Media Informasi Pemuda Peduli Dhuafa Gresik (PPDG) || Website: www.pemudapedulidhuafa.org || Facebook: Pemuda Peduli Dhuafa Gresik || Twitter: @PPD_Gresik || Instagram: Pemuda Peduli Dhuafa Gresik || Email: ppd.gresik@gmail.com || Contact Person: 0838-3199-1684 || Nomor Rekening: 0335202554 BNI a.n. Ihtami Putri Haritani || Konfirmasi Donasi di nomor telepon: 0857-3068-6830 || #SemangatBerkarya #PPDGresik

Senin, 14 Oktober 2013

Strategi Kampanye "Stop the Trafficking of Children and Young People"

STRATEGI KAMPANYE “STOP THE TRAFFICKING OF CHILDREN AND YOUNG PEOPLE” OLEH PUBLIC RELATIONS THE BODY SHOP DALAM MENCIPTAKAN KESADARAN MEREK PADA PELANGGAN THE BODY SHOP GANDARIA CITY
(PERIODE MARET 2012)
By :
Sarah Noor Fatimah
Jurusan Marketing Communication, Fakultas Ekonomi dan Komunikasi, BINUS University
                                             Jln. K.H. Syahdan No. 9, Palmerah, Jakarta Barat 11480
                                                                            Telp. (62-21) 534 5830
Email penulis : sarahnoorf@hotmail.com
Nama Mahasiswa : Sarah Noor Fatimah
Nama Dosen Pembimbing : D3656-Muhammad Adi Pribadi, S.E., M.Comm., MIB

Abstrak

Tujuan dari penelitian ini ialah untuk melihat strategi  yang digunakan dalam kampanye “Stop The Trafficking of Children and Young People” serta melihat kampanye tersebut dapat merubah kesadaran terhadap brand The Body Shop tidak sekedar brand kosmetik saja. Metode penelitian yang digunakan yaitu metode kualitatif dengan menggunakan teknik wawancara dan dokumen. Serta tipe riset yang digunakan yaitu deskriptif. Wawancara dilakukan kepada pihak internal dan eksternal. Hasil yang dicapai dalam penelitian ini adalah kampanye “Stop The Trafficking of Children and Young People” menggunakan strategi 360 derajat dan dengan kampanye tersebut, pelanggan menyadari dan diingatkan kembali bahwa The Body Shop merupakan brand yan peduli terhadap lingkungan atau keadaan sekitar. Simpulan yang didapat yaitu secara keseluruhan kampanye “Stop The Trafficking of Children and Young People” dapat menciptakan kesadaran brand bahwa The Body Shop bukan sekedar brand kosmetik pada umumnya dan strategi yang digunakan membantu keberhasilan kampanye tersebut.

Kata Kunci : Strategi, PR Campaign, Brand Awareness, Pelanggan
1.    PENDAHULUAN

Ledakan akan kebutuhan lembaga public relations di Indonesia terjadi seiring lahirnya demokratisasi dalam berbagai bidang sejak tahun 1998. Tidak bisa dipungkiri bahwa sekarang ini public relations (PR) sangat dibutuhkan di dalam sebuah perusahaan.  Dapat dikatakan bahwa public relations merupakan ujung tombak suatu perusahaan sehingga peranannya sangatlah penting.
Scott M. Cutlip dan Allen H. Center (2009:6) dalam bukunya yang berjudul “Efektif Public Relations” menyatakan bahwa public relations merupakan fungsi manajemen yang menilai sikap publik, mengidentifikasikan kebijaksanaan dan tata cara seseorang atau organisasi demi kepentingan publik, serta merencanakan dan melakukan suatu program kegiatan untuk meraih pengertian, pemahaman, dan dukungan dari publiknya. Tujuan utama dari public relation adalah mempengaruhi perilaku orang secara individu maupun kelompok saat saling berhubungan, melalui dialog dengan semua golongan, dimana persepsi, sikap dan opininya penting terhadap suatu kesuksesan sebuah perusahaan.
Banyak sekali aktivitas atau kegiatan yang dilakukan oleh Public Relation. Salah satu aktivitas dari seorang public relations (PR) yaitu membuat suatu kampanye. Dimana dengan adanya kampanye tersebut diharapkan dapat membentuk suatu perubahan sosial di kehidupan masyarakat. Menurut Rogers dan Storey yang dikutip oleh Ruslan (2008:22), kampanye adalah serangkaian kegiatan komunikasi yang terorganisasi dengan tujuan untuk memciptakan dampak tertentu terhadap sebagaian besar khalayak sasaran secara berkelanjutan dalam periode tertentu. Kampanye ini tidak digunakan di dalam bidang promosi dan publikasi dengan tujuan komersial, karena kampanye lebih bertujuan untuk membentuk suatu perubahan sosial. Dengan melakukan kampanye, diharapkan masyarakat dapat terbuka wawasannya mengenai hal yang menjadi isu kampanye tersebut, sehingga dengan begitu diri mereka akan sadar dan ikut berpartisipasi dalam proses pelaksanaannya.
Ada beberapa jenis kegiatan kampanye yang dilakukan oleh public relations (PR), diantaranya yaitu: kampanye produk, dimana kampanye ini bersifat komersial; kampanye pencalonan kandidat, dimana kampanye ini mengarah ke hal-hal yang berhubungan dengan politik; kampanye ideologi dan misi sosial, dimana kampanye ini lebih bersifat khusus dan berdimensi sosial.
Salah satu perusahaan yang sangat berkomitmen tinggi dalam pelaksanaan kampanyenya yaitu The Body Shop, dimana perusahaan ini sangat berkomitmen dalam hal lingkungan sekitar serta kegiatan sosial.


2.    METODE PENELITIAN

Metode penelitian yang dilakukan oleh penulis, menggunakan jenis penelitian primer dan sekunder. Dimana dalam penelitian primer melakukan wawancara, dan penelitian sekunder dengan mendapatkan data-data dari studi kepustakaan.
Burhan Bungin (Penelitian Kualitatif: 2007:84) menyatakan bahwa metode kualitatif adalah suatu proses penelitian dan pemahaman yang berdasarkan pada metodologi yang menyelidiki suatu fenomena sosial dan masalah manusia. wawancara adalah suatu teknik pengumpulan data dengan jalan mengadakan komunikasi dengan sumber data. Komunikasi tersebut dilakukan dengan dialog (tanya jawab) secara lisan, baik langsung maupun tidak langsung.

2.1 Metode Pengumpulan Data
Penelitian Primer
Dalam penelitian primer dibutuhkan data atau informasi yang bersumber dari sumber pertama atau biasa disebut dengan istilah ‘narasumber atau informan’. Data atau informasi diperoleh melalui pertanyaan tertulis dengan menggunakan metode kuesioner atau lisan dengan menggunakan metode wawancara.
Menurut Burhan Bungin, wawancara adalah suatu teknik pengumpulan data dengan jalan mengadakan komunikasi dengan sumber data. Komunikasi tersebut dilakukan dengan dialog (tanya jawab) secara lisan, baik langsung maupun tidak langsung.

Penelitian Sekunder
Penelitian sekunder menggunakan data yang bukan dari sumber pertama sebagai sarana memperoleh data atau informasi untuk menjawab masalah yang diteliti. Penelitian ini juga dikenal dengan penelitian yang mengunakan studi kepustakaan dan biasanya digunakan oleh peneliti yang menggunakan pendekatan kualitatif.
Sejumlah besar fakta dan data tersipan dalam bahan yang berbentuk dokumentasi. Sebagian besar data yang tersedia adalah berbentuk surat-surat, catatan harian, cinderamata, laporan, artefak, foto, dan sebagainya. Sifat utama data ini tidak terbatas pada ruang dan waktu sehingga member peluang kepada peneliti untuk mengetahui hal-hal yang perna terjadi di waktu silam. Secara detail bahan documenter terbagi menjadi beberapa macam, yaitu otobiografi, surat-surat pribadi, buku atau catatan harian, memorial, klipping, dokumen pemerintah atau swasta, data yang tersimpan di website, dan lain-lain.

Berdasarkan penjelasan diatas, penelitian yang dilakukan oleh penulis, menggunakan jenis penelitian primer dan sekunder. Dimana dalam penelitian primer melakukan wawancara, dan penelitian sekunder dengan mendapatkan data-data dari studi kepustakaan.



2.2 Tekhnik Validitas Data
Uji validitas dan reliabilitas penelitian kualitatif disebut juga keabsahan data sehingga instrument atau alat ukur yang digunakan akurat dan dapat dipercaya. Keabsahan data ini tentunya melalui sebuah instrument atau alat ukur yang sah dalam penelitian kualitatif.  Validitas membuktikan bahwa apa yang diamati oleh peneliti sesuai dengan kenyataan, dan apakah penjelasan yang diberikan sesuai dengan yang sebenarnya.
Terdapat dua jenis validitas, yaitu validitas internal dan eksternal. Validitas internal, yaitu ukuran kebenaran data yang diperoleh dengan instrumen, yakni apakah instrument itu sungguh-sungguh mengukur variable yang sebenarnya. Validitas eksternal berkenaan dengan generalisasi, sampai manakah generalisasi yang dirumuskan berlaku bagi kasus-kasus lain di luar penelitian. Dalam penelitian ini sendiri menggunakan validitas eksternal.
Reliabilitas berkenaan dengan pertanyaan apakah penelitian itu dapat diulangi oleh peneliti lain. Bila ia menggunakan metode yang sama apakah hasilnya akan sama. Jadi, reliabilitas menunjukkan adanya konsistensi, memberikan hasil yang konsisten atau kesamaan hasil sehingga dapat dipercaya.
Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mendapatkan tingkat kebenaran hasil penelitian, yaitu: a) memperpanjang masa observasi; b) mengamati terus-menerus; c) triangulasi; d) membicarakannya dengan orang lain; e) menganalisa kasus negatif (kasus yang tidak sesuai dengan hasil penelitian hingga saat tertentu); f) menggunakan referensi; g) mengadakan member check. (Nasution, 2003:1114-118). Adapun dalam penelitian ini, uji reliabilitas yang digunakan yaitu dengan cara mengamatinya terus-menerus dan menggunakan referensi.


2.3 Tekhnik Analisis Data
Analisis data dilakukan oleh peneliti untuk dapat menarik kesimpulan-kesimpulan. Ardianto (2010:217) menyebutkan bahwa analisis data merupakan proses mengorganisasikan dan mengurutkan data ke dalam pola, kategori, dan satuan uraian dasar sehingga tema dapat ditemukan dan hipotesis kerja dapat dirumuskan seperti yang disarankan oleh data.
Ada banyak model analisis data metode penelitian kualitatif. Namun, dalam penelitian ini menggunakan model Miles dan Huberman, dimana mereka menyatakan ada tiga jenis kegiatan dalam analisis data, yaitu:
1.      Reduksi. Reduksi data adalah suatu bentuk analisis yang mempertajam, memilih, memfokuskan, membuang, menyusun data dalam suatu cara dimana kesimpulan akhir dapat digambarkan. Reduksi data terjadi secara berkelanjutan hingga laporan akhir.
2.       Model data (data display). Kita mendefinisikan model sebagai suatu kumpulan informasi yang tersusun yang membolehkan pendeskripsian kesimpulan dan pengambilan tindakan. Bentuk yang paling sering dari model penelitian kualitatif adalah bentuk teks naratif.
3.      Penarikan/verifikasi kesimpulan. Dari permulaan pengumpulan data, peneliti kualitatif mulai memutuskan apakah makna sesuatu, mencatat keteraturan, pola-pola, penjelasan, konfigurasi yang mungkin, alur sebab-akibat, dan proposisi-proposisi. Peneliti pada dasarnya mengimplementasikan prinsip induktif dengan mempertimbangkan pola-pola data yang ada dan atau kecenderungan dari diplay data yang telah dibuat. (Ardianto, 2010:223)


3.    HASIL DAN BAHASAN
Kampanye “Stop The Trafficking of Children and Young People” dilaksanakan selama hampir 3 (tiga) tahun. Dimana dalam setiap tahun tersebut memiliki tujuan yang berbeda yang secara keseluruhan akan menciptakan kesadaran brand dimata pelanggan yang selanjutnya akan mengarah pada citra perusahaan yang baik. Alasan The Body Shop membahas mengenai isu trafficking adalah karena di dalam salah satu value The Body Shop ada yang membahas mengenai defend human rights, salah satu dari human rights tersebut adalah anak-anak. Dan diketahui bahwa trafficking tersebut merupakan kejahatan ketiga terbesar setelah obat-obatan dan senjata api. Dan diketahui pula bahwa Negara-negara yang merupakan cabang-cabang dari The Body Shop tersebut memiliki kasus trafficking yang cukup besar pula.
Public relations lebih banyak berperan dalam menggali berita-berita, sehingga public relations banyak melakukan kerja sama dengan media-media. Public relations beranggapan bahwa wartawan melalui tulisannya mempunyai kekuatan yang sangat besar dalam mengubah opini masyarakat serta dapat menggerakkan hati seseorang untuk melakukan sesuatu.   Salah satu bentuk nyata public relations berperan dalam menggali berita-berita adalah dengan melakukan investigasi atau liputan ke daerah-daerah yang memang di waspadai banyak terjadi kasus trafficking, seperti Batam, Lampung, Pontianak, Bandung, Surabaya, Solo, dan Medan.
Dalam pelaksanaan kampanye “Stop The Trafficking of Children and Young People”, dijelaskan bahwa public relations menggunakan strategi 360 derajat, yaitu suatu strategi komunikasi yang berusaha mendekati konsumennya dengan memanfaatkan setiap media komunikasi yang ada, seperti media cetak, media elektronik, serta media online. Namun strategi 360 derajat yang dimaksudkan oleh public relations The Body Shop tersebut yaitu segala ide atau strategi untuk menjalankan kampanye ini tidak hanya berasal dari public relations saja tetapi juga dari masing-masing divisi yang memiliki kaitannya dengan kampanye tersebut. Strategi ini tidak hanya dilihat dari satu sisi saja, sisi public relations, tetapi juga sisi lainnya. Ada divisi value yang akan memberitahukan kepada pihak-pihak internal perusahaan; marketing communications yang membuat iklan karena kampanye ini memiliki produk ambassador yang memerlukan promosi untuk menarik pelanggan; ada visual merchandise yang mendesain toko, mengenai letak-letaknya agar dapat dilihat pelanggan; divisi operations pun berperan karena karyawan toko akan menjelaskan mengenai kampanye tersebut.
Di dalam public relations sendiri, ia merencanakan untuk melaksanakan program edukasi, baik itu edukasi kepada pihak internal maupun pihak eksternal, karena isu mengenai trafficking tersebut cukup sulit. Melakukan edukasi kepada pihak internal sendiri cukup penting karena jangan sampai ketika The Body Shop mengkampanyekan mengenai trafficking tetapi ketika ditanyakan kepada beberapa pihak internal mengenai isu tersebut, mereka tidak mengetahui apa itu trafficking. Edukasi yang paling cepat untuk pihak eksternal adalah melalui pemberitaan di media sehingga public relations beberapa kali melakukan presentasi dengan media massa yang berbeda-beda, serta membuat program-program seperti mengajak media melakukan investigasi, media gathering dengan mengundang media untuk menonton bersama film yang bertemakan trafficking.
Jika dihubungkan dengan kerangkan teori yang dibuat oleh penulis dalam bab sebelumnya, maka dari segi PR Campaign, kampanye “Stop the Trafficking of Children and Young People” memiliki proses penyebaran informasi dan pengetahuan melalui bantuan media massa seperti yang dijelaskan oleh Public Relations The Body Shop. Penyebaran informasi tersebut dilakukan pada saat melakukaan edukasi kepada pihak internal dan eksternal pada saat sebelum acara dan juga pada saat acara dalam bentuk konferensi pers dan juga pemberitaan di media massa. Jenis kampanye yang dilakukan tersebut mengarah pada kampanye ideologi dan misi sosial, dimana kampanye “Stop the Trafficking of Children and Young People”  lebih  bersifat khusus dan juga berdimensi perubahan sosial (social change campaign). Adapun teknik berkomunikasi dilakukan melalui komunikasi massa, yang mana pada dasarnya komunikasi massa adalah komunikasi melalui media massa (media cetak ataupun elektronik), namun seiring dengan banyaknya pemahaman, massa dalam arti komunikasi massa lebih menunjuk pada penerima pesan yang berkaitan dengan media massa, sehingga massa disini mengarah pada khalayak, audience, penonton, pemirsa, atau pembaca. Jadi komunikasi massa merupakan komunikasi yang ditujukan kepada khalayak yang luar biasa banyak. Dengan banyaknya target yang ingin di kenai sasaran dalam kampanye ini, kampanye tersebut juga menggunakan teknik komunikasi melalui media massa, karena melalui media massa tersebut dapat membantu dalam menyebarkan berita seluas-luasnya sehingga targer sasarannya pun yang begitu banyak dapat menerima. Namun, pada kenyataannya seperti yang diteliti oleh penulis, tidak banyak pelanggan yang menyadari kampanye tersebut melalui media massa, mereka lebih banyak mengetahuinya melalui toko, tetapi pelanggan mengharapkan mereka dapat mendapatkan informasi melalui media massa. Berdasarkan pada metodenya, kampanye tersebut dibuat penuh dengan perencanaan, sistematis, memotivasi, dan berulang-ulang. Dari berbagai divisi The Body Shop membuat perencanaan masing-masing yang akan dijalankannya. Dari sisi public relations, awalnya ia melaksanakan proses edukasi dengen mengajak media melakukan investigasi secara langsung, hal tersebut dalam memunculkan motivasi bagi masyarakat untuk turut berpartisipasi dalam kampanye yang dilakukan tersebut.

4.    SIMPULAN DAN SARAN

4.1 Simpulan
1.      Kampanye “Stop The Trafficking of Chlidren and Young People” menggunakan strategi 360 derajat, dimana dalam pelaksanaan kampanye tersebut, strategi yang dilakukan tidak hanya berasal dari satu pihak atau divisi saja tetapi dari semua pihak. Tidak hanya public relations yang membuat strategi tersebut, dari values dalam melakukan kerja sama dengan LSM; marketing communication dalam membuat leaflet, mengiklankan produk ambassador hand cream; visual merchandise dalam menyusun tata letak penempatan hal-hal yang berhubungan dengan kampanye di toko; operations dalam melatih para pelayan toko untuk menjelaskan masalah trafficking kepada pelanggan di toko. Strategi 360 derajat yang digunakan dalam pelaksanaan kampanye tersebut dirasakan cukup berhasil karena dengan menggunakan strategi perencanaan tersebut, fokus setiap divisi menjadi lebih spesifik dan terstruktur, mereka melaksanakan tugas sesuai dengan perencanaan divisinya tersebut. Dan tanpa bantuan dari divisi yang lainnya dan perencanaan, kampanye tersebut tidak akan berjalan dengan sukses. Dalam lingkup public relations sendiri, melakukan proses edukasi kepada internal dan eksternal untuk menjelaskan pemahaman mengenai trafficking, lalu melakukan investigasi ke daerah-daerah yang memiliki tingkat perdagangan manusia yang tinggi seperti Batam, Lampung, Bandung dan lainnya, serta melakukan konferensi pers sebagai tanda bahwa The Body Shop melakukan kampanye mengenai trafficking dan akan menyerahkan petisi kepada pemerintah dan donasi kepada LSM yang bekerja sama yaitu ECPAT. Dan juga memberitahukan bahwa petisi dan donasi yang terkumpul telah diberikan kepada pihak-pihak yang bersangkutan.
2.      Secara objektif, kampanye “Stop The Trafficking of Chlidren and Young People” tersebut dapat dikatakan berhasil karena telah berhasil mengumpulkan petisi melebihi jumlah yang ditargetkan, baik yang ditargetkan oleh The Body Shop International maupun The Body Shop Indonesia. Awalnya The Body Shop Indonesia menargetkan untuk mengumpulkan 75.000 petisi, belum tiba sampai batas waktunya ternyata terlah berhasil mengumpulkan 100.000 petisi, lalu targetnya ditambah lagi menjadi 150.000 dan akhirnya diputuskan bahwa targetnya adalah mengumpulkan 200.000 petisi, dan jumlah yang terkumpul adalah 210.176 petisi. Target dari The Body Shop Internasional sendiri adalah 70 ribu petisi dan berhasil mengumpulkan 7.044.278 petisi. Secara keseluruhan, kampanye “Stop The Trafficking of Children and Young People” ini telah menciptakan kesadaran pelanggan terhadap The Body Shop. Memang awalnya mereka sudah cukup sadar mengenai The Body Shop yang merupakan brand kosmetik yang ramah lingkungan karena kandungannya, namun melalui kampanye tersebut, pelanggan menyadari dan diingatkan kembali bahwa The Body Shop juga merupakan brand kosmetik yang peduli terhadap lingkungan sekitarnya, yang dimana dengan kita membeli produk The Body Shop, kita juga sudah melakukan kegiatan sosial.

4.2 Saran
1.      Strategi 360 derajat yang digunakan dalam kampanye “Stop The Trafficking of Children and Young People” ini sudah bagus, sehingga dapat digunakan untuk kampanye berikutnya. Namun, lebih baik jika ditambahkan inovasi-inovasi sehingga pelanggan tidak akan bosan dengan kegiatan yang dilakukan dalam strategi tersebut, misalnya saja dengan melakukan penyuluhan terhadap isu yang diangkatnya, mengikutsertakan pelanggan yang ingin menjadi sukarelawan untuk mengunjungi dan merehabilitasi korban.
2.      Dalam hal memasang poster atau leaflet mengenai kegiatan atau kampanye yang akan dilakukan, sebaiknya jangan hanya dipasang di toko saja, melainkan juga ditempat-tempat tertentu yang cukup strategis. Karena ketika poster tersebut hanya dipasang di toko, terkadang pelanggan hanya fokus dalam melihat-lihat produk saja, sehingga poster tersebut hanya dilihat sekilas. Dengan memasang poster ditempat-tempat lainnya, hal tersebut dapat membantu dalam dalam menciptakan kesadaran bahwa The Body Shop merupakan brand yang pedulia terhadap lingkungan sekitar dan sering melakukan kegiatan sosia. Bukan hanya pelanggan saja yang akan menyadarinya tetapi juga masyarakat yang tidak menggunakan produk The Body Shop.
3.      Lebih aktif lagi dalam menyampaikan informasi mengenai kegiatannya. Pelayan toko juga wajib untuk diberikan pengetahuan mengenai kampanye tersebut sehingga ia dapat membantu meyakinkan pelanggan untuk berpartisipasi dalam kampanye tersebut.


DAFTAR PUSTAKA

Buku Acuan
Afriani, I. (2009). “Metode Riset Kualitatif” - Artikel, Lembaga Penelitian Mahasiswa Penalaran, Universitas Negeri Makasar.
Ardianto, E. (2010). Metodologi Penelitian untuk Public Relations: Kuantitatif dan Kualitatif. Jakarta: Simbiosa Rekatama.
Bungin, B. (2007). Penelitian Kualitatif. Jakarta: Prenada Media Grup.
Cutlip, S.M., Center, A.H. & Broom, G.M. (2006). Effective Public Relations. Edisi ke sembilan. New Jersy: Prentice Hall.
Durianto, D., Sugiarto & Budiman, L.J. (2004). Brand Equity Ten. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Durianto, D., Sugiarto & Budiman, L.J. (2004). Strategi Menaklukkan Pasar Melalui Riset Equitas dan Perilku Merek. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Griffin, J. (2005). Customer Loyalty. Jakarta: Erlangga.
Liliweri, A. (2011). Komunikasi Serba Ada Serba Makna. Jakarta: Kencana Prenada Media Grup.
Nasution, M.N. (2004). Manajemen Jasa Terpadu. Bogor: Gralia Indonesia.
Nurudin. (2007). Pengantar Komunikasi Massa. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.
Pawito. (2007). Penelitian Komunikasi Kualitatif. Yogyakarta: LKiS Yogyakarta.
Peter, J.P., dan Olson, J.C. (2004). Consumer Behavior and Marketing Strategy. New York: McGraw-Hill.
Rochaety, E. dan Tresnati, R. (2005). Kamus Istilah Ekonomi. Jakarta: PT Bumi Aksara.
Rumanti, M.A. (2005). Dasar-dasar Public Relations: Teori dan Praktik. Jakarta: PT. Grasindo.
Ruslan, R. (2008). Kiat dan Strategi Kampanye Public Relations. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Ruslan, R. (2002). Manajemen Public Relations & Media Komunikasi. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Sitinjak, T., Durianto, D., Sugiarto. & Yunarto, H.I. (2004). Model Matriks Konsumen Untuk Menciptakan Superior Customer Value. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Umar, H. (2003). Metode Riset Perilaku Konsumen Jasa. Jakarta: Gholia Indonesia.
Umar, H. (2008). Strategic Management in Action. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Wilcox, Dennis L., Cameron, Glen T. (2009). Public Relations: Strategies and Tactics. 9th edition. New York: Pearson International Edition.
Yoshida, D.T. (2006). Arsitektur Strategik: Sebuah Solusi Meraih Kemenangan dalam Dunia yang Senantiasa Berubah. Jakarta: PT Elex Media Komputindo.
Sumber Lain
Schultz, D.E., Schultz, H.F. (2002). How to build a billion dollar business-to-bussiness brand. Marketing Management. Vol 9 no 2 p 22.


RIWAYAT PENULIS
Sarah Noor Fatimah, lahir pada 10 Juli 1990, di kota Jakarta, dan berpendidikan formal S-1 Fakultas Ekonomi dan Komunikasi Jurusan Marketing Communication pada Universitas Bina Nusantara. Selain itu pernah memiliki pengalaman kerja sebagai public relations di The Body Shop Indonesia (PT. Monica Hijau Lestari) selama periode Januari sampai Maret 2012.

Rabu, 09 Oktober 2013

Bagaimana Nasib Anak Miskin, Yatim dan Terlantar ?

Indonesia merupakan salah satu negara berkembang yang sedang berjuang dengan pembebasan kebutuhan dasar pendidikan bagi warga negaranya. Upaya untuk meningkatkan kualitas hidup melalui perbaikan kualitas sumber daya manusia dilakukan secara terus menerus dan terencana. Mulai dengan program pendidikan dasar bebas biaya bagi siswa SD/MI, SMP/MTs dan SMA/MA hingga pemberian berbagai bantuan (BOS, BOMM dan lain-lain) untuk meringankan beban biaya pendidikan yang ditanggung oleh peserta didik. 

Perbaikan kualitas pendidikan pun dilakukan secara bertahap dan terus menerus dengan melaksanakan berbagai evaluasi, pengawasan mutu sekolah, dan pemberian golongan sekolah berstandar nasional, rintisan sekolah bertaraf intetrnasional hingga sekolah bertaraf internasional.

Perbaikan mutu pendidikan ini direspon baik oleh peserta didik dengan meningkatkan kualitas pengetahuan mereka dengan mengikuti beberapa program bimbingan belajar sehingga para peserta didik di sekolah mampu mengikuti, mengembangkan kualitas pendidikan di sekolahnya, dan mampu bersaing untuk memperebutkan kesempatan untuk melanjutkan pendidikan pada jenjang yang lebih tinggi. 

Disamping itu peserta didik juga pada umumnya mempunyai keinginan yang kuat untuk memiliki kemampuan dalam berbahasa asing, baik Inggris, Mandarin, Arab, atau lainnya. Mereka sangat bersemangat untuk menghadiri lembaga-lembaga kursus kebahasaan untuk mewujudkan keinginannya agar mampu berbahasa asing, yang kelak akan sangat bermanfaat.

Dinamisme dan semangat dalam memperbaiki kualitas pendidikan ini sangat jelas terlihat dan dapat kita rasakan ketika kita berdialog dengan pelajar yang bertempat tinggal di perkotaan atau kota-kota besar dan mempunyai kemampuan finansial. Ironi justru dapat kita temukan di tengah-tengah lingkungan masyarakat pesisir, yang kehidupannya dihabiskan di tengah laut luas, lingkungan pertambakan, dan persawahan. Dimana mereka pada umumnya terjebak dalam lingkaran kemiskinan dan keterbelakangan dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi.
  
Lebih jauh lagi ketika kita melihat kehidupan anak-anak yatim, anak-anak terlantar, dan anak-anak yang tinggal dengan keluarga-keluarga miskin, dimana mereka tidak mempunyai akses pendidikan yang memadai karena memiliki keterbatasan ekonomi yang sangat akut. Kondisi tersebut telah membangun mata rantai kemiskinan dan keterbelakangan dalam ilmu pengetahuan dan teknologi yang tak pernah putus ketika kepedulian kita terhadap perbaikan kualitas pendidikan dan kehidupan mereka tidak terbentuk.

Bila kita menyelami lebih jauh kehidupan anak-anak yatim, anak-anak terlantar, dan anak-anak yang tinggal dengan keluarga-keluarga miskin maka kita akan menemukan berbagai kenyataan bahwa mereka mengalami kesulitan dalam memenuhi kebutuhan pangan, terjebak dalam kelaparan yang entah kapan akan usai. Mereka menangis karena uang saku yang mereka dapatkan dari orang tuanya tidak cukup untuk menambal rasa laparnya ketika berada di sekolah. Mereka mengalami kesulitan untuk menghadiri lembaga kursus kebahasaan dan lembaga bimbingan belajar karena keterbatasan keuangan yang sangat akut. Bagaimanakah si miskin, yatim, dan anak terlantar mengumpulkan semua energi sehingga mereka memiliki kemampuan bersaing dengan mereka yang terlahir dengan berbagai keuntungan dan kemudahan ?.

Minggu, 06 Oktober 2013

Setiap ½ Jam, 1 Bayi Jadi Yatim


Tiga tujuan pembangunan milenium atau MDGs berpotensi gagal dicapai pada tahun 2015. Kemungkinan tidak tercapainya tujuan itu ditunjukkan oleh indikator Angka Kematian Ibu (AKI) melahirkan yang masih tinggi, pencegahan HIV/AIDS, dan indikator tutupan lahan pada sektor kehutanan yang belum optimal.

Data yang berhasil dirangkum dari berbagai sumber menunjukkan sedikitnya 18.000 ibu meninggal setiap tahun di Indonesia karena kehamilan atau persalinan. Hal itu berarti setiap setengah jam seorang perempuan meninggal karena kehamilan atau persalinan. Akibatnya, setiap tahun 36.000 balita menjadi anak yatim.

Tingginya angka kematian ibu itu menempatkan Indonesia pada urutan teratas di ASEAN dalam hal tersebut. Survei Kesehatan Rumah Tangga 2001 menyebutkan angka kematian ibu di Indonesia 396 per 100.000 kelahiran hidup. Jumlah itu meningkat dibandingkan dengan hasil survei 1995, yaitu 373 per 100.000 kelahiran hidup. Angka kematian ibu di Indonesia bahkan lebih jelek dari negara Vietnam. Angka kematian ibu di negara tetangga itu tahun 2003 tercatat 95 per 100.000 kelahiran hidup. Negara anggota ASEAN lainnya, Malaysia tercatat 30 per 100.000 dan Singapura 9 per 100.000.

Departemen Kesehatan menargetkan tahun 2010 angka kematian ibu turun menjadi 125 per 100.000 kelahiran hidup. Apakah target ini bisa dicapai ? Berbagai upaya telah dilakukan untuk menekan angka kematian ibu, misalnya melalui program Maternal and Child Health, Safe Motherhood, Gerakan Sayang Ibu, dan Making Pregnancy Safer. Sayangnya, kasus kematian ibu tetap saja tinggi.

Angka Kematian Ibu (AKI) merupakan salah satu indikator untuk melihat derajat kesehatan perempuan. Angka kematian ibu juga merupakan salah satu target yang telah ditentukan dalam tujuan pembangunan millenium yaitu tujuan ke 5 yaitu meningkatkan kesehatan ibu dimana target yang akan dicapai sampai tahun 2015 adalah mengurangi sampai ¾ resiko jumlah kematian ibu. Dari hasil survei yang dilakukan, AKI telah menunjukkan penurunan dari waktu ke waktu, namun demikian upaya untuk mewujudkan target tujuan pembangunan millenium (MDGs) masih membutuhkan komitmen dan usaha keras yang terus menerus.

Menyangkut penyebab kematian ibu melahirkan banyak diakibatkan oleh rendahnya kesadaran masyarakat tentang kesehatan ibu hamil menjadi faktor penentu angka kematian, meskipun masih banyak faktor yang harus diperhatikan untuk menangani masalah ini.

Persoalan kematian yang terjadi lantaran indikasi yang lazim muncul. Yakni pendarahan, keracunan kehamilan yang disertai kejang-kejang, aborsi, dan infeksi. Namun, ternyata masih ada faktor lain yang juga cukup penting. Misalnya, pemberdayaan perempuan yang tak begitu baik, latar belakang pendidikan, sosial ekonomi keluarga, lingkungan masyarakat dan politik, kebijakan juga berpengaruh. Kaum lelaki pun dituntut harus berupaya ikut aktif dalam segala permasalahan bidang reproduksi secara lebih bertanggung jawab.

Selain masalah medis, tingginya kematian ibu juga karena masalah ketidaksetaraan gender, nilai budaya, perekonomian serta rendahnya perhatian laki-laki terhadap ibu hamil dan melahirkan. Oleh karena itu, pandangan yang menganggap kehamilan adalah peristiwa alamiah perlu diubah secara sosiokultural agar perempuan dapat perhatian dari masyarakat. Sangat diperlukan upaya peningkatan pelayanan perawatan ibu baik oleh pemerintah, swasta, maupun masyarakat terutama suami.

Pendarahan menempati persentase tertinggi penyebab kematian ibu (28 persen), anemia dan kekurangan energi kronis (KEK) pada ibu hamil menjadi penyebab utama terjadinya pendarahan dan infeksi yang merupakan faktor kematian utama ibu. Di berbagai negara paling sedikit seperempat dari seluruh kematian ibu disebabkan oleh pendarahan, proporsinya berkisar antara kurang dari 10 persen sampai hampir 60 persen. Walaupun seorang perempuan bertahan hidup setelah mengalami pendarahan pasca persalinan, namun ia akan menderita akibat kekurangan darah yang berat (anemia berat) dan akan mengalami masalah kesehatan yang berkepanjangan (WHO).

Persentase tertinggi kedua penyebab kematian ibu yang adalah eklamsia (24 persen), kejang bisa terjadi pada pasien dengan tekanan darah tinggi (hipertensi) yang tidak terkontrol saat persalinan. Hipertensi dapat terjadi karena kehamilan, dan akan kembali normal bila kehamilan sudah berakhir. Namun ada juga yang tidak kembali normal setelah bayi lahir. Kondisi ini akan menjadi lebih berat bila hipertensi sudah diderita ibu sebelum hamil. Faktor lain penyebab tingginya AKI di Indonesia adalah disebabkan karena relatif masih rendahnya cakupan pertolongan oleh tenaga kesehatan.

Sabtu, 05 Oktober 2013

Umat Muslim Bertanggung Jawab atas Kemiskinan di Indonesia ?

Dalam bulan ramadhan dimana semua umat muslim diwajibkan untuk menunaikan ibadah puasa, ada satu hikmah yang patut direnungkan adalah tentang kepedulian. Bukankah sesungguhnya Islam selalu mengajarkan untuk hidup saling peduli kepada sesama umatnya ? Salah satu caranya adalah adanya kewajiban untuk membayar zakat bagi yang mampu yang bertujuan untuk membantu yang tidak mampu. Ada juga diajarkan untuk peduli menyantuni anak yatim piatu dan kaum dhuafa.

Indonesia adalah negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia. Dengan jumlah penduduk lebih dari dua ratus juta dan kurang lebih sembilan puluh persen adalah muslim. Selama ini hal ini menjadi suatu kebanggaan tersendiri bagi kita. Alangkah indahnya apabila segala kebaikan dari ajaran agamanya dapat diwujudkan dalam masyarakat.

Coba sejenak kita renungkan kembali tanpa harus menyalahkan siapa-siapa. Mengapa Indonesia dengan umat muslimnya yang besar, masih banyak rakyatnya yang hidup dalam kemiskinan ? Dimana hal ini tidak akan terjadi bila rasa kepedulian dengan mengeluarkan zakat sebagai sesama umat diterapkan dalam kehidupan.

Saya percaya sebenarnya banyak sudah umat muslim yang benar-benar peduli. Namun tak kalah banyak pula yang kurang peduli terhadap sesamanya, padahal hidup dalam berkecukupan.

Saya yakin bila rasa kepedulian ini ada dan terpelihara pada hati setiap muslim, pasti tidak ada masyarakat Indonesia yang masih hidup dibawa garis kemiskinan. Walaupun tidak hidup kaya raya semua, namun pasti bisa hidup berkecukupan dan sejahtera.

Bila hal ini bisa terjadi, minimal akan membantu terciptanya sebuah negara yang adil dan damai seperti yang dicita-citakan para pendiri bangsa ini. Alangkah indahnya apabila segala ajaran kebajikan dan kepedulian ini diwujudkan pada kehidupan nyata, maka damai sejahtera akan tercapai.

Jumat, 04 Oktober 2013

Indonesia, Palestina, dan Air Mata

Ini sebuah cerita pembangun jiwa, bacalah dalam keadaan tenang, hayati dan biarkan bait-bait kata menembus sanubari, izinkan hayalanmu melayang-layang hingga terhempas jauh dan melukai hatimu, bayangkan saja apa yang kamu rasakan dan akalmu akan bekerja keras memaksamu terlibat dalam kebenaran. Bila selesai, berhentilah sejenak, pejamkan matamu sebentar, dan ucaplah syukur sebanyak-banyaknya atas segala nikmat yang telah kau dapat selama ini.

Berawal dari perbincangan ringan antara dua orang bocah yang masih polos, mereka bahkan masih sangat polos untuk bisa menyaring kata-kata yang pantas dan yang tidak untuk diucapkan. Tapi tak masalah, mereka hanya dua anak kecil yang masih sangat kecil dan belum mengerti apa-apa, toh mungkin dari cerita-cerita mereka kita bisa memaknai tujuan hidup yang sesungguhnya, Insya Allah!.

Namanya Maurah, usianya baru sembilan tahun, ia seorang anak Indonesia yang sangat cantik, rambutnya hitam panjang dan selalu dikepang. Setiap pulang sekolah ia dijemput supir pribadi keluarganya, tentu ini hal yang biasa mengingat ayahnya adalah seorang diplomat yang ditugaskan negara untuk menjadi jembatan antara Indonesia dan Mesir. Ibunya turunan darah ningrat yang walaupun hanya memakan sebuah roti tetap harus menggunakan garpu.

Maurah memiliki seorang sahabat yang merupakan anak yatim piatu dari Gaza, Palestina. Sayangnya ia sendiri tidak tahu kalau sahabatnya adalah seorang yatim. Namanya Filistin, seorang anak yang cerdas dan memiliki banyak bekas luka di wajahnya. Filistin adalah salah satu anak yang selamat dari serangan membabi buta Israel, ia juga mampu melewati operasi pembedahan dengan tenang saat dada kirinya ditembus peluru para penembak jitu Israel. Filistin sangat periang dan menyayangi Maurah layaknya saudara kandung ia sendiri, umurnya terpaut sebulan lebih muda dari Maurah.

Maurah, rindukah kamu dengan negaramu ? Tanya Filistin.
Tentu itu sahabatku, tapi saat ini aku lebih senang tinggal disini, aku suka kurma Mesir yang ukurannya besar dan manis-manis. Di negaraku tak ada yang seperti ini, dan kalaupun ada harganya mahal sekali, mama pasti membatasiku untuk memakannya, jawab Maurah.
Ikutlah kau ke negaraku kalau kau mau, disana banyak pohon kurma. Kau bisa memetik semaumu dan bisa kau bawa ke Indonesia sebagai oleh-oleh dariku.
Sungguh ? Aku akan ikut denganmu kalau kau hendak kembali wahai sahabatku. Pasti negaramu subur sekali, ah aku ingin melihat tempat bermainmu dan memberi salam kepada kedua orang tuamu.
Hahaha, iya negaraku memang paling subur sahabatku. Sayang, semua itu cuma ada di ingatanku saat masih berumur lima tahun. Kini semuanya telah hancur, tapi kau jangan berkecil hati, tentang pohon-pohon kurma itu, kau masih bisa melihatnya. Kau akan aku bawa ke tempat bermainku, disana dulu ibuku menggenggam jemariku dan bercanda tawa denganku.
Ah aku akan mengabari teman-temanku di Indonesia kalau aku akan ke Palestina bersamamu, kita akan mencari kurma dan memakannya sampai puas. Sungguh aku tak sabar menunggu liburan musim panas tiba dan kita segera kesana, Maurah berantusias.
Apa kau masih merasa sebagai anak kecil wahai sahabatku ? tanya Filistin penasaran.
Tentu itu sahabatku, aku ini baru berusia sembilan tahun dan masih terlalu muda untuk bisa memakai gaun ibuku atau merapihkan dasi ayahku sebelum ia berangkat kerja. Kau pun seperti itu, semua teman kelas kita, bahkan teman bermainmu di Gaza juga masih kecil. Kita masih kecil Filistin! jawab Maurah dengan semangat.
Tidak wahai sahabat manisku, aku yang lahir lebih muda sebulan darimu merasa sedang terperangkap oleh jiwa yang sudah berusia puluhan tahun. Teman-temanku di Gaza juga sama sepertiku, kami terlahir dengan fisik yang kecil namun berjiwa dewasa, timpal Filistin dengan sopan.
Kenapa bisa seperti itu ? Kenapa kau merasa seperti seorang dewasa wahai Filistin sahabatku ? tanya Maurah keheranan.
Maurah, maukah kamu menceritakan masa-masa kecilmu padaku, aku sungguh ingin mengetahui seperti apa masa kecil anak-anak Indonesia sepertimu. Tentu kalau kau tak keberatan sahabatku, pinta Filistin merendah.
Sejenak, Maurah menoleh ke wajah Filistin dengan keheranan. Ditatapnya wajah penuh bekas luka dan mata cokelatnya yang memancarkan kedamaian. Setangkai bunga matahari yang ada ditangannya ia bagi dua dan memberikan bunganya untuk Filistin, sedang ia memutar-putar tangkainya dan tersenyum tipis sambil bercerita dengan tulus.

“Aku lahir di Ibukota, namanya Jakarta. Aku sendiri tak terlalu mengingat bagaimana besarnya kota itu, karena sejak berumur tujuh tahun ayahku sudah bekerja di Cairo dan kita semua ikut bersamanya. Teman bermainku adalah seorang anak cacat yang tinggalnya disebelah rumahku, namanya Fathia, sayangnya ia telah meninggal akibat tumor ganas yang menggerogoti tenggorokannya.
Dulu kita sering bermain boneka dan Fathia menyukai boneka Pandaku, akhirnya boneka itu aku berikan untuknya sebagai kenang-kenangan saat aku berangkat kesini. Aku pernah berjanji kalau aku besar nanti, aku akan kembali ke Indonesia dan membawakan boneka panda yang lucu untuknya. Sayang, seminggu sebelum ia meninggal, ibunya menelpon mamaku dan kita pun berkesempatan untuk bertukar rindu. Aku masih ingat saat dia bilang supaya aku tak usah repot-repot membawakannya boneka lagi, dia minta aku membelikannya tasbih dan mukenah yang serba putih, ya tuhan ternyata beberapa hari kemudian Allah memanggilnya. Aku sungguh tak punya teman lagi sebaik dia, Fathia si gadis kecil cacat yang selalu tidur memeluk al-quran telah pergi.
Aku sempat marah pada mamaku dan tak mau berbicara dengannya berminggu-minggu, itu semua karena mama tak memberitahuku tentang penyakit Fathia. Akhirnya mama membelikanku seperangkat komputer agar aku mau memaafkannya, ah mama sangat tahu kelemahanku.
Wahai Filistin yang cantik, anak-anak seusia kita di negaraku sangat bebas menjalani apapun yang ingin mereka lakukan. Orang tua kami hanya akan mencari anak-anaknya saat menjelang maghrib, kami akan pulang untuk mandi dan belajar kemudian makan malam dan istirahat. Kau akan gendut dan tampak jelek di cermin saat menggunakan seragam sekolah”.
Terus, apa yang kau syukuri dari negaramu yang tak kau temukan disini ? tanya Filistin antusias.
“Sangat banyak wahai sahabatku, aku memerlukan waktu seumur hidup untuk bisa menceritakannya padamu. Negaraku sangat makmur dan bergelimpangan hasil bumi, kau bisa memakan daging sapi berkualitas dan meminum air murni dari mata air unggulan dimana-mana. Awan kami berwarna biru cerah dengan lautan hijau toska yang menawan, gunung-gungung akan terlihat seperti berakrobat dan menampilkan punggung-punggung mereka yang anggun, kau juga tak akan cukup menggunakan sepuluh jarimu untuk menghitung banyaknya gedung pencakar langit disana.
Tentunya, kau akan hidup ditengah-tengah umat muslim yang katanya terbesar di dunia, dan kau juga akan belajar bagaimana toleransi beragama dipraktekan oleh lima keyakinan yang berbeda. Kita juga punya puluhan juta masjid yang cantik-cantik dan kau bisa memilih untuk melakukan sholat di masjid manapun yang kau kehendaki.
Budaya kami juga sudah terkenal hingga ke seluruh dunia, bahkan para pakar memprediksi bahwa negaraku adalah benua Atlantis yang hilang. Sungguh mereka tak terlalu berlebihan menurutku, itu karena Indonesiaku adalah seperti sepotong surga yang jatuh dari langit. Aku pun berharap kalau sudah besar nanti dan sudah menyelesaikan sekolahku di Cairo, aku akan kembali ke Jakarta, kembali ke kota kelahiranku dan menangis di atas batu nisan Fathia yang sudah lama kurindu”. Maurah menjelaskan dengan semangat yang meletup-letup sampai tak sadar pipi kirinya basah karena air matanya.
“Sungguh negaramu adalah negeri impianku selama ini, sayangnya aku sudah terlalu jatuh cinta dengan tanah Palestinaku. Disana aku dipaksa menjadi dewasa oleh keadaan, aku menjadi terlalu dewasa untuk diriku dan fisikku sendiri”. Tutur Filistin penuh sesal.
“Wahai gadis manis yang berjiwa besar, ceritakanlah tentang semuanya untukku, anggaplah aku sebagai pohon mati yang tak bisa berbunga dan memberi keteduhan bagi para musafir yang lelah. Izinkan aku mengetahui sebagian kisah menarik dalam hidupmu, ceritakanlah sahabatku, aku akan mendengarkanmu dengan tulus”. Pinta Maurah dengan bijak.
“Maurah sahabatku yang pandai, tahukah kamu tentang negeriku, negeri Palestina ? Kami adalah bangsa yang besar namun dituding sebagai bangsa pembuat kekacauan di dunia, pastinya tuduhan itu datang dari Israel dan Amerika. Dulu, aku dilahirkan dari rahim suci milik seorang perempuan bernama Tsurayah, belakangan aku memanggilnya Ibu.
Ia adalah wanita hebat yang mengajarkanku untuk selalu melindungi auratku sebagai perempuan, ia juga Ibu dari ketiga saudaraku, Fatemah, Bayhan, dan Saleem. Ayahku adalah seorang pengusaha susu kambing yang selalu ia jual ke Deir al Balah hingga Khan Yunis demi menghidupi kami semua. Ayah adalah sosok pria disiplin dan penuh kasih, namanya Alizadeh, keturunan Iran yang terkenal keras kepala.
Teman bermainku bernama Maryam dan Adam, keduanya mati karena serangan pasukan Israel. Maryam mati dalam keadaan kepala putus, sedang Adam tertimbun reruntuhan rumahnya yang dibom. Saat itu aku sedang berada di rumah Adam dan berusaha lari menyelamatkan diri, kulihat ibu dan ketiga saudaraku diluar rumah sedang menangis histeris dan mencoba meraih tanganku.
Tak berapa lama ibu jatuh tersungkur dihadapan kami, ia ditembak oleh tentara Israel, ibu jatuh dan merangkul kami agar tak terkena tembakan mereka. Sayangnya, tentara-tentara itu semakin mendekat dan menembak kami dari jarak 500m. Tubuh ketiga saudaraku tak luput dari amukan peluru, darah-darah segar menutupi seluruh mukaku. Saat itu yang kurasa hanya sebuah benda yang menembus dada kiriku dan membuat panas seluruh tubuhku, saking panasnya aku hanya bisa berdoa dan tak sadarkan diri. Sebelum aku benar-benar pingsan, aku masih mendengar suara lirih keluar dari mulut ibu. Dia bilang dia sangat mencintai kami dan berpesan agar tidak takut dengan kematian.

Ayah yang saat itu sedang berada di Khan Yunis segera kembali ke kota kami, di Bait Lahiya, Gaza Timur. Sungguh ia hanya bisa bersujud di depan jenazah keempat orang yang ia sayangi. Dan aku, aku dibawa ke rumah seorang warga yang bernama Nouram. Ayah kemudian menyusulku dan menangis sejadi-jadinya saat melihat dada kiriku dijebol timah panas.
Regu penyelamat akhirnya datang dan segera membawaku untuk melakukan operasi di rumah sakit Cairo. Ayah tentu mengantarku dan tak membiarkan sedetikpun untuk jauh dariku, memasuki daerah Khan Yunis mobil kami dipaksa berhenti oleh blokade tentara Israel. Aku dan regu penyelamat diizinkan menuju pintu perlintasan Rafah, sedang ayah, kulihat ia ditembak dan pergelangan tangannya dipatahkan hingga jatuh tersungkur di depan para tentara kejam itu.
Aku ditangani oleh dokter ahli yang kerepotan karena kehabisan obat bius, akhirnya mereka menyuruhku untuk melantunkan ayat-ayat suci al-Quran dengan pelan dan semampuku, dengan hati-hati mereka melakukan operasi pengangkatan peluru yang bersarang di dadaku. Saat itu, aku merasa Ibu, Ayah, dan ketiga saudaraku sedang berdiri disampingku dan memberikan semangat sebisa mereka. Tuhan, aku baru berumur enam tahun dan belum siap menerima semua ini. Cuma itu yang bisa kukatakan setiap hari.
Setelah sembuh, aku kembali ke Bait Lahiya dan bergabung dengan anak-anak yatim lainnya di kamp pengungsian. Kusempatkan pula waktu untuk melihat rumahku yang ternyata sudah dibom oleh Israel, kutemukan bercak darah ibu dan saudara-saudaraku masih menempel disana, sungguh aku ingin menyusul mereka ke surga. Selama di kamp pengungsian, ada seorang anak bernama Ibrahim yang sangat berani dan memanggilku "bocah penakut" karena masih trauma dan tak mau terlibat aksi balas dendam yang akan mereka lakukan.
Pagi itu Ibrahim memimpin puluhan anak-anak untuk menuju bukit Jabaliyah dan melakukan intifada (lempar batu) ke arah pasukan Israel yang menjaga perbatasan. Batu demi batu mereka lemparkan sambil sesekali berteriak "kalian setan.. pembunuh pecundang.. kalian biadap". Dan akhirnya, karena terbakar emosi, para tentara itu melancarkan serangan balasan yang tak sepadan. Mereka memuntahkan peluru-peluru segar dan menembus tubuh mungil anak-anak itu. Ibrahim sendiri ditangkap dan dipatahkan pergelangan tangannya.
Aku akhirnya bersembunyi di dalam mobil ambulans milik rumah sakit Mesir, sambil berdoa aku berharap dengan mobil ini aku bisa keluar dari wilayah Gaza dan mencari kehidupan di Cairo. Alhamdulillah mobil itu lolos pemeriksaan di perbatasan Rafah dan mengantarku mengawali hidup baru sebagai bocah malang dari Palestina.
Di Cairo-lah aku bertemu Abbas Bin Qishas yang kemudian mengangkatku sebagai anaknya, darinya pula aku memperolah hak untuk bersekolah di Sekolah Internasional Cairo dan berteman dengan kalian, terlebih aku dapat mengenalmu wahai Maurah yang baik hati”. Ucap Filistin polos.

Maurah yang menahan sesak di dada kini menangis sejadi-jadinya saat mendengar cerita Filistin, baginya Filistin adalah sosok pemberani yang lolos dari kematian dan menjadi saksi hidup kekejaman Israel untuknya.

Maurah mengangkat wajah Filistin yang meratap kosong kedepan, dengan senyum ia merapihkan jilbab sahabatnya yang berantakan, dalam-dalam ia menatap mata Filistin yang memancarkan kedukaan. Ia rangkul pundak gadis malang itu, kemudian mengambil bunga matahari yang ada di tangan Filistin, dengan sedikit senyum ia berbisik “terima kasih sahabatku, kau mengajarkanku arti nilai kehidupan dan membuatku ingin berada ditengah-tengah rombongan yang melakukan intifada. Sungguh negerimu jauh lebih indah dari negeriku, jadilah kau saudaraku dan bukan lagi sahabatku mulai saat ini.”

Filistin, si cantik dari Gaza segera memeluk erat-erat tubuh Maurah. Kali ini ia menyeka air matanya dan membalas ucapan sahabatnya “wahai kau gadis Indonesia yang murah hati, tanpa kau minta pun kita telah menjadi saudara sejak negaramu mengakui kedaulatan negara Palestina. Kita hanya terpisah daratan dan nasib, mungkin esok hari aku akan kesana ke negara paling indah itu dan membawakan setangkai pohon Zaitun sebagai lambang kedamaian. Dan kau Maurah, kalau kau sudah besar nanti dan pulang ke Jakarta, sampaikan pada rakyat Indonesia bahwa kami sangat berterima kasih atas segala bantuan kalian. Perlu kalian ketahui, Rumah Sakit Indonesia di Gaza City adalah satu-satunya rumah sakit asing yang ada disana, yang dibangun dari nol dan akan kami jaga sebagaimana kalian menjaga kami dalam doa”.

Rabu, 02 Oktober 2013

Sehat Cara Alamiah, Usia Harapan Hidup Anak Yatim Piatu

Salah satu pengalaman hidup anak manusia yang paling buruk adalah menjadi yatim piatu, tidak ada lagi orang tua kandung, sanak keluarga dekat yang masih hidup, sehingga tiba-tiba saja seseorang anak menjadi sebatang kara di dunia yang luas ini. Misalnya yang sering kita lihat sewaktu terjadi bencana alam, peristiwa konflik antara golongan manusia, dan lain-lain.

Pengalaman ini sangat traumatis bagi yang mengalami hal demikian, apalagi bagi anak kecil yang masih sangat membutuhkan kasih sayang orang tua, perhatian keluarga dan lingkungan bagi pertumbuhan fisik dan mental yang sehat sewaktu anak menjadi dewasa nanti.

Menurut penelitian ilmiah, pengalaman traumatis demikian sangat berpengaruh negatif terhadap anak, salah satunya adalah terhadap usia harapan hidup atau life expectancy anak tersebut.

Menurut data kesehatan WHO, maka usia harapan hidup populasi dunia saat ini rata-rata telah mencapai usia 69 tahun, sebaliknya usia harapan hidup anak yatim piatu di dunia hanya kurang dari 30 tahun. Masalah mendesak ini terjadi di Afrika, Asia, Amerika Latin, tetapi sebenarnya hal ini terjadi dimana-mana, termasuk di Amerika Serikat, dimana anak-anak akan tinggal di panti hingga mencapai usia 18 tahun, setelah itu : 25% menjadi tuna wisma, 56% menjadi tuna karya, 27% akan berakhir di penjara, 30% anak perempuan yatim piatu akan terpaksa menjadi ibu sebelum waktunya.

Saat ini terdapat sekitar 163 juta anak yatim piatu di seluruh dunia, sebanyak 30.000.000 terdapat hanya di India. Tetapi menurut data, di India, sebenarnya hanya 0,30% saja yang menjadi yatim piatu karena kedua orang tuanya telah meninggal, sisa selebihnya adalah karena dibuang atau ditelantarkan oleh keluarga.

Masalah anak yatim piatu ini tercatat jelas di Afrika, tetapi di negara seperti Rusia tidak begitu jelas. Ketika seorang anak berusia 16 tahun terdaftar di sistem pencatatan anak yatim piatu di Rusia, mereka telah mencapai “usia pertengahan” untuk data kependudukan mereka. Usia harapan hidup mereka adalah kurang dari 30 tahun.

Lebih buruk lagi di Ukraina, dimana kurang dari 30% anak yatim piatu yang telah diadopsi menurut data anak yatim piatu WHO, selebihnya akan terdampar di jalanan, dan usia harapan hidup bagi anak lelaki rata-rata hanya mencapai usia 26 tahun dan anak perempuan hanya mencapai usia 24 tahun saja sudah meninggal.

Di Amerika Latin, keadaannya jauh lebih buruk dari yang tampak. Misalnya di Kolombia, meski terjadi perbaikan sektor ekonominya, namun angka anak yatim piatu juga meningkat mencapai 577.000 anak pada tahun 2010, menurut badan sosial Hope International.

Setelah terdampar di jalanan, maka anak lelaki akan menjadi “serdadu anak” atau “child soldier” dan anak perempuan dipaksa menjadi budak seksual pada saat mereka baru berusia 12 tahun.

Menurut data Interpol, sekitar 35.000 wanita dan anak perempuan dari Kolombia telah diperjualbelikan diluar kehendak mereka, dan usia rata-rata mereka saat diperjualbelikan baru mencapai 14 tahun saja dan usia harapan hidup anak-anak demikian tidak dapat diketahui, karena mereka telah dijual dan tersebar dimana-mana. Yang pasti adalah, mereka akan meninggal dalam usia yang masih sangat muda.

Menurut data Orphans Lifeline, di Meksiko terdapat sekitar 10% penduduk yang tergolong kaya, 30% diperkirakan sebagai golongan kelas menengah dan sisa 60% dari 111.000.000 penduduk Meksiko adalah golongan miskin. Yang berarti sekitar 60.000.000 penduduk Meksiko harus hidup dengan 26% pendapatan negara sebagai sumber penghidupan mereka. Dari jumlah ini, sekitar 1,5 juta adalah anak-anak yang tergantung dari sumber luar untuk menopang kehidupan mereka, karena tidak adanya dana bantuan dari pemerintah. Usia harapan hidup di Meksiko adalah 75 tahun

Umumnya adopsi yang terjadi di seluruh dunia adalah pada saat anak sudah mencapai usia 17 bulan. Salah satu syarat kualifikasi tentang adopsi adalah bahwa orang tua asuh harus sehat. Karena jika usia harapan hidup orang tua asuh sendiri adalah lebih rendah dari usia harapan hidup di negara asal orang tua asuh sendiri, maka permintaan adopsi anak mungkin menjadi sulit. Banyak bukti yang memperlihatkan bahwa anak yatim piatu yang telah diadopsi oleh keluarga yang menyayanginya akan hidup lebih lama dan lebih produktif, meskipun mereka telah meninggalkan negara tempat kelahirannya dan tinggal di negara orang tua asuhnya.

Akhirnya, coba bayangkan kehidupan untuk anak yatim piatu yang tidak diadopsi. Apa yang akan terjadi pada anak-anak ini setelah mencapai usia 16 tahun dan harus berdiri sendiri. Untuk diketahui saja bahwa hanya diperlukan sekitar $35 untuk membiayai kehidupan seorang anak yatim piatu.

Ada berapa banyak anak yatim piatu di Indonesia ? Ada berapa banyak anak yatim piatu dilingkungan sekitar kita ? Ada berapa banyak anak yatim piatu yang beruntung, yang diadopsi oleh keluarga yang menyayangi mereka ?.

Selasa, 01 Oktober 2013

Nusa Tenggara Timur, Provinsinya "Para Yatim"

Berdasarkan atas data-data yang telah tekumpul, Nusa Tenggara Timur merupakan provinsi yang memiliki jumlah yatim terbesar di Indonesia (sindonews.com, 6/6/2013). Jumlahnya mencapai 492.519 anak, dan hingga saat ini mereka belum tertangani dengan baik oleh negara. Keberadaan mereka masih ditanggung oleh lembaga-lembaga zakat maupun perorangan, seperti seorang pilot pesawat terbang yang saat ini sudah menampung 47 anak, serta seorang dokter yang tergerak hatinya setelah melihat banyaknya anak-anak yatim yang terlantar.
  
Besarnya jumlah anak yatim tersebut merupakan salah satu dampak dari perang saudara di Timor Leste (dulu Provinsi Timor-Timur) sekitar satu dasawarsa silam. Perang saudara yang diakhiri oleh jajak pendapat (1999) dengan keputusan berdirinya negara baru Timor Leste tersebut, menyebabkan eksodus penduduk besar-besaran ke wilayah Nusa Tenggara Timur. International Crisis Group (2010) mencatat ada empat kelompok massa yang bergabung dalam gelombang eksodus besar-besaran. Mereka adalah milisi pro-integrasi (dengan Indonesia) bersama keluarganya, bekas pegawai negeri di Timor Timur, warga biasa yang sukarela memilih Indonesia, dan warga biasa yang dipaksa eksodus oleh milisi.
  
Adapun Badan Perserikatan Bangsa Bangsa untuk Urusan Pengungsi (UNHCR), mencatat bahwa pada 2005 sekitar 10 ribu orang masih tinggal di kamp pengungsian. Adapun 16 ribu orang lainnya telah membaur dengan warga Nusa Tenggara Timur melalui berbagai program bantuan. Mereka tersebar di wilayah Kupang, Belu, Timor Tengah Selatan, Timor Tengah Utara, Alor, Sumba Timur, dan Sumba Barat. Hingga 2009, data resmi pemerintah itu belum terkoreksi.
  
Kondisi tak ideal tersebut ditambah dengan serangan wabah penyakit menular seperti malaria dan tubercolose (TBC) yang merenggut banyak nyawa sehingga memperbesar jumlah anak yatim di NTT.
  
Hal yang paling memperihatinkan dari para yatim NTT adalah masalah pendidikan. Masih banyak dari mereka yang belum bersekolah. Zainudin, seorang penggiat kemanusiaan (2013) di kota Kupang menerangkan bahwa banyak anak yatim yang tidak bersekolah. Dia sendiri telah berusaha untuk mengatasi hal itu dengan mengirim mereka untuk belajar di pulau Jawa.
  
Sebagaimana diketahui bersama hingga saat ini belum ada kriteria formal anak yatim dalam konstitusi di Indonesia. “Dalam kebijakan Kementerian Sosial Republik Indonesia, khususnya dalam perlindungan anak hanya ada empat kriteria, yaitu : anak balita terlantar, anak terlantar, anak nakal, dan anak jalanan. Kriteria anak yatim belum secara spesifik masuk dalam referensi perlindungan anak oleh negara. Kriteria "yatim-miskin" belum masuk ke dalam Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) dan Potensi dan Sumber Kesejahteraan Sosial (PSKS).

Kondisi di atas hanya sekilas kecil dari upaya penyelesaian masalah anak yatim di NTT yang dilakukan oleh perorangan maupun swasta (lembaga zakat). Semoga kedepannya ada sinergi yang lebih baik dari berbagai pihak, khususnya dari pemerintah Indonesia.