Media Informasi Pemuda Peduli Dhuafa Gresik (PPDG) || Website: www.pemudapedulidhuafa.org || Facebook: Pemuda Peduli Dhuafa Gresik || Twitter: @PPD_Gresik || Instagram: Pemuda Peduli Dhuafa Gresik || Email: ppd.gresik@gmail.com || Contact Person: 0838-3199-1684 || Nomor Rekening: 0335202554 BNI a.n. Ihtami Putri Haritani || Konfirmasi Donasi di nomor telepon: 0857-3068-6830 || #SemangatBerkarya #PPDGresik

Selasa, 02 September 2014

Islamic Poverty Line: Pendekatan Penentuan Garis Kemiskinan dalam Islam

Islam adalah satu-satunya agama yang syumuliah. Atau dalam arti kata lain adalah bahwa Islam adalah agama yang memiliki sistem atau tata nilai yang memuat segala aspek dan lini kehidupan, baik ekonomi, sosial budaya dan politik dll. Sehingga Islam memiliki aturan yang dapat memberikan jalan keluar atas segala persoalan kehidupan yang ada.
Islam tak hanya mengatur aspek-aspek ibadah ritual saja, namun ajaran Islam juga telah mengatur urusan-urusan bersifat keduniaan seperti bagaimana kita bermuamalah atau berinteraksi dengan orang lain. Bahkan, Islam juga telah mengajarkan secara detail bagaimana kita beraktivitas dalam ruang lingkup ekonomi. Seperti, Islam telah mengharamkan riba dan mengharamkan perjudian. Namun masih membolehkan umatnya bersinggungan dengan dunia perbankan asalkan perbankan tersebut menganut dan mengandung prinsip-prinsip syariah.
Dalam tataran yang lebih makro, Islam juga telah menjawab persoalan mengenai cara menghitung atau menetapkan standar kemiskinan. Jika Badan Pusat Statistik (BPS) menggunakan standar kebutuhan dasar (basic needs) dalam menentukan standar kemiskinan (dan telah mengundang sejumlah krikit dari kalangan ekonom), Islam memiliki dua pendekatan penghitungan yang jauh berbeda dengan standar BPS. Yakni menggunakan pendekatan had al kifayah dan menggunakan garis nishab zakat.
Standar had al kifayah merupakan parameter standar kemiskinan yang telah diterapkan di Malaysia. Penilaian yang dibuat dalam menentukan had al kifayah ini merangkum lima faktor yang perlu mendapatkan proteksi yaitu agama, kekayaan, akal, keturunan dan diri/jiwa. Berbeda dengan standar kemiskinan yang dipakai pemerintah saat ini yang melihat garis kemiskinan hanya dari sisi pendapatan dan pengeluaran berdasarkan standar makanan dan bukan makanan. Selain itu, had al kifayah menghitung berapa tingkat kebutuhan yang diperlukan rumah tangga dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, sedangkan garis kemiskinan hanya berbicara pada aspek pendapatan minimal yang diperlukan. Karena itu, had al kifayah diyakini lebih bersifat komprehensif, holistik dan lebih baik dibandingkan dengan pendekatan garis kemiskinan yang ada.
Pendekatan yang kedua dalam menentukan standar kemiskinan dalam Islam adalah dengan menggunakan nishab zakat, yang menjadi parameter penetapan status seseorang apakah dikategorikan sebagai muzakki (wajib zakat) atau mustahik (penerima zakat). Dalam Al-Qur’an dinyatakan bahwa ada dua kelompok dhuafa yang mendapat prioritas dalam penerimaan zakat yaitu kelompok fakir dan kelompok miskin. Menurut mazhab Syafi’I dan Hambali, kelompok fakir adalah kelompok yang tidak memiliki sumber pendapatan sama sekali, sementara kelompok miskin adalah mereka yang memiliki sumber daya pendapatan namun tidak mencukupi kebutuhan dasarnya.
Ada dua opsi penghitungan nishab zakat. Pertama menggunakan nishab zakat emas perak dan yang kedua menggunakan nishab zakat pertanian. Jika nishab zakat emas perak yang digunakan dalam konteks perekonomian Indonesia, maka garis kemiskinan angkanya mencapai Rp. 3,67 juta per bulan per rumah tangga dan Rp. 782,2 ribu per bulan per kapita (dengan menggunakan asumsi harga emas Rp.520 ribu dan rata-rata jumlah anggota keluarga adalah 4,7 orang/rumah tangga). Dengan kata lain, seseorang dikatakan miskin jika pendapatannya kurang dari Rp. 782,2 ribu per bulan atau Rp. 26.073,00 per hari (USD 3,02/hari). Jika dilihat, angka ini lebih tinggi dari kemiskinan standar Bank Dunia yang ditetapkan sebesar USD 2/hari.
Sebaliknya, jika nishab zakat pertanian yang digunakan maka garis kemiskinannya menjadi Rp.3,668 juta per rumah tangga per bulan atau Rp.780,4 ribu per bulan per kapita (dengan menggunakan nishab beras zakat senilai 524 kg dan harga beras seharga Rp.7.000) . Artinya seseorang disebut miskin apabila pendapatannya kurang dari Rp.780,4 ribu/bulan atau Rp.26.014,00/hari (USD 3,019/hari). Jika kita bandingkan antara hasil penghitungan nishab zakat emas dan perak dengan zakat pertanian maka hasil yang didapatkan hampir sama, yaitu mencapai angka Rp.780,4 ribu/bulan.
Menurut Dr. Irfan Syauqi Beik selaku sekretaris Eksekutif Pusat kajian Pembangunan Syariah (PKPS) IPB dalam acara Intelectual Discussion yang diadakan IMZ bekerjasama dengan IKAZ Malaysia dan LPPM IPB menyampaikan bahwa “Perhitungan dengan menggunakan standar nishab sebagai batasan garis kemiskinan jauh lebih normal dan rasional bila dibandingkan dengan penghitungan BPS. Hasil perhitungan pun menunjukkan bahwa garis kemiskinan berbasis nishab lebih besar dari garis kemiskinan versi Bank Dunia. Dari sisi perspektif kesejahteraan masyarakat, maka pilihan untuk menerapkan nishab sebagai garis kemiskinan merupakan pilihan yang tepat, karena memiliki orientasi keberpihakan yang kuat terhadap kaum dhuafa. Sehingga barangkali pemerintah mulai dapat mempertimbangkan usulan standar garis kemiskinan berdasarkan perspektif syariah”. Wallahu alam.

(Sumber: http://risetadvokasi.wordpress.com/2012/04/02/islamic-poverty-line-pendekatan-penentuan-garis-kemiskinan-dalam-islam/)

Yatim dan Fakir Miskin dalam Ekonomi Islam

Ayat-ayat tentang (anak) yatim berulangkali dijumpai dalam al Quran yang pada dasarnya merupakan perintah Allah agar kaum beriman memerhatikan kondisi yatim baik terkait masalah kebutuhan ekonominya seperti makan dan minum, sandang papan, maupun yang lebih bersifat psikologis berupa kasih sayang, pendidikan, rasa aman dan nyaman. Definisi yatim menurut sejumlah ulama adalah anak (dibawah usia baligh) yang ditinggal wafat ayah, sedangkan anak yang ditinggal wafat ibu dan anak yang ditinggal karena perceraian tidaklah dikatakan yatim. Jadi yatim adalah anak-anak dibawah usia baligh yang ditinggal wafat ayah sementara pada periode itu anak-anak masih membutuhkan santunan dan kasih sayang.
Di Indonesia dikenal juga istilah piatu bagi mereka yang ditinggal mati orangtuanya dan disebagian daerah istilah yatim piatu dimaksudkan sebagai anak sebatangkara yakni kehilangan ayah dan ibunya, jadi istilah piatu dikonotasikan sebagai ibu. Sementara al Quran menyebut yatim saja sebagai anak yang kehilangan (wafat) ayahnya. Dalam Islam kedudukan ayah sebagai kepala rumah tangga dan imam keluarga sangat penting dan bertanggung jawab dalam memenuhi kebutuhan keluarga dimulai dari kebutuhan pokok yakni makan minum, sandang papan hingga kebutuhan rasa aman dan nyaman di dalam kehidupan keluarga.
Oleh karenanya ayat-ayat yang berisi tentang yatim senantiasa dikaitkan dan terkait dengan kebutuhan-kebutuhan tersebut diatas mulai dari memberikan makan anak yatim, menjaga harta anak yatim hingga memberikan kasih sayang. Pendek kata anak yatim perlu disantuni dan disayangi. Perintah menyantuni dan menyayangi anak yatim tidak disekat dengan batasan suku, etnis, dan asal usul termasuk latar belakang agama. Namun tentu kita mesti memerhatikan anak-anak yatim yang ditinggal ayahnya yang beragama Islam, tetapi bila dilingkungan sekitar ada anak yatim non Muslim yang perlu dibantu maka kita harus menyantuni dan membimbingnya dengan kasih sayang sekaligus ini merupakan lahan dakwah umat Islam.  
Memberikan makan bagi kaum yang membutuhkan seperti anak yatim dan memenuhi kebutuhan pokok dan kebutuhan lainnya agar mereka sejahtera lahir dan batin merupakan perintah agama terkait aktivitas ekonomi yang berdasarkan syariah. Sesungguhnya ajaran Islam sangat lengkap dalam menuntun umatnya beraktivitas ekonomi tanpa perlu berkiblat pada ekonomi non syariah yang landasan filosofi (worldview) mereka berbeda. Asal usul ilmu ekonomi dari rumpun ilmu sosial, menyangkut persoalan sosial kemasyarakatan dan tentu berbeda karakter dengan ilmu pasti alam yang terkait dan berhubungan dengan aspek-aspek selain manusia. Oleh karena menyangkut aspek manusia dan setiap umat manusia itu memiliki worldview sendiri, maka temuan ilmu atau pendapat pakar dalam bidang ekonomi tentu membawa serta worldview yang melekat dalam dirinya.
Worldview yang melekat erat itu merupakan " a basic belief system that guides action, deals with the first principles or ultimates, and defines for its holder the nature of the world, the individual's place in it, and the range of possible relationships to that world and its parts" (Aref Atari dalam Prolegomena for an Islamic Perspective of Educational Management. The American Journal of Islamic Sciences 16:1, Spring: 1999 page 68), sehingga temuan-temuan keilmuan (apalagi ilmu tersebut berhubungan dengan interaksi antar manusia) tidak terlepas dari cara pandang, keyakinan, prinsip dan filosofi ilmuwan itu sendiri. Ini berarti temuan prinsip ekonomi liberal yang merambah luas dikalangan masyarakat Islam sudah sepatutnya dikiritisi dengan worldview Islam yang bersumber pada ayat-ayat qawliiyyah dan contoh-contoh Nabi atau mungkin juga dari hasil ijtihad sosial para ilmuwan muslim yang tercerahkan.
Proses mengkonsultasikan temuan pakar ilmu sosial termasuk ekonomi dengan sumber-sumber ajaran Islam perlu dimulai dari hulu pemikiran sang pakar bukannya di hilir yakni manakala ilmu tersebut telah meluas menjadi disiplin ilmu terapan seperti manajemen. Hal ini dimaksudkan agar proses konsultasi temuan dengan worldview Islam itu menjadi lebih efektif dan dari titik ini sesungguhnya pihak ilmuwan Islam dapat melanjutkannya dengan menyusun konsep, teori ilmu yang berdasarkan nilai-nilai Islam dan dapat diperluas dalam bidang-bidang terapan seperti manajemen yang merupakan disiplin terapan dari ilmu ekonomi liberal.    
Kembali ke persoalan kesejahteraan anak yatim, bahwa seandainya ekonomi Islam yang berdasarkan syariah ini benar-benar menjadi landasan ekonomi suatu bangsa, dipastikan pemerataan pembangunan ekonomi dapat terlaksana, sehingga kemakmuran tidak hanya dinikmati oleh segelintir elite tetapi juga oleh kaum yang membutuhkan bantuan seperti anak yatim. Ayat-ayat al Quran sesungguhnya banyak membahasa persoalan muamalah yang tentunya berhubungan dengan urusan ekonomi umat manusia. Muslim yang sedang menuntut ilmu apalagi ilmu-ilmu sosial sudah seharusnya menggali konsep dan teori ekonomi melalui/melandasi pengkajian mendalam pada tebaran ayat-ayat qawliiyyah yang demikian banyak.
Al Quran yang sudah ada sejak lama membahas masalah ekonomi umat ternyata baru mulai dirujuk oleh para ekonom beberapa dekade dengan adanya kajian-kaian tentang ekonomi Islam di perguruan tinggi. Di Indonesia meski sudah dirintis dan dijalankan berbagai aktivitas ekonomi yang mengacu pada syariah, tapi perkembangannya belum signifikan sebagaimana yang diharapkan. Penerapan ekonomi syariah masih dibatasi oleh kegiatan perbankan, keuangan dan asuransi. Padahal ekonomi Islam sangat lengkap membahas tentang kesejahteraan umat di dunia dan hal ini memang merupakan tujuan suatu sistem ekonomi itu diimplemntasikan yakni bagi kmakmuran dan kesejahteraan manuysia dimuka bumi. Ekonomi syariah bukan hanya meliputi lembaga keuangan, asuransi dan perbankan tetapi lebih luas dari itu yakni menuntun manusia dalam melakukan aktivitas ekonomi mulai dari hulu hingga hilir yang sasaran akhirnya adalah mewujudkan kesejahteraan, kemakmuran dan keadilan yang diridhoi Allah SWT.
Ekonomi Islam dalam setiap aktivitasnya senantiasa menjunjung tinggi prinsip-prinsip keterbukaan, kebersamaan, keadlian, solidaritas sosial, kepedulian, dan tulus ikhlas semata-mata karena Allah dan mengharap ridhoNya inilah yang membedakan dengan sistem ekonomi manapun di dunia. Menyangkut persoalan muamalah ekonomi perlu mendasarkannya pada al Quran dan Hadist sebagai patokan dan rujukan pihak-pihak yang terlibat dibidang ekonomi. Kepedulian atas nasib kaum dhuafa, pelarangan manusia menyembah harta, selalu mawas diri  akan kehidupan dunia yang semu nan sementara serta aktivitas ekonomi sebagai ladang berbuat kebajikan di dunia sebagai bekal di akherat kelak. Hal-hal ini merupakan uraian dan keterangan yang disampaikan al Quran dan Hadist Nabi yang seharusnya menjadi keyakinan setiap orang beriman.
Islam tidak hanya mengajarkan ayat-ayat al Quran digunakan sebatas dibaca saja tetapi jauh lebih penting adalah menerapkan isi kandungan ajaran Islam, sehingga menjadi suatu yang nyata dan niscaya. Dalam konteks ini ada contoh konkrit di negara kita tentang upaya KH Ahmad Dahlan pendiri organisasi persyarikatan Muhammadiyah yang menguji santrinya apakah telah benar-benar mempraktekkan surat al Maun yaitu dengan menyantuni anak yatim dan memberi makan orang miskin. Beliau setiap memimpin sholat subuh selalu membaca surat al Maun yang kemudian diprotes atau ditanyakan oleh santrinya perihal tersebut, lalu sang kyai balik bertanya tentang apakah para santri telah melaksanakan perintah-perintah surat al Maun? Para santri pun tersentak dan menyadari bahwa selama ini belum melakukan perbuatan signifikan membantu kaum yang memerlukan perhatian sebagaimana terkandung dalam surat al Maun, sehingga setelah peristiwa itu santri KH Ahmad Dahlan berlomba-lomba berbuat kebajikan (fastabiqul khairat) hingga kegiatan berbuat kebajikan ini terus berkembang dan meluas dalam organisasi yang didirikan KH Ahmad Dahlan itu hingga kini.
Sayangnya praktek-praktek langsung ajaran agama yang dirintis KH Ahmad Dahlan ini belum diikuti secara masif oleh umat Islam Indonesia dan masih berupa pekerjaan rumah cukup besar bagi pemerintah Indonesia yang diberi amanah rakyat untuk mengurus negara ini. Faqir miskin dan anak terlantar dipelihara negara (Pasal 34 UUD 45) tetapi dalam kenyataannya pemerintah kepayahan mengurus mereka yang dari ke hari bukannya berkurang malah bertambah. Bukankah fenomena makin banyaknya kaum dhuafa di Indonesia merupakan bukti kegagalan pembangunan ekonomi bangsa atau paling tidak belum terwujudnya pemerataan kesejahteraan dikalangan rakyat Indonesia secara luas.  
Oleh karena itu tugas umat Islam terutama para ekonom dan penggiat atau pelaku ekonomi Muslim untuk menemu-kenali dan menumbuh-kembangkan sistem ekonomi Islam berdasar syariah. Tidak hanya dalam wawasan konsep, teori dan paradigma tetapi juga pada tataran konkrit yang diejawantahkan dalam praktek-praktek ekonomi sehari-hari. Dalam mencapai keberhasilan mewujudkan ekonomi syariah secara teori dan praktek diperlukan komitmen pemerintah karena masyarakat yang berbangsa dan bernegara memang memerlukan tangan-tangan penguasa dalam mengambil kebijakan. Penguasa yang mayoritas Muslim sebenarnya memudahkan terwujudnya ekonomi syariah yang diharapkan, namun kesadaran dan tingkat keyakinan dari pihak yang memegang amanah tampaknya belum sesuai harapan kita.

DITULIS OLEH ARIES MUSNANDAR | http://uin-malang.ac.id:8080/index.php?option=com_content&view=article&id=4562:faqir-miskin-dan-yatim-dalam-ekonomi-islam&catid=35:artikel&Itemid=210

Mendikbud: Kebangkitan Kaum Duafa akan Segera Tiba

Beasiswa Bidikmisi telah memantik harapan baru bagi bangsa ini. Pasalnya, beasiswa ini akan menjadi sarana kebangkitan kaum dhuafa dalam 5 sampai 10 tahun ke depan. Anak-anak dari keluarga miskin, atas fasilitas beasiswa Bidikmisi, siap bangkit menjadi kaum terpelajar yang berdiri di garda terdepan pembangunan bangsa.
Kabar gembira itu sampaikan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Prof Dr  Mohamad Nuh, DEA dalam orasi ilmiah dalam Dies Natalis ke-49 Universitas Negeri Semarang (Unnes). Ia menyebutkan, Bidikmisi telah mendobrak batas mungkin dan tidak mungkin.
“Dulu ada olok-olok orang miskin dilarang kuliah. Saya bilang, tidak usah dilarang, dibiarkan pun mereka tidak bisa. Sekarang, batas-batas itu sudah bisa ditembus. Anak-anak yang tidak berani mimpi untuk kuliah, mereka bisa menikmati pendidikan tinggi,” katanya.
Bak gayung bersambut, beasiswa mendorong mahasiswa Bidikmisi mencapai prestasi tertinggi. Terbukti, mahasiswa Bidikmisi bisa memperoleh IPK  cum laude. Mereka juga hanya memerlukan waktu 3,5 tahun untuk menyelesaikan pendidikan S1.
“Bukan hanya sepuluh dua puluh. Yang berprestasi seperti itu jumlahnya puluhan ribu,” lanjutnya.
Nuh menyebut, kebangkitan kaum dhuafa akan segera tiba karena selain Bidikmisi, pemerintah sedang menyiapkan beasiswa bagi alumnus Bidikmisi untuk melanjutkan pendidikan S2 dan S3. Tidak berlebih kalau ia menyebut “Akan segera muncul generasi baru intelektual dari kalangan masyarakat tidak mampu.”

(Sumber: http://unnes.ac.id/berita/mendikbud-kebangkitan-kaum-dhuafa-akan-segera-tiba/)

Kamis, 24 Juli 2014

Kan Kucari Pengikat Cahaya Ramadhan

Satu bulan cahaya ramadhan lembut bersinar
Benderangkan dian nurani nan mulai pudar
Kesuciannya tulus membersihkan
Keagungannya teduh memuliakan

Sungguh, lemah adalah fitrah insan
Maka ramadhan telah menguatkan
Lalai dan lupa kadang menguasai
Salah dan khilaf diam-diam menodai
Namun ramadhan ikhlas mengajari
Untuk senantiasa memperbaiki diri

Cahaya ramadhan merasuki tubuhku
Melalui ubun-ubun, jantung lalu terangi kalbu
Menembus pori-pori hingga larut menadi
Memperkaya batin dengan kalam Illahi

Cahaya ramadhan miliki keistimewaan
Melangitkan doa hingga dikabulkan
Mampu rontokkan jelaga seberinda raga
Bersihkan dinding hati dari selaput dosa

Perjalanan ramadhan kini hampir usai
Namun bukan berarti ibadahku selesai
Kan kucari pengikat cahaya ramadhan
Temalikan keutamaannya sebelas bulan kemudian
Agar senantiasa bersemayam di dasar jiwaku
Menjaga segenap pikiran, lisan dan perbuatanku

Ya Rabb, rinduku belumlah terobati
Dahagaku akan berkahnya belum terpuasi
Sempurnakan penghambaanku kepada-Mu
Curahkan ampunan dan ridho-Mu padaku
Sampaikan aku pada ssedalam makna kefitrian
Pertemukan aku dengan ramadhan tahun depan

Ki Sunda dan Kaum Dhuafa

Ki Sunda secara sederhana dapat diartikan etnis Sunda. Ternyata. Dalam perhelatan politik nasional (baca: Pilpres) belum mampu memberi warna. Tentunya. Warna dominan sebagai calon presiden atau wakil presiden Indonesia.
Banyak pakar politik dan budaya menghembuskan wacana. Bahwa: etnis Sunda perlu tandang makalangan dalam kancah politik Tatar Nusantara. Mengingat, urang Sunda merupakan populasi terbesar ke-dua.
Fakta. Ki Sunda belum mendapat perhatian sehingga belum dipercaya. Sejatinya. Calon presiden atau wakil presiden merupakan orang yang dipercaya minimal oleh partai pengusungnya.
Mengapa? Tentu perlu diteliti dan dibahas bersama-sama. Setidaknya. Kepercayaan itu diperoleh setelah teruji dan terbukti kebenarannya. Dalam Qur’an Surat Ali ‘Imran ayat 140 Alloh berfirman: Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, maka sesungguhnya kaum (kafir) itupun (pada perang Badar) mendapat luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada.
Alloh SWT sekalipun menguji manusia. Menguji keimanannya. Menguji ketaqwaannya. Peristiwa perang Uhud bisa kita baca dalam Al-Qur’an Mulia. Alloh SWT menguji manusia dengan kekalahan di medan laga. Ternyata. Ada beberapa manusia yang lari dan meninggalkan Rasul-Nya. Sebagian lagi maju dan mengorbankan jiwa dan raga. Menjadi Syuhada. Syuhada inilah yang lulus ujian dari Yang Maha Kuasa.
Begitu pula. Fitrah manusia cenderung percaya kepada hal-hal yang telah teruji dan terbukti kebenarannya. Sudahkah Ki Sunda melewati masa-masa ujian untuk membuktikan kehebatannya?
Bagi urang Sunda cukup banyak tokoh yang dipandang cakap dan memiliki kharisma. Mereka diantaranya adalah Marty Natalegawa, Ginandjar Kartasasmita, Mohamad Surya, Agun Gunandjar Sudarsa dan Gandjar Kurnia. Tokoh Sunda terdahulu diantaranya Umar Wirahadikusumah dan Otto Iskandar Dinata.
Berkaca ke masa lampau dan menatap masa yang ada di depan mata, rasanya tidak susah mencari tokoh Sunda. Banyak tokoh Sunda yang telah teruji dalam profesi dan kapasitasnya. Tapi mengapa? Ki Sunda belum mampu merebut hati masyarakat Indonesia.
Mencermati karakter calon presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Prabowo Subianto nampaknya ada yang sama. Persamaan yang membuat 2 orang etnis Jawa ini dominan dalam berbagai survey yang ada. Keduanya sama-sama menyayangi dan dekat dengan kaum dhuafa.
Para pedagang kecil dan tunawisma adalah kaum lemah (dhuafa) yang kerap menjadi perhatian Jokowi waktu menjabat Walikota Surakarta dan Gubernur Jakarta. Para pedagang di pasar tradisional dilindungi dengan dibuatkan kios-kios yang layak guna. Di Surakarta, kehadiran pemodal besar yang mengusung konsep waralaba dibatasi sehingga tidak menggusur nasib rakyat jelata. Pantas saja. Tatkala, Jokowi maju dalam pemilihan Gubernur Jakarta, banyak warga masyarakat Surakarta yang tidak rela melepas kepergiannya ke Ibu Kota. Saking sayangnya!
Demikian juga dengan Prabowo Subianto yang maju sebagai Capres diwakili Hatta Rajasa. Prabowo dikenal sangat dekat dengan dhuafa. Seorang teman saya yang menjabat Babinsa di sebuah Koramil menjadi saksinya. “Pak Prabowo senantiasa bertanya dan ingin tahu kebutuhan bawahannya,” ungkapnya.
Selain dekat dengan bawahan saat masih aktif sebagai tentara, ternyata Prabowo pun dekat dengan para petani yang mayoritas belum berdaya. Tak heran, Prabowo dipercaya menjadi Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia.
Kedekatan Jokowi dan Prabowo dengan kaum dhuafa ternyata membawa energi positif bagi keduanya. Energi positif tersebut menjadi magnet bagi media massa untuk mempublikasikan apa-apa yang diperbuat keduanya. Tentu, yang sangat populer di masyarakat adalah energi positif yang dikeluarkan Jokowi ketika mendorong adanya mobil nasional Esemka dan menambah ruang terbuka hijau di ibu kota.
Karakter Jokowi santun dan sederhana. Karakter Prabowo kuat dan penuh kharisma. Itu terbentuk secara alami dan mengalir apa adanya. Intinya mereka mendapatkan kepercayaan masyarakat setelah teruji energi positif yang dikeluarkannya gak ada matinya. Energi positif yang diperoleh setelah secara ikhlas membantu kaum dhuafa.
Hal positif Jokowi dan Prabowo tentu perlu di contoh oleh urang Sunda. Apalagi dalam bahasa Sunda dikenal istilah ngabandungan yang sarat dengan makna. Ngabandungan yang berarti tidak hanya mendengar tapi juga memahami apa yang didengarnya. Ngabandungan apa yang terjadi di masyarakat dan ngabandungan keluh kesah kaum dhuafa.
Malaikat Jibril menurunkan wahyu kepada Rasululloh yaitu permulaan surat Al Insaan atau Hal Ata dengan latarbelakang peristiwa keluarga ‘Ali Karomallohu wajhah memberi makan kaum dhuafa. Seperti diriwayatkan Ibnu Abbas: keluarga ‘Ali-Fatimah mengucapkan nazar untuk kesembuhan Hasan-Husain putranya. Mereka mengucapkan nazar apabila Hasan-Husain sembuh dari sakit keras yang dideritanya mereka akan melakukan puasa 3 hari lamanya.
Setelah Hasan-Husain sembuh ‘Ali-Fatimah pun melaksanakan nazarnya. Saat mereka hendak berbuka tiba-tiba datang orang miskin (dhuafa) meminta makan maka diserahkannya hidangan berbuka dan mereka berbuka dengan segelas air saja. Demikian juga saat berbuka pada hari ke-dua dan ke-tiga. Mereka dimintai makanan oleh anak yatim pada hari ke-dua kemudian oleh tawanan pada hari ke-tiga. Selama tiga hari itu keluarga ‘Ali dan Fatimah berbuka dengan segelas air semata.
Pada hari ke-empat Rasululloh SAW melihat betapa keadaan fisik keluarga anak dan mantunya (keluarga ‘Ali) tampak tidak berdaya. Bahkan, ketika Rasululloh melihat anaknya (Fatimah) melaksanakan shalat tidak kuasa menahan iba. Mata Fatimah cekung dan perutnya seakan-akan rata. Kala itulah, Jibril turun menyampaikan wahyu-Nya. Keluarga nabi telah menjadi insan kamil atau manusia yang sebenarnya.
Tentu tidak sedikit urang Sunda yang dekat dengan kaum dhuafa. Tetapi mengingat media massa lebih menyorot inohong Sunda yang ada dari sisi kinerja, nama orang-orang shaleh itu tidak pernah mengemuka. Apakah inohong-inohong Sunda sudah dekat dan berpihak kepada dhuafa? Silahkan bandungan bersama-sama.

Rabu, 23 Juli 2014

Kampung Tasripin Arena Pelampiasan?

14060968861738947689
ngrumput untuk pakan ternak_koleksi pribadi
Sebenarnya bukan untuk membuka yang sebenarnya bahwa kita itu yang memulai melampiaskan Tasripin dan penghuni kampung Pesawahan Desa Gununglurah Kec.Cilongok Kab. Banyumas yang terletak di Jawa Tengah. Singkat cerita sebenarnya kita dari komunitas masyarakat desa hutan di Jawa Tengah dengan pasukan garda depan para pelajar/siswa tingkat menengah sebut saja Boarding School “Mbangun Desa” sebuah lembaga pendidikan layanan khusus bagi anak-anak dengan latar belakang kehidupan yang cukup terpencil, terbelakang, terisolir, dan yang pasti keluarga yang dekat dengan berbagai keterbatasan sehingga anak-anak usia sekolah SMA tidak bisa sekolah, itulah kenapa kurang lebih 32 siswa yang berasal dari 5 kabupaten di Jawa Tengah itu menjadi tinggal bersama kita di bangunan pendopo eks balai desa dengan ditambah gubung-gubug pembelajaran semi permanen, di atas lahan yang ngontrak tentunya, karena kita belum punya asset sendiri. Ya tapi kami punya cukup modal yang cukup, baik itu modal sosial dan yang paling penting modal kemauan yang kuat dari hati yang semoga menjadi tidak luntur karena tulisan ini.
2011 kami mulai berjalan menyusuri jalan berbatuan, melewati 3-5 tanjakan berbukit yang dikanan-kirinya menjulang tinggi hutan dengan kondisinya, yak arena akses jalan kesana saat itu masih jalan berbatu dan harus melewati hutan Indonesia, karena statusnya kampung Pesawahan ada di lereng Gunung tertinggi di Jawa Tengah.
Dan pada prinsipnya kampung itu kita jadikan labsite anak-anak boarding school “Mbangun Desa” karena salah satu standar kompetensi anak didik nantinya harus mampu menjadi calon kader pembangun desa, paling tidak untuk desanya sendiri. Kegiatan pun mulai berjalan dengan hilir mudik harus terus berjuang dengan mencoba berbagi dan masuk lebih dalam pada kehidupan masyarakatnya.
Dan singkat cerita akhirnya kita putuskan untuk membuat program bagi siswa untuk bersepakat untuk sedikit sombong katakanlah membantu program pemerintah, karena konteknya anak-anak belajar latihan menjadi tukang sensus penduduk, yang akhirnya ketemu dan kita peroleh data kampung pesawahan, ya kurang lebih sudah berjalan 1 tahun-an, ketemulah Keluarga termiskin saat itu, Keluarga Tasripin Bocah Ajaib dengan 3 adiknya (rianti, dandi, dan daryo) yang cukup menjadi perhatian public,karena sejak dini sudah menjadi kepala keluarga, dan ini menjadi perhatian sampai-sampai orang no.1 di negeri ini pun sampai mengutus staff ahlinya untuk mengirim uang 100 juta lho…cas tanpa perantara siapapun. Dan itu yang jelas terlihat, ya saat itu April 2013 belum lagi bantuan dari berbagai sumber ya kurang lebih Tasripin pun mendadak menjadi anak terkaya saat itu di jawa tengah kali yaa..karena deposit tabungannya kurang lebih 400 jutaan, belum lagi bantuan yang berujud benda, makanan dan lain sebagainya, subhanalloh, inilah yang menurut saya dibalikkeprihatinan susah tapi ulet membawa berkah.
Tasripin pun menjadi pahlawan bagi kampungnya, dibalik kemiskinan yang melilitnya, namun bocah yang berperan jadi kepala keluarga itu pun akhirnya, See more at: http://www.kopertis12.or.id/2013/04/15/tasripin-bocah-sekecil-itu-menanggung-beban-keluarga.html#sthash.3TY5GaJH.dpuf menjadi sorotan berbagai media cetak bahkan media televisi pun tidak berhenti diberbagai acara yang dihelat, satu dampak yang sangat terasa bagi seluruh penghuni kampung pesawahan adalah karena akses jalan menuju kampung tasripin sekarang sudah begitu mudah untuk dilewati ya sangat mudah karena sudah teraspal dengan rapi.
Dan babak baru pun dimulai, peran yang biasa dilakukan oleh anak-anak boarding school mbangun desa pun, hasil sensus pun menjadi titik balik yang kemudian kita di tahun pelajaran 2013/2014 tepatnya 1 tahun yang lalu bahkan persisnya di bulan Ramadhan anak-anak Mbangun Desa pun mendirikan sebuah gazebo atau gubuk dari bamboo maksud hati sebagai tempat pembelajaran karena kita akan memulai babak baru…ya babak baru menjadi siswa yang terus belajar dan akan membelajarkan (memberikan layanan pendidikan setingkat SLTP) melalui jalur dunia Madrasah Tsanawiyah (MTs) dengan nama “PAKIS”. Lebih jelasnya bisa dilihat di http://edukasi.kompasiana.com/2014/07/16/cangkul-bisa-untuk-daftar-sekolah–664574.html.
1406104129753224644
mbangun ruang belajar di pinggir hutan_koleksi pribadi
1406104216320779750
siswa MTs belajar dengan fasilitas apa adanya_koleksi pribadi
Kampung Tasripin pun benar-benar menjadi objek bahkan ajang pelampiasan bagi banyak orang akhirnya, dalam hal ini bukan hanya pelampiasan belajar anak-anak boarding school mbangun desa, namun ajang untuk menjadi pahlawan yang bangun kesiangan, biasa adat masyarakat kita yang kadang seolah-olah paling ngerti dan mau menjadi pahlawan, tapi shi kita tidak masalah, kita tetap jalan pada roda yang sedang kita inisiasi, ya berjalan di ril kendaraan realitas kehidupan khususnya persoalan pendidikan yang begitu kompleks dikampung itu.
Genap 1 tahun pas bulan puasa, berkah buat kita boarding school mbangun desa, karena tidak pernah terbayang bahkan termimpikan pun belum saat itu, diawali dari membangun ruang belajar dari bambu 3 buah dengan ukuran 4×6 meter pun baru selesai berdiri 2 buah namun belum mencapai finishing, karena kondisinya baru bisa terpakai 1 buah ruang belajar yang berada tepat di bawah pohon pinus, dipinggir telaga kumpe dan ini menjadi ruang terindah selama 1 tahun kemarin bagi anak-anak yang belajar, walau kata orang sekolah kok kaya kandang kambing, namun kita tetapspiritfulty and happiness menjalani proses belajar dan mengajarkan di kandang yang lebih jelek dari kandang kambing kata orang, tapi bagi kami ini tempat yang penuhhistory dan tak akan pernah terlupakan, karena jelas menghadap telaga ya telaga kumpe namanya yang saat ini menjadi magnet paling kuat mendatangkan banyak orang untuk melampiaskan datang ke kampungnya Tasripin.
1406104381854985858
MOPDB MTs_koleksi pribadi
14061044511594082878
nuansa baru belajar di ruang kelas baru_koleksi pribadi
Tapi berkah yang saat ini Madrasah Tsanawiyah (MTs PAKIS) jelas kami rasakan bersama-sama anak-anak MTs dan siswa boarding school Mbangun Desa adalah wujud bangunan permanen ruang kelas baru, yang itu sudah kita pakai persis di bulan ramadan 2014 sekarang ini, itupun berkah dan sekaligus dampak kegiatan yang kita lakukan dengan Tasripin, yang akhirnya SDA (Kemenag Pusat) pas Tasripin ketemu di Hotel di Jakarta beliau mengeluarkan statement kampung tasripin akan dibangun madrasah mulai dari MI,MTs,MA kalau bisa Madrasah Negeri, dan saat ini sudah berdiri megah dulu ukuran 4x 6 meter sekararang memang subhanalloh, sim salabim abrakadabrah 1 ruang belajar ukuran 7×9 meter, 2 ruang ukuran 7×8 meter, 1 ruang relawan ukuran 4×7 meter. Benar-benar mimpi yang tak terbayang, ya semoga berkah, walau kini SDA konon katanya terkena sandungan dan harus berurusan dengan KPK negeri ini, semoga tidak karena membantu kita di kampung Tasripin.
Ibarat semakin tinggi pohon maka semakin tinggi pula tantangan untuk roboh karena tertiup angin, dan yang terpenting jangan roboh karena ditebang karena hanya mendadak butuh dan dijadikan pengganti untuk pelampiasan diri, kampung tasripin dan aktifitas kita makin tahun makin berat, penuh tantangan dan perjuangan, mohon doanya ya buat kompasianer, pasalnya berharap penuh siswa lulusan SD 2 Sambirata bersekolah di MTs PAKIS namun ternyata yang ndaftar hanya 7 anak, itu pun dari kampung Tasripin baru 1, yang lain dari kampung sebelah yang Tasripin harus jalan kaki 3 km untuk sekolah SD, itulah kenapa infrastruktur yang sekarang mudah membuat orang khusnudhon saya mereka menyekolahkan anak-anaknya di wilayah di pusat yang dekat dengan Kecamatan Cilongok, dan semoga bukan karena di MTs Pakis yang masih minim fasilitas pembelajaran, dan guru yang belum ada sampai saat ini, hanya mengandalkan relawan Boarding School Mbangun Desa, mana tanggungjawab kita sebagai satu bagian yang tak terpisahkan negeri ini ? jangan hanya menjadi pahlawan di saat hiruk pikuk Tasripin saja.
Ayolah mari saling bahu membahu, angin semakin besar menerpa kita, belum lagi bagi kalangan oknum yang datang ke kampung dengan embel-embel penasaran, dan datang hanya untuk melampiaskan untuk mendapatkan kenikmatan individual dengan tidak mengindahkan di kampung itu banyak persoalan rumah yang butuhekspektasi dari banyak orang. Karena oknum yang hanya pelampiasan pribadinya hanya menikmati kenikmatan sesaat, karena benar adanya secara alamiah kampung Pesawahan kampungnya Tasripin itu benar sejuk, segar, bahkan sangat alamiah untuk dinikmati dan bagus untuk kesehatan mata, namun menjadi tidak sehat karena banyak yang sudah mulai datang dengan pasangan dengan status pacaran, hura-hura kelompok, bahkan yang menjadi sakit hati, bahkan hati ini terasa di iris-iris karena ulah para pengecut di bulan ramadhan 2014 ini, baca juga :http://lifestyle.kompasiana.com/catatan/2014/07/23/pengecut-itu-mau-menang-tapi-menyerah–665610.html . lalu apakah ini bisa di ibaratkan seperti ramainya maneuver-manuver politik di pilpres 2014 ini, yang kemarin pasalnya sudah ada sejarah dan babak baru bagi para pasangan capres, yaa barangkali babak baru dan sejarah baru ada yang menjadi pengecut sebelum pertandingan usai atau karena lupa dia sedang tanding, atau karena itu benar bahwa sebenarnya manusia itu bodoh, dan munkin ini benar adanya karena scenario Tuhan untuk menguji manusia untuk lebih piawai dalam bertanding, belum lagi para pengecut yang jelas sudah menang, eh malah banyak menyerang bahkan memberikan bumbu yang tidak sedap bahkan mencela pasangan capres yang mundur, lalu bagaimana tanggung jawab moral bangsa ini, kita masih merah putih kan kawan-kawan (Jokowi lovers/Prabowo mania) dan para kompasianer? Sudahlah kita kan boleh beropini, bercerita ngalor ngidul tapi semoga saja ini menjadi awal bagi kita untuk lebih selektif, ketika mau memilah dan mimilih perpaduan kata yang penuh kontradiksi tentunya.
Dan saya tidak mau kecewa, begitu juga kawan-kawan kompasianer nda mau kecewa kan? Mari kita fokus pada apa yang sedang kita lakukan di dunia perdesaan atau didunia maya sekalipun hanya karena niat ingin bahagia dunia akhirat dengan sedikit berbuat untuk negeri dan penghuninya, ituah kenapa saya tidak akan berharap banyak kepada presiden baru atau siapapun kalian yang memiliki kekuasaan, saya hanya akan berharap kepada Tuhan saya Allah SWT, karena petunjuknyalah kita untuk selalu berdo’a dan terus berusaha semaksimal mungkin untuk natinya akan ketemu dengan orang-orang yang berjiwa besar bukan bersua dengan mereka yang menjadi pengecut dan semoga kita akan ketemu dengan pemenang sebelum nanti kita akan menang sejatinya. Wallahu A’lam Bissawab.
14061047951701630587
pelampiasan utk kambing_koleksi pribadi

Maaf Memaafkan; Tak Sesederhana yang Diucapkan


Keberanian meminta maaf dan kerelaan untuk memaafkan sebenarnya bukan persoalan yang sederhana. Ia sarat dengan beban psikologis, kemeriahan kultural dan dimensi spiritual. Dikatakan beban psikologis karena meminta maaf itu tidak mudah. Meminta maaf itu pada dasarnya berat karena ada pertaruhan gengsi pribadi, harga diri, rasa malu, ketulusan niat dan sejenisnya.
Begitu pun sebaliknya. Memberi maaf juga tidak kalah beratnya karena harus berangkat dari kemurnian nurani untuk melupakan sakit hati yang dialami. Faktor inilah yang barang kali menjadi penyebab banyak orang saling bermusuhan dan tidak saling menyapa dalam rentang waktu yang lama meski pun mereka itu sebenarnya bersaudara.
Karena persoalan maaf memaafkan antar personal manusia pada umumnya begitu berat untuk dilakukan, maka diperlukan campur tangan kemeriahaan kultural. Maksudnya, harus ada semacam pengkondisian lingkungan yang bersifat rutin untuk mendorong terciptanya kebiasaan meminta maaf dan memberi maaf secara massal. Dengan begitu, beban psikologis peminta maaf dan pemberi maaf tidak lagi begitu berat terasa.
Pada titik inilah, tradisi umat muslim negeri ini di setiap selesai puasa ramadhan untuk saling meminta maaf menemukan garis relevansinya. Pada hari-hari itu, suasana Hari Raya Idul Fitri seakan-akan mampu menciptakan kejernihan pikiran, ketenangan batin, kesucian hati dan dorongan psikologis untuk berani meminta maaf dan siap memaafkan.
Namun, aspek psikologis-kultural ini sangat berhubungan erat dengan dimensi spiritual. Maksudnya, tidak ada satu pun jenis ilmu pengetahuan yang bisa membuktikan secara ilmiah terkait ikhlas tidaknya meminta maaf ketika Idul Fitri tiba. Tidak ada satu pun jenis penelitian yang bisa membuktikan secara empiris tentang tulus tidaknya hati seseorang yang memberi maaf dikala hari raya. Bahkan, tidak ada satu pun jenis teknologi yang mampu menunjukkan orang yang saling berkirim sms atau kartu lebaran dengan disertai kalimat-kalimat puitis yang sarat dengan kata-kata indah serta gambar-gambar unik, benar-benar berasal dari kemurnian niat.
Bisa saja orang yang meminta maaf meski sambil meneteskan air mata tidak berangkat dari kesadaran diri tapi sekedar berpura-pura. Bisa juga orang yang memberi maaf juga tidak berasal dari keikhlasan hatinya tapi lebih karena situasi yang terpaksa. Bahkan, tidak menutup kemungkinan kalau tulisan-tulisan itu hanya sekedar bagian dari ekspresi diri dalam ikut serta memeriahkan kemeriahan hari raya.
Maka persoalan maaf memaafkan kemudian sangat berhubungan dengan dimensi ketuhanan. Artinya, hanya Tuhan saja yang paling tahu siapa diantara hambaNya yang meminta maaf dan memberi maaf dengan hati yang tulus. Karena itu, wajar bila kemurnian niat peminta dan pemberi maaf kemudian mendapatkan derajat yang tinggi di sisi Tuhan. Kemuliaan derajat orang yang meminta maaf disebabkan dosa vertikalnya sudah terhapus lantaran telah dimaafkan kesalahannya oleh sesama. Sedangkan kemuliaan derajat orang yang memaafkan karena ketika mau memberi maaf, detik itu pula dia telah mensifati dirinya dengan sifat-sifat ketuhanan.
Ternyata, maaf-memaafkan itu memang bukan sekedar persoalan yang sederhana. Karena itu, menjelang idul fitri ini, dengan segala kerendahan hati, saya benar-benar memohon maaf kepada anda atas semua kesalahan yang pernah saya perbuat. Semoga pada hari raya kali ini, kita termasuk golongan minal a’idzin wal fa’izin. Amin ya robb.