis di awal tulisan, fenomena-fenomena sosial di kawasan perkotaan menjadi tidak terasa bahwa ternyata ada yang berubah seiring berubahnya jaman. Mbak-mbak yang bekerja di kantoran, Dinda yang akan berangkat ke kampus, atau beberapa bagian masyarakat lainnya, seolah tak berdaya menahan gempuran ‘kemajuan’ hingga menanggalkan kebiasaan (kadang disebut adat) tata karma yang bukan hanya diajarkan di rumah, tetapi juga di sekolah.
Contoh kecil fenomena pergeseran nilai sosial yang cukup mudah ditemui adalah saat melihat tentang kepemilikan suatu barang, dengan bergesernya fungsi yang substansial menjadi fungsi penentu status sosial.
Saya coba merenungkan hal-hal berikut;
Sebelum televisi dimiliki oleh semua orang, aktivitas malam mungkin diisi dengan pengajian, berkumpul bersama handai taulan, atau segera merapat di peraduan.
Sebelum laptop menjamur seperti sekarang, obrolan di warung kopi berlangsung ‘live’ dan penuh kehangatan.
Sebelum telepon genggam bebas beredar, menunggu sesuatu sering diisi dengan obrolan yang menyatukan hal-hal yang mungkin berseberangan.
Memang, seiring segala sesuatu yang dianggap ‘kemajuan’ datang, seolah akses informasi menjadi terbuka sangat lebar. Produktivitas digadang-gadang meningkat pesat dengan fasilitas teknologi yang terus berkembang. Lalu keterhubungan didewakan menjadi semakin erat, membuat yang jauh menjadi kelihatannya dekat.
Namun, apakah sisi-sisi yang menjadi kontraprestasi atau bahkan mereduksi (yang lebih parah mungkin mendekonstruksi) hal-hal yang bersifat manusiawi tidak terjadi? Apakah hal-hal yang dianggap abstrak yang secara lantang kita suarakan sebagai ajaran luhur orang tua-orang tua kita tidak tereliminasi?
Saya coba teruskan tentang bergesernya fungsi substansial kepemilikan suatu barang yang saya jadikan contoh di atas:
Berapa inchi ukuran televisi seolah menjadi ukuran berapa penghasilan.
Seberapa canggih laptop yang dimiliki seakan menjadi parameter seberapa tinggi posisi.
Seberapa pintar dan update sebuah handphone yang digenggam mungkin menunjukkan kesibukan harian.
Dan seabrek simbol yang dijadikan sebagai indikator status sosial lainnya.
Bukannya mobil adalah salah satu alat transportasi? Lalu mengapa membeli mobil yang harganya lebih dari Rp 1 miliar jika mobil yang berharga Rp 300 juta saja bisa dijadikan alat transportasi?
13987014671800403286
Mana yang lebih bersifat substansi? Alat indikator status sosial atau alat transportasi? (dok. pribadi)
Saya tidak mempermasalahkan, apa barangnya dan mengapa beberapa orang memiliki aset-aset tersebut, entah memang karena fungsi substansialnya, ataupun karena status sosialnya. Tetapi pertanyaanya, apakah ada yang berubah dengan nilai-nilai sosial saat status sosial telah berubah? Apakah dengan ukuran televisi yang lebih lebar akan membuat seseorang lebih peduli dengan tetangganya yang kekurangan? Apakah saat memiliki laptop yang lebih canggih seseorang akan lebih simpati terhadap saudaranya yang membutuhkan pertolongan? Apakah semakin pintarhandphone yang dipegang membuat seseorang semakin empati melihat fenomena keganjilan di masyarakatnya?
Mengutip Robert A Baron melalui bukunya yang berjudul Social Psychology, empati adalah kemampuan seseorang untuk bereaksi terhadap emosi negatif atau positif orang lain seolah-olah emosi itu dialami sendiri. Jika simpati bermakna bisa mengerti dan peduli dengan pikiran dan perasaan orang lain, namun empati lebih dalam lagi, yakni bisa merasakan dan memahami benar atas pikiran dan perasaan orang lain (dikutip dari http://www.wikimu.com/News/Print.aspx?id=19711 seperti aslinya).
Lalu bagaimana akan muncul kepekaan, apalagi simpati dan empati, jika pancainderanya sudah terisolir?
Jika mata yang tertutup kacamata, hidung dan mulut yang terbatasi masker, telinga yang tersumbat ear-phone, dan kulit yang terbungkus jaket, bagaimana bisa melihat kaum difabel yang butuh uluran tangan? Bagaimana bisa mencium bau khas anak jalanan? Bagaimana bertegur sapa dengan tetangga? Bagaimana mendengar suara rintihan warga di lingkungan kumuh? Bagaimana merasakan dinginnya tidur di emperan toko di kala malam?
Memang dengan adanya “tabir” yang menutup pancaindera tersebut tak bisa dijadikan indikator apakah seseorang mampu bersimpati/berempati kepada orang lain atau tidak. Tapi, saya takut, adanya tabir tersebut jangan sampai membuat tembok pembatas untuk mendekat kepada saudara, tetangga, masyarakat, atau siapapun di sekitar kita. Saya takut jika tabir yang membatasi pancaindera kita benar-benar membatasi simpati, empati, dan segenap hati kita.
Saya kemudian bergumam, apakah di jaman ini, peringkat status sosial lebih penting dari nilai-nilai sosial?
Rasanya saya masih belum pantas memberikan klaim, kesimpulan, apalagi himbauan tentang pentingnya nilai-nilai luhur dalam ranah sosial. Tulisan ini hanya refleksi saja dari apa yang saya lihat dan saya rasakan sambil terus mencari jawaban beberapa pertanyaan:
Pernahkah kita menghitung berapa kerugian atas hadirnya kemajuan?
Berapa banyak biaya yang dikeluarkan untuk mengembalikan nilai-nilai sosial yang telah tergerus akibat datangnya kecanggihan teknologi?
Bagaimana kita menebus suasana guyub-gayeng-gotong royong yang telah luntur gara-gara terseret arus modernisasi masif di negeri kita?
Salah satu aktivitas antarsaudara atau tetangga di desa (dok. pribadi).
Salah satu aktivitas antarsaudara atau tetangga di desa (dok. pribadi).