Media Informasi Pemuda Peduli Dhuafa Gresik (PPDG) || Website: www.pemudapedulidhuafa.org || Facebook: Pemuda Peduli Dhuafa Gresik || Twitter: @PPD_Gresik || Instagram: Pemuda Peduli Dhuafa Gresik || Email: ppd.gresik@gmail.com || Contact Person: 0838-3199-1684 || Nomor Rekening: 0335202554 BNI a.n. Ihtami Putri Haritani || Konfirmasi Donasi di nomor telepon: 0857-3068-6830 || #SemangatBerkarya #PPDGresik

Jumat, 03 Januari 2014

Catatan Hari AIDS Sedunia : “Kondom Alam” Dorong Penyebaran HIV/AIDS

EPIDEMI HIV terus berlangsung tanpa bisa direm. Kasus demi kasus di semua negara tertedeksi. Di Indonesia sudah dilaporkan 21.770 kasus AIDS. Sedang-kan di Sulawesi Utara sampai September 2010 sudah dila-porkan 715 kasus HIV/AIDS yang terdiri atas 265 HIV+ dan 450 AIDS, serta yang memakai ARV lebih dari 180.
Secara global diperkirakan penduduk dunia yang tertular HIV antara 29.200.000-32.600.000 (UNAIDS). Hari ini, 1 Desember, diperingati sebagai Hari AIDS Sedunia (World AIDS Day) sebagai upaya untuk mengingatkan (penduduk) dunia untuk meningkatkan penanggulangan epidemi HIV.
Sejak penularan dan pencegahan HIV diketahui secara medis mulailah pemakaian kondom disosialisasikan pada hubungan seksual yang berisiko tertular HIV secara luas. Pro dan kontra tentang kondom muncul di seluruh dunia di ranah opini dengan latar belakang asumsi berlandaskan moral. Di Indonesia sosialisasi kondom dihadang dengan cara ‘membenturkan’-nya dengan norma, moral, dan agama. Padahal, pencegahan dengan kondom merupakan ranah medis.
Sepanjang debat kusir terkait kondom berjalan selama itu pula terjadi penularan HIV. Ini terjadi tanpa disadari. Kasus demi kasus terdeteksi di berbagai daerah di Indonesia. Tapi, pemerintah tetap tidak bergeming karena angka kasus yang dilaporkan sangat kecil. Angka yang kecil ini pulalah yang membuat pemimipn negeri ini membusungkan dada. Padahal, epidemi HIV erat kaitannya dengan fenomena gunung es. Kasus yang terdeteksi hanya sebagai kecil dari kasus yang ada di masyarakat.
Biar pun ada fakta di beberapa negara di berbagai belahan dunia kasus infeksi HIV baru di kalangan dewasa melalui hubugan seksual mulai menunjukkan grafik yang mendatar sejak awal tahun 2000-an berkat penggnaan kondom, tapi Indonesia tetap berkutat di ranah debat kusir.
Memang, sejak awal epidemi pemerintah sudah ‘mengha-ramkan’ kondom. Di awal epi-demi pada tahun 1983 Men-teri Kesehatan RI, Dr. Soewardjono Soerjaningrat, mengatakan pencegahan AIDS terbaik adalah tidak ikut-ikutan jadi homoseks dan mencegah turis-turis asing membawa masuk penyakit itu. Di tahun 1988 Kepala BKKBN Pusat, dr Haryono Suyono, mengatakan lembaga perkawinan merupakan benteng yang kuat terhadap menjalarnya penyakit AIDS di Indonesia.
Begitu pula dengan kondom. Terjadi gelombang penolakan sampai sekarang. Anjuran Dirjen Pariwisata, Joop Ave, agar kondom disebarluaskan secara cuma-cuma di hotel-hotel di Indonesia untuk mencegah penyebaran AIDS, dianggap kurang bijaksana.
Ketika dunia dilanda ‘kepanikan’ karena kasus HIV/AIDS terdeteksi pada penduduk mereka, Indonesia malah menyangkal dengan mengedepankan budaya, moral dan agama sebagai penangkal. Padahal, semua negara dan bangsa di muka bumi ini memiliki budaya, moral dan agama. Lagi pula, secara medis penularan HIV tidak ada kaitannya secara langsung norma, moral dan agama.
Terkait dengan sosialisasi kondom Majelis Ulama Indonesia (MUI) menentangnya. Majelis Ulama Indonesia (MUI) menolak dengan tegas program kondomisasi untuk penanggulangan AIDS, karena dengan menyetujui kondomisa-si berarti melegalkan prostitusi. Agak-nya, MUI dan organisasi lain sampai sekarang tidak bisa membedakan antara sosialisasi dan kondomisasi. Yang merebak adalah kondominasi, padahal dari aspek epidemiologi HIV yang dikembangkan ada-lah sosialisasi artinya memberikan pilihan kepada masyarakat tentang cara mencegah HIV.
Kalau saja di awal epidemi HIV/AIDS tidak dikait-kaitkan dengan norma, moral dan agama tentulah HIV/AIDS tidak akan dilihat dari aspek mitos (anggapan yang salah). Tapi, sejak awal epidemi HIV/AIDS sudah dikait-kaitkan dengan norma, moral dan agama.
Pemerintah Indonesia baru mengaku ada kasus AIDS di Indonesia ketika tahun 1987 seorang wisatawan Belanda meninggal di RS Sanglah, Denpasar, Bali, karena penyakit terkait AIDS. Tapi, tahun 1988 di tempat yang sama ada seorang penduduk asli Indonesia yang juga meninggal karena penyakit terkait AIDS. Statistik menunjukkan masa AIDS terjadi antara 5-15 tahun setelah tertular HIV. Berarti orang Indonesia tadi tertular HIV antara tahun 1973 dan 1983 jauh sebelum wisatawan Belanda yang neninggal itu tiba di Bali.
Dunia berlomba-lomba mencari obat dan vaksin HIV/AIDS. Persoalan yang dihadapi dunia kedokteran adalah HIV ternyata mempunyai banyak sub-type. Jika ada vaksin yang bisa menangkal HIV sub-type A, maka vaksin ini tidak bisa menangkal HIV sub-type lain. Sampai sekarang sudah diidentifikasi sub-type HIV dari A sampai O. Di Indonesia sub-type HIV adalah E, sama seperti di Malaysia dan Thailand.
Yang sudah tersedia saat ini adalah obat antiretroviral (ARV). Obat ini berguna untuk menekan laju perkembangkan HIV di dalam darah. Sebagai virus HIV menggandakan diri di dalam sel-sel darah putih. Akibatnya, sel darah putih yang dijadikan HIV sebagai ‘pabrik’ rusak. Sebaliknya, HIV bekembang biak dalam jumlah yang sangat besar. Setiap hari HIV menggandakan diri antara 10 miliar sampai 1 triliun.
Karena HIV sangat cepat menggandakan diri maka sel-sel darah putih yang rusak pun sanga banyak karena HIV yang baru diproduksi akan menjadikan sel-sel darah putih menjadi ‘pabrik’ baru. Begitu seterusnya. Untuk itulah diperlukan obat ARV agar kondisi Odha (Orang yang Hidup dengan HIV/AIDS) bisa tetap baik. Dengan 450 kasus AIDS baru 180 yang mengkonsumsi ARV merupakan pertanda buruk bagi penanggulangan HIV/AIDS di Sulut. Soalnya, jika Odha yang sudah mencapai masa AIDS tidak mengonsumsi obat ARV maka risiko menularkan HIV kepada orang lain tetap tinggi. Selain itu kasus-kasus HIV dan AIDS yang belum terdeteksi di masyarakat akan menjadi mata rantai penyebaran HIV secara horizontal.
Di saat vaksin belum ditemukan kalangan pakar medis sudah menawarkawan cara mencegah penularan HIV melalui hubungan seksual di dalam dan di luar nikah. Cara yang ditawarkan adalah menghindari pergesekan langsung antara penis dan vagina ketika terjadi hubungan seksual. Untuk itu dipakai kondom karena hanya kondom yang bisa memenuhi syarat.
Celakanya, sosialisasi kondom sebagai alat untuk mencegah penularan HIV melalui hubungan seksual ditentang karena dianggap sebagai pemicu untuk melakukan hubungan seksual dengan pasangan yang berganti-ganti. Tapi, ini hanya asumsi karena tidak ada fakta empiris yang membutikan bahwa kondom mendorong orang untuk melakukan hubungan seksual. Bahkan, para lelaki ‘hidung belang’ justru enggan memakai kondom. Ketika dunia menghadapi dilema terkait dengan penolakan terhadap kondom muncul ‘angin surga’ yang meniupkan isu bahwa sunat bisa mencegah penularan HIV melalui hubungan seksual.
Kaitan sunat dengan AIDS berawal dari Afrika. Di salah satu negara di sana mayat-mayat yang meninggal di rumah sakit karena penyakit terkait AIDS diteliti. Hasilnya, mayat yang disunat lebih sedikit dari mayat yang tidak disunat.
Tapi, ada pertanyaan yang tidak terjawab dari penelitian itu karena yang diteliti adalah mayat, yaitu: informasi tentang perilaku seksual mereka ketika masih hidup. Misalnya, jumlah pasangan seksual di dalam dan di luar nikah, frekuensi hubungan seksual di dalam dan di luar nikah, serta tingkat pemakaian kondom.
Jumlah pasangan seksual dan frekuensi hubungan seksual erat kaitannya dengan risiko tertular HIV. Risiko kian tinggi jika penggunaan kondom rendah. Fakta ini luput dari perhatian sehingga isu sunat sangat riskan jika dianggap sebagai ‘kondom’ pada hubungan seksual.
Data ini sangat penting untuk mendukung kaitan langsung antara penularan HIV dengan sunat. Tapi, karena sunat terkait dengan suku, adat, keyakinan dan agama maka informasi itu pun semerta diterima. Para pakar pun melakukan berbagai penelitian. Dikabarkan kepala penis yang disunat lebih sulit ‘ditembus’ HIV daripada kepala penis yang tidak disunat. Ada yang perlu diingat yaitu risiko ‘ditembus’ HIV pada saat terjadi sanggama tidak hanya pada kepala penis, tapi juga pada batang penis. Batang penis pada laki-laki yang disunat tidak berbeda dengan laki-laki yang tidak disunat.
Karena sunat sudah dikenal di berbagai kayakinan dan negara maka informasi tentang sunat ini mendapat tempat. Sosialisasi sunat pun mulai digencarkan sehingga meng-abaikan kondom. Kondisi ini dikhawatirkan bisa mendorong penyebaran HIV karena laki-laki yang disunat menganggap penisnya sudah memakai kondom. Ada anggapan laki-laki yang disunat sudah memakai ‘kondom alam’.
Jika laki-laki yang disunat menganggap dirinya sudah memakai ‘kondom alam’ tentulah mereka tidak lagi khwatir melakukan hubungan seksual dengan pasangan yang berganti-ganti. Tapi, kekhawatiran ini tidak pernah muncul ke permukaan. Realitas tentang ‘kondom alam’ akan menjadi fenomena baru dalam epidemi HIV karena laki-laki ‘hidung belang’ tidak lagi takut melaku-kan hubungan seksual dengan pasangan yang berganti-ganti di dalam dan di luar nikah.

Jika itu yang terjadi maka kita tinggal menunggu waktu ‘ledakan AIDS’ karena penyebaran HIV terus terjadi melalui laki-laki yang tidak memakai kondom lateks karena menganggap dia sudah memakai ‘kondom alam’ (baca: disunat).

Pendidikan Seks dan Hari AIDS

Banyak sudah waktu, tenaga, pemikiran, dan uang yang dihabiskan untuk menangani masalah AIDS ini, tetapi mengapa jumlah penderitanya terus meningkat ? Bahkan menurut data statistik yang resmi dikeluarkan oleh Pemerintah, penderita HIV dan AIDS di kalangan usia muda meningkat hingga mencapai angka 600 persen. Apa gerangan yang terjadi ?. 
Pandangan dan sikap terhadap seks pada umumnya tidak lebih dari sebatas masalah “seonggok daging di belahan paha” saja. Bahkan di dalam kamus pun seks diuraikan hanya sebagai jenis kelamin semata. Semua itu pun dianggap sebagai sesuatu yang benar karena realistis dan karena memang paling umum diyakini.
Sementara itu, hanya sedikit sekali yang mau melihat seks dari sisi pandang yang berbeda dan lebih luas lagi. Memang tidak mudah untuk mau melepaskan diri dari zona yang nyaman meski merasa diri mampu dan sering mengucapkannya.
Hingga kemudian, seks ini pun hanyalah menjadi sebuah objek semata. Bagaimana bisa lebih dari itu bila ada pembatasan terhadap seks itu sendiri ? Tidak mengherankan kemudian bila seks ini menjadi sesuatu porno, tabu, dan dianggap merusak serta menjerumuskan. Memang bila hanya menjadi objek, seks akan menjadi demikian, kok! Pemikiran dan cara pandang kita sendirilah yang membuat seks ini menjadi remah dan tidak dianggap penting selain hanya sebagai bagian dari hasrat semata.
Lain ceritanya bila semua bisa berpikir bahwa seks itu tidak mesti porno sebab seks itu tidak akan menjadi porno bila kita menjadikannya sebagai sebuah subjek. Seks akan menjadi sebuah ilmu yang bisa terus digali dan terus dimanfaatkan sebaik-baiknya demi kehidupan yang lebih baik dan juga masa depan.
Seks itu adalah titik awal kehidupan dan kehidupan itu sendiri. Itu menurut pendapat saya, bila pun dianggap tidak realistis ataupun tidak logis serta irasional, tidak masalah. Silahkan mencari dan menemukannya sendiri, apa seks itu yang sebenarnya. Itu sangat baik dan penting. Dengan senang hati saya menanti hasil buah pemikiran dari siapapun yang mau melakukannya.
Berpikir tentang seks itu menyenangkan sekali. Bukan hanya soal bagaimana melakukan hubungan seksual, tetapi jauh lebih menyenangkan lagi bila kita mau berpikir soal arti dan makna seks itu sendiri. Tidak akan pernah habis dan tidak akan pernah selesai untuk diuraikan dan dipikirkan. Seks itu menyangkut seluruh bagian dalam kehidupan ini dan tidak memiliki batas. Bayangkan saja bagaimana bila kita tidak dianugerahi seks ? Seperti apa kehidupan kita ini ? Apakah kita ada ?. 
Nah, karena sangat “menyeluruh” inilah yang dilupakan, maka menurut saya, menjadi alasan utama atas kegagalan dari segala bentuk pendidikan seks ataupun penganggulangan yang ada. Penanggulangannya tidak dilakukan secara menyeluruh dan tidak juga dimulai dari akar permasalahan yang ada tetapi hanya sebagian-sebagian saja dan potong jalan di tengah. Mana bisa semua itu menghasilkan buah yang lebih manis?! Jika hanya berkutat di masalah medis, psikologis, pendidikan, dan sosial budaya saja, lalu dilakukan sendiri-sendiri pula, tidak akan pernah ada perbaikan sama sekali. Untuk tahu apa yang membedakan dan menjadikan pria itu pria danperempuan itu perempuan saja masih pada bingung jawabannya, sudah loncat ke urusan kondom. Bagaimana bisa menyelesaikannya ?. 
Salah satu contoh yang paling sering terjadi adalah di mana kita selalu menyalahkan ketabuan atas seks. Padahal, menurut saya, tabu atau terbukanya pendidikan seks, sama-sama memiliki masalah. Masalahnya sama juga dan sama-sama tidak bisa menyelesaikan masalah. Begitu juga dengan masalah pandangan serta budaya Barat dan Timur yang sering diperdebatkan, bukan itu inti permasalahannya. Coba perhatikan, bukankah di seluruh dunia ini, masalah seks itu sama ? Kenapa bisa sama kalau berbeda cara pendidikannya, beda budayanya, dan beda pandangannya ?. 
Sekarang saja masih ada pemimpin bangsa yang berpikir bahwa untuk menanggulangi masalah AIDS dan pergaulan seks bebas remaja adalah dengan cara melakukan tes keperawanan. Padahal baru saja ada pemimpin lain dari daerah Jambi yang dikritik keras masalah ini. Eh, sekarang dari Medan ada lagi. Sungguh membuktikan betapa sempit dan kotornya pemikiran tentang seks ini. Bila pemimpinnya saja bisa berpikir sedemikian rupa, bagaimana dia bisa membawa masyarakatnya menuju kehidupan yang lebih baik ?. 
Herannya lagi, semua selalu disangkutpautkan dengan masalah moral, etika, norma, dan juga agama serta keyakinan dan kepercayaan. Okelah, semua itu memang ada sangkut pautnya, namun moral yang seperti apa dulu, nih ? Apa yang dimaksud dengan moral ? Apa itu etika ? Apa itu norma ? Bila moral, etika, dan norma ini pun tidak dimengerti dan dipahami dengan baik, tidak perlulah dulu kita bicara soal agama, keyakinan, dan kepercayaan karena itu jauh lebih rumit dan tidak mudah untuk dimengerti ataupun dipahami. Kenapa ? Prinsip dasar atas semua ini, yaitu adil dan keadilan itu sendiri tidak dimengerti dan dipahami dengan baik, bagaimana bisa mengerti yang lainnya ? Untuk bisa jujur dan mengakui masalah seks diri sendiri saja sulit, apalagi untuk mau mengakui apa dan siapa diri yang sebenarnya. Ya, kan ?. 
Yah, memang tidak akan pernah ada hubungannya bila tidak melihat gambaran lebih luas, jernih, dan mau menarik garis dari belakang. Disadari tidak disadari seks adalah sumber kekuatan yang paling besar. Diakui tidak diakui juga bahwa sebenarnya seks itu adalah senjata yang paling ampuh dan paling mematikan. Apa yang tidak bisa dilakukan dengan seks ? Berita tentang kasus video porno artis saja bikin guncang dunia ekonomi dan bisnis. Ya, kan ?. 
Dari kasus itu saja sudah jelas bagi saya bagaimana sebenarnya keadaan psikologis dan sosial politik masyarakat. Jelas banget kerancuan mana yang sakit jiwa mana yang tidak. Kelihatan pula “manusia penonton”-nya. Lebih jelas lagi sejauh mana seks itu dianggap penting sekaligus ditutupi dan diputarbalikkan serta dijadikan sarana untuk merusak, menipu, dan membodohi.
Buktinya lagi, sudah berapa banyak di antara kita yang salah memilih pemimpin dan lalu menyesalinya kemudian ? Tidak ada yang memperhatikan sih, bagaimana mereka memanfaatkan daya tarik seksual serta politik seks mereka. Tidak ada juga yang memperhatikan masalah seksual dan kejiwaan perilaku seksual mereka. Padahal, bila semua itu terungkap, tidak ada yang bisa ditutupi. Ketahuan jelas bagaimana mereka semua itu bisa berpikir, bertindak, berperilaku, dan mengambil keputusan. Ketahuan pula apa motivasi mereka yang sebenarnya untuk menjadi pemimpin.
Oleh sebab itulah, saya menolak pendidikan seks di sekolah. Pendidikan seks yang seperti apa dulu ? Begitu juga dengan pengenalan tentang budaya seks. Budaya yang seperti apa dulu, nih ? Kalau tidak ada perubahan yang lebih baik, hanya akan menjadi sebuah kesia-siaan belaka. Bisa jadi bahan dan ladang korupsi baru juga. Sekarang saja sudah banyak yang memanipulasi atas nama pendidikan seks dan penanggulangan AIDS. Pakai menjual duka dan kesedihan pula. 
Saya tidak mengatakan bahwa saya lebih baik dari yang lainnya, tetapi saya mencoba untuk mengajak semua berpikir kembali atas apa yang telah terjadi dan apa yang telah dilakukan. Tidakkah kita seharusnya selalu melakukan introspeksi diri agar semua yang dilakukan ke depan itu menjadi lebih baik dan lebih bermanfaat lagi ? Apakah kita tidak menginginkan kehidupan dan masa depan yang lebih baik ? Semoga semua mau menghormati dan menghargai seks sebagai anugerah terbesar dan terindah dari-Nya. Sekali lagi, seks itu tak mesti porno karena seks itu bukan hanya seonggok daging di belahan paha saja. Seks adalah titik awal kehidupan dan kehidupan itu sendiri.

Rabu, 01 Januari 2014

Hari Anti-HIV/AIDS Sedunia : Sebuah Refleksi bersama Aktivis HIV/AIDS

1 Desember menjadi peringatan hari anti HIV/AIDS sedunia. Tentu saja bukan berarti HIV/AIDS hanya dilawan pada hari itu dan kemudian hari-hari lain kita boleh tutup mata dan tidak peduli dengan permasalah sosial yang satu ini.
Paradigma yang salah ini bukan saja dari masyarakat tetapi juga dari penderita itu sendiri. Banyak korban HIV/AIDS sudah menyerah dengan diagnosa tersebut dan kemudian begitu cepatnya virus ini menggerogoti dirinya. Untuk itu tidak banyak rekan-rekannya yang bertahan hidup seperti dirinya sekarang. Lebih parahnya banyak dari mereka mati sia-sia karena merasa terbuang dan sengaja dibuang oleh anggota keluarga yang lain dan terpuruk tidak berbuat apa-apa.
Paradigma ini juga tidak lepada dari lembaga agama yang lebih banyak memberikan justifikasi, sehingga korban hanya menyalahkan diri dan justru tidak dapat bangkit dari keterpurukannya. Tidak heran kemudian korban yang berniat jahat dengan sengaja justru menularkan virusnya dalam berbagai cara dan tidak peduli perasaan orang lain.
Saya sengaja menggunakan istilah ini karena sebagian besar masyarakat sepertinya masih sangat keliru memahami penularan HIV/AIDS dan bagaimana berelasi dengan korban seperti mereka ini. Hal yang sama dibenarkan juga oleh rekan saya bahwa masih banyak masyarakat memberikan label kepada korban HIV/AIDS secara negatif. Menjauhkan mereka dari kehidupan normal bermasyarakat karena dianggap penyakit menular dan aib. Padahal kenyataannya penyakit ini tidak menular secara sembarangan kecuali melalui kontak darah secara langsung seperti hubungan seks, penggunaan jarum yang tidak steril, dan transfusi darah. Selain itu, banyak korban HIV/AIDS bukan salah dirinya melainkan pihak lain di luar kemampuan dia seperti istri yang mendapat virus karena berhubungan suaminya yang sudah positif terkena tanpa sepengetahuan dirinya. So, orang-orang ini tidak pernah tahu kenapa virus itu ada dalam dirinya tetapi masyarakat pada umumnya sudah memberi labeling negatif terhadap mereka dengan kehidupan seks bebas, aib, kutukan dan sejenisnya. Aktifis HIV/AIDS didominasi mereka yang menjadi korban dan sejumlah kecil relawan yang memiliki teman atau keluarga HIV/AIDS
Jika demikian seolah para aktifis dan orang-orang yang peduli terhadap ODHA siapa ? Apakah hanya mereka yang berhubungan dengan penyakit satu ini. So, sebagian besar orang lain yang sama sekali tidak berhubungan dengan hal ini kemana ? Bagi saya ini adalah hal yang memprihatinkan dimana orang-orang yang peduli HIV/AIDS hanya berputar di kalangan orang-orang tersebut tanpa mengubahkan paradigma yang sudah terpatri bertahun-tahun di masyarakat. Orang peduli karena dia sendiri telah menjadi korban dan mempunyai passion agar orang lain tidak terkena atau mencegahnya. Orang peduli karena sudah melihat sendiri bagaimana penderitaan teman atau salah satu anggota keluarga yang terkena HIV/AIDS.
Bahkan mengurus kematiannya karena sebagian besar korban HIV/AIDS sudah tidak diakui oleh keluarganya. Pelayanan yang sungguh serius dan sungguh-sungguh full time 24 jam memantau dan sigap menangani. Pelayanan praktis dan bukan sekadar bahasa klise untuk menghibur tetapi sungguh-sungguh bertindak.
Tidak bermaksud menyudutkan pihak manapun, tetapi saya pikir ini adalah realita yang memang banyak terjadi. LSM terkait dan pemerintah selama ini banyak hal yang selama ini bersifat sekunder menjadi primer bagi mereka. Salah satunya data menjadi pokok pembicaraan justru lebih banyak dibicarakan daripada aksi praktis menangani korban HIV/AIDS. Semua program dan proyek hanya berujung pada laporan dan sejumlah kucuran dana sekian milyar atau bahkan triliun. Namun demikian kenyataannya dana itu tidak tersalurkan dengan baik kepada korban dan pendanaan kampanye bebas HIV/AIDS.
Mencegah HIV/AIDS bukan dimulai dari menegur kebiasaan perilaku seksnya tetapi bagaimana cara-cara mengatasinya. Pernyataan ini seolah mungkin kontroversial lebih jelasnya jika saya mengatakan lebih baik membagikan kondom gratis daripada menegur seseorang pergi ke pelacur. Hal ini didasarkan bahwa mencegah seseorang menghentikan perilaku seksualnya adalah usaha sia-sia dan menyita waktu. Perilaku seksual adalah kebebasan dan hak setiap orang terserah dia mau melakukan hubungan seks dengan lebih dari satu wanita atau pria, dengan pelacur, dengan sesama lelaki atau perempuan itu hak mereka. Bagaimanapun mencegah dan menegurnya baik sesuai pandangan agama atau etika sosial tidak akan berpengaruh banyak kepada mereka, bahkan yang ada semakin brutal karenan keinginannya tidak tersalurkan. Seorang yang kecanduan seks pasti akan ada pada satu titik jenuh dan berhenti sendiri alias bosan sendiri dan berhenti cepat atau lambat termasuk mereka pekerja seks komersial (PSK).
Pengguna narkoba pasti terjebak dengan seks bebas tetapi perilaku seks bebas belum tentu berhubungan dengan narkoba. Ujung-ujungnya narkoba telah membuat dirinya tidak dapat membedakan rasional dan moralitas secara tepat. Apa yang diinginkan disalurkan dengan bebasnya dan salah satunya perilaku seks. Bukan saja wanita yang pernah dicobanya tetapi sesama lelaki pun dia perlakukan sama seperti layaknya hubungan seksual. Dalam dunia mereka perilaku semacam ini sering disebut lelaki seks lelaki (LSL), ini agak berbeda dengan gay atau homoseksual dimana ada ikatan batin secara emosional di dalamnya. LSL hanya berhenti pada penyaluran hasrat seksual tanpa adanya hubungan apapun termasuk cinta di dalamnya.
Refleksi ini menjadi satu inspirasi yang menggugah saya dalam beberapa hal. Korban HIV/AIDS adalah teman kita yang sedang dalam krisis jadilah sahabat dan dukung dia untuk bangkit dan memberi sumbangsih pada dunia ini menjelang ajalnya. Kita tidak jauh beda dari mereka sama-sama bukan makhluk sempurna yang tidak berhak menghakimi dan memberikan labeling pada mereka. Berpartisipasi dalam segala rupa salah satunya tidak menghakimi dan menjadi teman korban HIV/AIDS adalah dukungan yang sangat berarti bagi mereka. Bergaul dengan siapapun boleh bahkan para korban HIV/AIDS tetapi bukan menggauli itu berbeda maknanya, antisipasi perilaku seksual maupun kebiasaan buruk kita sebelum terlambat. Jadilah motivator bagi diri sendiri, orang lain, dan alam semesta ini bahwa jika korban HIV/AIDS saja mau melakukan sesuatu yang berarti bagi dunia ini apalagi kita yang belum dan tidak pernah akan menjadi korban HIV/AIDS. Selamat hari anti HIV/AIDS sedunia dan terus sebarkan pesan ini kepada semua rekan dari sejak dini.

1 Desember, Hari AIDS Sedunia

1 Desember, tanggal yang diperingati sebagai Hari AIDS Sedunia. Hari ini diperingati karena untuk menumbuhkan kesadaran terhadap wabah AIDS di seluruh dunia yang disebabkan oleh penyebaran virus HIV. Konsep ini digagas pada Pertemuan Menteri Kesehatan Sedunia mengenai program-program untuk Pencegahan AIDS pada tahun 1988. Sejak saat itu, AIDS mulai diperingati oleh pihak pemerintah, organisasi Internasional dan yayasan amal di seluruh dunia. Peringatan ini menggunakan lambang (simbol) Pita Merah dan digunakan secara internasional untuk melambangkan perang terhadap AIDS.
Setiap tahun, Hari AIDS Sedunia diperingati dengan menampilkan tema-tema tertentu. Dan temanya adalah Hentikan AIDS Jaga Janjinya - Akses Universal dan Hak Asasi Manusia. Dengan tema ini, peringatan hari AIDS sedunia sebetulnya mengingatkan kembali kepada semua pihak bahwa penderita HIV/AIDS mempunyai hak untuk mendapatkan keadilan. Hak asasi bagi penderita AIDS adalah hak asasi manusia yang melekat pada diri di setiap manusia sejak lahir dan berlaku seumur hidup.
Biasanya di setiap daerah memiliki cara tersendiri untuk memperingati Hari AIDS Sedunia ini, misalnya di setiap perempatan jalan-jalan besar ada sekelompok mahasiswa atau aktivis yang peduli terhadap AIDS sedang membagikan Pita Merah pada setiap pengguna jalan yang berhenti di traffic light, membagikan bunga mawar merah dan sebagainya.
Sampai saat ini penderita HIV setiap hari bertambah 7.400 kasus atau lima orang per menit. Dari pertumbuhan penderita tersebut, 96% diantaranya merupakan populasi di negara berkembang. Sedangkan kasus seluruhnya di Indonesia diperkirakan 298.000 jiwa. Sungguh memprihatinkan bukan ?.
Ketika seseorang divonis mengidap HIV, langit hidupnya seakan runtuh. Maut datang membayang. Dia merasa hidupnya sudah kiamat. Memang virus itu sangat mematikan, namun itu tidak berarti penderita tidak bisa “berdamai” dengan virus itu. Berdamai berarti menerima kenyataan tubuh yang sudah tertular. Tidak perlu meratapi diri, apalagi menyembunyikan diri dari masyarakat. Meratapi diri sama saja kita menangisi susu yang tumpah. Odha harus berani menghadapi hidup baru. Hidup bersama HIV.
Berdamai juga berarti mau merawat diri. Hidup Odha tidak runtuh karena telah tertular HIV. Hidup mereka belum kiamat karena HIV. Mereka bisa membuat rencana hidup masa depan, untuk bekerja, dan untuk secara teratur pergi ke tempat konseling dan bergabung dengan komunitas Odha. Tidak mudah memang. Apalagi HIV distigmakan sebagai kutukan sebagai ganjaran akibat pola hidup yang tidak baik.

Kini makin banyak Odha yang tidak malu-malu dan takut mengaku bahwa mereka telah terinfeksi virus maut itu. Sikap itu sangat positif tidak saja bagi penderita, tetapi masyarakat secara umum.

Hari AIDS-HIV Jangan Hanya Jadi Simbol Peringatan Saja

Tulisan ini sedikit terlambat karena Hari AIDS sedunia yang diperingati tiap tanggal 1 Desember. Tapi untuk berbagi informasi yang semoga bisa bermanfaat tidak mengenal kata terlambat. Seperti ungkapan, ”Lebih Baik Terlambat Daripada Tidak Sama Sekali”. Dan sampaikanlah walau satu ayat, begitulah kata Rasulullah.
Hari AIDS Sedunia pertama kali dicetuskan pada Agustus 1987 oleh James W. Bunn dan Thomas Netter, dua pejabat informasi masyarakat untuk Program AIDS Global di Organisasi Kesehatan Sedunia di Geneva, Swiss. Bunn dan Netter menyampaikan ide mereka kepada Dr. Jonathan Mann, Direktur Pgoram AIDS Global (kini dikenal sebagai UNAIDS). Dr. Mann menyukai konsepnya, menyetujuinya, dan sepakat dengan rekomendasi bahwa peringatan pertama Hari AIDS Sedunia akan diselenggarakan pada 1 Desember 1988.
Bunn menyarankan tanggal 1 Desember untuk memastikan liputan oleh media berita barat, sesuatu yang diyakininya sangat penting untuk keberhasilan Hari AIDS Sedunia. Ia merasa bahwa karena 1988 adalah tahun pemilihan umum di AS, penerbitan media akan kelelahan dengan liputan pasca-pemilu mereka dan bersemangat untuk mencari cerita baru untuk mereka liput. Bunn dan Netter merasa bahwa 1 Desember cukup lama setelah pemilu dan cukup dekat dengan libur Natal sehingga, pada dasarnya, tanggal itu adalah tanggal mati dalam kalender berita dan dengan demikian waktu yang tepat untuk Hari AIDS Sedunia.
Dengan mengambil judul tulisan saya mengenai Hari AIDS ini, jangan hanya memperingati Hari AIDS / HIV saja namun kita harus lebih cermat lagi untuk mengambil sisi positifnya. Mengapa Hari AIDS / HIV ada ? Mengapa dijadikan hari bersejarah di seluruh dunia?
Penyakit AIDS atau kepanjangan dari Acquired Immunodeficiency Syndrome atau Acquired Immune Deficiency Syndrome dan virusnya yang bernama Human Immunodeficiency Virus (atau disingkat HIV) yaitu virus yang memperlemah kekebalan pada tubuh manusia. Penyakit AIDS adalah sekumpulan gejala dan infeksi (atau: sindrom) yang timbul karena rusaknya sistem kekebalan tubuh manusia akibat infeksi virus HIV atau infeksi virus-virus lain yang mirip yang menyerang spesies lainnya (SIV, FIV, dan lain-lain).Sedangkan virusnya HIV yaitu virus yang memperlemah kekebalan pada tubuh manusia. Orang yang terkena virus ini akan menjadi rentan terhadap infeksi oportunistik ataupun mudah terkena tumor. Meskipun penanganan yang telah ada dapat memperlambat laju perkembangan virus, namun penyakit ini belum benar-benar bisa disembuhkan.
HIV dan virus-virus sejenisnya umumnya ditularkan melalui kontak langsung antara lapisan kulit dalam (membran mukosa) atau aliran darah, dengan cairan tubuh yang mengandung HIV, seperti darah, air mani, cairan vagina, cairan preseminal, dan air susu ibu. Penularan dapat terjadi melalui hubungan intim (vaginal, anal, ataupun oral), transfusi darah, jarum suntik yang terkontaminasi, antara ibu dan bayi selama kehamilan, bersalin, atau menyusui, serta bentuk kontak lainnya dengan cairan-cairan tubuh tersebut.
Namun saya bilang penyakit AIDS dan virusnya HIV adalah sejenis penyakit kutukan dari Allah kepada kita. Dan terlebih yang jelas-jelas melanggar norma agama, peraturan dari Tuhan. Mengapa saya sebut penyakit kutukan dari Tuhan? Karena yang awalnya banyak diberi penyakit mematikan itu justru pada negara-negara yang banyak berhubungan bebas dan suka mempertontonkan aurat. Dan di Indonesia sendri penyakit mematikan itu juga yang diserang lebih dulu serta lebih banyak adalah di tempat-tempat yang haram seperti tempat-tempat pelacuran dan diskotek.
Dan Tuhan memberikan penyakit yang mematikan di tempat-tempat yang haram agar manusia bisa menjadikan hidup lebih baik, tidak sekadar senang-senang. Tidak mempergunakan hal-hal yang berbau kemaksiatan, kenikamatan duniawi yang tersesat sadar akan hidup yang benar. Bukan berarti Tuhan tidak sayang kepada para penderita AIDS – HIV. Tapi justru sebaliknya. Tuhan sayang sekali pada hambaNYA yang diberi ujian dengan penyakit mematikan itu. Tuhan ingin memberikan kebaikan setelah Tuhan memberikan rasa sakit yang mendalam. Kalau pun penyakit ini merasakan dikucilkan, dijauhi dari pergaulan sebenarnya tidak juga. Karena biasanya orang yang terkena penyakit ADIS - HIV itu sendiri lah yang merasa terasing dengan keadaan diri sendiri akibat penyakit yang menyerangnya. Mungkin itulah yang dimaksud dengan ‘kutukan’. Sudah tahu penyakit akibat salah pergaulan dan banyak yang mengerti akan musibah dengan permainan yang mematikan bila kita menerjangnya kenapa masih saja dilaluinya ? Dengan alasan apaun semua kenikmatan duniawi yang hanya sesaat itu tidak diperbolehkan. Hukum haram tetap haram. Tidak ada hukum haram menjadi halal hanya karena faktor tertentu.
Sebagai contoh orang yang terkena penyakit mematikan ini banyak menyerang di negara barat yang mayoritas kehidupannya bebas seks dan banyak menyerang di tempat-tempat pelacuran. Para pelacur, para pacandu narkoba yang sungguh-sungguh memalukan. Seperti para pelacur yang mengatasnamakan kesulitan cari biaya hidup dan tidak mempunyai bekal kemampuan dan ketrampilan yang dimiliki, pekerjaan sebagai pelacur menjadi pilihan bagi mereka. Alasan klise bagi mereka terjun ke lembah kenistaan.Faktor ekonomi penyebabnya. Mereka yang tak punya iman, hanya berpikiran faktor rizki meski dicari walau haram diterjangnya. Mereka tak punya iman karena tidak percaya Tuhan Maha Kaya, Sang Pemberi rizki dari manapun datangnya. Banyak jalan menuju Roma, banyak jalan mendapatkan rizki yng tak diduga dengan cara yang halal. Pekerjaan yang mudah namun banyak dosa hingga menimbulkan berbagai penyakit mematikan dan memalukan memang lebih enak, memuaskan dan hasilnya juga banyak yang berlimpah. Seperti perdagangan narkoba memalukan, korupsi dan pelacuran termasuk kategori kenikmatan duniawi yang tersesat. Ya, pekerjaan seperti ini memang mudah tapi resikonya juag berat. Dan penumpang alias para korban yang wajib menanggung penderitaanya.
Rizki yang baik mungkin sulit didaptkannya tetapi yakinlah setelah dengan susah payah memperoleh rezeki yang halal walau sediikit nilainya akan berujung pada kenikmatan yang sesungguhnya. Ingat tulisannya tentang seekor cicak yang hanya merayap di dinding tapi Tuhan memberi rizki yang tidak diduganya ? Tuhan sudah menjamin rizki pada setiap makhluknya walau itu juga pada seelor cicak sekalipun. Tapi mengapa di antara kita masih tidak percaya ? Kita hanya wajib berusaha kemudian pasrah dengan datangnya rizki pada kita.
Bila saya boleh ambil contoh dari riwayat seorang Nabi dan istrinya. Ibunda Siti Hajar istri kedua Nabi Ibrahim AS yang judga ibunda Nabi Ismail. Siti Hajar yang rela mondar mandir demi seteguk air untuk anknya Ismail yang konon waktu itu masih bayi. Dengan pengorbanan dan perjuangan yang berat akhirnya Ibunda Hajar bisa mendapatkannya dan bisa dipergunakan oleh setiap manusia yang berkunjung ke sana. Ya air zam-zam yang sangat bermanfaat. Itulah hasilrizki yanghalal. Butuh waktu, tenaga, pengorbanan dan perjuangan.
Tapi dari hasil yang nista ? Pasti pekerjaan semacam itu diperolehnya dengan mudah dan penuh kenikmatan. Namun sungguh kenikmatan yang tersesat. Tuhan memberikan rizki tentu tidak langsung memberikannya tapi butuh pengorbanan dan perjuangan yang berat. Semua ada ujian dan cobaannya.
Marilah kita bersama renungkan perjuangan Ibunda Siti Hajar dalam diri kita. Mencari sesuatu yang halal tidak semudah membalikkan telapak tangan, tapi hasilnya di kemudian hari tentu sangat bermanfaat. Bukan hanya pada diri kita tapi juga orang lain akan banyak manfaatnya.
Para pelacur yang miskin dan berpendidikan rendahan, bila ditanya mengapa memiliki pekerjaan kotor ini ? Selalu faktor ekonomi dan hanya keterpaksaan dalam mencari sesuap nasi, itulah hanyalah sebuah alasan klise belaka. Tidak bisa dipikir lebih jernaih lagi dengan akal sehat kita yang masih memilki iman.
Para pelacur yang malu ketika tertangkap basah, tapi mengapa mereka tidak malu saat tubuhnya dipegang-pegang oleh orang yang gak wajib melihat apalagi memegangnya ? Lalu bagaimana dengan pelacur tingkat tinggi yang berasal dari ekonomi yang cukup ? Juga bagaimana dengan pekerja homoseks ? Lesbi ? Padahal kita dijadikan manusia tidak ada yang saling menyukai sesama jenis. Semua diberi hati untuk saling berpasangan dengan hati yang bersih. Menyayangi beda jenis. Tidak ada yang dijadikan manusia menjadi manusia hina dengan pekerjaan kotor alias pekerjaan haram. Semua dijadikan pilihan dalam hidup apakah kita menjadi manusia dengan hidup baik yang penuh dengan hinaan, cacian, makian atau hidup dengan hidup buruk dengan sesuatu yang penuh nikmat tapi sesat ? Hidup itu sebuah pilihan. Hidup itu sebuah tantangan. Hidup itu butuh perjuangan.

Bagi-bagi dan Sosialisasi Kondom di Hari AIDS, Efektifkah ?

1 Desember di semua kota besar dilakukan berbagai kegiatan untuk mencegah penyebaran HIV-AIDS. Ratusan ribu kondom disebar di lokalisasi dan di ratusan tempat dibagi-bagikan poster dengan kata-kata use kondom.
Tetapi apakah itu efektif ? Sepertinya tidak. Konotasi bahwa HIV-AIDS adalah melulu penyakit akibat hubungan seksual harus diperbaharui lagi, karena penyakit ini adalah penyakit sel darah yang terkena virus yang membuat limfosit berkurang. Ketiadaan Limfosit ini membuat daya tahan tubuh menurun.
Hubungan sex hanya bisa menularkan HIV-AIDS, kalau yang belum terkena organ intimnya lecet-lecet atau luka dan kuman HIV dari cairan kelamin si penderita dapat masuk ke pembuluh darah yang lecet itu. Tanpa luka, belum tentu ada penyebaran, ada luka pun belum tentu jumlah virus cukup untuk menginfeksi. Sehingga penularan dari hubungan sexual yang normal persentasinya hanya 1%.
Penularan terbanyak adalah dari darah ke darah, yaitu tranfusi darah yang tidak diperiksa dahulu HIV nya. Saya pernah mendapatkan seorang remaja puteri 19 tahun yang HIV positif, dan 3 bulan sebelumnya mendapat tranfusi 3 kantong darah di rumah sakit daerah yang tidak diskrening dulu HIV nya. hampir 100% orang yang mendapat tranfusi dari penderita HIV positif akan mendapat HIV.
Penularan tersering kedua dari pemakai narkoba suntikan, karena kebanyakan mereka menyuntikkan narkobanya dengan jarum yang sama berganti-gantian langsung ke pembuluh darah.  Walau konsentrasi sisa darah di jarum sedikit, tetapi cukup untuk menularkan.
Jadi, memperingati hari AIDS sedunia tahun depan, harusnya lebih ke pengawasan skrening darah di PMI di seluruh rumah sakit, baik di kota besar maupun di daerah dan pemberian jarum suntik gratis pada penderita ketergantungan narkoba suntik. Apa boleh buatlah, karena penyebaran terbesar dari sana.
Bagi-bagi dan sosialisasi penggunaan kondom dengan pemikiran itulah cara terbaik memerangi HIV harus dikurangi dan dialihkan dengan bagi-bagi jarum suntik gratis ke komunitas pemakai narkoba suntik serta pemberian alat tes HIV ke semua unit tranfusi darah rumah sakit di seluruh Indonesia.

Mudah-mudahan dana-dana kampanye HIV-AIDS tahun depan lebih tepat sasaran ke potensial penularan yang lebih besar.

Senin, 30 Desember 2013

Stigma dan Diskriminasi ODHA, Salah Siapa ? (Refleksi Hari AIDS Sedunia 1 Desember)

Dalam perkembangan kehidupan sosial dewasa ini stigma dan diskriminasi selalu terjadi. Stigma dipahami sebagai cara pandang negatif terhadap pribadi dan kelompok sosial tertentu. Karena itu stigma juga merupakan bentuk diskriminasi. Secara lebih spesifik kita jumpai stigma dan diskriminasi terhadap orang dengan HIV/AIDS (ODHA).
Ditilik dari sisi epidemiologi, AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) merupakan kumpulan gejala penyakit yang disebabkan oleh Human Immunodeficiency Virus (HIV). Virus ini merusak sistem kekebalan tubuh manusia tanpa terkecuali.
Stigma terhadap ODHA merupakan sebuah bentuk diskriminasi sosial. Cara pandang yang keliru, sempit, dan bahkan negatif turut mendiskriminasi para pengidap virus tersebut.Mereka selalu dikaitkan dengan penyakit moralitas. Dan, bahkan bukan rahasia lagi, pengidap HIV/AIDS disangkal dan diusir oleh keluarga sendiri. Ini adalah beban sosial yang akhirnya ditanggung ODHA.
Ada beberapa karakteristik darinya yang perlu dijelaskan berikut ini. Pertama, soal ketidaktahuan. Masyarakat awam bahkan tenaga kesehatan sekalipun, tidak tahu persis cara penularan HIV, sehingga menimbulkan ketakutan tertular jika berada bersama pengidap HIV/AIDS. Akibat ketidaktahuan ini, masyarakat awam menjadi takut bukan hanya terhadap virusnya melainkan juga takut pada pengidap HIV. Perlu dicermati bahwa yang ditakuti adalah HIV bukan pengidap HIV. Virus ini tertular melalui cairan darah akibat penggunaan jarum suntik yang tidak steril, transfusi darah yang tercemar HIV, cairan sperma dan cairan vagina akibat hubungan seksual berganti-ganti pasangan, dan air susu ibu terkena HIV kepada bayinya. HIV tidak menular melalui ciuman (air liur), sentuhan (keringat), memakai peralatan makan bersama, renang bersama, gigitan nyamuk atau serangga lain, bahkan tinggal serumah dengan ODHA.
Kedua, perilaku ODHA.Ada tiga domain perilaku yang melekat pada individu yaitu pengetahuan, sikap dan tindakan. Keterlibatan mereka dalam ranah yang memungkinkan mereka terkena HIV/AIDS membuat mereka terstigma secara sosial. Atas dasar itu, maka kiranya ODHA harus memiliki pengetahuan memadai perihal kompleksitas penyakit dan implikasi lanjut terhadap kesehatan diri dan masyarakat. ODHA pun perlu memiliki sikap berani untuk yakinkan masyarakat bahwa eksistensi dirinya di tengah masyarakat bukanlah hantu mematikan. Dalam dan melalui jaringan ODHA, mereka kiranya perlu bersikap terbuka dalam relasi yang intens terhadap publik.

Bukan satu hal yang buruk apabila semua dimulai dari kelemahan satu dua sisi. Kompleksitas determinan stigma dan diskriminasi terhadap ODHA perlu disikapi secara sinergis oleh pemerintah, masyarakat, LSM, akademisi dan media berdasarkan tupoksi masing-masing. Stakeholder ini dalam menjalankan peran, kiranya tidak berjalan sendirian melainkan ada kerja sama antara satu dengan yang lain. Semua hal ini tertuju untuk mengeliminasi beban sosial yang ditanggung sepihak oleh ODHA.